Pindah

Pindah
71


__ADS_3

Kesedihan dan ketakutan yang tengah di rasakan oleh Binar, perlahan mencair karna dekapan hangat suaminya. Pria itu bahkan ikut tidur di ranjang bersama dengan Binar. Seolah tidak mau melepaskannya bahkan sedetikpun.


Binar sudah ikhlas atas penyakit yang dideritanya. Untungnya dia memiliki hati yang besar dan keteguhan iman. Sehingga ia mampu membuat perasaannya jauh lebih tenang. Perasaan takut itu memang tetap ada dan bersemayam di hati kecilnya. Tapi ia harus tegar demi dirinya sendiri, dan juga keluarganya. Allah selalu menyertakan penyakit dengan obatnya. Ia yakin jika ia akan sembuh.


“Mas, udah siang lho, kamu gak kerja?” Tanya Binar lirih. Ia masih menenggelamkan wajahnya di dada bidang Pamungkas.


“Enggak. Aku mau nemenin kamu aja disini.”


“Kok gitu? Katanya banyak kerjaan, ada operasai juga kan?”


“Biarin aja. Biar si Fauzan yang urus kerjaan aku. Pokoknya aku mau disini aja sama kamu.” Dengus Pamungkas lagi.


“Nanti kalau kamu di pecat, terus yang biayain pengobatanku siapa, Mas? Mahal lho.” Seloroh Binar kemudian.


Mendengar itu, Pamungkas memandang istrinya dengan alis yang berkerut. “Ah, gampang itu. Kita jual emas yang ada di rumah.”


Binar tekekeh kecil mendengar jawaban itu. Ia teringat dengan brangkas yang ada di ruang kerja suaminya.


“Kerja gih, aku gak apa-apa. Beneran. Aku gak mau terlalu mikirin penyakit ini. Karna semakin difikirin, nanti malah semakin sakit. Kamu ke ruanganmu ya, aku mau mampir ke tempat Yeva sama Mas Ubay dulu.” Rayu Binar.


“Gak usah kelayapan. Istirahat aja disini.”


“Aku butuh pelarian, Mas. Aku butuh hiburan. Biar gak terlalu takut.”


Memikirkan ucapan istrinya, akhirnya Pamungkas mengijinkan Binar untuk pergi ke kamar Ubay.


“Ya udah kalau gitu, aku ke kantor dulu ya. Nanti aku kesini lagi.” Ujar Pamungkas sambil mendaratkan kecupan di puncak kepala istrinya.


“Iya. Oh iya, mas. Mbak Reanty jadi kesini gak hari ini?”


“Gak tau. Jadi mungkin. Aku udah kasih tau nomor kamar Ubay kok. Biar kalau dia datang nanti bisa langsung kesana.”


“Ow.”


Cup.


Kali ini Binar yang mengecup pipi suaminya itu. Membuat Pamungkas ternganga dengan wajah yang lucu.


Sambil menarik nafas dalam, Binar mengantarkan kepergian suaminya sampai di depan ruangannya. Kemudian ia berjalan menuju ke ruangan Ubay dan Yeva.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam...” Jawab Ubay berbarengan dengan Yeva.


Binar melongokkan kepalanya sebelum masuk kedalam. Ia tersenyum kepada Ubay yang ternyata sedang merayu Yeva agar mau makan.


Prang.!!!


Tiba-tiba Yeva menampik piring yang sedang di pegang oleh Ubay dan terjatuh ke lantai. Membuat isinya berhamburan kemana-mana.


“Yeva!!” Pekik Binar yang langsung berjalan menghampiri Yeva.


“Aku gak mau makan. Percuma aku makan juga gak akan bisa jalan lagi!” Teriak Yeva dengan penuh putus asa.


“Istighfar, Va. Kamu fikir ibumu bakalan seneng lihat kamu begini?”


“Ibuk udah gak bisa lihat aku, Mbak. Jadi gak ada gunanya.”


“Kamu pengen buat Ibumu nangis di sana? Kamu pengen buat Ibumu kecewa? Iya? Aku gak nyangka kalau kasih sayangmu sama Ibumu sedangkal ini.”


“Apa maksudnya Mbak ngomong begitu?”


“Ibumu udah meninggal, jadi semua amalannya udah terputus. Sekarang, cuma kamu yang bisa nolong Ibumu. Jadi anak yang sholehah, supaya amalanmu mengalir ke Ibumu. Kalau kamu semudah ini putus asa, kamu bukan anak yang sholehah. Karna anak yang sholehah itu harus bisa kuat. Seberat apapun cobaan yang datang, yakin kalau Allah bakalan menggantinya dengan kebahagiaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.”


“Kalau kamu fikir keadaanmu yang paling menyedihkan? Kamu salah, Va. Selain kamu, masih banyak orang yang jauh lebih menyedihkan dari kamu. Mereka bahkan harus mengorbankan hal yang sangat berharga. Bahkan mereka harus mempertaruhkan nyawa sekalipun. Jangan mengukur penderitaanmu dengan orang lain.”


Yeva jadi terdiam mendengar ucapan Binar. Membuat perasaannya perlahan luluh. Melunturkan ke egoisan karna merasa bahwa dirinyalah orang yang paling menderita. Ia menundukkan wajahnya dalam. Menyesali sikap kasarnya.


“Maafin aku, Mas.” Ujarnya kepada Ubay.


“Iya. Yang sabar ya Va. Aku tau ini berat buat kamu. Tapi aku akan ada disampingmu. Kamu gak perlu takut. Kamu bisa dapat kaki palsu kalau kamu udah sembuh.” Ujar Ubay sambil membereskan makanan yang tumpah di lantai.


Suasana tegang di ruangan itu perlahan menghangat. Karna kemarahan Yeva, sampai membuat Ubay tidak memperhatikan kalau Binar sedang mengenakan infus.


“Lho, Bin? Kamu kenapa? Kok di infus?” Tanya Ubay.


Yeva yang menundukkan wajahnya melihat kearah tiang penyangga di sebelah Binar. “Mbak sakit?”


“Biasalah, sakitnya perempuan.” Jawab Binar sambil memaksakan senyumannya.

__ADS_1


“Pamungkas mana?” Tanya Ubay lagi.


“Lagi di kantornya, Mas.”


“Ya ampun. Dasar gak berperi kesuamian. Istri lagi sakit malah di tinggal kerja.” Gerutu Ubay.


Membuat Binar dan Yeva malah jadi tertawa. Lucu melihat ekspresi pria itu.


Ubay tersenyum mendengar tawa Yeva. Lega rasanya melihat gadis itu perlahan mampu mengalihkan kesedihannya.


“Nah,, gitu dong. Jangan marah sama nangis melulu. Aku mau Yeva yang ceria kayak dulu.” Ujar Ubay kemudian. Membuat Yeva tersipu malu.


“Mbak tau gimana sedihnya kamu, Va. Tapi kamu pasti bisa kok, jadi kuat. Yuk, bisa yuk.”


“Tapi sekarang aku udah gak bisa jalan, Mbak. Mana mungkin aku pergi ke kampus dengan keadaan begini.”


“Masalah tekhnis itu kita fikirkan sambil jalan. Insha Allah, nanti ketemu solusinya. Yang penting kamu semangat untuk sembuh.”


Entahlah, kenapa Binar jadi sebijak itu mengurusi masalah Yeva. Padahal dia sendiri sedang tidak baik-baik saja. Padahal dia sendiri sedang ketakukan dan membutuhkan suport dari orang-orang di sekitarnya.


Tapi ia merasa bahwa ia tetap harus menyebarkan aura positif itu. Dengan begitu, membuatnya merasa sedikit lebih baik.


“Apa nanti, bakalan ada yang mau sama aku ya, Mbak? Apa ada yang mau punya istri yang kakinya buntung begini?” Fikiran Yeva menerawang jauh tentang masa depannya.


“Insha Allah. Makanya jangan putus asa. Jodoh setiap orang itu udah di jamin sama Allah. Tinggal kita tunggu aja waktu yang tepat sambil terus memperbaiki diri.”


“Amin, Mbak. Semoga aja.”


Ubay yang sejak tadi hanya mendengar dan memperhatikan saja dua wanita itu, merasa bangga karna dia pernah memiliki perasaan kepada Binar. Binar adalah wanita yang sangat hebat di matanya. Tidak salah jika dia menambatkan nama wanita itu di hatinya selama bertahun-tahun. Walaupun kini Binar sudah membina rumah tangga bersama dengan Pamungkas. Dan memaksanya untuk mengakhiri dan merelakan perasaan itu. Tapi ia tetap bangga.


Perlahan senyumanpun muncul di kedua sudut bibirnya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2