
“Mas, bangun. Udah mau maghrib lo.” Ujar Binar dengan suara lirih.
Pamungkas tidak berkutik. Nampaknya tidurnya pulas sekali.
“Mas?” Panggil Binar lagi. Kali ini ia menyentuh pundak suaminya itu sambil menggoyang-goyangkannya sedikit.
“Hhmm?” Sahut Pamungkas dengan Masih memejamkan mata.
“Bangun, ih. Udah mau maghrib. Tidurnya dilanjut nanti lagi”
Pamungkas memicingkan matanya yang Masih terasa perih. Tapi kemudian ia tersenyum dengan terus menatap istrinya. Ia Masih tidak percaya kalau ia dan Binar sudah sah menjadi sepasang suami istri.
“Chan! Bangun sayang.” Kali ini Binar beralih untuk membangunkan Chan. Ia merenggangkan lengannya melewati tubuh Pamungkas demi mencapai anak itu.
Cup.
Dengan tiba-tiba Pamungkas menarik tubuh Binar sampai terjatuh diatas dada bidangnya, dan langsung mendaratkan sebuah kecupan dipipi Binar.
Sontak Binar langsung berdiri dan ternganga di samping ranjang. “Mas!” Ujarnya.
“Kenapa?” Tanya Pamungkas sambil mengu lum senyum.
“Malu, ih. Tiba-tiba main cium aja. Ada Chan lho.” Elak Binar.
Bukan apa. Perlakuan Pamungkas barusan membuat jantungnya terasa melorot sampai keperut. Berdetak tak karuan. Membuat wajahnya terasa panas. Ia segera berbalik demi menghindari tatapan Pamungkas yang seolah senang melihatnya salah tingkah.
“Udah. Buruan bangun.” Ujarnya kemudian. Berusaha menyembunyikan wajah meronanya dari suaminya.
Kini Binar sudah berada di sisi lain ranjang dan bersiap untuk membangunkan Chan. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Chan sampai anak itu terbangun.
“Bangun dulu, mandi, terus kita sholat.” Tegas Binar.
Chan tidak punya pilihan lain. Ia menoleh kepada Pamungkas yang masih berbaring disebelahnya, lantas memaksa tubuhnya untuk bangun.
“Mas?” Binar memberi peringatan. Sekalian untuk menghentikan tatapan menggoda dan senyum yang terus mengembang dari pria itu.
“Hehehehe,, iya, iya. Ayo, Chan. Kita mandi.”
Pamungkas bangun kemudian menggendong Chan dan membawanya masuk kedalam kamar mandi. Anak itu menurut saja. Lagipula ia masih merasa mengantuk.
“Mas mandiin Chan?” Tanya Binar yang kurang yakin apa pria itu bisa membantu Chan untuk mandi.
“Iya.”
“Oh, oke. Biar aku siapin bajunya.”
__ADS_1
Binar Masih mengekori Pamungkas dan Chan dengan pandangannya sampai mereka menghilang dibalik pintu kamar mandi. Kemudian ia segera menyiapkan pakaian ganti untuk Chan.
Tidak berapa lama, Chan keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang membalut tubuhnya. Ia berjalan menghampiri ibunya yang sedang duduk di sofa dekat jendela.
“Udah?” Tanya bianr.
Chan mengangguk. Anak itu nampak sedikit menggigil. Sesaat ia mengedarkan pandangannya menyapu seluruh ruangan.
“Ini dimana, Ma?” Tanya Chan kemudian. Ia baru menyadari kalau ia sedang berada di tempat asing.
“Ini di rumah Papa.” Jelas Binar sambil mengeringkan tubuh Chan dengan handuk.
Sekali lagi Chan mengedarkan pandangannya. Tapi tubuhnya tetap mengikuti instruksi Binar untuk berpakaian.
Setelah rapi dan wangi, Chan meminta izin untuk keluar dari kamar. Dan Binarpun mengizinkannya dengan catatan tidak boleh jauh-jauh. Sementara dia membereskan handuk bekas Chan dan meletakkannya di dalam keranjang yang ada disamping pintu kamar mandi.
Saat pintu kamar mandi terbuka, dan Pamungkas muncul dari dalamnya dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, sehingga mengekspos hampir sebagian besar tubuh polosnya, membuat Binar terkejut dan langsung membalikkan badannya membelakangi Pamungkas.
“Mana Chan?” Tanya Pamungkas yang merasa biasa saja berpenampilan seperti itu di depan wanita yang sedang menenangkan degup jantungnya.
“Eh,, emm,, keluar. Dibawah, mungkin.” Binar jadi gelagapan. Wajahnya semakin terasa panas. Lebih panas dari saat Pamungkas menciumnya tadi.
Berkali-kali Binar mencoba menarik nafas untuk menenangkan diri. Dan saat ia hampir berhasil, jantungnya kembali di buat hampir copot karna kini Pamungkas malah memeluknya dari belakang.
“Ahhh,,, enaknya....” Ujar Pamungkas dengan masih memeluk istrinya.
Pamungkas sendiri sedang menikmati debaran di hatinya. Ia tau kalau Binar sedang terkejut karna aksinya yang tiba-tiba itu. Tapi ia Masih enggan untuk melepaskannya. Dia hanya tersenyum saja sambil meletakkan dagunya di pundak Binar.
Sekujur tubuh Binar dibuat merinding oleh kelakuan suaminya. Apalagi hawa kesejukan semakin dalam merasuk kedalam kulitnya. Membuatnya semakin membeku dan tidak berani bergerak.
“Bin?”
Panggilan itu bahkan tidak tedengar di telinga Binar. Ia sepenuhnya mematung.
“Sayang?” Kali ini Pamungkas mencoba mengintip wajah Binar dari balik punggungnya.
“Bin? Kamu kenapa? Kok wajahmu merah banget gitu?” Tanya Pamungkas yang kini sudah melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Binar untuk menghadap kearahnya. Ia memeriksa kening istrinya yang memang terasa sedikit panas.
“Mas, lama-lama kamu bikin jantungku melorot lho.” Ujar Binar dengan mata yang terpejam. Dia Masih belum berani menatap langsung dada bidang yang sedang tersaji dihadapannya itu.
“Lah? Kenapa gitu?” Pamungkas hanya berpura-pura tidak tau saja. Padahal ia sedang menahan tawanya.
“Buruan di pake bajunya, Mas.” Pinta Binar.
“Enggak mau. Buka dulu matanya. Dikasih pemandangan indah kok gak mau.”Seloroh Pamungkas. Ia makin bersemangat menggoda istrinya.
__ADS_1
“Indah dari mana?”
“Ya makanya dibuka dulu matanya. Biar bisa lihat ini ciptaan Allah yang bisa bikin jantung kamu naik turun.”
“Udah dong, Mas. Jangan jahil ah. Kamu buat aku merinding tau!” Dengus Binar yang ternyata sulit mengendalikan desiran dihatinya.
Pamungkas semakin terkekeh melihat reaksi Binar itu.
“Mama!!!!!!” Terdengar pekikan Chan dari bawah memanggil ibunya.
Itu adalah kesempatan yang harus segera Binar ambil. Kesempatan untuk melarikan diri dari ciptaan Allah yang membuat jantungnya naik turun. Ia segera membalikkan tubuhnya namun Masih tertahan oleh pegangan Pamungkas di pundaknya. Pria itu membisikkan sesuatu ditelinganya.
“Kita lanjut nanti malam.”
Sebuah kalimat yang mampu membuat lutut Binar gemetar karna membayangkan sesuatu. Fikirannya sungguh tidak bisa dibuat bekerja sama. Malah melalang buana kemana-mana.
Setelah Pamungkas melepaskan pegangannya, ia segera berlari keluar dari kamar secepat kilat. Menyisakan Pamungkas yang terus tertawa. Merasa lucu dengan sikap Binar yang pemalu.
Dengan setengah berlari Binar menuruni tangga. Seolah ia sedang melarikan diri dari penjahat. Wajahnya Masih memerah bahkan setelah dia sampai dibawah.
Chan menatap ibunya dengan heran. Mengapa ibunya bernafas dengan tersengal-sengal begitu.
“Kenapa, Chan?” Tanya Binar dengan Masih mengatur nafasnya.
“Mama kenapa lari-lari?” Tanya Chan.
“Ya,, ya,,, ehm,, ya biar cepet sampe sini. Kenapa teriak-teriak?” Alasan Binar.
“Abisnya Mama lama. Chan lapar.” Keluh anak itu lagi.
Binar tertawa sambil mengusap kepala Chan. “Idih,, yang bangun tidur langsung laper. Kita tunggu Papa sebentar, ya. Udah mau maghrib juga. Gimana kalau kita makan malam abis sholat aja? Nanggung nih.”
Chan nampak berfikir sebentar. Tapi kemudian dia mengangguk setuju dengan usulan ibunya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1