
“Mama kenapa? Kok nangis?” Suara Chan mengejutkan Binar.
Anak itu menatap ibunya dengan penuh pertanyaan. Ia berusaha untuk duduk.
“Mama sedih karna Chan jatuh dari motor?” Tebak Chan.
Binar mengangguk. Ikut duduk didepan Chan. “Mama sedih kalau lihat Chan terluka.”
Chan memeluk ibunya dengan erat. Mengusap-usap punggung Binar dengan tangan mungilnya. Membuat airmata Binar semakin deras mengalir.
“Maafkan Chan, Ma. Chan janji gak akan terluka lagi. Supaya Mama gak sedih lagi.” Ujar Chan dengan menarik diri dari memeluk Binar.
“Anak Mama memang pinter.” Puji Binar sambil mengusap lembut kepala putranya.
Sungguh, perasaan tidak rela itu semakin besar. Meninggalkan rasa sakit di hatinya. Mendatangkan kesedihan yang menghujam dadanya bertubi-tubi.
Ia masih berharap kalau takdir tidak akan sekejam ini padanya. Ia masih berharap kalau Chan bukanlah anak kandung dari Pamungkas dan Reanty. Ia tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.
Sudah dua kali hatinya sakit yang disebabkan oleh pria bernama Pamungkas itu. Ia tidak akan sanggup menahannya untuk yang ketiga kalinya.
Kenapa Pamungkas selalu muncul membawa kisah yang berakhir menyakitkan untuknya? Kenpa pria itu selalu datang dengan cerita yang berakhir dengan penderitaannya?
“Nduk?” Panggil Rukayah dari balik pintu.
Binar cepat-cepat menghapus air matanya saat pintu terbuka.
“Lho? Kok bangun, Chan?” Tanya Rukayah mendekat ke tempat tidur.
“Mama sedih, Uty. Karna Chan jatuh dari motor.” Adu Chan.
Rukayah mengusap kepala Chan pelan. “Uty sama Kakung juga sedih. Makanya Chan tidur lagi ya. Biar cepet sembuh.” Rayu Rukayah.
Chan mengangguk antusias. Ia ingin segera sembuh agar tidak ada yang bersedih lagi karenanya.
Binar keluar dari kamar setelah menidurkan Chan kembali. Ia menghampiri kedua orang tuanya yang masih duduk disofa.
“Kamu gak apa-apa, Nduk?” Tanya Ustadz Syuhada. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan Binar.
“Binar gak rela, Yah. Binar gak akan rela kalau sampai ada yang merebut Chan dari Binar. Chan segalanya buat Binar, yah.” Binar berkata sambil meneteskan airmata.
__ADS_1
“Iya, Ayah tau. Gak ada yang akan merebut Chan dari kamu. Chan juga cucu Ayah. Ayah juga akan berusaha melindunginya semampu Ayah. Tapi, nduk, kalau seandainya benar kalau Chan itu adalah anak kandung dari Nak Pamungkas, dia tetap punya hak untuk mengambil Chan kembali. Ada ikatan darah diantara mereka. Dan kita sama sekali tidak berhak untuk memutuskan tali itu. Apalagi kita telah tau cerita yang sebenarnya. Kita akan cari jalan keluarnya saat semuanya sudah jelas nanti.” Ustad Syuhada memberi pengertian kepada putrinya.
Binar semakin sesenggukan mendengar penuturan dari ayahnya.
“Ibuk juga gak rela kalau sampai Chan diambil sama dokter itu. Tapi kita harus berfikir jernih dalam keadaan seperti sekarang ini. Kita berdo’a, semoga ada jalan keluar dari permasalahan ini. Sehingga tidak ada yang tersakiti.” Rukayah menimpali.
“Kenapa? Kenapa cobaan yang menghampiri Binar seberat ini, Yah? Jika Allah yakin kalau Binar mampu dan kuat untuk melewati cobaan ini, maka dia terlalu berharap besar kepada Binar. Ini terlalu berat. Binar hampir gak sanggup.”
“Ssssttt... Jangan berprasangka begitu kepada-Nya. Cobaan ini adalah sebuah kesempatan. Kesempatan untuk lebih memperbaiki keimanan kita. Kesempatan untuk lebih dekat lagi pada-Nya. Semua cobaan yang datang kepada kita, adalah bentuk cinta-Nya. Dia ingin kita untuk lebih bertawaqqal dan lebih mendekatkan diri pada-Nya. Kalau cobaan adalah sebuah harapan dari-Nya, maka kita harus memenuhi harapan itu. Buat Allah bangga dengan ketaqwaan kita. Bahwa kita mampu melewatinya dengan sangat baik. Bahwa Allah tidak salah berharap kepada kita melalui cobaan yang dia kirimkan.”
Binar kembali terdiam. Sepenuhnya ia membenarkan ucapan ayahnya.
Astaghfilullah hal adzim... Lirih Binar dalam hati. Ia menangkupkan kedua telapak tangan kewajahnya. Memohon ampun kepada Allah karna telah berprasangka buruk pada Sang Pemberi Takdir.
*****
Mobil Pamungkas sudah memasuki gang di perumahan mewah. Ia langsung pulang kerumah kedua orang tuanya setelah kembali dari kediaman keluarga Binar. Ia harus memberitahu semuanya kepada mereka. Rasanya ia tidak sanggup jika harus menanggung cerita ini sendiri.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Hendrana dan Haya yang sedang menonton tv di ruang keluarga.
Pamungkas menghempaskan tubuhnya diatas sofa. Ia menyandarkan kepalanya sambil menutup matanya dengan lengannya. Menghela nafas dalam sebelum mulai bersuara.
Kedua orang tuanya sedang menunggunya tidak sabar. “Pam?” Tanya Hendrana.
Pamungkas meletakkan sikat gigi yang terbungkus plastik keatas meja.
“Kenapa wajahmu begitu? Ada masalah apa?” Selidik Hendrana.
“Apa alamat itu salah?” Tebak Haya.
Pamungkas menggeleng. Menatap pias kepada kedua orang tuanya. “Alamat itu gak salah, Pa, Ma. Alamat itu bener. Dan anak itu memang ada disana. Tapi.....” Pamungkas tidak tau bagaimana cara melanjutkan kalimatnya.
“Tapi kenapa? Cerita jangan setengah-setengah.” Hardik Hendrana.
“Orang yang telah merawat anak itu, adalah Binar.”
Hendrana mengerutkan alisnya saat mendengar nama Binar. Ia masih ingat nama perawat yang terpaksa dikorbankan demi menyelamatkan ribuan karyawannya.
__ADS_1
“Perawat yang waktu itu?” Tanya Hendrana memastikan.
Pamungkas kembali mengangguk.
Seperti tau kerumitan apa yang akan mereka hadapi, Hendrana memundurkan tubuhnya ke sandaran sofa. Ia menarik nafas dalam dan membuangnya. Kemudian memejamkan matanya dengan alis yang berkerut.
“Siapa, Pa?” Tanya Haya yang tidak begitu mengerti.
“Mama masih ingat dengan gadis yang terlibat skandal perceraianku dengan Rea? Yang terpaksa harus dikeluarkan dari rumah sakit, namanya Binar. Dan dialah yang udah ngurusin anakku selama ini.”
“Apa? Kok bisa?” Haya terkejut bukan main. Tidak menyangka kalau semua kejadian itu terus terhubung dengan gadis itu. Seolah Allah sedang menguji keluarganya dan meminta mereka mempertanggung jawabkan kesalahan yang pernah mereka lakukan kepada keluarga gadis itu.
“Terus kenapa kamu bawa sikat gigi itu?” Tanya Hendrana menunjuk sikat gigi yang ada diatas meja dengan dagunya.
“Cuma buat mastiin aja, Pa. Biar semuanya jelas. Hasil tes DNA akan jadi bukti klaim kalau anak itu adalah anakku.”
“Terus gimana sama keluarga Binar? Mereka yang merawat anak itu selama ini. Papa gak tega kalau harus menyakiti mereka lagi. Kita udah banyak berdosa sama mereka.”
“Entah gimana nanti. Tapi yang jelas, setelah hasil tes DNA keluar, aku akan datang kesana lagi. Aku udah janji sama Ustadz Syuhada untuk mencari jalan keluar terbaik. Semoga Allah menunjukkan jalan terbaik dimana tidak ada yang tersakiti.”
“Amin... Ya Allah..” Jawab Hendrana dan istrinya bersamaan.
Setelah Pamit dengan kedua orang tuanya, Pamungkas naik kelantai dua, kemudian masuk kedalam kamarnya dulu yang masih terawat dengan sangat baik. Ia melemparkan tubuhnya keatas tempat tidur. Menutupi wajahnya dengan lenganya.
Ia mencoba mencari jawaban kenapa takdir selalu membuatnya berkutat disekitar Binar. Ada saja kejadian yang mengharuskannya berurusan dengan gadis itu.
Fikirannya kembali melalang buana. Mengingat semua kenangan dan perasaannya yang terkait dengan Binar.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1