Pindah

Pindah
43


__ADS_3

Hanya butuh waktu selama dua hari bagi Pamungkas untuk melakukan tes DNA. Siang ini, ia sedang menunggu hasil tesnya di dalam ruangannya dengan harap-harap cemas. Walaupun ia sudah bisa menduga akan seperti apa hasilnya nanti.


“Pak, saya bawakan hasil tes yang bapak minta.” Ujar Fauzan saat baru memasuki ruangan Pamungkas. Pria berkacamata itu langsung menyerahkan sebuah amplop kepada Pamungkas.


“Makasih, Zan.” Ujar Pamungkas sambil menerima amplop dari Fauzan.


“Kalau begitu saya permisi, Pak.” Fauzan Pamit undur diri dari ruangan itu.


Pamungkas menjawabnya dengan mengangguk. Ia segera membuka amplop yang ada ditangannya itu. Rasanya sungguh tidak sabar.


Hasil dari tes DNA menunjukkan kalau Chan benar-benar anak kandungnya. Seperti yang sudah ia duga.


Seketika Pamungkas langsung memejamkan matanya dengan terus mengucap Syukur kepada Allah.


Akhirnya, pencariannya berakhir disini. Dengan izin Allah ia telah menemukan putranya kembali. Berkali-kali Pamungkas mengucap Syukur. Sampai tidak terasa airmatanya mulai menetes.


Pamungkas segera menelfon kedua orang tuanya dan memberitahu tentang hasil tes itu. Tentu saja mereka sangat bahagia setelah mendengar kabar itu. Kini, sudah jelas keberadaan cucu mereka.


“Jadi kapan kamu mau kerumah Binar, Nak?” Tanya Haya dari seberang telfon.


“Aku langsung kesana habis ini, Ma.”


“Yasudah, Mama do’akan semoga semua berjalan lancar. Semoga ada jalan keluar terbaik nanti.”


“Amin, Ma.”


Pamungkas menutup telfon setelah mengucapkan salam kepada ibunya. Ia menghela nafas dalam. Mempersiapkan diri dan mental untuk memberitahu keluarga Binar.


Setelah ia berhasil menenangkan diri, Pamungkas keluar dari ruangannya menuju kemobilnya. Ia bergegas pergi kerumah Binar.


Hampir setengah jam perjalanan, akhirnya mobil Pamungkas sudah sampai di depan rumah Binar. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah.


Saat hendak turun, ia bisa melihat seorang anak kecil yang sedang bermain mobil-mobilan di teras rumah. Hatinya trenyuh. Antara bahagia dan Bingung.


Untuk sesaat ia tersenyum membayangkan ia akan memeluk putranya itu. Disatu sisi, ia Bingung bagaimana menjelaskan posisinya agar anak itu mengerti kalau dia adalah papa kandungnya.


Pamungkas menghela nafas sekali lagi sebelum akhirnya ia turun dari mobil. Ia berjalan mendekati pagar yang terbuka.


“Assalamu’alaikum...” Seru Pamungkas.


“Wa’alaikum salam.” Jawab Chan yang langsung menoleh kearah tamu.


“Hai, Chan.” Pamungkas berusaha meninggalkan kesan ramah. Ia menahan diri untuk tidak menghambur dan memeluk anak itu. Padahal ia sangat ingin melakukannya. “Udah sembuh, ya?” Imbuhnya.


“Alhamdulillah. Oom siapa?” Tanya Chan dengan wajah polosnya.


“Eemmmm.. Oom,, temen Mama kamu.” Jawaban yang jauh dari yang ia harapkan.

__ADS_1


“Ooo. Temennya Mama. Tapi Mama lagi kerja, Oom.”


Pamungkas tersenyum. Ia mendekati Chan dan berjongkok dihadapannya. Meneliti dengan seksama wajah tampan mungil itu tanpa melewatkan satu bagianpun.


“Oom punya hadiah buat kamu.” Ujar Pamungkas kemudian mengeluarkan sebuah kotak berisi sepeda motor mainan yang terlihat mahal.


“Waahhhhh... Aku belum punya yang kayak gini. Makasih ya Oom...” Jawab Chan. Anak itu nampak sangat senang mendapatkan mainan baru.


“Kakek sama Nenek ada?” Tanya Pamungkas kemudian.


“Ada. Didalam. Sebentar ya, Oom. Aku panggilin dulu.”


Si kecil Chan kemudian berlari masuk kedalam dan memanggil kakeknya.


Tidak lama kemudian, Ustadz Syuhada keluar dengan langkahnya yang masih terlihat lemah. Tapi sudah nampak jauh lebih baik.


“Assalamu’alaikum, Ustadz.” Sapa Pamungkas. Ia segera menunduk dan menyalami pria paruh baya itu.


“Wa’alaikum salam. Oh, nqak Pamungkas to. Mari, mari, silahkan masuk.” Ajak Ustadz Syuhada.


Pamungkas mengikuti Ustadz Syuhada masuk kedalam rumah. Setelah Pamungkas duduk, Rukayah muncul dari dapur.


Perasaan Rukayah sudah tidak karuan. Tapi ia berusha bersikap ramah kepada tamunya itu. Sekilas ia melihat amplop yang dibawa oleh Pamungkas.


Rukayah kembali kedapur untuk membuatkan minuman, setelah menaruh minuman kopi di atas meja, ia ikut duduk di samping suaminya.


“Binarnya lagi kerja, Nak Pam. Sebentar ya. Ibuk telfon dulu.” Ujar Rukayah.


Sebuah kebetulan, karna saat Rukayah menelfon, Binar sudah berada didepan rumahnya.


Binar yang mengernyit saat melihat mobil yang terparkir di depan rumahnya, sudah bisa menebak kalau itu adalah mobil Pamungkas.


Ia memarkirkan sepeda motornya di halaman rumah, kemudian melepas helmnya.


“Assalamu’alaikum.” Sapanya


“Wa’alaikum salam,” jawab orang yang ada didalam rumah. Begitu juga dengan Chan yang sedang bermain dengan mainan barunya.


“Mainan darimana, Chan?” Selidik Binar.


“Dikasih sama Oom ganteng. Itu orangnya lagi didalam.” Jawab Chan.


“Taudah, Mama masuk dulu, ya.”


Chan mengangguk, ia tidak peduli dan kembali melanjutkan mainannya.


“Sudah pulang, Nduk?” Sapa Rukayah mengambut putrinya.

__ADS_1


“Iya, Buk.”


“Ini ada Nak Pamungkas. Duduk dulu.” Ujar Ustadz Syuhada.


Binar melepas jaket ojeknya dan langsung duduk di dekat ibunya. Ia menghela nafas dalam. Bersiap mendengarkan apa yang akan disampaikan Pamungkas mengenai hasil tes DNA itu.


“Sudah lama, Mas?” Tanya Binar berbasa basi.


“Belum. Baru aja datang.” Jawab Pamungkas.


“Jadi gimana hasilnya?” Tanya Binar dengan perasaan campur aduk. Ia tau, besar kemungkinan kalau memang Chan itu adalah anak kandung Pamungkas.


Pamungkas memberikan amplop yang ia letakkan di atas meja kepada Binar. Binar mengambil amplop itu kemudian membukanya dengan hati-hati. Ia membaca hasil yang isinya menunjukkan kalau Chan adalah anak kandung dari Pamungkas. Didalam hati, ia terus menyangkal kenyataan itu.


Ada rasa takut jika Pamungkas akan mengambil Chan darinya. Chan adalah hidupnya. Ia tidak akan sanggup jika anak itu direbut darinya.


Binar diam saja memandangi kertas di tangannya. Tapi airmatanya terus menetes. Rasa sedih dan tidak rela kembali menguasai perasaannya.


“Jadi menurut hasil tesnya, Chan benar anak kandung saya, Ustadz.” Pamungkas memberi penjelasan singkat kepada Ustadz Syuhada dan istrinya.


Sepasang suami istri itu hanya menghela nafas saja. Ustadz Syuhada mengangguk mengerti dengan penjelasan Pamungkas.


“Jadi mau gimana, Nak Pam?”


“Apa Mas Pam mau ambil Chan dariku?” Tanya Binar tanpa menatap Pamungkas. Ia hanya terus menunduk dan meneteskan airmata.


Pamungkas menumpu kedua lengannya di atas lutut. Jemarinya saling menggenggam. Ia menatap ragu kearah meja yang ada dihadapannya. Seolah tengah meyakinkan dirinya sendiri dengan apa yang akan dia ucapkan. Ia menghela nafas dalam.


“Bin. Aku gak akan ambil Chan dari kamu. Tapi, izinkan aku menemuinya sesekali.”


Jawaban Pamungkas seolah menjadi angin segar bagi Binar dan kedua orangtuanya. Mereka nampak bernafas lega.


Binar melihat kearah Pamungkas, kemudian menghapus airmatanya. Berusaha menimbulkan sebuah senyuman dibibirnya. Sebuah senyuman kelegaan dan rasa terimakasih kepada Pamungkas karna masih mengijinkannya untuk bersama dengan Chan.


“Terimakasih, Mas. Iya. Itu adalah hakmu sebagai Papanya. Aku akan tetap mengizinkan kamu bertemu dengan Chan kapanpun kamu mau. Makasih banyak, Mas.” Ucap Binar.


“Alhamdulillah... Terimakasih banyak, Nak Pamungkas. Semoga ini menjadi jalan keluar terbaik untuk kita semua.” Ujar Ustadz Syuhada.


“sama-sama, Ustadz.”


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2