Pindah

Pindah
22


__ADS_3

Sudah lewat jam 9 malam.


Binar sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu Yuli dan Ubay untuk mengantarkan sepeda motornya dan sepeda motor ayahnya.


Ustadz Syuhada sudah tertidur, begitu juga dengan istrinya.


Dan Chan, malam ini anak itu memilih untuk tidur bersama dengan Kakung dan Utynya.


Jadilah Binar hanya sendirian saja. Ia tidak berani menyalakan tv. Jadi ia hanya bermain ponsel saja untuk membunuh rasa bosan karna menunggu.


“O. T. W.”


Begitulah pesan yang dikirimkan oleh Yuli setengah jam yang lalu.


Binar meihat-lihat isi media sosial yang jarang digunakannya. Tapi alangkah terkejutnya ia saat melihat bahwa sebagian besar isinya adalah tentangnya dan Pamungkas. Mereka mengati yang buruk-buruk tentangnya. Bahkan banyak yag sudah menyebutnya sebagai seorang ‘pelakor’ alias perebut lelaki orang.


Kebanyakan dari netizen mendukung mantan istri sah Pamungkas, yaitu Reanty. Mereka beramai-ramai memberi dukungan moril kepada wanita itu.


Dan hal itu membuatnya semakin terkejut saja.


Reanty, aktris terenal yang sedang naik daun, yang di idolakan oleh banyak kaum ibu-ibu, termasuk ibunya, ternyata adalah istri dari Pamungkas. Lebih tepatnya, mantan istri.


Rasa terkejutnya mengarahkannya untuk mencari tau lebih jauh tentang pasangan itu.


Dan benar saja, ia bisa menemukan berbagai macam foto Pamungkas dan Reanty. Bahkan saat mereka menikah pun, ada.


Binar sudah bisa menyambungkan benang merahnya.


Alasan kenapa ia sampai dibawa-dibawa di berbagai media. Itu karna status Reanty yang sebagai seoang aktris terkenal. Wajar saja kalau awak meda sangat tertarik dengan kehidupan pribadinya.


Ia mencari alasan takdir melibatkannya dalam lingkarang rumah tangga Pamungkas dan aktris itu.


Tiba-tiba Binar merasakan nyeri di ulu hatinya. Sangat nyeri. Sampai membuatnya sulit bernafas.


Sakit itu bertambah saat ia mengingat julukan ‘pelakor’ yang disematkan oleh netizen untuknya.


Seketika rasa kotor dan rendah diri menguasai perasaanya.


Binar tersadar saat suara decitan pintu gerbang terbuka. Ia bisa menduga kalau itu pastiah Yuli dan Ubay.


Ia mencoba mengatur nafas untuk menenangkan batinnya. Kemudian berjalan keluar rumah.


Diluar, Yuli dan Ubay sedang memarkirkan sepeda motor ke halaman.


“Taruh disitu aja, Yul. Nanti biar aku yang masukin ke garasi.” Ujar Binar dengan mata yang sembab. Siapapun tau kalau ia baru saja menangis.


“Udah, gak apa-apa. Sekalian.” Balas Ubay. “Buruan bukain garasinya.”


Binar segera berlari kecil untuk membuka pintu garasi.


“Makasih ya, kalian udah mau nganterin ni motor. Di perbaikin pula bannya.”

__ADS_1


“Yaelah, kayak sama siapa aja.” Timpal Yuli.


Gadis manis itu langsung duduk di kursi bambu yang ada di teras. Begitu juga dengan Ubay.


“Masuk yuk. Duduk didalam.” Ajak Binar.


“Gak usah, Bin. Disini aja. Duduk disini lebih sejuk.” Ubay beralasan.


“Yaudah, aku ambilin minum dulu, ya.”


Yuli dan Ubay hanya mengangguk. Dan Binar segera mask kedalam rumah untuk membuatkan minuman.


Beberapa saat kemudian Binar telah muncul kembali dengan membawa nampan berisi dua gelas teh hangat dan setoples keripik singkong.


“Ibuk sama Ayah mana, Bin?” Tanya Yuli.


“Udah tidur. Tadi ayah baru pulang dari luar kota, capek mungkin."


“Chan?”


“Tidur sama mereka....”


“Yaahhh,, padahal aku udah kangen sama tuh anak. Udah lama gak ketemu.” Seloroh Yuli.


“Udah, diminum dulu...” Binar mempersilahkan.


“Kamu gak apa-apa kan Bin?” Yuli mencoba membuka pembicaraan.


Ubay dan Yuli saling pandang menunggu jawaban.


“Bin?” Panggil Ubay.


“Gak. Aku gak baik-baik aja. Aku udah berusaha buat baik-baik aja, tapi gak bisa. Mereka terus menjelek-jelekkanku. Bilang aku pelakor. Mereka nuduh aku sebagai penyebab hancurnya rumah tangga mas Pam dan istrinya.”


Tes,, tes,,, tes,,


Butiran airmata mulai jatuh melewati pipinya. Binar tersedu sambil menundukkan kepalanya. Membiarkan buliran-buliran airmata itu membasahi pangkuannya.


Yuli yang duduk disampingnya segera merengkuh tubuh sahabatnya itu kedalam pelukannya. Mengusap-usap pundak Binar untuk menenangkannya.


Dan Ubay hanya bisa menatap pias kepada mereka. Entah kenapa dia juga ikut merasa sedih sekaligus marah. Tapi dia juga tidak tau harus melampiaskannya pada siapa.


“Kita tunggu klarifikasinya aja, Bin. Aku udah ngomong sama Pam. Tadi kaatnya dia lagi rundingan sama mantan istrinya. Mungkin besok mereka udah klarifikasi. Lagian Pam gak mungkin melibatkan kamu dalam rumah tangganya. Dia ga setega itu kok Bin.” Ubay mencoba memberikan penjelasan. Berharap hal itu dapat megurangi kesedihan Binar.


Binar dan Yuli saling melepaskan pelukan setelah mereka mendengar penjelasan dari Ubay. Ada sedikit rasa tenang di hati Binar. Semoga semuanya segera membaik.


Menjadi bahan cemoohan tetangga saja sudah tidak sanggup rasanya. Apalagi ini Binar harus menjadi bahan cemoohan satu negara. Sakit sekali rasanya. Seperti ada seeseorang yang sedang mengulitinya.


“Mending besok kamu gak usah masuk dulu Bin. Rumah sakit lagi heboh sekarang. Nanti kalau keadaan udah reda, baru kamu masuk kerja.” Yuli memberikan saran terbaiknya.


“Hei. Binar gak selemah itu. Lagian ini bukan salahnya. Dia gak ada hubungannya ama skandal itu. Buat apa takut. Masuk aja Bin. Tunjukin sama orang-orang kalau persepsi mereka itu salah tentang kamu. Gak usah takut. Ada aku dibelakangmu.” Ubay terdengar mantap saat mengucapkan kalimat itu. Tidak peduli walaupun ia mendapat cibiran dari Yuli.

__ADS_1


“Jangan beraninya main belakang, dong. Dukung itu dari depan, sejajar, gitu.” Potes Yuli sambil terkekeh.


Yuli dan Ubay nampak lega melihat wajah tersenyum Binar.


Keberadaan Yuli dan Ubay sangat membantunya untuk melupakan maslaah itu walau hanya sejenak. Binarpun ikut tertawa kecil meihat dua orang yang tidak pernah akur itu.


“Terus kalian nanti pulangnya gimana?” Tiba-tiba Binar terfikirkan sesuatu.


“Yaelah, itumah masalah gampang, kali. Tinggal naik taksi aja. Gak jauh ini. Jalan kaki juga bisa.” Jawab Yuli santai.


Binar tidak terlalu memikirkan Ubay, toh rumah Ubay hanya berada d lorong sebelah yang tidak jauh dari rumah Binar.


Mereka menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mengobrol. Sampai tidak terasa kalau malam sudah hampir larut.


“Eh, udah malem aja. Kayaknya aku harus balik deh, Bin. Takut juga aku kalau kemaleman. Kalau kamu gak bisa tidur, nanti kita lanjut ngobrol di grup.” Ujar Yuli.


“Yaudah, hati-hati. Makasih banyak lho Yul.”


“Iya, yaudah. Aku balik dulu ya...” Yuli beranjak dari duduknya dan berjalan menjauh.


“Aku juga balik dulu ya Bin. Kalau ada apa-apa telfon aku aja.” Pamit Ubay pula.


“Makasih banyak ya, Mas. Maaf juga selalu ngerepotin mas Ubay.”


“Sering-sering juga gak apa-apa, Bin. Aku seneng kok direpotin sama kamu.” Jawab Ubay dengan tersenyum aneh.


“Gak usah mulai, Mas. Buruan pulang. Tapi hati-hati kalau lewat di dekat pohon mangganya Pak RW.” Goda Binar.


Ubay tidak jadi melangkah. “Yaahhh,,Bin. Kok gitu sih?” Protes Ubay. Dahinya sudah berkerut karna terpancing dengan ucapan Binar.


“Ya kan aku cuma bilang, hati-hati, awas ketiban mangga yang jatuh, gitu.” Binar hampir tidak bisa menahan tawanya melihat wajah Ubay yang nampak sedikit pucat.


“Yaudah, Assalamu’alaikum...” Ubay hanya mencibir saja sambil melanjutkan langkahnya untuk pulang kerumahnya.


“Wa’alaikum salam...” Jawab Binar sambil terkekeh kecil.


*


*


*


*


*


Bersambung...


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2