Pindah

Pindah
36


__ADS_3

“Bin, udah kubayar biayanya. Kamu gak usah khawatir.” Ujar Yuli yang baru kembali untuk menebus obat dan membayar biaya rumah sakit Chan.


“Makasih ya, Yul. Kita pulang sekarang ya, sayang?” Ajak Binar. Chan hanya mengangguk saja. Lukanya mulai terasa perih jika digerakkan.


Binar menggendong Chan saat keluar dari rumah sakit. Yuli berjalan dibelakangnya dengan Masih merasa bersalah dan kasihan kepada Chan.


“Maafin tante ya, Chan? Kamu pasti takut banget tadi.”


Chan hanya menatap saja kepada Yuli. Tidak tau harus menjawab apa.


“Udah, gak usah difikirin lagi. Luka Chan kan udah diobatin. Besok lusa juga udah sembuh. Bukan salahmu juga, Yul. Iya kan Chan?” Binar meminta pendapat putranya.


Dikejauhan, Pamungkas terus melihat mereka tanpa disadari. Ia ingin menghampiri Binar dan menawarkan untuk mengantarkan mereka pulang.


Tapi langkahnya terhenti saat ia melihat Ubay yang berlari dengan regesa-gesa mendekati Binar dan Yuli, dan juga Chan. Hubungannya menjadi buruk sejak Ubay meninjunya dulu. Karna hal itu pula Ubay sampai meninggalkan rumah sakit dan memutus semua kontak dengan Pamungkas.


“Chan. Kamu gak apa-apa?” Tanya Ubay dengan panik.


“Sakit.” Chan memperlihatkan perban yang ada di lutut dan sikunya kepada Ubay


“Ah, cuma segini doang. Gak Masalah buat anak muda yang keren kayak Chan.” Ubay mencoba memberikan pengaruh positif lewat kata-katanya. Padahal dia juga tau kalau luka itu pasti akan terasa perih.


Ubay meniup-niup perban yang ada di siku Chan dengan lembut. Kemudian mengusap-usap puncak kepala Chan sambil tertawa.


“Mas Ubay kok bisa ada disini?” Tanya Binar.


“Aku tadi yang telfon Mas Ubay, Bin. Saking paniknya.” Jawab Yuli.


“Chan pulang sama Oom Bay, ya? Oom Bay bawa mobil. Biar mama bawa motor.” Pinta Ubay merayu.


“Mau Chan? Kalau naik mobil sama Oom Bay sama tante Yuli, lututnya Chan gak bakalan sakit. Nanti mama ngikutin dari belakang.”


“Gak mau! Maunya sama Mama!” Tolak Chan meninggikan suaranya.


“Tapi kalau naik motor sama Mama, lututnya Chan gak bisa lurus, nanti tambah sakit.” Jelas Binar.


“Gak mau.” Chan semakin mengeratkan rangkulannya di leher Binar dan menenggelamkan wajahnya disana.


“Ehm, Bin. Biar aku aja yang bawa motor kamu. Kamu bisa naik mobil sama Mas Ubay. Kasihan Chan. Lagian motorku Masih di bengkel.” Tawar Yuli.


“Kamu gak apa-apa baru jatuh dari motor udah bawa motor lagi?” Binar memastikan. Ia kasihan dengan Yuli karna sepertinya temannya itu juga Masih sedikit syok.


“Aku gak apa-apa. Udah mana kontak motornya?”


Binar memberikan kontak motornya kepada Yuli. Kemudian ia berjalan mengikuti Ubay menuju ketempat parkir.


Dari kejauhan, Pamungkas hanya bisa melihat pemandangan itu dengan seribu prasangkanya. Pias memandangi punggung Binar yang berjalan dibelakang Ubay sampai mereka Masuk kedalam mobil.


Ia terkejut saat Fauzan berlari-lari mendekat kearahnya dan memberitahu kalau ia harus segera melakukan operasi.

__ADS_1


Ubay melajukan mobilnya secara perlahan. Sesekali ia melirik Chan yang sedang tertidur di pangkuan Binar yang duduk disampingnya.


“Gimana kejadiannya sih?” Tanya Ubay memecah keheningan.


“Katanya sih di serempet sama mobil, Mas. Aku juga belum jelas dengar ceritanya dari Yuli.”


“Ya ampun, Chan, Chan. Ada-ada aja kamu.”


Sesampainya dirumah, Rukayah sedang menunggu kepulangan mereka di depan gerbang dengan wajah yang khawatir. Tadi dia langsung pulang saat Binar menelfonnya dan mengabari kalau Chan kecelakaan.


“Assalamu’alaikum, Buk.”


“Wa’alaikum salam.” Rukayah langsung berlari menghampiri Binar yang baru saja turun dari mobil. “Ya ampun, Chan. Hana ti lagu ni ni? (kenapa jadi begini?)” Seru Rukayah. Ia meneteskan airmatanya melihat perban di lutut dan siku Chan.


“Uty...” Panggil Chan. Ia mulai hampir menangis sambil merentangkan kedua tangannya meminta digendong oleh utynya.


“Ayo, Masuk dulu, nak Ubay.” Ajak Rukayah.


“Iya, Buk.”


Mereka kemudian Masuk kedalam rumah. Ubay duduk di sofa diruang tamu. Disana Ustadz Syuhada juga sedang duduk sambil membaca sebuah buku.


“Assalamu’alaikum, Ustadz. Bagaimana kabarnya?” Sapa Ubay sambil menyalami Ustadz Syuhada. Kemudian duduk di sofa di seberangnya.


“Wa’alaikum salam. Alhamdulillah. Sudah semakin baik. Terimakasih ya, Nak Ubay. Sudah mengantarkan Chan pulang.”


Rukayah terus memangku Chan dan duduk disamping suaminya. Sementara Binar langsung pergi kedapur untuk membuatkan minuman.


“Mana yang sakit, Chan?” Tanya Ustadz Syuhada kepada cucunya.


Dengan bibir yang manyun, Chan menunjukkan perban di sikunya. Ustadz Syuhada langsung memberikan tiupan kecil untuk menenangkan Chan.


“Perih.” Adu Chan kepada kakeknya.


“Sabar, ya. Nanti sembuh.” Jawab Ustadz Syuhada. Chan kembali mengangguk. Ingin sekali ia beralih kepangkuan kakeknya, tapi ia tahu kalau kakeknya juga sedang tidak sehat.


Binar kembali dari dapur dengan membawa beberapa gelas minuman teh di atas nampan. Ia langsung membagikannya kepada semua yang ada diruang tamu.


“Silahkan dminum dulu, Mas.” Ujar Binar mempersilahkan.


“Makasih, Bin.”


“Motormu kemana, Bin?” tanya Rukayah yang baru teringat kalau Binar pulang naik mobil bersama dengan Ubay.


“Dibawa Yuli, Buk. katanya dia langsung pulang kerumahnya.” jawab binar.


“Dia gak apa-apa kan?”


“Gak apa-apa, Buk. Yuli gak luka. cuman Chan yang luka.”

__ADS_1


“Alhamdulillah.....”


“Chan, ayo Mama antar ke kamar. Istirahat, biar cepet sembuh.” Pinta Binar.


Ia mengambil Chan dari pangkuan neneknya. Kemudian menggendongnya Masuk kedalam kamar. Lama Binar berada didalam kamar karna menunggu Chan tertidur.


Diruang tamu, sedang terjadi obrolan ringan diantara Ubay, Ustadz Syuhada dan istrinya.


“Maaf ya Nak Ubay. Putri kami selalu merepotkan Nak Ubay seperti ini.” Ujar Ustadz Syuhada.


“Tidak apa-apa, Ustadz. Selagi saya mampu membantu, saya akan membantu apapun.”


“Ya Allah. Andaikan Binar mau membuka hatinya buat Nak Ubay, Ibuk pasti bersyukur sekali. Tapi apalah daya kami. Hati Binar seperti sudah membeku. Dia terlalu memfokuskan diri kepada kami. Sampai tidak mempedulikan perasaannya sendiri.” Seloroh Rukayah mengungkapkan isi hatinya.


Memang sejauh keluarga mereka mengenal Ubay, dia adalah pria yang baik, juga ramah. Rajin ibadah dan sangat santun dengan orang yang jauh lebih tua. Benar-benar sosok menantu idaman bagi perempuan seperti Rukayah.


“Harap bersabar ya, Nak Ubay. Kami selalu mendoakan yang terbaik untuk Nak Ubay dan putri kami.” Timpal Ustadz Syuhada.


“Terimakasih Ustadz. Semoga Allah meng-ijabah semua do’a kita. Dan semoga Ustadz segera diberikan kesembuhan oleh Allah.”


Semua mengaminkan kalimat do’a yang terucap oleh Ubay.


“Kalau begitu, saya Pamit dulu ya Ustadz, Buk.” Pamit Ubay setelah menghabiskan minumannya.


“Kok buru-buru Nak Ubay?” Tanya Rukayah.


“Saya Masih ada urusan di klinik Buk.”


“Oh, gitu. Yaudah. Hati-hati.”


“Assalamu’alaikum...”


“Wa’alaikum salam.” Jawab Ustadz Syuhada dan istrinya bersamaan.


Ustadz Syuhada hanya mengantarkan Ubay dengan pandangannya. Kakinya masih lemas kalau dibuat berjalan.


Mereka sangat tau bagaimana perasaan Ubay kepada putri mereka. Sudah berkali-kali juga, baik Ustadz Syuhada maupun istrinya memberi pengertian dan membujuk Binar untuk menerima Ubay sebagai suaminya. Tapi Binar tetap kekeuh dengan perasaannya. Rasa segannya kepada pria itu begitu tinggi. Sampai ia tidak bisa memaksakan perasaannya.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2