
Pamungkas sedang asyik meninjau berkas-berkas pembelian alat-alat medis yang
“Beliau ada druangannya, Pak.”
“
Sehingga pasien wanita yang sudah berumur senja itupun harus meninggal di meja opersi.
ternyata minuman itu sudah habis, dan tinggal ampasnya saja.
Ia kemudian bangkit dari sofa dan menyambar jasnya. Ia berencana akan pulang dan beristirahat saja dirumah.
“Lagi nemenin Binar dok. Nunggu ojek.” Jelas Via.
“Ojek? Bukannya Binar bawa motor?”
“
“Waahh,, kayaknya aku gak jadi nebeng sama Dokter Pam. Jemputanku udah dateng. Maaf ya Dok.” Ujar Via merasa tidak enak hati. “Aku duluan ya, Bin. Nitip Binar ya Dok.”
Pamungkas hanya terenyum saja mendengarnya.
Sedangkan Binar kembali merasa canggung. Ia hanya bisa ternganga saja melihat Via yang langsung pergi begitu saja meninggalkannya bersama dengan Pamungkas.
“Ayo, Bin.” Ajak Pamungkas. “Aku anterin kamu pulang.”
“Gak usah, Mas. Aku udah terlanjut pesen ojek. Nanti kalau drivernya dateng gimana?” Tolak Binar dengan cara yang super halus.
“Emang udah dapet drivernya?”
“Udah.”
“Yaudah, aku temenin kamu sampai drivernya datang ya.”
__ADS_1
Rasanya semakin canggung saja. Bukan begitu yang diharapkan oleh Binar. Ia ingin mengusir Pamungkas tapi tidak tau caranya.
Akhirnya ia hanya mengangguk kecil saja.
Udara semakin dingin. Hampir lima menit mereka menunggu tapi driver ojek itu belum juga datang.
Binar mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi driver ojek yang akan menjemputnya.
“Masih lama, Pak?” Tanya Binar melalui ponselnya.
“Aduh, Mbak. Maaf banget Mbak. Ban motorku tiba-tiba bocor. Mana jauh dari bengkel lagi. Mbak cancel aja, terus pesen lagi. Kalau nunggu saya kayaknya lama mbak. Maaf banget ya Mbak.” Ujar driver itu.
Binar tidak punya pilihan lain selain menyetuui saran dari driver itu.
Pamungkas bisa membaca raut wajah Binar yang nampak kecewa.
“Kenapa, Bin?”
“Motor drivernya juga kempes, Mas.”
“Yaudah, aku anter aja. Dari pada pesen lagi. Keburu malem loh.” Ada nada rayuan dan bujukan disana.
“Bahaya juga malem-malem gini kamu naik ojek sendirian.” Imbuhnya. Seolah ia sangat ingin Binar naik di mobilnya.
Binar berfikir, mempertimbangkan banyak hal sebelum menyetujui tawaran Pamungkas untuk mengantarkannya pulang.
Memang sudah sangat larut. Dan bahaya jika ia pulang sendirian seperti yang diatakan oleh Pamungkas.
“Yaudah, Mas.” Akhirnya ia menyetujui penawaran itu.
Binar mengikuti Pamungkas berjalan menuju ke mobilnya.
Kemudian ia masuk kedalam mobil itu dengan perasaan yang sangat tidak enak.
__ADS_1
“Nanyi kasih tau arah jalannya ya?” Tanya pamungkas sambil mengancingkan sabuk pengamannya.
“Iya, Mas.”
“Oke..” Pamungkas terus tersenyum. Entah mengapa dia merasa senang sekali.
“Tapi nanti aku turunnya di pinggir jalan raya aja ya mas. Gak usah masuk ke dalam komplek.”
“Lho kenapa?” Pamungkas menoleh dengan ekspresi heran.
“Udah malem. Gak enak sama orang. Takut ada fitnah nanti.”
Pamungkas memanyunkan bibirnya sambil mengangguk. Ia hampir lupa seperti apa latar belakang Binar.
Memang sangat beresiko mengantarkan Binar sampai di rumahnya. Mengingat orang tua Binar yang seorang Ustadz kondang yang pastinya tidak etis jika tetangga mereka melihat Binar pulang bersama seorang pria asing yang tidak mereka kenal.
Karna bagi Binar, ada nama baik yang harus ia jaga. Nama baik untuk dirinya dan keluarganya.
Dan untuk hatinya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...