
Kehangatan berangsur-angsur terasa di kamar VIP itu, Yeva dan Binar sibuk bercerita. Entah apa saja yang mereka bahas.
Sekali-kali Ubay hanya melirik kepada mereka sambil bermain dengan ponselnya. Dia diam-diam memfoto mereka dan mengirimkannya kepada Pamungkas. Disertai dengan beberapa kalimat yang memancing kecemburuan Pamungkas.
Dan Reaksi sahabatnya itu membuat dia jadi senyum-senyum sendiri.
Tok,, tok,, tok,,
Sebuah ketukan terdengar di pintu.
Binar dan Yeva yang sedang mengobrolpun langsung menoleh kearah pintu. Begitu juga dengan Ubay.
“Permisi,,,” ujar seorang wanita yang mengenakan kaca mata hitam dan masker penutup wajah yang sedang melongokkan kepalanya.
“Ya?” Jawab Ubay.
“Ah. Ternyata aku gak salah ruangan.” Ujar wanita itu lagi. Ia berjalan masuk sambil membuka masker dan kaca matanya.
“Rea?” Sambut Ubay menghampiri Reanty yang sedang tersenyum ramah.
“Wah. Ternyata kamu masih kenal sama aku.” Seloroh Reanty kepada Ubay.
“Teh Reanty?!!” Pekik Yeva dengan girangnya. Tidak menyangka kalau Reanty akan datang menjenguknya.
“Kamu Yeva?” Tanya Reanty mendekati ranjang Yeva. Ia nampak salah tingkah saat melihat ada Binar disana. Entah kenapa dia segan sekali dengan wanita yang kini menjadi istri mantan suminya itu. Segan sekaligus tidak suku.
“Iya, Teh. Silahkan duduk, Teh.”
Binar seakan mengerti. Ia mendekatkan kursi kosong yang ada di sebelahnya untuk Reanty.
“Mbak Reanty, apa kabar?” Tanya Binar ambil mengulurkan tangan.
“Baik. Kamu apa kabar?”
“Alhamdulillah baik, Mbak. Udah lama gak ketemu, ya.” Binar berbasa basi. Padahal dia juga sedang merasa canggung dengan Reanty.
Siapa yang tidak canggung saat bertemu dengan mantan istri dari suaminya? Semua orang pasti akan merasa seperti itu walaupun berusaha untuk bersikap normal dan biasa saja.
“Sakit apa? Kok di infus?” Tanya Reanty kemudian.
“Lagi kurang enak badan aja, Mbak.” Jawab Binar.
“Teh Reanty darimana?” Timpal Yeva.
“Dari lokasi syuting.”
__ADS_1
“Memang mau kesini, apa gimana?”
“Ada yang bilang sama aku, katanya kamu penggemar beratku. Dia minta tolong supaya aku mau jenguk kamu. Sekalian mau ngasih ini.” Reanty mengeluarkan sebuah album foto yang dipenuhi dengan foto dan tanda tangannya kepada Yeva.
Gadis itu nampak sangat senang sekali. Ia bahkan sampai berkaca-kaca saking terharunya.
“Ya ampun... Makasih banyak Teh.” Yeva mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada idolanya.
“Kalian lanjut ngobrol aja, ya. Aku mau keluar dulu sebentar.” Pamit Ubay kepada mereka. Ketiganya hanya mengangguk saja.
Semenjak kedatangan Reanty, Yeva merasa senang luar biasa. Keceriaannya kembali seperti semula. Membuat Binar juga ikut merasakan senang.
Memang tidak salah jika Pamungkas meminta Reanty untuk datang. Buktinya Yeva terlihat jauh lebih ceria. Dia memang sangat mengangumi sosok Reanty sebagai idolanya.
“Mbak udah ketemu sama Chan?” Tanya Binar di sela-sela cerita Yeva.
“Sejak saat itu, aku belum pernah nemuin dia lagi.”
“Kenapa?”
“Jadwalku lagi padat. Aku belum punya waktu. Oh iya, dimana Chan?” Reanty mengedarkan pandangannya kesekililing ruangan.
“Udah berapa hari dia nginep di rumah Ayah, Mbak. Belum mau di ajak pulang.”
“Boleh, Mbak. Ayo kita ke kamarku.” Ajak Binar kemudian. “Va, kami keluar dulu ya sebentar.”
“Iya, Mbak.” Yeva mempersilahkan.
Binar mengajak Reanty pergi ke kamarnya. Sesampainya didalam, Reanty mengambil duduk di sofa tepat dihadapan Binar.
Lama mereka hanya terdiam saja. Reanty terus menundukkan wajahnya. Ia sedang memikirkan kalimat yang cocok untuk membuka percakapan. Antara berani dan ragu.
“Mbak mau ngomong apa?” Tanya Binar pada akhirnya.
“Aku mau ngomong masalah Chan.” Jawab Reanty lirih.
“Memangnya kenapa sama Chan, Mbak?”
Reanty kembali terdiam. Membuat suasana semakin canggung.
“Binar, sebelumnya aku minta maaf kalau nanti perkataanku ada nyinggung perasaanmu. Tapi aku harus bilang ini. Aku mau minta tolong sama kamu.”
Binar mengerutkan dahinya. “Minta tolong apa, Mbak?” Entah kenapa perasaannya jadi tidak enak.
“Tolong kembalikan Chan padaku. Aku butuh dia.”
__ADS_1
Seutas kalimat yang terdengar sangat menyayat hati bagi Binar. Ia tertegun dan ternganga menatap tajam kepada wanita yang sedang duduk dihadapannya itu. Tubuhnya membeku, mencoba mencerna permintaan yang baru saja diutarakan oleh Reanty.
“Maksud Mbak apa?”
“Aku pengen minta Chan kembali. Tinggal dirumahku, sama aku. Aku janji aku bakalan perhatikan dia lebih baik lagi. Aku janji bakalan sisihkan waktu buat ngerawat dia. Aku mohon, Binar. Aku minta ini baik-baik sama kamu.”
“Sisihkan waktu?” Kini tatapan Binar berubah marah. “Kalau Mbak cuma bisa sisihkan waktu buat Chan, aku gak bakalan ijinin, Mbak. Buat aku dia itu prioritas. Dia lebih penting dari segalanya. Bahkan diatas kepentinganku sendiri. Mbak sebagi ibu kandungnya, gak malu apa bilang begitu sama aku? Aku yang rela mempertaruhkan segalanya buat Chan, dan Mbak malah cuma bisa ‘menyisihkan waktu’? Mbak punya naluri gak sih?”
“Tapi aku bener-bener butuh dia. Lagian kan kamu udah dapet Mas Pam. Kurang apa lagi? Kamu bisa punya anak lagi sama Mas Pam. Chan itu bukan anak kandungmu. Dia itu anak kandungku. Aku yang mengandung dan ngelahirin dia!” Reanty juga terpancing emosinya. Ia ingin memperjuangkan haknya sebagai ibu kandung Chan.
“Dan jangan lupa, kalau Mbak juga yang buang bayi gak berdosa itu!”
“Kamu gak berhak menghakimi aku. Kamu gak tau aja gimana keluarga Mas Pam memperlakukan aku dulu. Mereka memandang rendah aku. Aku gak punya tempat pelarian. Aku akui aku memang salah udah buang anak aku sendiri. Makanya sekarang aku pengen bertanggung jawab dan membayar semua kesalahanku sama Chan.”
“Bukan begini caranya meminta baik-baik, Mbak. Chan itu anakku. Aku yang merawat dan membesarkannya. Aku masih bisa ngijinin Mbak buat nemuin dia. Tapi enggak kalau mbak mau ngerebut Chan dari aku.” Binar tak kalah tegas.
Harga dirinya sangat terluka mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Reanty. Membuatnya naik pitam. Jika Reanty bersikukuh hendak memperjuangkan haknya sebagi ibu kandung Chan. Maka dia juga akan mempertahankan haknya sebagai ibu yang sudah merawat dan membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang.
“Kenapa baru sekarang, Mbak? Kenapa gak dari dulu Mbak cari dan rawat Chan? Dulu udah tega buang, sekarang mau di minta lagi. Mbak gak tau diri apa gimana?”
“Kamu jangan kurang ajar. Kamu udah ngerebut Mas Pam dari aku. Dan sekarang kamu mau anakku juga? Dari luar aja penampilanmu sok alim. Padahal kamu itu gak lebih dari sekedar perusak rumah tangga orang!!”
Reanty sudah tidak bisa membendung emosinya lagi. Ia merasa membenarkan tindakannya itu. Apalagi saat Binar menatapnya dengan tajam. Ingin sekali dia menarik mata itu sampai keluar. Ia merasa direndahkan dengan tatapan itu.
Plakkk!!!!!!!
*
*
*
*
*
Bersambung...
Neti: yaaaahhh,,, kok digantung sih tor?
Otor: sengaja. Soalnya Bingung sama adegan. selanjutnya. 😁😁
Neti: emosi nih tor.😤
Otor: otor juga. Gggggrrrrr!! Setelah nulis adegan ini, otor melototin semua orang yang lewat depan rumah. Jadi jangan ngajak ribut ya.😘😘😘😘😘
__ADS_1