Pindah

Pindah
49


__ADS_3

Perasaan Pamungkas benar-benar bahagia. Ia selalu menyempatkan untuk melirik Chan yang sedang sibuk dengan sepeda motor mainannya. Anak itu membuat dashboard sebagai tracknya. Membuat Pamungkas berkali-kali tertawa dibuatnya.


“Chan mau telfon Mama, gak?” Tawar Pamungkas.


“Boleh.” Jawabnya antusias.


Lagipula Pamungkas belum sempat memberitahu Binar kalau dia sudah dalam perjalanan pulang kerumah orang tuanya. Karna kemarin mereka sudah sepakat kalau ia yang akan menjemput Chan dari sekolah.


Saat mobil berhenti di lampu merah, Pamungkas mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Binar. Deringan pertama tidak tersambung. Barulah pada deringan kedua, Binar mengangkatnya.


Ponsel Pamungkas sudah ada ditangan Chan. Ia memberikannya kepada anak itu.


“Chan?” Tanya Binar lewat panggilan video. “Ini hape siapa, sayang?”


“Hape Papa.” Jawab Chan. “Mama dimana?”


“Mama lagi istirahat makan siang. Udah mau kerumah Nenek sama Kakek?”


“Iya.”


“Jangan nakal ya. Baik-baik disana.” Pesan Binar.


“Okee..”


“Papa mana?”


Chan mengalihkan kamera ponsel kepada Pamungkas yang sedang fokus mengemudi. “Gak usah khawatir. Aku bakalan jagain dia baik-baik.” Seru Pamungkas.


“Aku bukan khawatirin Chan, mas. Aku lebih khawatirin kamu. Chan suka gak nyaman kalau tidur ditempat baru. Biasanya dia suka tiba-tiba nangis dan minta pulang. Takut ngerepotin aja.” Jelas Binar.


Wajah Pamungkas berubah semu merah. Mendengar Binar mengkhawatirkannya membuat hatinya berbunga-bunga.


“Gak mungkin lah. Chan kan anak pinter. Mana mungkin dia nangis. Dia udah nyaman gitu sama aku.” Ujar Pamungkas dengan penuh rasa percaya diri. Seolah meyakinkan Binar kalau hal itu tidak akan terjadi.


“Yaudah, nanti kalau ada apa-apa cepet telfon aku ya, Mas.” Pesan Binar.


“Tenang aja. Gak bakalan terjadi apa-apa kok. Kamu santai aja.”


Binar hanya tersenyum saja mendengar jawaban yang sangat meyakinkan dari Pamungkas.


“Chan janji jangan nakal, ya. Yang penting sholat jangan sampai lupa.”


“Iya, Mama sayang.”


Chan menutup sambungan video itu dengan mengecup layar ponsel untuk ibunya. Membuat Pamungkas terkekeh saja.


Setelah menutup sambungan telefon, Chan memberikan ponsel itu kepada Pamungkas kembali.

__ADS_1


“Chan sayang banget ya sama Mama?”


“Iya, dong. Chan paling sayang sama Mama, Kakung, sama Uty.”


“Kalau sama Papa?”


“Eemmmmm....” Chan berfikir lama. Ia tidak langsung menjawabnya. Ia hanya menatapi Pamungkas yang sedang menunggu jawabannya.


“Kenapa?”


“Gak tau. Kan soalnya Papa gak tinggal sama Chan, sama Mama.”


Jawaban yang langsung memantik sebuah senyuman dibibir Pamungkas. “Jadi Chan mau gak tinggal sama Papa sama Mama?” Pamungkas masih enggan untuk mengakhiri obrolan ringan itu. Obrolan ringan yang membuat hatinya berbunga-bunga.


“Mau!” Jawab Chan langsung.


“Beneran?”


“Iya. Karna Papa orang baik. Udah beliin Chan mainan, beliin sate, dijemput di sekolah. Mama pasti seneng kalau tinggal sama Papa.”


Entah kenapa, ucapan Chan itu membuat hatinya girang bukan kepalang. Ia terus tersenyum lebar membayangkan ia, Binar, dan Chan, tinggal bersama sebagai sebuah keluarga.


“Papa kenapa senyum-senyum sendiri?” Tanya Chan menatap Pamungkas dengan aneh.


“Lagi menghayal.” Jawabnya santai.


“Wiiihhh... Keren anak Papa.” Ujar Pamungkas sambil mengusap kepala Chan.


“Chan kan bukan anak Papa.” Ujar Chan. Ia menjauhkan kepalanya dari tangan Pamungkas kemudian sibuk kembali dengan mainannya.


Kalimat itu membuat Pamungkas tersentak. Ia tahu pasti akan membutuhkan waktu bagi dirinya untuk memberitahu Chan yang sebenarnya. Lagipula anak itu belum tentu faham dengan apa yang akan dia jelaskan nanti. Tidak akan mudah bagi Chan untuk menerima kehadirannya begitu saja. Ia tidak ingin membuat Chan Bingung dengan statusnya sebagai ayah kandung Chan.


*****


Ubay berpangku tangan sambil menatap Binar yang sedang melakukan panggilan video kepada Chan. Pandangannya menunjukkan kalau dia sedang menguatkan hati saat ini. Lagi lagi, ia harus dikalahkan oleh Pamungkas.


Saat Binar telah selesai, ia buru-buru menyendokkan mi ayam ke mulutnya. Menghindari bertemu mata dengan Binar.


“Maaf ya, Mas.” Ujar Binar karna merasa mengabaikan pria dihadapannya.


“Chan udah pergi sama Pam?” Tanya Ubay.


“Iya, Mas.”


“Ooo...”


Binar bisa membaca situasi kalau Ubay sedang merasa tidak nyaman dengan keadaan itu. Ia tau kalau hubungannya dengan Pamungkas sedang tidak baik.

__ADS_1


“Kenapa sampai berantem sama Mas Pam, Mas?” Binar bertanya dengan hati-hati.


“Ya karna dia nyakitin kamu.” Ubay menjawabnya dengan lugas.


“Jadi aku akar masalahnya disini.”


“Bukan gitu maksud aku, Bin.”


“Iya, aku tau, Mas. Makasih banyak dengan semua perhatian Mas selama ini. Kamu selalu berdiri disampingku dan terus mendukungku.”


“Tapi kayaknya aku udah gak bisa lagi nglakuin hal itu, Bin. Aku nyerah. Aku gak bisa melawan takdirmu bersama Pam.”


Kalimat yang membuat Binar sangat terkejut. “Maksudnya apa, Mas?”


“Aku udah berniat buat merelakan perasaanku ke kamu, Bin.”


Dan lagi, Binar terlambat untuk memberitahu rencananya kepada Ubay.


Tapi memang, sekuat apapun ia memaksakan perasaannya kepada Ubay, pria itu tidak lebih hanya seperti seorang kakak baginya. Dan sekarang Ubay berkata begitu. Entah dia harus bereaksi seperti apa.


Binar menundukkan kepalanya. Ia tidak jadi menyuapkan mi ayam ke mulutnya. “Maafkan aku, Mas.”


“Gak apa-apa, Bin. Gak usah diambil pusing. Aku aja biasa aja kok.” Ubay berusaha mencairkan suasana. Mengusir rasa sedihnya. “Lagian aku gak mau maksain kamu terus. Setelah aku fikir-fikir, mungkin perasaanku malah jadi beban buat kamu. Dan aku gak mau membebani kamu lebih jauh lagi. Jadi aku bakal ngelepasin kamu. Bahagialah, Binar Sabitah.”


Senyuman di kedua sudut bibir Ubay nampak dipaksakan. Binar tau itu. Tapi tidak bisa dipungkiri juga kalau ia merasa lega dengan keputusan Ubay.


Jujur, perasaan dan perhatian Ubay telah menjadi beban tersendiri untuknya. Perasaan tidak enak hati karna pria itu selalu ada untuk membantunya, sedangkan ia sendiri tidak mampu membalas kebaikan Ubay, tentu menjadi sebuah kecanggungan.


“Terimakasih, Mas. Karna udah mau melepaskan perasaan itu. Aku do’akan, semoga Allah mempertemukan Mas Ubay dengan seseorang yang lebih baik dari aku.”


Ubay tersenyum sambil menatap Binar. Kemudian menyandarkan punggungnya. “Aaaahhhh... Lega rasanya. Seolah beban di pundakku sudah diangkat. Ringan sekali.” Seloroh Ubay sambil menyeruput es teh miliknya.


Pertemuan itu berakhir saat keduanya sudah menyelesaikan makanan mereka dan Binar mendapat orderan baru untuk menjemput penumpang.


Ubay hanya bisa menatap hijab Binar yang bergoyang-goyang diterpa angin yang mulai menjauh darinya.


“Semoga aku bisa benar-benar mengikhlaskan perasaanku ya, Bin. Semoga itu tidak sulit. Terimakasih karna udah memperkenankan perasaanku tertuju buat kamu selama bertahun-tahun ini. Semoga ada pengganti untuk seorang Binar Sabitah dihati aku nantinya.” Gumam Ubay pada bayangan Binar yang sudah mulai melajukan sepeda motornya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2