Pindah

Pindah
52


__ADS_3

Kalimat yang baru saja diutarakan oleh Pamungkas, membuat semua orang terdiam sangking terkejutnya. Mereka semua kompak melihat kepada Pamungkas yang sedang menatap Ustadz Syuhada dan Rukayah bergantian. Ia ingin menunjukkan ketulusan dari niatnya itu.


Terlebih Binar. Tubuhnya membeku. Ia menatap Pamungkas dengan setengah ternganga. Kalimat itu sama sekali tidak pernah diduga. Bahkan oleh Haya maupun Hendrana sekalipun.


“Apa Nak Pamungkas serius dengan ucapan Nak Pamungkas barusan?” Tanya Ustadz Syuhada memastikan.


“Saya serius, Pak Ustadz. Saya bahkan sudah pernah bilang sama Binar.”


Kini, Ustadz Syuhada dan Rukayah gantian menatap Binar meminta jawaban.


“Nduk?” Tanya Ustadz Syuhada.


Binar masih terdiam. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ingin sekali ia menolaknya. Tapi ia kembali berfikir tentang Chan.


“Terimakasih atas kesungguhannya Nak Pamungkas. Tapi kami, tidak bisa memutuskannya secara sepihak. Semua keputusan ada ditangan Binar. Biar kita dengarkan dulu penjelasannya.” Ujar Ustadz Syuhada.


Binar menarik nafas dalam. Kemudian ia menatap lurus kepada Pamungkas yang nampak sedang harap-harap cemas menantikan jawaban darinya.


“Mas, aku kan udah pernah bilang. Kamu gak perlu lakukan semua ini karna takut berpisah sama Chan. Sampai kapanpun, aku gak akan pernah larang kamu buat ketemu sama Chan.”


“Iya, memang ini semua demi Chan. Aku gak pungkiri itu. Tapi ini juga demi aku, Bin.”


Binar kembali terdiam. Ia sedang menerka-nerka apa maksud dari kalimat itu. Dan berusaha untuk menemukan jawaban yang bijaksana agar tidak ada yang tersakiti. Terutama Pamungaks dan keluarganya.


“Tante sangat berharap kalau kamu mau menerima Pamungkas, Binar.” Ujar Haya. Kali ini ia tidak perlu lagi menutupi keinginannya agar Binar menjadi menantunya.


“Kasih aku waktu tiga hari, Mas. Setelah tiga hari, kamu datang lagi kesini, dan aku akan kasih jawabannya hari itu.” Kata Binar pada akhirnya.


Pamungkas menghela nafas. Berusaha menepis harapan tipis itu. Padahal memang dia sudah tau kalau Binar tidak akan serta merta menerima lamarannya. Sudah terlalu banyak rasa sakit yang ia sebabkan untuk gadis itu.


Tapi kalau tidak dicoba, dia tidak akan tau hasilnya. Karna itu dia berusaha memberanikan diri untuk berbicara langsung saat ini. Masalah nanti bagaimana, ia sepenuhnya pasrah dengan Sang Maha membolak balik hati.


“Baiklah. Aku akan datang tiga hari lagi untuk mendengar jawabanmu.” Ujar Pamungkas. Ia tidak bisa menyembunyikan raut wajah khawatirnya. Takut ditolak.


“Om dan Tante juga sangat berharap, Binar. Semoga jawabanmu nanti adalah yang terbaik untuk semua orang.” Timpal Hendrana. Dia juga berharap kalau Binar mau menerima putranya. Tapi ia tahu diri dan tidak akan memaksakan.

__ADS_1


Tidak akan mudah bagi keluarga Binar untuk menerima pinangan Pamungkas setelah apa yang mereka perbuat dua tahun yang lalu itu. Hendrana tahu betul akan hal itu.


“Kalau begitu, kami permisi dulu, Pak Ustadz.” Pamit Pamungkas kemudian. Ia berdiri dan menyalami Ustadz Syuhada. Begitu pula dengan Hendrana.


Sedangkan Haya menyalami Binar dan Rukayah.


“Chan, Papa pulang dulu, ya.” Pamit Pamungkas kepada putranya itu.


Chan hanya mengangguk kecil. Ia tetap duduk disofa dan tidak mau berdiri.


“Chan, kok gitu. Ayo, salim.” Binar mengingatkan.


Nampak sekali kalau Chan malas untuk bangun. Tapi karna ia terpaksa, akhirnya ia mau menyalami Papa, Kakek, dan Neneknya.


Pamungkas mengusap kepala Chan sambil tersenyum. Kemudian ia berjalan keluar rumah bersama kedua orang tuanya.


Binar dan keluarganya juga ikut mengantarkan keluarga Pamungkas sampai di halaman depan rumah. Bahkan sampai mobil Pamungkas menghilang diujung gang.


“Ibuk gak setuju, Bin.” Ujar Rukayah tiba-tiba saat mereka sudah kembali masuk kedalam rumah.


“Ibuk gak masalah kalau kita tetap berhubungan seperti ini. Tapi kalau untuk jadi suamimu, Ibuk keberatan. Ingat apa yang udah dia lakukan sama kamu, Bin. Menghancurkan pekerjaan dan masa depanmu. Timbul fitnah dimana-mana. Bahkan sampai sekarang hati Ibuk masih sakit kalau ingat kejadian itu.”


Perkataan Rukayah sepenuhnya benar. Suaminya pun tahu itu. Hati Ibu mana yang tidak sakit melihat anaknya disakiti? Dan hal itu juga berlaku bagi Rukayah. Ia tidak ingin melihat putri berharganya menangis lagi setelah berusaha mati-matian untuk bangkit.


“Jangan begitu, Buk. Kalau Allah sudah menetapkan jodoh untuk putri kita. Kita gak boleh menghalanginya.” Ujar Ustadz Syuhada mengingatkan. “Bukannya selama ini kita sangat ingin melihat putri kita menikah?”


“Iya, Yah. Tapi enggak sama Pamungkas. Ibuk lebih milih Nak Ubay yang kebaikannya udah dipastikan. Gak pernah buat Binar sedih. Selalu ada saat Binar butuh bantuan. Lagian kan Binar udah janji bakalan nerima Nak Ubay.”


“Mas ubay gak jadi melanjutkan khitbahnya Buk. Kemarin dia kasih tau Binar kalau dia mundur. Maaf belum sempat kasih tau Ayah sama Ibuk.”


Ucapan Binar menambah hati Rukayah semakin teriris. Entah kenapa sedih sekali melihat nasib jodoh putrinya itu.


Air mata Rukayah mengalir di kedua pipinya. Ia ingin menumpahkan semua kesedihan yang dia rasakan untuk putrinya.


Melihat itu, Binar langsung memeluk Ibunya dengan erat. “Maafin Binar, Buk. Selalu buat Ibuk sedih. Entah kapan Binar bisa bahagiain Ibuk sama Ayah.”

__ADS_1


“Kebahagiaan kami itu gak penting, Nduk. Melihat anaknya bahagia, itulah kebahagiaan yang hakiki bagi orang tua. Sekarang Ayah mau tanya, bagaimana pendapatmu tentang Nak Pamungkas?” Tanya Ustadz Syuhada.


Binar melepaskan pelukannya dari Ibunya. Menatap Ayahnya dengan pias. Ia menghela nafas sebelum menjawabnya.


“Ayah kan tau kalau Chan adalah segalanya buat Binar.”


“Jangan fikirkan itu dulu. Chan akan tetap bahagia walaupun kalian tidak menikah. Dia akan tetap mendapatkan kasih sayang dari kamu, Ayah, Ibuk, maupun keluarga Papanya. Sekarang Ayah ingin tau bagaimana perasaanmu.”


“Binar belum yakin, Yah. Binar memang udah mengenal mas Pam sejak Binar kuliah dulu. Tapi untuk jadi istrinya, Binar gak tau.”


“Fikirkan baik-baik dulu sebelum memutuskan. Minta petunjuk sama Allah. Ayah sama Ibuk, manut apa keputusanmu nanti. Yang menjalani hidup itu kan kamu. Jadi kamu yang paling tau apa yang terbaik buat diri kamu sendiri kedepannya. Abaikan dulu masalah Chan. Bukan hanya kebahagiaannya yang penting. Tapi kebahagiaanmu juga penting. Jadi fikirkan juga kebahagiaanmu.”


“Iya, Yah. Nanti kalau Binar sudah tau jawabannya, Binar kasih tau Ayah. Sekarang Binar harus pergi kerja dulu.”


“Hati-hati, Nduk.” Pesan Rukayah.


“Iya, Buk. Assalamu’alaikum.” Ujar Binar sambil menyalami kedua orang tuanya. Kemudian mencium kepala putranya.


“Wa’alaikum salam.”


Binar melajukan sepeda motornya keluar dari komplek perumahan. Fikirannya tidak bisa fokus. Berkali-kali ia beristighfar dalam hati untuk menenangkan hatinya.


Apa sekarang sudah saatnya untuk memikirkan tentang kebahagiaannya? Apa dia pantas untuk itu? Sementara ia selalu membuat hati Ayah dan Ibunya bersedih.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2