Pindah

Pindah
65


__ADS_3

Sejak kejadian itu, selama lebih dari satu bulan Reanty tidak pernah lagi muncul di sekolah Chan. Ia tidak berani lagi menemui Chan secara langsung. Walaupun Pamungkas dan Binar sudah berkali-kali membujuk dan mengatakan kalau tidak masalah jika ia ingin menemui anak itu, tapi Reanty selalu saja beralasan kalau dia tengah sibuk syuting dan tidak punya waktu.


Hari ini, Binar sibuk membantu Mbok Sami untuk menyiapkan bekal makan siang untuk Pamungkas. Sudah lama sekali ia tidak bertemu dengan teman-temannya yang masih bekerja di MMC. Dan ia merasa merindukan mereka.


Dan hari ini ia tidak perlu menjemput Chan di sekolah. Karna anak itu meminta untuk menginap di rumah Uty dan Kakungnya. Jadilah dia punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dan untuk mengusir kebosanannya, ia ingin bertemu dengan teman-temannya sekaligus untuk mengantarkan makan siang untuk suaminya.


Lagipula, teman-temannya belum ada yang tau kalau ia sudah menikah dengan Pamungkas. Jadi ia ingin sekalian memberitahu kabar itu kepada mereka. Ia sempat tersenyum saat membayangkan wajah-wajah terkejut teman-temannya.


Binar mengendarai sepeda motornya dengan perlahan. Belakangan ini perutnya terasa tidak nyaman. Terasa agak sakit dan begah jika dibuat duduk.


Sesampainya dirumah sakit, ia memarkirkan sepeda motornya di tempat parkir umum. Kemudian berjalan perlahan masuk ke dalam gedung.


Banyak orang yang melihat kearahnya dengan terkejut. Mereka adalah mantan rekan-rekan kerjanya dulu. Sebagian dari mereka langsung menyapa dan menanyakan kabarnya dengan ramah. Sebagian lagi hanya menatapnya aneh dan risih.


“Ya ampun, Binar!” Panggil suara yang sangat dikenal oleh Binar.


Seorang wanita paruh baya dengan tubuh gempalnya setengah berlari menghampiri Binar yang sedang menunggu pintu lift terbuka.


“Bu Uut!” Binar tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya saat bertemu dengan atasannya dulu itu.


Bu Uut langsung memeluk Binar. Mereka saling menumpahkan kerinduan satu sama lain. Kemudian mereka duduk di salah satu sofa yang ada di sudut loby.


“Kamu ini. Gak pernah kasih kabar.” Ujar Bu Uut dengan memukul pelan punggung Binar. Kermudian menggenggam erat tangan Binar.


“Hehehe,, Ibuk apa kabar?”


“Yaa,,, begini-begini aja, Bin. Peningkatannya gak signifikan. Hasilnya gak nampak.” Seloroh Bu Uut. Kemudian ia tertawa.


“Bukan gak nampak, Buk. Kan masih di proses di perguruan tinggi di Belanda. Tunggu beberapa tahun lagi, udah pasti kelihatan hasilnya. Udah mau selesai kan ya?”


“Aminn,, mudah-mudahhan ya, Bin. Kamu ngapain kesini? Ada yang sakit? Bawa bekal segala.”


“Enggak Buk, ada urusan sebentar. Udah lama juga gak ketemu sama anak-anak. Pada sibuk jadi belum punya waktu buat ngumpul.”


“Ooh,, gitu. Yaudah ya, ibuk kesana dulu. Nanti kalau kamu udah selesai urusannya, mampir ke UGD ya...”


“Iya, nanti aku mampir kesana, Buk."


Setelah Bu Uut pergi, Binar kembali bangkit dan berjalan ke arah lift. Ia langsung masuk begitu pintu lift terbuka.


Sesampainya dilantai tiga, Binar keluar kemudian berjalan menuju ke kantor suaminya yang ada diujung lorong. Ia bisa melihat sekretaris Pamungkas melihat kearahnya.

__ADS_1


“Cari siapa, Mbak?” Tanya Fauzan. Mereka memang belum pernah ketemu, jadi belum kenal. Tapi bagi Fauzan, ia seperti pernah melihat Binar.


“Ehm, Dokter Pam nya ada?” Tanya Binar.


“Oh, Pak Direktur lagi keluar sebentar, Mbak. Udah janji belum?”


Binar menggeleng. “Belum, sih.”


“Kalau gitu, Mbak bisa tunggu di sana.” Ujar Fauzan sambil menunjuk ke arah kursi tunggu di dekat jendela kaca.


“Kalau tunggu di dalam, boleh gak?”


“Maaf, Mbak. Saya gak berani. Soalnya Pak Direkturnya gak ada.”


Binar mengangguk lagi. Ia mengerti dengan maksud pria berkaca mata itu. “Ya udah. Aku tunggu disini aja.” Ujar Binar kemudian berjalan menuju ke kursi dekat jendela.


Lama sekali Pamungkas tidak kunjung kembali. Membuat Binar bosan setengah mati. Tapi setengah jam kemudian, pria itu muncul dengan beberapa dokter yang berjalan beriringan.


Awalnya Pamungkas tidak melihat keberadaan Binar. Dan Binar tidak jadi menyapa Pamungkas karna ada kepala UGD yang bersamanya. Orang-orang yang memecatnya dulu sedang berbincang bersama dengan suaminya. Dia jadi tidak berani untuk menghampiri. Masih ada sisa rasa sakit hati.


Setelah orang-orang itu pergi, barulah Binar berani menghampiri Pamungkas.


Pamungkas yang sedang memegang handle pintu langsung menoleh. “Wa’alikum salam. Bin?” Ia tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Tidak menyangka kalau Binar akan berani datang ke tempat yang penuh dengan kenangan menyakitkan ini.


"Kamu darimana?"


“Dari sana.” Tunjuk Binar kearah kursi tunggu.


“Kamu nungguin aku disana? Kok aku gak lihat?”


“Ya Mas sibuk sih, sampai aku gak kelihatan.” Binar pura-pura memanyunkan bibirnya.


“Ya ampun, sayang. Kenapa gak nunggu didalem aja sih?”


Binar hanya tersenyum sambil melirik kepada Fauzan yang sedang terkejut karna mendengar bosnya memanggil Binar dengan sebutan ‘sayang’. Dan pria itu baru teringat siapa Binar. Jadilah ia merasa tidak enak hati sendiri.


“Zan, ini istriku. Lain kali suruh nunggu didalam aja.” Sindir Pamungkas.


“Maaf, Pak, Buk. Saya gak tau kalau Ibuk istrinya Pak Direktur.” Ujar Fauzan malu sekaligus merasa was-was. Dia telah mengabaikan orang terpenting bagi bosnya. Dan itu akan mengancam pekerjaannya. setidaknya itulah yang sempat terlintas di fikirannya.


“Gak apa-apa.” Ujar Binar. Ia bisa melihat raut wajah ketakutan milik fauzan.

__ADS_1


“Yuk, masuk.” Pamungkas mengajak istrinya untuk masuk kedalam ruangannya dengan menggandengnya mesra. Membuat hati Fauzan semakin menciut saja.


Binar duduk di sofa di sebelah suaminya. Kemudian meletakkan bekal di atas meja.


“Mas tadi dari mana?” Selidik Binar.


“Dari bangsal VIP. Ada pejabat penting masuk rumah sakit, padahal gak sakit.” Seloroh Pamungkas.


Binar hanya mengangguk mengerti. Ia sudah faham dengan hal seperti itu.


“Bakalan banyak wartawan dong.”


“Semoga aja enggak. Soalnya tadi udah aku jelasin. Males banget ngurusin yang model begitu. Ribet. Nanti ujung-ujungnya kita yang kena.”


“Jadi Mas suruh pulang?”


“Ya iya dong. Orang gak sakit kok. Cuma butuh surat keterangan sakit buat menghindari hukuman. Enak aja. Aku yang dapat dosa.”


“Oooooo... Pak Direktur keren.” Ujar Binar dengan mengacungkan dua jempol tangannya kepada suaminya. Membuat pria itu tersenyum bangga.


“Harus dong. Ini usahaku buat memantaskan dan memperbaiki diri demi istriku. Usaha buat jadi suami sholehmu. Nanti kita ke surga bareng ya Bin, aku gak mau ada bidadari lain selain kamu. Entah itu di dunia, ataupun di akhirat nanti.”


“Yakin masuk surga?”


“Yaaa,, namanya juga usaha, Bin. Semoga aja kita masuk kedalam golongan orang-orang sholeh.”


“Aminnn...”


Pamungkas tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak merengkuh tubuh istrinya itu kedalam pelukannya. Ia menarik tangan istrinya kemudian mendaratkan luma tan lembut di bibirnya.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2