Pindah

Pindah
27


__ADS_3

Akhirnya....


Hari yang ditunggu-tunggu oleh Chan datang juga.


Anak itu nampak sangat bersemangat.


Bahkan sejak pagi-pagi sekali, dia sudah mandi dan bersiap-siap untuk pergi.


Semakin sumringah ketika dia mendapat ‘sangu’ dari Kakung dan Utynya. Ditambah dari Sahidi dan istrinya.


Jadi dia punya empat lembar uang pecahan 50 ribu ditangananya.


“Ih! Tante Yuli lama banget sih Ma. Telfon dong. Suruh cepetan.” Protes Chan kepada Binar.


“Sabar dong. Tante Yuli lagi dijalan. Nanti juga nyampe. Kalau ditelfon nanti jadi gak fokus lagi bawa motornya.”


Walaupun sedikit sebal, tapi Chan membenarkan ucapan ibunya.


Ustadz Syuhada dan Kiayi Sahidi yang sedang bercengkerama di ruang tamu pun hanya tertawa saja.


Tidak berapa lama, berhentilah sebuah mobil suv berwarna putih tepat didepan pintu gerbang.


Binar dan Chan yang sedang menunggu Yuli di teraspun kompak melihat ke mobil itu. Binar mengerutkan keningnya karna ia mengenali mobil siapa itu.


Yuli turun dari dalam mobil dengan menampakkan deretan giginya.


“Channn!!!!” Pekiknya sambil berlari menghampiri Chan. Ia segera memeluk anak itu degan erat dan menciumi pipinya dengan membabi buta.


“Lepasin Tante.!” Teriak Chan yang sudah tidak tahan dengan dekapan erat itu. Membuatnya sulit bergerak.


“Kamu kok makin ganteng aja sih. Gemessss...” Yuli ganti mencubit kedua pipi Chan.


“Kok ada mas Ubay juga?” Tanya Binar saat melihat Ubay turun dari mobil.


“Hehehe,, sory Bin. Gak bilang ke kamu dulu. Jadi aku fikir kalau kita pergi naik motor, pasti bakalan panas banget. Jadi kenapa enggak kita ajak aja mas Ubay, mumpung dia juga libur dan gak ada kerjaan.” Yuli mengutarakan alasannya.


“Kita?” Binar menekankan kalau dia bahkan tidak tau menahu soal ide itu.


“Hehe,, iya deh. Aku. Ibuk mana Bin?”


“Ada tuh didalam.”


Yuli langsung beranjak masuk kedalam rumah untuk menyapa kedua orang tua Binar. Begitu juga dengan Ubay.


“Mas Ubay ngapain ikut masuk?”


“Ya mau nyapa Ibuk lah.” Jawab Ubay santai dan langsung berjalan masuk kedalam begitu saja.


Setelah mereka semua pamit, Ubay, Binar, Chan, dan Yuli segera masuk kedalam mobil.


Jalanan ibu kota terlihat agak lengang. Walaupun dipadati oleh kendaraan, tapi tidak sampai terjebak macet. Mungkin karna ini masih pagi.


“Om Bay kok ikut kita sih?” Protes Chan yang duduk di samping Ubay yang sedang fokus mengemudi.


“Memangnya kenapa? Gak boleh?”


“Kan rencananya cuman aku sama Mama, sama tante Yuli.”

__ADS_1


“Hari ini Om Bay ga ada kerjaan. Jadi boleh ya ikut Chan jalan-jalan? Nanti Om Bay beliin permen kapas yang super gede.” Rayu Ubay.


“Disana mana ada yang jual permen kapas Om.”


“Ya kan kita bisa beli nanti dijalan.”


“Oke.”


“Chan, kalau gak usah ke Ragunan gimana? Ketempat lain gitu. Gak bosen apa kamu ke Ragunan mulu?” Seloroh Yuli sambil bermain ponsel.


“Gak mau! Aku maunya ke Ragunan.” Chan kekeuh.


“Yang dilihat juga paling hewan itu-itu aja, Chan. Tante bosen ih.”


“Yaudah tante gak usah ikut aja.” Jawab Chan sewot. Ia sebal dengan Yuli.


“Yee, ya gak boleh gitu dong. Yaudah deh, tante ngalah. Tapi nanti bagi permen kapasnya ya.”


“Iya.” Jawab Chan setengah hati.


Binar hanya tertawa saja melihat perdebatan kecil itu.


Untuk sesaat ia bisa melupakan masalah tentang Nazril yang hampir membuatnya menangis semalam.


Ubay menepati janjinya untuk membelikan Chan permen kapas yang besar. Dengan bentuk karakter animasi pokemon. Anak itu nampak senang sekali.


Yuli terus menggoda Chan untuk memberiya permen kapas itu. Tapi ternyata Chan berubah fikiran dan tidak mau memberikannya kepada Yuli.


Akhirnya mereka sampa juga ditempat tujuan.


Chan nampak sangat senang. Bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang sumringah dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.


“Makasih, Mas. Udah dianterin, di bayarin lagi tiketnya.” Ujar Binar.


“Gak apa-apa Bin sekali-kali.”


“Tuh kan. Aku gak salah ajak orang kan?” Seloroh Yuli. “Yok Chan.”


Chan begitu antusias melihat hewan-hewan yang ada disana. Padahal sudah berkali-kali dia kesana, tapi anak itu seperti tidak pernah bosan. Hewan yang paling dia sukai adalah jerapah. Chan kagum karna jerapah punya leher yang pannjang dan menjulang tinggi.


“Hati-hati, Chan. Awas jatuh. Lari-lari begitu!” Binar memperingatkan putranya.


Sudah kepalang senang. Chan tidak lagi menggubris peringatan ibunya.


Sampai tengah hari, Chan seperti tidak punya rasa lelah. Dia terus berlarian memperhatikan hewan-hewan. Sedangkan Yuli sibuk menjadi fotografer untuk Chan.


Binar dan Ubay hanya mengikuti keduanya dengan sabar.


“Dia itu gak punya capek apa gimana sih?” Protes Ubay. Kakinya juga sudah terasa pegal.


“Istirahat dulu yuk. Mama capek Chan.” Pinta Binar.


“Om Bay, sini! Kita kasih makan kancil!” Chan berteriak memanggil Ubay dengan melambai-lambaikan sebuah wortel.


Ubay yang pertama mengeluh lelah, kini justru berlari mendekati Chan. Ia jadi semnagat lagi dan membantu Chan memberi makan kancil


Yuli yang juga sudah merasa lelah, memilih untuk bertukar tempat dengan Ubay. Ia duduk disamping Binar disebuah bangku yang berada tidak jauh dari kandang kancil.

__ADS_1


“Gila tuh anak. Gak ada capeknya dia.” Keluh Yuli.


Binar menyodorkan sebotol air mineral kepada Yuli yang nafasnya masih ngos-ngosan sambil tertawa.


“Kayaknya Chan akrab banget ya sama Ubay.” Ujar Yuli sambil melihat kearah Ubay dan Chan yang sedang bercanda bersama dengan apra kancil.


“Ya iyalah. Hapir setiap hari ketemu.” Jawab Binar.


“Kamu gak apa-apa kan Bin?” Tanya Yuli dengan nada serius.


Binar terejut dengan pertanyaan itu. “Kenapa?”


“Tadi Ibuk cerita semuanya ke aku. Soal Mas Nazril.”


Binar menatap Yuli tidak percaya.


“Kenapa kamu gak cerita sih? Kamu pendam semuanya sndirian. Kan ada kita Bin.”


“Gak ada gunanya juga diceritain, Yul. Biarlah. Bukan jodoh. Mau gimana lagi.”


“Kenapa gak terima mas Ubay aja? Dia kan udah lama banget punya perasaan sama kamu. Kurang baik apa lagi coba dia?” Saran Yuli.


Binar memandang jauh kepada Ubay dan Chan.


“Bukan masalah itu.”


“Jadi apa?”


“Entahlah. Mungkin karna kita udah terlalu dekat, sampai aku gak bisa punya perasaan kaya gitu sama dia."


“Terus kamu mau ngarepin Nazril terus, gitu?”


“Gak lah. Gak tau kenapa, tapi aku gak begitu kecewa dengan keputusan Mas Nazril. Jadi aku udah ikhlasin dia aja. Dan fokus sama hidupku dan Chan. Insha Allah, Allah akan mempertemukanku dengan jodohku diwaktu yang tepat.”


“Kenapa aku mikirnya mas Ubay itu jodohmu ya?”


“Hhush. Ngawur.”


“Hahahahaha...”


Binar dan Yuli buru-buru menghentikan pembicaraan mereka. Karna Ubay sedang berjalan kearah mereka.


“Chan ngajak pindah tuh. Ke kandang jerapah.” Ubay memberitahu.


Binar dan Yuli segera beranjak dari duduknya dan menghampri Chan. Kemudian mereka bergerak menuju kandang jerapah.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...


__ADS_2