
Malam ini, semua sedang berkumpul di kamar Binar. Kedua
orang tua Binar, dan juga kedua orang tua Pamungkas. Bahkan Ubay dan
teman-teman Binar juga ada disana.
Yuli, Via dan Sonya sedang mengerubuti Binar yang duduk di
atas ranjangnya. Sementara para orang tua memilih untuk mengobrol di sofa yang
di pisahkan oleh sekat dinding.
“Kamu gak perlu merasa sendiri ya, Bin. Ada kita-kita. Jadi
ceritain semua apapun yang kamu mau sama kita.” Ujar Via dengan mata yang mulai
berair. Disambut dengan anggukan kepala dari Sonya dan Yuli.
“Makasih ya, kalian udah datang kesini.”
“Pokoknya kalau kamu butuh apa-apa, atau kamu pengen
sesuatu, bilang sama kita. Gak usah malu.” Timpal Sonya.
Binar kembali menganggukkan kepalanya.
Selebihnya mereka memilih untuk mengobrol ringan perihal pekerjaan
dan asmara. Membuat Binar merasa sedikit melupakan tentang penyakitnya.
Sementara di sofa, mereka sedang membicarakan Binar. Langkah
apa kiranya yang terbaik yang bisa di ambil untuk kesembuhan Binar.
Berkali-kali Rukayah mere mas jemarinya sendiri. Haya yang
melihat kegundahan dari besannya itu hanya bisa mencoba menenangkannya sambil
mengusap punggung.
“Walaupun rahimnya di angkat, Binar masih harus menjalani
beberapa kemoterapi lagi.” Jelas Pamungkas.
“Apa kita kirim saja dia ke singapura? Disana kan terkenal
dengan pengobatannya yang canggih.” Usul Hendrana.
“Rumah sakit kita juga gak kalah canggih kok Pa. Kita usaha
dulu disini.” Ujar Pamungkas. Dan semua akhirnya menyetujui usulan Pamungkas.
Dan selebihnya mereka juga memilih untuk mengobrol ringan.
Dan sampailah topik pembicaraan itu kepada Ubay.
“Nak Ubay kapan mau berencana melepas masa lajang?” Sebuah
pertanyaan dari Ustadz Syuhada yang membuat Ubay terperanjat. Ia jadi salah
tingkah.
“Apa perlu kami kenalkan?” Timpal Rukayah.
Ubay menggaruk sebelah alisnya yang tidak gatal sambil
tersenyum.
“Ehm, sebenarnya aku juga mau ngobrol-ngobrol perihal ini, Pak
Ustadz.”
“Oh ya? Bagus itu.” Ustadz Syuhada nampak senang
mendengarnya.
“Tentang Yeva, Pak Ustadz. Aku berniat untuk menjadikan Yeva
sebagi istriku.”
Semua orang yang mendengar pernyataan Ubay itu nampak sangat
terkejut. Terlebih Pamungkas. Ia terbelalak kepada Ubay tidak percaya.
“Alhamdulillah. Tapi aku masih ragu pak Ustadz, apa Yeva
akan nerima aku? Aku takut dia merasa tersinggung dan merasa di kasihani”
“Abis ini kita tanyakan langsung sama Yeva. Semoga dia gak
merasa begitu.” Usul Ustadz Syuhada kemudian. Dijawab dengan anggukan kepala
__ADS_1
oleh Ubay.
Jujur, perasaannya kini sedang ragu. Dia menyayangi Yeva.
Tapi apakan rasa sayang itu akan cukup sebagai modal untuk berumah tangga
bersama dengan gadis itu?
Setelah melaksanakan sholat isya berjamaah, teman-teman
Binar pamit untuk pulang. Sementara para orang tua hendak pergi ke kamar Yeva.
“Kamu mau ikut, apa nunggu disini aja?” Tanya Pamungkas
kepada istrinya.
“Memangnya kenapa semua mau pergi ke kamar Yeva, Mas?” Tanya
Binar penasaran.
“Mau nemenin Ubay ngelamar Yeva.”
“Hah? Beneran? Alhamdulillah. Aku ikut kalau gitu.”
“Ya udah ayo. Sini aku bantu.” Pamungkas membantu istrinya
untuk turun dari ranjang kemudian menuntunnya berjalan.
Binar nampak sangat lemah, tapi ia masih berusaha untuk
mengumpulkan tenaganya. Ia berjalan tertatih dengan dibantu oleh Pamungkas. Sementara
keluarganya sudah lebih dulu pergi ke kamar Yeva.
Yeva sangat terkejut karna kedatangan begitu banyak orang ke
kamarnya. Ia yang semula sedang berbaring langsung berusaha untuk duduk.
Rukayah segera membantu gadis itu.
“Gimana kabarmu, Va?” Tanya Rukayah.
“Baik, Buk.”
“Alhamdulillah. Ibuk ikut seneng dengernya.”
“Ibuk dari rumah?”
Pada saat yang bersamaan, Binar dan Pamungkas masuk kedalam.
“Buk, makasih banyak ya, Buk. Udah bantuin aku ngurus
pemakaman Ibukku. Pak Ustadz juga.” Ujar Yeva dengan tulus. Ia merasa
beruntung. Ditengah-tengah kesendiriannya masih banyak orang-orang yang peduli
padanya.
“Sama-sama. Kami gak keberatan kok, Va. Udah sewajarnya
saling bantu.”
“Va, saya mau tanya, apa kamu sudah siap untuk menikah?”
Tanya Ustadz Syuhada.
Yeva yang nampak sangat terkejut dengan pertanyaan itu hanya
bisa ternganga saja. Belum bisa mencerna
maksud di balik pertanyaan itu.
“Ada laki-laki yang ingin memintamu menjadi istrinya.” Ujar
Ustadz Syuhada lagi.
Yeva hanya mengernyitkan keningnya. Jantungnya seakan
berhenti berdetak.
Siapa yang mau menikahinya dengan kondisinya yang seperti
ini?
Itulah yang pertama terlintas di benaknya. Ia mengedarkan
pandangannya ke semua orang yang ada disana. Dan berhenti kepada Ubay yang
sedang menundukkan kepalanya.
“Siapa itu Pak Ustadz?” Tanya Yeva yang sudah sangat
__ADS_1
penasaran.
Ustadz Syuhada menoleh kepada Ubay yang berdiri di
belakangnya. Kemudian Ubay berjalan mendekat kepada Yeva. Menatap Yeva dalam sambil
tersenyum.
“Mas, kamu?” Yeva semakin terkejut. Sama sekali tidak
menyangka kalau Ubay berniat menikahinya
“Kamu mau ya Va, jadi istriku?” Ujar Ubay pada akhirnya.
Suara Yeva tercekat. Kedua alisnya berkerut.
Bukan tatapan senang yang didapatkan oleh Ubay. Ia justru mendapatkan
tatapan marah dari gadis itu.
“Kenapa? Mas Ubay kasihan sama aku? Mas fikir aku gak bisa
ngurus diriku sendiri dengan keadaan begini? Mas Ubay gak usah sok baik deh.”
Ujar Yeva. Membuat semua orang yang ada disana terkejut bukan main.
“Astaghfirullah haladzim. Va? Kok ngomongnya begitu?” Binar
ikut menimpali. Ia tidak terima jika Yeva salah sangka dengan niat baik Ubay.
“Jadi apa? Mas Ubay kan cuma kasihan sama aku? Udah sebatang
kara, kakinya buntung lagi.”
Tidak ada yang berani membantah ucapan gadis itu. Mereka
semua tahu seputus asa apa Yeva sampai dia berbicara seperti itu. Gadis itu
merasa tersinggung dengan niat baik Ubay.
“Ya. Aku memang kasihan sama kamu. Tapi aku mau nikahin kamu
bukan karna alasan itu. Tapi karna aku sayang sama kamu. Perasaan tulusku dari
sini.” Ujar Ubay sambil menunjuk dadanya. “Biar aku temani kamu seumur hidupmu,
Va.”
Ubay menatap dalam netra milik Yeva. Ia ingin menunjukkan
ketulusan dan keseriusannya untuk menikahi gadis itu.
Yeva berhasil menemukan ketulusan itu. Ia menatap Ubay
dengan mata yang bergetar. Kemudian perlahan airmatanyapun menetes. Ia semakin mengasihani
dirinya sendiri.
Ubay semakin memberanikan dirinya. Ia berlutut di samping
ranjang Yeva kemudian mengeluarkan kotak berisi sebuah cincin.
“Aku sayang sama kamu, Va. Kita nikah ya?”
Masih dalam keadaan menangis, Yeva mencoba untuk meyakinkan
dirinya. Dia memang tidak punya perasaan apapun kepada Ubay, tapi melihat
ketulusan pria yang umurnya terpaut sangat jauh darinya itu, membuat hatinya luluh.
Perlahan Yeva menganggukkan kepalanya dengan mata terpejam. Perlahan
dia membuka matanya dan kembali mengangguk dengan yakin.
Kecelakaan itu mungkin sudah merenggut ibu dan ke dua
kakinya sehingga ia pesimis untuk kembali bahagia. Tapi kemudian Allah mengirimkan
pria paling baik yang pernah di kenalnya dan ingin menikahinya.
Entah, Yeva harus bersyukur atau bagaimana.
*
__ADS_1
Bersambung...