Pindah

Pindah
63


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang terdengar sayup-sayup. Dua anak adam yang baru saja selesai memadu kasih dengan keringat yang membasahi tubuh keduanya merasa masih ingin menikmati saat itu lebih lama lagi.


Pamungkas yang masih enggan untuk mengalihkan wajahnya di dada istrinya, hanya menggeliat saja saat Binar mengajaknya untuk sholat subuh berjamaah.


“Sepuluh menit lagi, dong.” Pinta Pamungkas yang semakin mengeratkan pelukannya.


“Udah adzan loh Mas. Ayo buruan mandi.” Binar bersikukuh untuk membangunkan suaminya. Ia memaksa tubuh Pamungkas untuk bangun.


Walaupun dengan rasa malas yang masih menjalar di seluruh tubuhnya, Pamungkas tetap memaksakan dirinya untuk bangun.


“Mandi bareng ya?” Ujarnya kemudian. Dengan senyuman modus yang muncul di bibirnya.


Binar menatap suaminya sambil mengerutkan kening.


“Kan sunnah Rasul juga.” Pamungkas memulai pembelaannya.


Tapi Binar tidak menjawabnya. Ia hanya tertawa kemudian berjalan masuk kedalam kamar mandi walau dengan langkah yang terkekeh.


Tentu saja Pamungkas langsung mengikuti istrinya masuk kedalam kamar mandi. Dan rencana Pamungkas sukses besar.


Setelah melaksanakan sholat subuh berjamaah, Binar segera membantu Chan untuk mengganti pakaian sekolahnya. Karna sekarang jarak sekolahnya semakin jauh, jadi mereka harus berangkat pagi-pagi sekali demi menghindari macet.


“Chan mau diantar Papa? Sekalian Papa berangkat kerja.” Tawar Pamungkas.


“Enggak mau. Sama Mama aja.” Jawab Chan cuek dengan terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Ya udah, nanti biar kalian di antar sama Roni.”


“Gak usah, Mas. Naik taksi aja. Sekalian aku mau ngambil motor di rumah Ayah.” Sanggah Binar.


“Ngapain diambil? Nanti beli yang baru aja.”


“Gak perlu beli baru juga lah Mas. Motorku juga Masih bagus kok. Lagian kan Roni harus ngantar kamu ke MMC.”


“Aku bisa bawa mobil sendiri.” Pamungkas bersikeras.


“Ya kan sama aja, Mas. Kalau di antar sama Roni juga nanti aku bakalan naik motor sendiri juga. Malah tambah repot.”


Pamungkas nampak berfikir sejenak. “Ya udah deh. Terserah kamu aja. Tapi hati-hati ya.”


“Iya. Janji.”


Setelah menyelesaikan sarapannya, Pamungkas bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke ruang kerjanya. Tidak berapa lama kemudian, ia sudah kembali.


“Ini.” Pamungkas menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Binar.


“Buat apa ini Mas?” Tanya Binar.


“Pegang aja. Buat keperluanmu dan Chan. Jadi sewaktu-waktu kamu butuh, ambil aja dari situ.” Pamungkas kembali duduk di kursinya.


“Makasih banyak ya, Mas.” Ujar Binar kemudian memasukkan kartu itu ke dompetnya. Padahal dia juga punya uang. Walaupun tidak banyak. Tapi dia tetap tidak ingin menolak pemberian Pamungkas. Karna itu bisa menyinggung perasaan suaminya itu.

__ADS_1


Setelah menunggu Chan menyelesaikan sarapannya, Binar mengajak Chan untuk pergi lebih dulu. Dengan diantarkan oleh Pamungkas sampai di depan rumah.


Nampak sekali kalau Pamungkas benar-benar tidak tega jika harus membiarkan istri dan anaknya pergi sendirian. Dia memandangi taksi yang membawa mereka sampai menghilang dari pandangannya.


Setelah mengantarkan Chan ke sekolahnya, Binar mampir kerumah kedua orang tuanya. Baru dua hari, dan ia sudah merindukan mereka.


“Assalamu’alaikum.” Ujar Binar.


“Wa’alaikum salam.”


Rukayah yang mendengar suara putrinya, datang tergopoh-gopoh untuk membukakan pintu.


Begitu pintu terbuka, Binar langsung menghambur ke pelukan ibunya. Ia menumpahkan semua kerinduannya disana.


“Ayah mana, Buk?” Tanya Binar. Karna biasanya ayahnya sedang duduk diruang tamu.


“Lagi di mesjid. Ada pengajian. Kan ini hari jum-at.” Jelas Rukayah.


“Oh, iya.”


“Kamu baru pulang ngantar Chan ke sekolah?”


“Iya Buk. Tadi mau mampir dulu, tapinya udah gak sempat.”


“Udah sarapan?”


“Udah tadi dirumah.”


“Amin,, Buk.”


Sambil menunggu chan pulang dari sekolah, Binar menyibukkan diri dengan membantu ibunya di warung. Kebetulan hari ini siti tidak Masuk.


Saat jam pulang sekolah tiba, Binar meminta izin kepada ibunya untuk menjemput Chan. Ia mengendarai sepeda motornya dengan sangat hati-hati. Karna pahanya masih terasa sakit akibat ulah suaminya semalam.


Sesampainya di sekolah, ia merasa heran. Karna sebagaian besar anak-anak ternyata sudah pulang. Hanya tinggal beberapa orang saja yang masih menunggu jemputan.


Binar mengedarkan pandangannya untuk mencari Chan. Tapi ia tidak menemukannya. Lantas iapun menanyakannya kepada teman Chan yang masih ada disana.


Tapi tidak ada yang tau kemana Chan pergi. Setau mereka kalau Chan sudah pulang lebih dulu.


Binar berubah panik. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan menghubungi Pamungkas.


“Assalamu’alaikum, Mas.”


“Wa’alaikum salam.” Jawab Pamungkas dari seberang.


“Mas, Mas yang jemput Chan dari sekolah?” Tanya Binar dengan setengah berharap kalau Chan memang dijemput oleh Pamungkas.


“Enggak. Aku masih di kantor, mana sempat aku jemput dia. Kenapa, Bin?”


“Aku jemput Chan di skeolah, tapi dia udah gak ada.” Jelas Binar sambil menahan tangis.

__ADS_1


Rasa panik dan khawatir langsung memenuhi rongga dadanya. Fikiran-fikiran buruk berusaha mengambil alih logikanya. Bahkan airmata Binar sudah berdesakan hendak keluar.


“Bin, yang tenang. Cerita pelan-pelan. Apa maksudmu kalau Chan udah gak ada di sekolah?” Ujar Pamungkas. Padahal dia juga panik setengah mati. Tapi dia berusaha untuk tetap tenang.


Binar menarik nafas dalam. Berusaha menenangkan rasa paniknya. “Aku jemput Chan, tapi dia udah gak ada. Kata temennya udah pulang dari tadi. Tapi kalau Mas gak jemput Chan, terus yang jemput dia siapa?”


“Kamu tunggu disana. Aku kesana sekarang.” Ujar Pamungkas tegas.


Binar menutup sambungan telfonnya dengan Pamungkas. Kemudian dia beralih untuk menghubungi ibunya.


Tidak berapa lama kemudian, Rukayah datang dengan diantar oleh ojek. Dia segera menghampiri Binar yang tengah terduduk lesu di trotoar pinggir jalan.


“Bin!” Pekik Rukayah.


“Buk!”


“Kok bisa Chan udah pulang duluan? Sama siapa? Udah ditanya sama gurunya?”


“Binar juga gak tau, Buk. Gurunya juga bilang kalau Chan udah pulang dari tadi. Tapi gak ada yang tau dia pulang sama siapa. Gak ada yang perhatikan.”


Binar menjelaskan dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya.


“Udah telfon suamimu?” Tanya Rukayah.


“Udah. Mas Pam lagi jalan mau kesini.”


“Ya udah, kita tunggu suamimu dulu. Baru kita fikirkan gimana selanjutnya.”


Walaupun panik, Rukayah berusaha untuk menenangkan Binar. Padahal dia sendiri juga khawatir setengah mati.


Sambil menunggu kedatangan Pamungkas, Binar dan Rukayah berusaha untuk bertanya-tanya kepada warga sekitar barang kali ada yang melihat Chan. Tapi hasilnya nihil. Memang ada yang melihat Chan pulang, tapi tidak ada yang tahu persis siapa yang sudah menjemputnya.


Binar dan Rukayah semakin panik dan khawatir. Yang ada didepan mereka hanyalah jalan buntu. Mereka bahkan sudah berniat untuk melaporkannya ke polisi.


“Buk, kalau Chan kenapa-kenapa gimana, Buk?”


“Istighfar, Nduk. Jangan berprasangka buruk begitu. Berdo’a semoga Chan gak kenapa-napa.”


Binar langsung menghambur ke pelukan Pamungkas saat suaminya itu datang. Ia menangis menumpahkan semua kepanikannya di dada suaminya. Berusaha menjelaskan detail kejadiannya dan apa saja yang sudah ia dan ibunya lakukan.


“Kita pulang kerumah Ibuk dulu. Kamu sama Ibuk tunggu dirumah aja, biar aku yang cari Chan.” Ujar Pamungkas.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2