
“Makasih banyak ya, Mas, udah dianterin pulang.” ujar Binar kepada Ubay.
sekarang mereka sudah sampai dirumah.
“Sama-sama, Bin. nanti aku telfon kamu kalau keadaannya udah jelas, ya.”
“Masuk dulu Nak Ubay. Ibuk bikinin minum.” tawar Rukayah.
“Gak usah, Buk. aku harus cepet balik kerumah sakit.” tolak Ubay dengan halus.
“Oh iya Mas. minta tolong ini kasihkan sama Yuli ya.” ujar Binar memberikan dua buah kontak motor miliknya kepada Ubay.
“Iya ya, motormu masih di rumah sakit ya Bin. yaudah, nanti biar aku yang urus. kamu gak usah khawatir.”
“Sekali lagi makasih banyak ya Mas.”
“Gak usah sungkan begitu. kayak sama siapa aja kamu ini. pamit dulu ya Buk, Bin. Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikum salam.” Jawab Binar dan ibunya berbarengan.
dengan langkah lunglai, Binar dan ibunya berjalan masuk kedalam rumah.
Binar seperti melupakan sesuatu.
“Astaghfirullah Haladzim! Buk, Chan, Buk!” Pekiknya. ia melihat jam tangannya. dan sudah lewat jam dua siang. seharusnya Chan sudah pulang dari tadi.
Binar dan Rukayah sibuk memikirkan masalah yang datang tiba-tiba sampai lupa untuk menjemput Chan.
“Binar jemput Chan dulu ya Buk. Cari taksi didepan.” pamit Binar yanag langsung pergi.
“Nduk! tunggu!” Pekik Rukayah menghentikan langkah Binar. “Ini, buat ongkos taksi. tas sama dompetmu kan masih ketinggalan dirumah sakit.”
Astaga. Binar benar-benar lupa.
Arrggghh...
fikirannya sedang membeku dan tidak bisa untuk dibuat fokus.
Binar berjalan kembali menghampiri ibunya dan mengambil uang pecahan seratus ribu rupiah itu dari ibunya. Kemudian ia kembali berlari keujung jalan untuk mencari taksi.
Untungnya, saat ia tiba di pinggir jalan raya, saat itu pula ada taksi yang melintas. Binar langsung menghentikan taksi itu dan meminta supir untuk segera menuju ke sekolah Chan.
Sesampainya di sekolah, ia meminta kepada supir taksi untuk menunggunya sebentar.
“Pak, tunggu disini sebenar ya”
“Iya, Mbak.”
Binar segera berlari kecil menuju ke kelas Chan. dan benar saja, disana hanya tinggal Chan seorang diri yang sedang menunggu jemputan. ditemani oleh seorang guru yang langsung tersenyum menyambut kedatangan Binar.
“Maaf ya Bunda, saya terlamabat.” ujar Binar dengan tidak enak hati.
“Gak apa-apa Bunda,, yang lain juga baru aja pergi kok.” jawab wanita yang nampak sebaya dengan Binar itu.
“Maaf udah merepotkan ya Bunda. Chan, ayo Nak.. kita pulang.” Ajak Binar.
__ADS_1
Chan yang nampak cemberut karna telat dijemput, hanya diam saja berjalan mendekat kearah Binar. Anak itu sedang marah ternyata.
“Salam dulu dong, sama Bunda” Pinta Binar.
“Assalamu’alaikum, Bunda.” Pamit Chan dengan ekspresi datar. Ia benar-benar sedang marah.
“Wa'alaikum salam...”
Kemudian Binar dan Chan berjalan beriringan menuju ke taksi yang masih menunggu mereka di luar pintu gerbang sekolah.
Supir taksi kembali mengarahkan mobil ke alamat yang sudah diberitahu oleh Binar.
“Chan, marah ya sama Mama?” Binar berusaha memecah keheningan dan aura amarah dari putranya.
Chan masih terdiam, ia enggan menanggapi.
“Maaf ya, sayang. tadi Mama terlambat pulang kerja. Sampai lupa mau jemput Chan.”
Chan masih tidak menggubris. ia mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil.
“Udahan dong ngambeknya. kalau Chan marah terus, Mama jadi sedih. kalau Mama sedih, jadi gak pengen pergi ke Ragunan.” Gumam Binar memancing.
Chan terpancing. ia langsung menoleh kepada Binar dengan tatapan protes.
Tapi kemudian perlahan anak itu mendekat kepada Binar, kemudian mencium pipinya.
“Nah, gitu dong. Kalau mau jadi hebat kayak Kakung, gak boleh ngambekan. Anak Mama kan pinter.” puji Binar.
Chan mengangguk semangat.
Binar harap-harap cemas saat melihat kearah tv. Ia tau kalau pemberitaan tentang dirinya masih hangat.
Rasa meyesal itu terus menusuk kedalam hatinya.
Tidak seharusnya ia menerima tawaran pamungkas semalam.
Saat sore menjelang maghrib, Ustadz Syuhada pulang dari luar kota.
“Assalamu’alaikum” Sapa Ustadz Syuhada.
“Wa’alaium salam...” Jawab semua orang yang ada didalam.
Ia langung duduk di sofa dan menatap kepada Binar dengan tatapan penuh pertanyaan.
Mengetahui kepulangan kakeknya, Chan langsung menghambur kepangkuan Ustadz Syuhada.
Binar segera pergi kedapur untuk membuatkan teh hangat untuk ayahnya. Beberapa saat kemudian ia kembali keluar dengan membawa nampan. Kemudian meletakkan teh itu dihadapan sang Ayah.
Binar kembali duduk dengan menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap ayahnya. entah kenapa ia merasa bersalah. padahal itu bukan salahnya.
“Kamu gak apa-apa to Nduk?”
Ustadz Syuhada bertaya dengan suara yang lembut dan berwibaa.
Perlahan Binar mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya.
__ADS_1
“Maafkan Binar, Yah.” ujarnya lirih.
“Kenapa kamu yang minta maaf. Memangnya ini salahmu? memangnya kabar itu benar?”
Binar mengeleng. “Enggak, Yah.”
Binar menceritakan alasan kenapa kabar itu sampai ada. Ia juga menceritakan kalau semalam ia memang diantar oleh Pamungkas pulang.
“Oya le, Nak. Ibuk orom Ayah ke selalu peren ku ko, i jege tingkah orom perilaku kite. Kite ni jema banan, jema banan ni tempate fitnah, kite benar pe kona fitnah. Jema len ni ke gere mera beteh hana male alasanmu. Si penting bagi pakea ke hana si nampak i arap ni mata. (itulah, nak. Ibuk sama ayah kan sudah sering bialng sama kamu, dijaga tingkah dan perilaku kita. Kita ini orang perempuan, memang tempatnya fitnah. Kita benar saja difitnah, apalagi kalau salah. Orang-orang tidak peduli dengan alasanmu, yang mereka lihat cuma apa yang nampak didepan mata).”
“Binar juga gak tau bakalan begini jadinya, Buk.”
“Itulah kenapa kita perlu yang namanya, hati-hati.”
Ucapan Ustadz Syuhada sangat menusuk. walaupn diucapkan dengan nada yang rendah.
“Binar minta maaf, Yah.” Tidak tau lagi harus berkata apa. Mata Binar mulai berkaca-kaca.
Ustadz Syuhada faham kalau itu bukan menjadi landasan dia untuk menyalahkan Binar. tuntutan pekerjaan Binar yang mengahruskan ia terkadang pulang malam, tidak bisa disalahkan. Apalagi bagi wanita seperti Binar yang memang rawan sekali saat pulang malam sendirian.
“Dokter itu juga kaget, Yah. Kayakya dia juga gak tau tentang kabar ini.” jelas Rukayah kepada suaminya. Tapi nampaknya suaminya sama sekali tidak peduli.
“Besok Pakde sama Bude akan kesini. kita akan bicarakan pernikahanmu sama nak Nazril.”
deg!
Binar langsung menatap ayahnya.
“Apa maksudnya, Yah?”
Rukayah juga tidak kalah terkejut mendengar pernyataan suaminya.
“Lebih baik kalau kamu diantarkan pulang sama orang yang udah muhrim, dibandingkan sama orang asing yang akhirnya mendatangkan fitnah begini.” Nada suara Ustadz Syuhada berubah tegas. Diiringi dengan sorot matanya yang mengisyaratkan tidak ingin dibantah.
Ada sedikit rasa bahagia di hati Binar. Karna memang itulah yang sedang dia tunggu. Tapi juga ada kekhawatiran disaat yang bersamaan.
“Tapi Ibuk Mas Nazril lagi sakit, Yah.”
“Kita bicarakan besok sama nak Nazril sekalian.”
Ustadz Syuhada bangkit dari duduknya saat mendengar adzan maghrib berkumandang. Kemudiann ia mengajak Chan pergi ke masjid. meninggalkan ibu dan anak itu yang menatap pias kepadanya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...