Pindah

Pindah
39


__ADS_3

Berjuta prasangka muncul di benak Pamungkas. Ia harus segera menyambungkan benang merahnya sebelum memulai maksud inti dari kedatangannya.


Pertama, ia meyakinkan diri kalau Binar belum pernah menikah. Setidaknya, ia tidak pernah mendengar kabar bahwa Binar pernah menikah.


Kalau begitu, lantas siapa Chan itu? Ada kemungkinan kalau Chan bukanlah anak kandung dari Binar.


Ia bisa menyimpulkan saat ia teringat sesuatu. Dulu, Binar nampak sangat tersinggung saat ia bertanya apakah Binar sudah menikah dan punya anak. Kini dia bisa menebak kenapa Binar sensitif dengan pertanyaan itu.


Ini semua Masih dugaannya saja. Tapi entah kenapa Pamungkas merasa sangat yakin dnegan hal itu.


“Aku gak tau harus mulai cerita dari mana. Tapi, ada kemungkinan kalau Chan itu adalah putraku.”


Seperti sebuah petir yang menyambar saat hari sedang cerah, kalimat Pamungkas terdengar mendengung di gendang telinga Binar.


“Apa maksud Mas Pam berkata seperti itu?” Tanya Binar dengan wajah yang jelas menampakkan kalau dia sangat tersinggung. Tidak suka.


“Apa maksudnya dengan Chan itu adalah anaknya Pak Dokter?” Rukayah ikut bertanya. Ia juga terkejut luar biasa.


“Tolong jelaskan kepada kami, Nak Pam. Agar kami tidak berprasangka buruk kepada Nak Pamungkas.” Ujar Ustadz Syuhada.


“Saya minta maaf sebeumnya, Ustadz, Ibuk, Binar. Selama ini, saya sedang mencari putra saya. Dulu, beberapa hari setelah melahirkan, mantan istri saya membuang bayi kami karna suatu alasan yang tidak bisa saya jelaskan. Karna trauma yang begitu dalam, mantan istri saya tidak ingat dimana dia pernah menaruh bayi itu. Dan hari ini, Allah menunjukkannya kepada mantan istri saya. Dia ingat dimana pernah menaruh bayi itu, dan bertanya kepada orang-orang yang ada di sana. Dan mereka memberitahu kalau ada keluarga yang merawat anak kami, tapi keluarga itu sudah pindah. Jadi mereka hanya memberikan sebuah alamat kepada mantan istri saya, dan mantan istri saya memberikan alamat itu kepada saya. Itulah kenapa saya datang ingin memastikan hal tersebut, Ustadz.”


Dada Binar terasa sakit mendengar penjelasan Pamungkas. Bukan karna tiba-tiba pria itu datang dan mengakui Chan sebagai putranya. Tapi yang membuat Binar marah adalah, betapa teganya seorang ibu membuang bayinya yang baru lahir begitu saja. Bayi yang lahir dari pernikahan yang sah pula.


Binar memang tidak tau apa permasalahan yang membuat mantan istri Pamungkas, yang tidak lain adalah Reanty, sampai hati membuang darah dagingnya sendiri. Seberat apapun permasalahannya, bukankah Allah selalu hadir untuk mendengarkan keluh kesah para hambanya? Agar hambanya terhindar dari perbuatan kejam seperti itu.


“Kalau sudah dibuang, ya udah. Kenapa sekarang dicari lagi?” Tanya Rukayah dengan nada sedikit ketus. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya.


“Buk...” Ustadz Syuhada memperingati istrinya.


“Astaghfirullah hal adzim...” Sebut Rukayah lirih. Ia mengusap dadanya sambil memejamkan mata. Menyadari kesalahannya telah bicara kasar kepada tamunya.

__ADS_1


“Nak Pam. Memang benar kalau Chan itu bukanlah anak kandung dari putri kami. Dan seperti yang nak Pam bilang, kalau kami merawat Chan setelah seseorang meninggalkan Chan di depan rumah kami. Kami tidak akan menyangkal hal itu. Tapi kalau boleh saya memberi saran, apa tidak sebaiknya di perjelas dulu? Apa memang benar kalau Chan itu adalah putra nak Pamungkas. Bukan kami meragukan cerita dari Nak Pam. Kami hanya ingin memastikan saja. Semoga Nak Pamungkas mengerti.” Ustadz Syuhada mencoba mengambil jalan tengah untuk keadaan itu.


“Maka dari itu, saya ingin meminta izin untuk melakukan tes DNA kepada Chan.” Imbuh Pamungkas dengan sangat hati-hati.


Isak tangis Binar menghentikan pembicaraan itu. Ustadz Syuhada, Rukayah, dan Pamungkas, sontak melihat kepada Binar yang sedang menunduk dengan airmata yang terus menetas mebasahi hijabnya.


“Nduk...” Lirih Rukayah yang langsung pindah duduk disebelah putrinya. Mengusap punggung Binar untuk menenangkannya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Binar langsung menghambur kedalam pelukan ibunya. Sakit sekali hatinya saat ada orang lain yang ingin mengambil Chan darinya.


Memang dia bukanlah ibu yang melahirkan Chan, tapi kasih sayangnya kepada Chan jauh lebih tulus. Chan adalah cintanya. Chan adalah segalanya baginya. Dia tidak rela jika harus menyerahkan Chan kepada Pamungkas atau siapapun itu yang mengaku sebagai orang tua kandung dari anaknya itu.


Tidak. Dia sangat tidak rela.


“Sabar, Nduk...” Rukayah mencoba menenangkan putrinya. Walau sebenarnya ia yang paling tau seperti apa tulusnya kasih sayang Binar untuk Chan.


“Maafkan aku, Bin. Aku sama sekali tidak menyangka.” Ujar Pamungkas.


Setelah itu, tidak ada yang berbicara. Semua larut dalam isak tangis Binar. Ada rasa tidak enak didalam hati Pamungkas. Siapa yang menyangka kalau ikatan takdir antara dirinya dan Binar ternyata belum berakhir.


Allah memberikan kejutan luar biasa untuk Pamungkas dan Binar. Entah apa maksud dari semua ketidak sengajaan itu. Yang jelas, takdir pertemuan terus berputar diantara mereka.


Binar mash mencoba untuk menenangkan diri. Ia berusaha menghentikan tangisannya. Dan setelah berhasil menguasai diri, ia menarik diri dari pelukan Rukayah, mengusap bekas airmatanya dengan telapak tangannya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan Masuk kedalam kamar mandi.


Tidak lama kemudian, Binar kembali dengan membawa sikat gigi milik Chan. Ia bahkan telah membungkus sikat gigi itu didalam plastik.


Pamungkas bingung saat Binar menyodorkan sikat gigi itu kepadanya dengan tatapan aneh. Antara marah, dan sedih.


Perlahan Pamungkas meraih sikat gigi itu. Masih dengan ekspresi Bingung karna Binar Masih tidak mengucapkan sepatah katapun.


“Silahkan dipastikan, Mas. Tapi aku tetap beharap kalau Chan bukanlah anakmu. Maaf jika aku berharap sesuatu yang egois.”

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu, Binar langsung pergi dan masuk kedalam kamarnya. Disana, dia menangis sejadi-jadinya tanpa suara sambil memeluk Chan. Anak itu tidak merasa terganggu walau kepalanya terkena tetesan airmata Binar.


“Maafkan saya, Pak Ustadz.” Ujar Pamungkas sambil menundukkan kepalanya karna ia benar-benar merasa tidak enak hati. Tapi ia juga sangat merindukan anaknya.


“Tidak perlu meminta maaf, Nak Pamungkas. Semua ini memang sudah menjadi rencananya Allah. Tinggal kita jalani saja dengan ikhlas dan melakukan yang terbaik.”


“Trimakasih, Pak Ustadz. Kalau begitu saya permisi dulu. Nanti saya akan datang kembali setelah hasil tesnya keluar.” Pamit Pamungkas.


“Iya, silahkan.”


“Assalamu’alaikum...”


“Wa’alaikum salam...”


Pamungkas meninggakan rumah itu dengan perasaan yang campur aduk. Berusaha fokus mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Ia Masih berfikir, kenapa hidupnya selalu saja berkutat dengan Binar. Kenapa selalu saja ada kejadian yang diluar dugaan yang kembali membuatnya berurusan dengan gadis itu.


Tapi disudut hati kecilnya, ia merasa lega. Karna kali ini, Allah benar-benar menghubungkannya dengan Binar lewat anaknya. Sebuah hubungan yang sepertinya tidak akan berakhir begitu saja.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2