
Ubay sumringah saat melihat Binar Masuk kedalam rumah sakit. Ia langsung tersenyum lebar sambil berjalan menghampiri Binar.
“ keluar dari dalam ruangan istirahat sambil merapikan hijabnya.
“Kita tepat didepan UGD.
Binar juga teralihkan oleh ambulance itu. Apalagi saat seseorang yang ia kenal keluar dari dalam ambulance dan berlari mengikuti pasien yang sudah didorong Masuk oleh petugas medis.
“Mas Nazril?” Gumamnya heran.
mendengarkannya.
“Mas Nazril?” Ujarnya.
Nazril menoleh kearah orang yang memanggilnya. “Binar?”
“Kenapa Mas? Ada apa? Siapa yang sakit?” Cercah Binar. Entah kenapa ia jadi ikut panik walaupun tidak tau siapa yang sedang sakit.”
“Ibukku, Bin. Kami baru aja samapi di Al-Falah. Tapi tiba-tiba Ibuk drop. Makanya langsung dibawa kesini.” Jelas Nazril disela suaranya yang terdengar khawatir.
“Yaudah, Mas tenang aja. Jangan terlalu panik begitu. Dokter akan berusaha sebaik mungkin untuk Ibuk.” Binar berusaha menghibur Nazril.
Melihat wajah panik Nazril, membuat hatinya ikut sakit. Seolah ia bisa merasakan kekhawatiran yang sedang dirasakan oleh pria itu.
Binar langung sigap membantu dokter menangani Ibu Nazril.
Dari kejauhan, Ubay hanya memperhatikan saja. Tapi kemudian ia mendekati Nazril.
Nazril yang melihat kedatangan Ubay mengangguk ramah. Ia sudah tau karna tempo hari mereka sempat makan siang bersama dirumah Ustadz Syuhada.
__ADS_1
“Siapa yang sakit, Mas?”
“Ibuk saya, Mas.” Jawab Nazril. “Masnya dokter disini toh. Baru tau saya.”
“Iya.”
Kemudian keduanya hanya terdiam saja memperhatikan dokter dan beberapa perawat yang sedang memberi tindakan kepada Ibu Nazril. Termasuk Binar.
Nazril segera pergi ke meja perawat dan memberikan surat-surat rujukan dari rumah sakit awal dimana Ibu Nazril dirawat. Setelah itu ia kembali untuk menunggui Ibunya.
Tidak berapa lama, Ibu Nazril sudah siuman. Dan akan di antarkan kedalam ruang perawatan.
Binar ikut mengantarkan mereka. Bahkan dia sendiri yang mendorongnya. Ia benar-benar telah melupakan Ubay yang sudah pulang terlebih dahulu tanpa pamitan kepadanya.
“Makasih, Bin.” Ujar Nazril saat mereka sudah berada diruang perawatan.
“Sama-sama, Mas.”
“Iya, buk. Ibuk gak usah khawatir. Isha Allah, dokter disini akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengobati penyakit Ibuk.”
“Amin. Mudah-mudahan Allah masih memberikan Ibuk kesehatan.”
“Gak ada yang gak mungkin kalau Allah udah berkehendak, Buk. Yakin aja. Selama kita ikhtiar, Allah gak mungkin biarin kita gitu aja.” Binar mencoba menguatkan perasaan ibu Nazril.
Ia sangat tahu bagaimana perasaan ibu Nazril. Di diagnosis kanker hati, pastinya tidaklah mudah untuknya. Bahkan Binar bisa melihat tatapan putus asa dari sorot mata wanita paruh baya itu.
“Kalau gitu, aku permisi dulu, Buk, Mas. Aku harus kembali ke UGD. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan panggil aku, ya.” Pesannya kepada Nazril.
“Iya. Pasti. Makasih bayak lho Bin.” Ujar Nazril kembali.
__ADS_1
Binar hanya mengangguk sambil tersenyum. Kemudian ia keluar dari ruangan itu. Menutup pintu dengan sangat hati-hati.
bersemangat. Jiwa ghibahnya langsung keluar.
“Iya.”
“Wahh,, ganteng Bin. Manis. Pantesan kamu klepek-klepek sama dia.”
“Hush. Ngawur. Bukan gantengnya yang buat aku klepek-klepek. Tapi pemahaman agamanya.”
“Ya sama aja lah Bin. Udah ganteng. Bonus pemahaman agama.”
“Kebalik. Gantengnya itu yang bonus.”
“iya, iya. Terserah kamu aja lah. Mana bisa kalah sama kamu kalau soal begini.” Dengus Via. “Bukan ranahku soalnya.”
“Hehehehe...”
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak...
terimakasih...