Pindah

Pindah
75


__ADS_3

Malam ini, semua sedang berkumpul di kamar Binar. Kedua


orang tua Binar, dan juga kedua orang tua Pamungkas. Bahkan Ubay dan


teman-teman Binar juga ada disana.


Yuli, Via dan Sonya sedang mengerubuti Binar yang duduk di


atas ranjangnya. Sementara para orang tua memilih untuk mengobrol di sofa yang


di pisahkan oleh sekat dinding.


“Kamu gak perlu merasa sendiri ya, Bin. Ada kita-kita. Jadi


ceritain semua apapun yang kamu mau sama kita.” Ujar Via dengan mata yang mulai


berair. Disambut dengan anggukan kepala dari Sonya dan Yuli.


“Makasih ya, kalian udah datang kesini.”


“Pokoknya kalau kamu butuh apa-apa, atau kamu pengen


sesuatu, bilang sama kita. Gak usah malu.” Timpal Sonya.


Binar kembali menganggukkan kepalanya.


Selebihnya mereka memilih untuk mengobrol ringan perihal pekerjaan


dan asmara. Membuat Binar merasa sedikit melupakan tentang penyakitnya.


Sementara di sofa, mereka sedang membicarakan Binar. Langkah


apa kiranya yang terbaik yang bisa di ambil untuk kesembuhan Binar.


Berkali-kali Rukayah mere mas jemarinya sendiri. Haya yang


melihat kegundahan dari besannya itu hanya bisa mencoba menenangkannya sambil


mengusap punggung.


“Walaupun rahimnya di angkat, Binar masih harus menjalani


beberapa kemoterapi lagi.” Jelas Pamungkas.


“Apa kita kirim saja dia ke singapura? Disana kan terkenal


dengan pengobatannya yang canggih.” Usul Hendrana.


“Rumah sakit kita juga gak kalah canggih kok Pa. Kita usaha


dulu disini.” Ujar Pamungkas. Dan semua akhirnya menyetujui usulan Pamungkas.


Dan selebihnya mereka juga memilih untuk mengobrol ringan.


Dan sampailah topik pembicaraan itu kepada Ubay.


“Nak Ubay kapan mau berencana melepas masa lajang?” Sebuah


pertanyaan dari Ustadz Syuhada yang membuat Ubay terperanjat. Ia jadi salah


tingkah.


“Apa perlu kami kenalkan?” Timpal Rukayah.


Ubay menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal sambil


tersenyum.


“Ehm, sebenarnya aku juga mau ngobrol-ngobrol perihal ini, Pak


Ustadz.”


“Oh ya? Bagus itu.” Ustadz Syuhada nampak senang


mendengarnya.


“Tentang Yeva, Pak Ustadz. Aku berniat untuk menjadikan Yeva


sebagi istriku.”


Semua orang yang mendengar pernyataan Ubay itu nampak sangat


terkejut. Terlebih Pamungkas. Ia terbelalak kepada Ubay tidak percaya.


“Alhamdulillah. Tapi aku masih ragu pak Ustadz, apa Yeva


akan nerima aku? Aku takut dia merasa tersinggung dan merasa di kasihani”


“Abis ini kita tanyakan langsung sama Yeva. Semoga dia gak


merasa begitu.” Usul Ustadz Syuhada kemudian. Dijawab dengan anggukan kepala

__ADS_1


oleh Ubay.


Jujur, perasaannya kini sedang ragu. Dia menyayangi Yeva.


Tapi apakan rasa sayang itu akan cukup sebagai modal untuk berumah tangga


bersama dengan gadis itu?


Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, teman-teman


Binar pamit untuk pulang. Sementara para orang tua hendak pergi ke kamar Yeva.


“Kamu mau ikut, apa nunggu disini aja?” Tanya Pamungkas


kepada istrinya.


“Memangnya kenapa semua mau pergi ke kamar Yeva, Mas?” Tanya


Binar penasaran.


“Mau nemenin Ubay ngelamar Yeva.”


“Hah? Beneran? Alhamdulillah. Aku ikut kalau gitu.”


“Ya udah ayo. Sini aku bantu.” Pamungkas membantu istrinya


untuk turun dari ranjang kemudian menuntunnya berjalan.


Binar nampak sangat lemah, tapi ia masih berusaha untuk


mengumpulkan tenaganya. Ia berjalan tertatih dengan dibantu oleh Pamungkas. Sementara


keluarganya sudah lebih dulu pergi ke kamar Yeva.


Yeva sangat terkejut karna kedatangan begitu banyak orang ke


kamarnya. Ia yang semula sedang berbaring langsung berusaha untuk duduk.


Rukayah segera membantu gadis itu.


“Gimana kabarmu, Va?” Tanya Rukayah.


“Baik, Buk.”


“Alhamdulillah. Ibuk ikut seneng dengernya.”


“Ibuk dari rumah?”


Pada saat yang bersamaan, Binar dan Pamungkas masuk kedalam.


“Buk, makasih banyak ya, Buk. Udah bantuin aku ngurus


pemakaman Ibukku. Pak Ustadz juga.” Ujar Yeva dengan tulus. Ia merasa


beruntung. Ditengah-tengah kesendiriannya masih banyak orang-orang yang peduli


padanya.


“Sama-sama. Kami gak keberatan kok, Va. Udah sewajarnya


saling bantu.”


“Va, saya mau tanya, apa kamu sudah siap untuk menikah?”


Tanya Ustadz Syuhada.


Yeva yang nampak sangat terkejut dengan pertanyaan itu hanya


bisa ternganga saja. Belum  bisa mencerna


maksud di balik pertanyaan itu.


“Ada laki-laki yang ingin memintamu menjadi istrinya.” Ujar


Ustadz Syuhada lagi.


Yeva hanya mengernyitkan keningnya. Jantungnya seakan


berhenti berdetak.


Siapa yang mau menikahinya dengan kondisinya yang seperti


ini?


Itulah yang pertama terlintas di benaknya. Ia mengedarkan


pandangannya ke semua orang yang ada disana. Dan berhenti kepada Ubay yang


sedang menundukkan kepalanya.


“Siapa itu Pak Ustadz?” Tanya Yeva yang sudah sangat

__ADS_1


penasaran.


Ustadz Syuhada menoleh kepada Ubay yang berdiri di


belakangnya. Kemudian Ubay berjalan mendekat kepada Yeva. Menatap Yeva dalam sambil


tersenyum.


“Mas, kamu?” Yeva semakin terkejut. Sama sekali tidak


menyangka kalau Ubay berniat menikahinya


“Kamu mau ya Va, jadi istriku?” Ujar Ubay pada akhirnya.


Suara Yeva tercekat. Kedua alisnya berkerut.


Bukan tatapan senang yang didapatkan oleh Ubay. Ia justru mendapatkan


tatapan marah dari gadis itu.


“Kenapa? Mas Ubay kasihan sama aku? Mas fikir aku gak bisa


ngurus diriku sendiri dengan keadaan begini? Mas Ubay gak usah sok baik deh.”


Ujar Yeva. Membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main.


“Astaghfirullah haladzim. Va? Kok ngomongnya begitu?” Binar


ikut menimpali. Ia tidak terima jika Yeva salah sangka dengan niat baik Ubay.


“Jadi apa? Mas Ubay kan cuma kasihan sama aku? Udah sebatang


kara, kakinya buntung lagi.”


Tidak ada yang berani membantah ucapan gadis itu. Mereka


semua tahu seputus asa apa Yeva sampai dia berbicara seperti itu. Gadis itu


merasa tersinggung dengan niat baik Ubay.


“Ya. Aku memang kasihan sama kamu. Tapi aku mau nikahin kamu


bukan karna alasan itu. Tapi karna aku sayang sama kamu. Perasaan tulusku dari


sini.” Ujar Ubay sambil menunjuk dadanya. “Biar aku temani kamu seumur hidupmu,


Va.”


Ubay menatap dalam netra milik Yeva. Ia ingin menunjukkan


ketulusan dan keseriusannya untuk menikahi gadis itu.


Yeva berhasil menemukan ketulusan itu. Ia menatap Ubay


dengan mata yang bergetar. Kemudian perlahan airmatanyapun menetes. Ia semakin mengasihani


dirinya sendiri.


Ubay semakin memberanikan dirinya. Ia berlutut di samping


ranjang Yeva kemudian mengeluarkan kotak berisi sebuah cincin.


“Aku sayang sama kamu, Va. Kita nikah ya?”


Masih dalam keadaan menangis, Yeva mencoba untuk meyakinkan


dirinya. Dia memang tidak punya perasaan apapun kepada Ubay, tapi melihat


ketulusan pria yang umurnya terpaut sangat jauh darinya itu, membuat hatinya luluh.


Perlahan Yeva menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam. Perlahan


dia membuka matanya dan kembali mengangguk dengan yakin.


Kecelakaan itu mungkin sudah merenggut ibu dan ke dua


kakinya sehingga ia pesimis untuk kembali bahagia. Tapi kemudian Allah mengirimkan


pria paling baik yang pernah di kenalnya dan ingin menikahinya.


Entah, Yeva harus bersyukur atau bagaimana.






*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2