Pindah

Pindah
56


__ADS_3

“Maksud kamu, Bin?” Tanya Pamungkas yang Masih Bingung dengan jawaban Binar. Dia harus mendengarkan jawaban itu secara gamblang.


“Aku terima lamaran kamu, Mas.”


Barulah, kalimat itu terdengar sangat nyaring di telinganya. Membuat jantungnya berdetak lebih keras dari sebelumnya.


“Alhamdulillah...” Lirih Pamungkas. Diikuti oleh kedua orang tuanya dan Ustadz Syuhada.


Pamungkas merasa sangat bahagia. Ia menangkupkan kedua telapak tangan di wajahnya dan tak henti mengucap Syukur.


Binar mencoba tersenyum walau sebenarnya hatinya masih merasa gundah. Ada sebuah ketakutan disana. Dia takut salah mengambil keputusan.


“Jadi, apa kita akan menikah sekarang juga?” Pamungkas menanyakan perihal yang mengganggunya.


Binar mengangguk.


“Tapi aku gak punya perhiasan yang bisa dijadikan maharmu, Bin.”


“Iya, Bin. Kami belum ada persiapan apapun.” Sela Haya.


“mahar itu, gak melulu soal perhiasan, Nak Pamungkas. Apa nak Pamungkas bawa uang tunai?” Tanya Ustadz Syuhada.


“Iya, saya bawa Pak Ustadz.”


“Kalau boleh tau, berapa jumlahnya?”


Pamungkas segera mengeluarkan dompetnya dan mengitung lembaran uang yang ada di dalamnya.


“2.925.000, Pak Ustadz.”


“Nduk, apa kamu ikhlas kalau uang itu dijadikan sebagai maharmu?” Tanya Ustadz Syuhada lagi.


“Insha Allah, Binar ikhlas Yah, selama itu gak memberatkan bagi Mas Pam.”


“Sama sekali gak memberatkan, Bin. Kalau bisa malah aku pengen kasih lebih.”


Binar tersenyum, “Gak perlu, Mas. Itu aja. Aku ikhlas.”

__ADS_1


Dan akhirnya disepakatilah uang itu yang akan menjadi mahar untuk Binar.


Ustadz Syuhada lalu menelfon Pak Rt dan Pak Rw. Meminta mereka untuk menjadi saksi atas pernikahan putri mereka.


Tidak lama kemudian, Pak Rt dan Pak Rw datang kesana dengan wajah Bingung. Mereka tidak pernah mendengar kabar kalau Binar akan menikah. Terlebih hari ini, sekarang.


Detak jantung Pamungkas sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Rasa gugup semakin menyergap. Apalagi saat ia menatap kepada pria yang akan menikahkan putrinya yang duduk tepat dihadapannya itu. Seolah tubuhnya semakin menciut saja.


Berbeda halnya dengan Pamungkas, kedua orang tuanya malah terlihat sangat senang. Mereka sangat antusias. Tidak menyangka kalau Binar akan menerima lamaran Pamungkas dan menikah pada saat itu juga.


Semua orang sudah duduk ditempatnya Masing-Masing. Binar dan Rukayah menunggu di dalam kamar Binar. Ibu dan anak itu saling menggenggam tangan satu sama lain.


Tidak dipungkiri, saat ini Binar juga merasa sangat tegang. Sebentar lagi ia kan melepas status lajang dan akan menjadi seorang istri.


“Saya terima nikahnya Binar Sabitah Binti Ahmad Syuhada dengan mahar berupa uang sebesar dua juta sembilan ratus dua puluh lima ribu rupiah, tunai!”


Mereka semua langsung mengucapkan alhamdulillah setelah para saksi mengatakan sah.


Kini, Binar sudah sah menjadi istri Pamungkas. Rukayah tidak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis di pelukan putrinya.


Sungguh, kalau ia bisa menang atas egonya terhadap putrinya. Ia pasti sudah melarang keras pernikahan ini. Tapi tidak ada orang tua yang bisa menang atas kehendak anaknya. Terlebih untuk kebaikan. Walaupun didalam hati ia masih merasa takut kalau Pamungkas akan menyakiti putrinya lagi, tapi ia merasa sedikit lega juga.


“Sekarang kamu sudah jadi istri orang, Nduk. Hormati dan layanilah suamimu dengan baik. Sekarang dialah yang lebih berhak atasmu sebelum kami. Jangan pernah menyembunyikan apapun darinya. Saling terbuka dan jujur. Jangan pernah meragukan dia untuk hal yang bahkan sepele sekalipun. Karna begitu kamu mulai meragukan dia, rumah tangga kalian akan goyah.”


Binar mendengarkan nasihat ibunya dengan seksama. Ia melepaskan pelukannya dan mengusap air mata ibunya.


“Ingat baik-baik. Menjalani rumah tangga itu bukan hal yang mudah. Lima tahun pertama adalah cobaan bagi rumah tangga kalian. Dan dua tahun pertama adalah yang paling berat. Karna itu adalah masa dimana kalian akan mulai mengetahui karakter dan sifat masing-masing yang selama ini tidak nampak. Bisa jadi itu akan bertentangan dengan apa yang kamu harapkan. Berusahalah untuk hati-hati terhadap semua tindakanmu. Ibuk cuma bisa mendo’akan dan menasihatimu saja. Semoga kamu bisa bertahan melewati setiap cobaan-cobaan yang datang kepada kalian.”


Kali ini, air mata Binar yang justru meleleh tak terkendali. Ia kembali memeluk erat ibunya dan menumpahkan semua airmatanya di bahu renta itu.


“Maafkan Binar kalau selama ini selau mengecawakan Ibuk sama Ayah. Selalu keras kepala jika diberitahu.”


“Kamu adalah putri Ibuk yang paling sempurna didunia.” Ujar Rukayah sambil melepaskan pelukannya.


Diluar pintu kamar, Pamungkas mendengarkan hampir semua pembicaraan yang ada didalam. Ia ragu saat Hendak mengetuk pintu itu. Takut mengganggu momen antara ibu dan anak tersebut.


“Kenapa belum masuk?” Tanya Ustadz Syuhada dari belakang Pamungkas.

__ADS_1


Pamungkas hanya tersenyum. Tidak berani mengadu tentang apa yang baru saja dia dengar.


Ustadz Syuhada berjalan mendekati kamar Binar dan mengetuk pintunya. Tidak lama kemudian Rukayah muncul membukakan pintu. Ia mencoba tersenyum kepada pria yang sekarang sudah menjadi menantunya itu.


“Masuklah.” Ujar Rukayah.


Pamungkas bisa melihat sekilas kalau Binar sedang membersihkan sisa-sisa airmata di wajahnya sambil menunduk.


“Temui istrimu.” Imbuh Ustadz Syuhada sambil menepuk pundak Pamungkas.


Rukayah dan suaminya berniat Hendak meninggalkan kamar Binar. Tapi Pamungkas segera menghentikan mereka. Dia ingin berbicara sesuatu.


“Buk, makasih udah ngijinin saya menikahi putri Ibuk.” Ujar Pamungkas penuh ketulusan.


Rukayah mengangguk dan tersenyum. “Pesen Ibuk, tolong jangan kamu sakiti lagi putri Ibuk.”


“Saya janji, Buk. Akan buat Binar bahagia.” Janji Pamungkas. Ia tahu, kalau ibulah yang paling merasa berat untuk melepaskan putrinya. Ibu lah yang paling sakit saat menyerahkan putrinya kepada seorang pria untuk di nikahi.


“Yaudah, cepetan Masuk.” Perintah Rukayah sebelum berlalu dan menghampiri kedua besan mereka di ruang tamu.


Pamungkas kembali membalikkan badannya dan menatap sosok wanita yang sedang duduk dengan wajah menunduk di pinggir tempat tidur. Wanita yang kini berada di bawah tanggung jawabnya. Tanggung jawab untuk membahagiakannya. Ya, wanita itu adalah istrinya.


Binar tersipu dengan wajah yang merona. Entah karna baru saja menangis, atau karna Masih malu kepada Pamungkas. Seolah mereka baru saja bertemu.


Sensasi menjadi seorang istri itu sungguh luar biasa. Apalagi saat ia merasakan kehadiran suaminya didalam kamar itu. Dadanyapun ikut berdetak tak karuan. Berbeda sekali saat ia bertemu dengan Pamungkas yang belum sah menjadi suaminya.


Pamungkas mulai melangkahkan kaki mendekati istrinya. Dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan. Antara bahagia dan malu.


Ya, saat ini dia juga merasa malu. Entah, Pamungkas sendiri heran kenapa dia merasa malu. Seperti baru menikah saja. Perasaan ini adalah perasaan yang baru ia rasakan sekarang. Walupun ini pernikahan keduanya.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2