
“Siapa itu? Gebetan baru lo?” Tanya Pamungkas sambli memicingkan matanya. Menatap curiga kepada Ubay.
“Sembarangan.” Hardik Ubay.
Tidak lama kemudian, seorang gadis manis berambut sebahu dan mengenakan kaca mata berjalan mendekati Pamungkas dan Ubay. Gadis itu mengangguk sopan kepada Pamungkas.
“Udah selesai?” Tanya Ubay kepada gadis itu.
Yeva mengangguk sambil terus melirik kepada pria yang duduk didepan Ubay. Dia penasaran dengan Pamungkas. Karna dia belum pernah meihatnya. Tapi ia merasa tidak asing dengan wajahnya.
“Oh, ini temen gue. Pamungkas. Dan ini, Yeva, anaknya Bik Las. Lo masih inget kan sama bik las?” Ubay memperkenalkan.
“Ooh. Hai. Gak kerasa udah besar aja ni anak.” Pamungkas bersikap sok ramah sambil mengulurkan tangannya. Membuat Yeva mengerutkan dahinya.
Walaupun dengan dahi yang berkerut, Yeva tetap menyambut uluran tangan Pamungkas.
“Yaelah, kayaknya dia gak inget sama gue.” Ujar Pamungkas.
“Ya jelas gak inget lah. Lo baru ketemu dia sekali. Itupun udah lama banget.” Jawab Ubay.
Setelah menyalami Pamungkas, Yeva mengambil tempat duduk di kursi kosong antara Ubay dan Pamungkas. Ia meletakkan beberapa buku yang baru dia beli ketas meja.
“Masih kuliah?” Selidik Pamungkas.
“Iya, Oom.”
Mendengar dirinya dipanggil Oom oleh Yeva, membuat Pamungkas ternganga tak percaya. Sedangkan Ubay, terbahak tak terkendali.
“Emangnya muka gue segitu tuanya apa sampai dipanggil Oom?” Protes Pamungkas tak terima dipandang tua oleh Yeva.
“Sekarang udah jelas, kan? Siapa yang punya baby face?” Ejek Ubay yang masih belum puas tertawa.
“Gue gak terima, ya.”
“Ehm,, maaf, Oom. Eh, maksudku, Mas.” Ujar Yeva yang merasa risih untuk memanggil Pamungkas dengan sebutan ‘Mas’.
Dia biasa memanggil Ubay dengan sebutan ‘Mas’, karna mereka sudah kenal sejak kecil. Yeva selalu mengikuti ibunya memanggil Ubay dengan sebutan ‘Mas’. Walaupun dia tahu umur Ubay yang sudah menyentuh usia pertengahan kepala tiga.
Tapi untuk memanggil Pamungkas dengan sebutan itu, rasanya canggung dan terdengar aneh untuk diucapkan.
“Boleh gak kalau aku panggil Oom aja.” Pinta Yeva dengan wajah canggung. Merasa tidak enak hati.
Mendengar hal itu, Ubay tambah keras tertawa. Ia sampai memukul-mukul pahanya sendiri.
__ADS_1
“Yaudah, deh. Terserah lo.” Pamungkas menyerah. Menyadari umurnya yang sudah tidak lagi muda.
Percuma memaksa orang untuk menganggapnya muda, kalau auranya menunjukkan dia seorang pria yang sudah hampir tua.
“Wajah Oom kayak familiar, gitu.” Yeva mencoba untuk mengingat-ingat dimana ia pernah melihat Pamungkas.
“Emang wajah dia ini pasaran. Udah, gak usah diinget-inget.” Seloroh Ubay.
Mendengar itu, Pamungkas mengancam Ubay dengan tatapannya.
“Oom, artis ya?” Tanya Yeva lagi. Kali ini lebih dekat memperhatikan wajah Pamungkas. Gadis itu nampak berfikir keras.
Ubay dan Pamungkas saling pandang.
“Ah! Aku inget. Oom itu suaminya Reanty, iya kan?!” Ujar Yeva dengan mata berbinar.
“Mantan.” Tegas Pamungkas malas.
“Waaahh,, pantesan, wajahnya Oom itu familiar banget. Ternyata emang sering nongol di tv. Tapi Oom, tega banget sih nyelingkuhin teh Reanty. Kan dia itu cantik, baik, ramah lagi sama penggemar. Aku pernah ketemu sama dia dulu.”
Pamungkas melirik Ubay. Memberikan kode kalau Ubay harus menghentikan gadis itu berbicara. Dia sudah tidak ingin membahas masa lalu buruk itu lagi. Karna itu mengingatkannya pada air mata Binar.
“Va, lo mau pesen minum gak? Buruan di pesen.” Tanya Ubay yang berusaha mengalihkan topik pembicaraan. Dia juga tidak ingin membahas masalah itu lagi. Karna kemarahannya kepada Pamungkas belum hilang sepenuhnya. Dia hanya berusaha berdamai dengan kemarahan itu.
Dimintai tanda tangan oleh seorang gadis cantik, tentu saja Pamungkas tidak akan menolaknya.
“Ehem! Boleh.” Ujar Pamungkas pelan.
Dengan sigap, Yeva mencari kertas di dalam tasnya. Tapi ia tidak menemukannya. Jadilah dia memilih salah satu buku yang baru saja dia beli dan menyerahkannya kepada Pamungkas.
“Minta tolong ya, Oom.” Ujarnya dengan senyuman lebar.
Pamungkas menyambar pena milik Yeva yang ada di genggaman gadis itu. Dan dengan bangganya dia langsung menanda tangani halaman sampul buku milik Yeva.
Yeva hanya bisa melongo saja melihatnya. Tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
“Oom!!!!” Pekik Yeva sambil memelototi bukunya.
Membuat Pamungkas tidak jadi menyelesaikan gambar hati yang akan dia gambar di ujung tanda tangannya.
“Kenapa Oom tanda tangan disitu?!!!” Pekik Yeva lagi. Ia langsung menyerobot bukunya dari tangan Pamungkas dan mencoba menghapus tinta yang sudah mengering di sampul bukunya. Tapi percuma saja. Tanda tangan Pamungkas sudah terlanjur terukir di sana. Dengan tanda hati yang setengah jadi.
Pamungkas ternganga melihat Reaksi Yeva. Ia Bingung untuk menyimpulkan. Apakah gadis itu begitu senangnya mendapat tanda tangannya? Atau dia salah menanda tanganinya? Atau seharusnya dia tanda tangan di lembaran yang lain?
__ADS_1
“Maksud aku tu, minta tanda tangan teh Reanty! Bukan tanda tangannya Oom.!” Yeva melihat Pamungkas dengan marah.
Dan lagi-lagi, Ubay hanya bisa tertawa terbahak-bahak melihat kekonyolan yang terjadi tepat didepan matanya.
Sedangkan Pamungkas sudah terlanjur mati kutu. Tidak menyangka kebanggaannya diruntuhkan seketika oleh gadis ingusan itu.
“Ya ampunnn... Kan jadi kotor bukuku.” Yeva berusaha membersihkan bukunya lagi.
“Hahahahahahaha.... Makanya, Pam. Jangan terlalu bangga sama diri sendiri. Malu kan jadinya.” Seloroh Ubay dengan masih tertawa.
“Gue Pamit!” Hardik Pamungkas dengan menyambar kantung-kantung berisi mainan di sampingnya. Menatap sebal kepada Yeva dan Ubay.
“Oom, tunggu dulu. Tanda tangannya teh Reanty gimana?” Tanya Yeva.
“Usaha sendiri.”
“Tapi kan Oom udah janji tadi.”
Pamungkas tidak peduli. Ia kemudian berlalu tanpa mempedulikan kekecewaan Yeva. Dia sudah terlanjur kalah malu. Ia terus melangkah menjauhi mereka menuju ketempat parkir di basement.
Setelah sampai di mobilnya, Pamungkas sedikit melemparkan barang-barang yang dia bawa kedalam mobil karna sangking kesalnya. Merasa dipermalukan oleh gadis belia yang masih bau kencur. Terlebih didepan sahabat yang baru saja ditemuinya. Kebanggaannya benar-benar hancur.
“Sialan tuh anak.” Umpatnya. Malu sekali rasanya. “Awas aja nanti kalau ketemu lagi, gue ucek-ucek tuh rambutnya.”
Berkali-kali Pamungkas menarik nafas dalam untuk meredakan kekesalannya. Lebih tepatnya, untuk meredakan rasa malunya. Setelah merasa sedikit tenang, ia melajukan mobilnya keluar dari area pusat perbelanjaan.
Tiba-tiba, fikirannya kembali dipenuhi oleh Binar. Tentang lamarannya kemarin. Bahkan sampai sekarang dia masih belum sepenuhnya percaya, kenapa dia bisa tiba-tiba berani seperti itu. Tanpa perencanaan.
Pamungkas berusaha untuk menghitung persentase peluang keberhasilan lamaran itu. Walaupun dia tidak bisa memungkiri hati kecilnya yang khawatir kalau-kalau Binar menolaknya.
Dan entah kenapa, seolah fikirannya menyetujui hati kecilnya kalau Binar sudah pasti akan menolaknya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1