
Sepanjang perjalanan menuju kerumah Binar, Pamungkas telah berfikir ribuan kali.
Benar, dia sangat merindukan putranya. Tidak menampik kalau ia juga ingin anak itu tinggal bersamanya. Sangat ingin.
Tapi dalam hati ia juga tidak tega kalau harus mengambil Chan saat ini juga. Ia akan memberi waktu untuk dirinya dan juga Binar. Terserah bagaimana nanti Allah menunjukkan jalan untuk mereka. Ia pasrah.
Yang jelas, untuk saat ini, membiarkan Chan tetap tinggal bersama Binar dan keluarganya adalah pilhan terbaik. Ia tidak mau mengejutkan anak itu dengan kehadirannya. Dia hanya perlu untuk menemui Chan kapanpun ia mau. Perlahan saja. Sampai Chan membuka hati dan menerimanya sebagai papanya.
Chan yang sudah bosan bermain sendirian di luar, masuk kedalam dengan masih memegang mainan pemberian Pamungkas. Nampak sekali kalau ia sangat menyukai mainan itu.
“Chan, udah salim sama Oom ganteng?” Tanya Binar.
Chan menggeleng.
“Salim dulu, dong.” Ujar Ustadz Syuhada.
Dengan rasa segan, Chan mendekati Pamungkas dan mengulurkan tangan. Kemudian mencium punggung tangan Pamungkas.
Degan mata yang berkaca-kaca, Pamungkas menyambut tangan mungil Chan. Setelah bocah itu selesai mencium tangannya, ia langsung merengkuh tubuh Chan kedalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap kepala putra yang sangat dia rindukan itu.
Pamungkas tak sanggup menahan lelehan airmatanya. Trenyuh sekali perasaannya saat itu. Ia meluapkan semua kerinduannya kepada anak itu.
Tidak hanya Pamungkas, tapi Binar dan Rukayah juga ikut meneteskan airmata. Terharu melihat sebuah kerinduan antara anak dan ayah itu.
“Oom kok nangis?” Tanya Chan yang masih tidak berani melepaskan diri dari dekapan Pamungkas. Ia hanya bisa merasakan pria yang sedang memeluknya itu tengah sesenggukan di balik bahunya.
Setelah puas memeluk anak itu, Pamungkas merenggangkan tubuhnya. Menatap dalam kepada Chan sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Chan. Ia tersenyum lebar
“Karna Oom seneng banget bisa ketemu sama Chan.” Jawab Pamungkas.
Chan hanya menatap penuh pertanyaan. Kemudian ia mengusap bekas airmata dipipi Pamungkas. Membuat suasana semakin trenyuh.
“Chan, Chan boleh kok, panggil Oom ini, Papa.” Ujar Binar. Ada rasa berat dihatinya saat ia mengucapkan kata itu. Tapi ia tetap harus bersikap rasional.
“Tapi kan Oom ini bukan Papanya Chan.” Jawab Chan dengan polosnya. Ia menoleh kepada Binar.
“Mulai sekarang, anggap aja Oom ini sebagai Papanya Chan.” Ujar Pamungkas lagi.
Chan mengerutkan alisnya.
“Kenapa? Gak mau?”
“Memangnya boleh? Soalnya Mama larang Chan buat manggil Oom Bay, Papa.” Jawab Chan.
Pamungkas menatap Binar yang mengatupkan bibirnya sangat rapat.
“Kalau sama Oom Pamungkas boleh.” Rukayah menimpali.
Chan masih terlihat Bingung. Ia menatap satu persatu orang yang ada diruangan itu, kemudian mengangguk pelan. Membuat hati Pamungkas tambah senang saja. Awal yang baik bagi hubungan mereka.
__ADS_1
“Pak Ustadz, apa boleh saya mengajak Chan untuk ketemu sama kedua orang tua saya?” Ijin Pamungkas.
Ustadz Syuhada langsung mengangguk setuju. Tidak ada alasan baginya untuk tidak mengizinkan.
“Terimakasih, banyak, Pak Ustadz, Ibuk, dan juga Binar. Karna sudah bersedia untuk merawat dan membesarkan Chan dengan begitu baik. Saya tidak tau harus bagaimana untuk membalas kebaikan Ustadz sekeluarga.” Ujar Pamungkas dengan masih memangku Chan.
Anak itu tengah sibuk meneliti mainannya dengan memicingkan matanya.
“Sama-sama, Nak Pam. Itu semua sudah jadi kehendak Allah. Untuk mempertemukan kita dalam keadaan seperti ini.”
“Chan, mau gak ikut Papa ketemu sama Nenek, sama Kakek?” Tawar Pamungkas hati-hati.
Chan mengangguk tanpa berfikir. Membuat Binar heran setengah mati.
“Sama Mama juga kan?” Tanya Chan pada akhirnya.
“Mama kan harus kerja, Chan.” Tolak Binar.
“Tapi kan udah sore. Chan gak mau kalau gak sama Mama.” Tegas Chan merengutkan wajahnya.
Binar menghela nafas. Tidak tau harus bagaimana.
“Nduk, alangkah baiknya kalau kamu antarkan saja Chan. Dia pasti gak enak kalau harus pergi sendiri.” Ujar Ustadz Syuhada.
Binar nampak berfikir sejenak. Kemudian mengangguk setuju.
Sebenarnya ia ingin menolak. Tapi ia tidak enak hati. Sudah baik Pamungkas tidak mengambil Chan darinya. Untung pria itu hanya meminta untuk bertemu dengan Chan sesekali. Dan juga tidak ada salahnya jika Chan bertemu dengan kakek dan neneknya.
“Chan udah kelas berapa?” Tanya Pamungkas.
Chan masih berada dipangkuannya. Anak itu betah sekali bergelayut disana. Padahal biasanya ia tidak pernah bisa dekat dengan orang yang baru pertama di temui. Hal itu membuat Rukayah dan suaminya merasa heran.
“Kelas 1.”
“Sekolahnya dimana?”
“Di SD Islam Darul Makmur.”
“Ooooo,,, banyak gak temennya?” Pamungkas masih ingin terus bercengkerama dengan Chan.
“Banyak, dong. Ada Agung, Dandi, Syahril, Ahmad, Suri,....”
Pamungkas tersenyum mendengar Chan yang sedang mengabsen teman-temannya. Tidak menyangka kalau mereka akan langsung dekat begitu.
“Chan nama lengkapnya siapa?”
“Chan Daniyal. Kata Mama artinya anak yang bersinar, pintar, dan cerdas. Kata Mama juga, biar kalau besar Chan jadi anak yang sholeh, anak yang pintar.”
Saking gemasnya Pamungkas, ia sampai mengacak-acak rambut Chan sampai berantakan. Tapi membuat Chan jadi semakin menggemaskan.
__ADS_1
“Iihh.. Kan rambutku jadi kusut.”
“Hahahahaha...” Ustadz Syuhada, Rukayah, dan Pamungkas sontak tertawa karna Chan memasang wajah cemberut yang malah terihat lucu.
“Chan hobinya apa?”
“Ehhmmm....” Chan nampak berfikir sejenak. Ia menaikkan bola matanya ke atas serta meletakkan jari telunjuknya di salah satu sudut bibirnya. “Menggambar. Kalau udah besar, Chan mau jadi komikus.”
“Waaaahhhh,,,, cita-cita Chan keren.” Puji Pamungkas. Mengingatkannya pada dirinya sendiri yang sangat suka menggambar. “Papa juga suka menggambar.”
“Jadi Oom komikus? Ehh, maksudnya, Papa.” Chan meralat kalimatnya.
“Bukan, Papa bukan komikus, tapi dokter.”
“Suka gambar kok gak jadi komikus?”
Pamungkas menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tidak gatal. Mulai kewalahan menjawab pertanyaan dari si kecil Chan.
Pada saat yang bersamaan, Binar muncul dari dalam kamar dengan sudah berganti pakaian.
Pamungkas sempat tersentak saat ia melihat wajah putih Binar dalam balutan hijab berwarna merah maroon. Kenangannya secara otomatis memutar kembali kejadian bertahun-bertahun silam itu. Saat pertemuan pertama mereka.
“Kalau begitu, kami permisi dulu, Ustadz, Ibuk.” Pamit Pamungkas sambil berdiri dan menyalami Ustadz Syuhada.
“Iya. Hati-hati, Nak Pam. Kami titip Chan sama Binar, ya.” Ujar Ustadz Syuhada menepuk pundak Pamungkas.
“Chan jangan nakal, ya.” Pesan Rukayah memperingatkan.
“Oke.” Jawab Chan sambil menyalami kakung dan utynya.
“Binar pergi dulu, Yah, Buk. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam.”
Kedua orang tua Binar mengantar mereka sampai diteras rumah. Melihat Chan yang asyik bergelayut di gendongan Pamungkas dan menjadikan punggung Pamungkas sebagai jalur track untuk mainan motornya.
Tapi Pamungkas membiarkannya saja. Ia malah tertawa senang dengan aksi Chan itu.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1