
Hari ini tepat tujuh hari meninggalnya Bik Las. Binar dan Pamungkas dan juga Ubay baru saja kembali dari mengantar Yeva ke makan ibunya. Karna Yeva masih butuh perawatan lebih lanjut, jadi mereka kembali kerumah sakit lagi.
Sudah seminggu ini juga Chan menginap dirumah Kakung dan Utynya. Anak itu masih belum mau di ajak pulang kerumah Pamungkas.
“Va, kamu istirahat aja dulu. Mbak mau pulang sebentar ganti baju.” Pamit Binar kepada Yeva. “Mas, aku pulang dulu, ya.” Pamitnya kepada Ubay.
Ubay dan Yeva hanya mengangguk meng iyakan.
“Kami pulang dulu.” Pamungkas menepuk punggung sahabatnya itu sambil pamit.
“Hati-hati dijalan.” Pesan Ubay.
Pamungkas menggandeng tangan istrinya dengan mesra. Ia sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang kepadanya. Toh kabar tentang pernikahan mereka sudah tersebar ke penjuru rumah sakit. Sekarang tidak ada lagi yang tidak tau kalau Binar adalah istrinya.
Binar juga sudah tidak peduli lagi jika memang masih ada satu dua orang yang mencibir kepadanya. Ia hanya perlu fokus kepada keluarga kecilnya sekarang.
“Rencana besok aku mau ajak Reanty ke sini. Yeva itu penggemar berat reanty. Dulu dia pernah minta tolong sama aku buat minta tanda tangannya Reanty.” Jelas Pamungkas dengan sangat hati-hati. Dia tidak ingin istrinya menjadi salah sangka kepada niat baiknya. Mereka sedang berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang.
“Bagus itu, Mas. Semoga aja bisa balikin semangatnya Yeva. Seenggaknya itu yang bisa kita usahakan. Kasihan aku tuh. Dia udah gak pernah senyum lagi. Padahal dia itu anaknya selalu ceria dan periang."
“Kamu gak marah?” Tanya Pamungkas heran.
“Ngapain aku harus marah?”
“Karna aku ketemu sama Reanty.”
“Memangnya kenapa kalau kamu ketemu sama Mbak Reanty?”
“Kamu gak cemburu?”
“Lah? Kenapa aku harus cemburu?”
Mendengar reaksi dari istrinya, entah kenapa Pamungkas merasa kecewa.
“Kok kamu gak cemburu sih? Seharusnya kamu itu cemburu. Ngelarang aku buat ketemu sama Reanty. Kan dia itu mantan istriku.” Dengus Pamungkas.
Binar terkekeh mendengar ujaran suaminya itu. Dia memang merasa tidak perlu cemburu. Apalagi dengan Reanty.
“Memangnya kamu masih punya perasaan gitu sama Mbak Reanty?”
Sebuah pertanyaan yang berhasil membuat Pamungkas menoleh kepada istrinya.
“Mana pernah aku punya perasaan sama dia. Nikahin dia juga karna kecelakaan.”
“Berarti kamu gak punya perasaan kan, sama dia?”
“Ya enggak lah sayang.”
__ADS_1
“Berarti aku gak punya alasan dong buat cemburu. Karna aku tau kalau cintamu itu cuman buat aku, Mas. Aku gak mau punya keraguan sama kamu. Karna begitu aku punya sedikit aja keraguan, rumah tangga kita bisa goyah. Dan aku gak mau itu. Aku mau rumah tangga kita langgeng sampai tua. Jadi kamu harus bisa jaga hatimu baik-baik supaya aku selalu yakin sama kamu.”
“Ya Allah,,, Alhamdulillah. Aku dikasih istri solehah. Syukur tak terhingga. Insha Allah aku bakalan berusaha sekuat tenaga buat jaga hati dan jaga diri aku, cuma buat kamu sayang. Supaya kamu gak akan pernah raguin perasaanku. Selamanya.”
“Aminnn.. Kamu juga harus bisa jadi ayah yang sholeh, supaya punya anak yang sholeh juga.”
“Iya, sayangku... Mau beli sesuatu, gak?”
“Gak usah deh. Gak ada Chan juga dirumah.”
“Iya, gak kangen apa dia sama kita? Betah amat di rumah Kakungnya.”
“Biarin aja dulu, Mas. Biar dia puas disana. Nanti juga lama-lama minta jemput.”
“Iya. Tapi rumah jadi sepi karna gak ada yang gangguin.”
“Kok jadi ngeluh? Nanti di gangguin jadi ngambek lagi...” Goda Binar.
“Siapa yang ngambek? Mana ada aku ngambek."
“Ooo,, gak ada ya? Iya deh.” Binar terkekeh.
“Awas ya nanti dirumah. Serangan double. Eh enggak. Triple.”
“Ih. Gak gitu juga dong. Nakutin.”
Sesampainya di rumah, Binar langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Entah kenapa hari ini dia merasa sangat lelah. Pinggulnya sakit luar biasa. Ia juga tak nafsu makan.
Ia bahkan tidak mempedulikan suaminya yang terus menggoda dan meraba-raba tubuhnya.
“Mas, aku capek banget. Pinggulku juga sakit.”
“Sakit banget?” Tanya Pamungkas.
Binar mengangguk. Kemudian kembali memejamkan matanya. Tapi sesaat kemudian, ia kembali membuka matanya dan menatap suaminya yang sedang berbaring disebelahnya sambil memandanginya.
“Pengen banget ya?” Tanya Binar lagi. Ia merasa tidak tega jika harus menolak permintaan suaminya itu.
Pamungkas mengangguk cepat. “Soalnya udah berapa hari libur...” Rengeknya kemudian dengan memasang wajah memelas.
“Ya udah, cepetan tapi ya.”
“Kan janjinya triple...”
“Siapa yang janji? Aku gak ada janji kok.”
“Ya udah deh. Satu ronde pun jadi..” Akhirnya Pamungkas pasrah juga.
__ADS_1
Sebenarnya dia agak tidak tega melihat wajah istrinya yang nampak sedikit pucat. Tapi mau bagaimana lagi, dia sedang butuh asupan. Dan bisa bahaya jika tidak dituruti.
Binar membiarkan saja apapun yang sedang dilakukan oleh suaminya. Dia sama sekali tidak bersemangat. Dia sangat lelah. Hanya ingin istirahat. Tapi juga tidak tega jika harus menolak suaminya.
“Ah!!” Pekik Binar tiba-tiba dengan kerasnya.
“Kenapa?” Pamungkas yang terkejut langsung menghentikan aksinya.
“Kok sakit banget ya, Mas? Biasanya gak sesakit ini.” Ujar Binar.
Wajah Binar yang semakin pucat membuat Pamungkas tidak jadi melanjutkan aksinya. Kali ini ia memilih untuk menekan egonya karna tidak tega melihat Binar kesakitan.
“Memangnya, biasanya juga sakit?” Tanya Pamungkas.
Binar mengangguk. “Iya, tapi masih bisa ku tahan. Tapi kok ini sakitnya lebih parah ya?”
Pamungkas mengalihkan tubuhnya dan duduk disamping istrinya. Menatap serius ke dua netra Binar.
“Kamu bilang pinggulmu sakit? Udah berapa lama?”
“Udah lama sih Mas. Sejak sebelum menikah sama kamu udah terasa sakitnya. Tapi gak intens. Belakangan ini sakitnya lebih kerasa. Mungkin karna aku kecapean selalu bolak-balik rumah sakit.”
“Haidmu lancar?” Selidik Pamungkas. Entah kenapa dia seperti merasakan sesuatu.
“Biasanya sih lancar, Mas. Tapi bulan ini aku belum haid. Apa jangan-jangan aku hamil ya Mas?” Tiba-tiba Binar terfikirkan kesana.
Pamungkas tersenyum lebar sekali. Tapi entah kenapa senyum itu nampak seperti dipaksakan.
“Besok kita periksa ke rumah sakit, ya. Semoga saja kamu beneran hamil.”
“Amin... Maaf ya Mas, hari ini kamu terpaksa libur lagi.”
“Gak apa-apa. Lagian kan kamunya lagi gak enak badan. Istirahat gih, biar seger badannya.” Ujar Pamungkas kemudian menyelimuti tubuh istrinya. Mengecupnya pelan sebelum ia mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar.
Binar merasa tidak enak hati. Ia tau kalau Pamungkas mungkin saja merasa kecewa karna malam ini ia tidak bisa melayaninya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sedang tidak punya gairah. Perlahan Binar mengusap perutnya. Membayangkan jika ada makhluk mungil yang berdiam disana. Seutas senyuman muncul mengantarkan Binar ke alam mimpi.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1