
“Ma, Uty kemana?” Tanya Chan kepada ibunya.
Anak itu bertanya tanpa memalingkan wajahnya dari buku gambar yang sedang ia gambar.
“Ehmm,, lagi pergi sama Kakung.”
“Kok aku gak diajak?”
“Kan tadi Chan sekolah.”
“Besok Hari minggu kan, Ma? Kita jadi ke Ragunan, kan?”
“Kan mama udah janji sama Chan. Insha Allah besok kita pergi ke Ragunan.”
“Yesss....” Chan melemparkan senyuman kepada Binar. Kemudian ia kembali melanjutkan gambarnya.
Binar hanya memperhatikan saja putranya yang sedang fokus menggambar. Tapi lama-kelamaan ia jadi penasaran juga. Ia ingin melihat apa yang sednag Chan gambar di bukunya.
“Gambar apa sih? Serius amat.”
Chan mengangkat bukunya dan menunjukkannya kepada Binar. Disana ada gambar seorang anak kecil dan seorang dewasa dengan tubuh yang sangat gemuk dengan wajah yang masih kosong.
“Siapa itu?” Tanay Binar menunjuk kepada gambar yang masih kosong wajahnya. Chan belum membuat mata, hidung, maupun mulut di gambar itu.
“Papa.”
Deg!
“Papa?”
“Iya, Papanya Agung. Terus ini, Agung.” Chan menjelaskan karakter yang dia gambar.
“Hahahahahahaa..” Binar tidak sanggup menahan tawanya. Awalnya ia fikir kalau gambar anak kecil itu adalah Chan sendiri. Ternyata bukan.
“Kok gak dikasih mata? Hidungnya mana? Terus mulutnya?”
“Belum selesai, Ma. Ini baru mau dibuatin.” Jawab Chan yang kembali meletakkan bukunya diatas meja kemudian melanjutkan gambarnya.
Ada rasa nyeri di ulu hati Binar.
Selama ini, Chan tidak pernah tau seperti apa ayahnya. Pasti anak itu juga terkadang merasa iri saat melihat teman-temannya yang mempunai orang tua yang lengkap.
Tapi apa benar anak seumuran Chan sudah berfikir jauh kesana?
“Chan, kangen Papa?” Tanya Binar memancing. Ia ingin tau, apa Chan benar-benar sudah berfikir jauh kesana. Atau hanya perasaannya saja.
Tapi anak itu malah menngeleng.
“Gak kangen? Kenapa?”
“Kan udah ada Kakung.”
Lagi-lagi Binar dibuat tersenyum dengan jawaban Chan.
“Iya, ya. Udah ada Kakung.”
“Udah selesai.” Pekik Chan menyerahkan gambarnya kepada ibunya. Binar memuji pekerjaan putranya itu berkali-kali.
“Mau main kerumah Agung ya, Ma?” Pinta Chan pada akhirnya.
“Boleh. Baik-baik tapi ya.”
Chan mengangguk, mengecup pipi ibunya kemudian berlari keluar rumah.
__ADS_1
Perasaan Binar masih diselimuti rasa was-was. Tentang bagaimana akhir dari pembicaraan kedua orang tuanya dengan Nazril.
Apa Nazril sudah menetapkan hatinya untuk mengkhitbah Binar?
Semoga saja.
“Assalamu’alaikum.”
Suara Rukayah membuat Binar berlari kecil kearah pintu.
“Wa’alaikum salam, Buk.”
Wajah Binar semakin sumringah saat melihat Pakde dan Budenya.
“Selamat datang, Pakde, Bude.” Binar langsung menyalami Pakde dan Budenya.
“Walah, Bin. Kurusan ya. Makin kecil aja badanmu.” Seloroh Hartati. Ia menangkup kedua pipi keponakannya itu.
“Masak sih, De? Perasaan biasa aja.”
“Nanti lagi ngobrolnya, masuk dulu.” Protes Ustadz Syuhada menghentikan cengkerama mereka.
Binar membantu ibunya membuatkan minuman didapur. Kemudian membawakannya keruang tamu.
“Mas Ikhsan mana, De? Katanya tadi ikut?”
“Masih di pondok. Masih ada urusan katanya.”
“Ooh.”
“Monggo, diminum dulu, Mas, Mbak.” Rukayah mempersilahkan kedua iparnya untuk minum.
“Isi Chan? (dimana Chan)” Tanya Rukayah karna tidak melihat cucunya itu dirumah.
Binar sangat ingin tau bagaimna hasil dari perundingan itu. Tapi ia tidak berani bertanya. Jadilah dia menunggu saja.
“Bin,” panggil Kiayi Sahidi, Pakde Binar.
Pria paruh baya itu meletakan gelas teh yang baru saja diminum keatas meja. Ia menghela nafas dalam seolah akan menyampaikan sesuatu yang sulit diungkapkan.
Sementara Ustadz Syuhada terdiam saja.
“Pakde gak tau Harus mulai dari mana.”
“Kenapa Pakde?” Perasaan Binar jadi tidak enak saat melihat ekspresi mereka.
“Nazril gak jadi melanjutkan khitbahnya.”
Kalimat yang meruntuhkan seluruh Harapan Binar itu masih terdengar samar di telinganya.
“Apa Binar boleh tau alasannya?” Binar berusaha untuk tidak terkejut. Padahal tubuhnya sedang mati rasa.
“Diyah keberatan kalau kamu jadi menantunya.” Kali ini Rukayah yang menjawab dengan penuh emosi.
“Buk.” Sergah Ustadz Syuhada.
“Bude rasa, pemberitaan itu berpengaruh besar, Nduk. Walaupun kami sudah menjelaskan, kalau semua berita itu tidak benar. Tapi sepertinya Diyah masih enggan untuk melanjutkan khitbah putranya.” Jelas Hartati.
“Tapi kan udah ada penjelasan dari pihak yang bersangkutan, Bude.”
“Iya, tapi ya entah. Yang jelas dia bilang masih keberatan. Jadi kami gak mau memaksa dan memilih untuk memnghormati keptusan itu.”
Binar terdiam. Ia mere mas jemarinya untuk mengalihkan rasa gugupnya.
__ADS_1
“Mas Nazrilnya, gimana?”
“Nazril sepenuhnya ikut keputusan Ibunya. Dia juga bilang kalau dia masih ragu.” Jawab Ustadz Syuhada. “Yang sabar ya Nduk. Insha Allah, Allah sedang mempersiapkan jodoh terbaik buat kamu.”
Binar tediam untuk beberapa saat.
Rasa kecewa menyergap kedalam hati Binar. Memenuhi seluruh ruang yang ada disana. Menghancurkan seluruh harapan yang ia bungkus dengan do’a-do’a terbaiknya selama ini. Menenggelamkan kebahagiaan yang sempat tumbuh.
“Nduk?” Panggil Rukayah.
“Ya sudah, mau diapakan lagi kalau memang itu keputusan mas Nazril. Binar percaya dengan kata-kata ayah, kalau Allah pasti sedang mempersiapkan jodoh terbaik buat Binar. Dan ayah yang baik buat Chan.”
Sebenarnya Binar ingin menangis.
Dalam keadaan normal, ia pasti sudah menangis. Tapi kali ini ia tegar mendengar semua itu. Hatinya lebih kuat dari yang ia duga.
Mungkin karna dalam hati kecilnya, ia sudah bisa menebaknya karna apa yang dkatakan oleh Nazril tempo Hari.
Kekhawatiran itu benar-benar terjadi rupanya.
Hanya saja ia merasa kecewa kepada pria yang tiba-tiba menjadi pengecut itu. Ternyata Nazril bukanlah pria hebat seperti yang ada didalam bayangannya.
“Seng sabar yo Nduk. Bude bantu do’a supaya kamu mendapat jodoh terbaik.”
“Amin,, makasih Bude. Binar yakin dan pasrah sama Allah.”
Sebenarnya semua orang terkejut degan reaksi Binar yang nampak basa saja walau sedikit gemetar di awal tadi.
Padahal Rukayah saja nampak sangat kecewa dengan keputusan Diyah dan Nazril. Rasanya mau marah saja.
“Bude sama Pakde lama kan disini?” Binar berusaha mengalihkan pembicaraan. Ia tidak ingin membawa keluarganya larut dalam kekecewaan.
“Mungkin skeitar dua atau tiga Hari.” Jawab Kiayi Sahidi.
“Pas banget. Rencana besok Binar sama Chan mau ke Ragunan. Pakde sama Bude ikut ya?”
“Walah, kayaknya gak bisa. Besok Pakde sama Bude udah ada janji” Jelas Hartati.
“Cuma berdua sama Chan, Nduk?” Tanya Rukayah.
“Gak Buk. Sama Yuli juga. Katanya dia kangen sama Chan. Jadinya Binar ajakin aja.”
Suasana perlahan membaik. Semua nampak lega melihat reaksi Binar yang mampu mengendalikan hatinya dengan sangat baik.
“Binar ke belakang dulu ya.” Pamit Binar dengan membereskan gelas dan membawanya kedapur.
“Alhamdulillah, aku sempet khawatir lho Mbak sama Binar. Tapi ternyata dia jauh lebih kuat dari yang aku kira.” Ujar Hartati yang memang sangat mengkhawatirkan keponakannya itu .
“Begitulah, jika berpasrah diri dengan sang penulis takdir, maka tidak ada yang akan terasa berat. Justru akan menjadikan diri kita semakin kuat.” Timpal Kiayi Sahidi.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...