
Sudah lebih dari dua tahun sejak kejadian yang menghancurkan masa depan Binar itu.
Sore ini, Binar sedang menunggui Chan pulang dari sekolahnya.
Dengan mengenakan jaket ojek online dan helm yang menutupi seluruh wajahnya, ia memarkirkan sepeda motornya agak jauh dari kerumunan para orang tua yang juga sedang menunggui anak-anak mereka. Ia duduk diatasnya sambil menunggu.
Ia seolah tidak ingin menarik perhatian orang lain. Karna julukan ‘pelakor’ masih terus melekat padanya. Dia adalah korban dari kesalah fahaman yang ingin dipercaya oleh banyak orang.
Binar langsung berdiri saat ia melihat kerumunan anak-anak sekolah dasar yang baru keluar dari pintu gerbang sekolah. Matanya lansung mencari sosok malaikat kecilnya, pria yang paling dicintainya diantara anak-anak itu.
Dan senyumnyapun mengembang saat melihat Chan yang menoleh kekanan dan kekiri, mencari dirinya. Ia segera melambaikan tangan.
Chan tau kalau yang melambai itu adalah ibunya. Walaupun wajah Binar tertutup oleh helm. Ia segera berlari menghampiri Binar.
“Assalamu’alaikum...” Sapa sikecil Chan sambil menyalami Binar.
“Wa’alaikum salam, gantengnya anak Mama. Gimana sekolah hari ini?”
“Banyak PR.” Adu Chan.
“Bagus dong, kan biar Chan tambah pinter.” Puji Binar sambil memakaikan helm anak-anak kepada Chan.
Setelah itu mereka berjalan pulang kerumah.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Binar dan Chan berbarengan.
“Wa’alaikm salam.” Jawab Rukayah dari dalam dapur.
“Uty!” Ujar Chan sambil mencium tangan Utynya.
Rukayah melayangkan sebuah kecupan didahi cucunya. “Langsung ganti baju, ya. Uty udah masak balado ikan mujahir kesukaanmu.”
Mendengar kata balado ikan mujahir, wajah Chan langsung sumringah. Ia mengangguk kemudian berlari menuju kekamar untuk berganti pakaian.
Rukayah dan Binar hanya tertawa saja melihatnya.
“Ayah gimana, buk?” Tanya Binar sambil melepas jaket drivernya dan meletakkan diatas kursi di meja makan.
“Lagi tidur.”
“Jangan disuruh tidur terus, Buk. Nanti malah jadi lemes. Semakin banyak gerak, semakin baik.”
“Iya. Ayahmu juga baru masuk. Tadi jalan-jalan dikit di depan rumah. Trus katanya capek. Jadi Ibuk suruh istirahat aja.”
“Ooo,, yaudah kalau gitu. Binar gak bisa lama Buk.”
“Makan dulu, baru pergi lagi.” Ujar Rukayah.
__ADS_1
“Nanti aja, Buk. Binar belum lapar.” Tolak Binar. Karna ia memang belum lapar.
“Hana ti ko gere mera nerime kerje i klinik Ubay? Gere dalih ngojek. (kenapa kamu gak mau nerima kerja di klinik Ubay? Kan gak perlu ngojek).”
“Malu, Buk.”
“Hana ti kemel? (kenapa malu)”
“Mas Ubay udah terlalu bayak bantu kita. Masa iya harus membebani dia terus-terusan. Kasihan dia, Buk. Ngojek kan juga halal buk. Insha Allah rezekinya berkah.” Jawab Binar. “Yaudah, Binar berangkat dulu ya, Buk” pamitnya kemudian.
Sudah hampir dua tahun ini Binar bekerja sebagai driver ojek online untuk memenuhi biaya hidupnya dan Chan. Dan untuk biaya berobat ayahnya yang sekarang sering sakit-sakitan.
Ia menolak untuk bekerja di klinik milik Ubay. Ia merasa tidak enak hati jika harus menerima pekerjaan itu.
Sedangkan Rukayah, membuka warung makan kecil-kecilan di pinggir jalan diujung gang.
Setelah kejadin dua tahun yang lalu, kehidupan keluarga mereka jungkir balik tak tentu arah. Benar-benar hari-hari yang berat untuk Binar dan keluarganya.
Ditambah Ustadz Syuhada yang belakangan penyakitnya sering kambuh. Membuat ibu dan anak itu harus memeras tenaga untuk kebutuhan obat dan kebutuhan sehari-hari.
Rukayah memandangi kepergian Binar dengan tetesan air mata. Ia sedih, karna cobaan yang menghampiri putrinya itu begitu besar. Memporak-porandakan kehidupan yang sudah tertata rapih.
“Mana Mama, Uty?” Tanya Chan saat dia baru selesai ganti baju.
“Udah pergi. Sini, makan.”
“Chan, Uty mau kewarung dulu, kamu jaga Kakung sebentar ya. Kalau ada apa-apa sama Kakung, cepet panggil Uty.”
Chan mengangguk setuju. Kemudian ia melanjutkan makanannya.
Rukayah berjalan ke warungnya yang ada di ujung gang. Ia menenteng keranjang berisi beberapa ikat bayam, dan es batu yang ia bawa dari rumahanya.
“Assalamu’alaikum.” Sapa Rukayah setelah sampai diwarungnya.
“Wa’alaikum salam.” Jawab Siti, tetangganya yang ikut membantu diwarung.
“Bawa es batunya, Mbak?” Tanya Siti.
“Bawa. Ini.” Rukayah menyerahkan keranjang itu kepada siti.
“Baru dari rumah, Mbak?”
“Walah, ada Bu Rw to. Sampek gak lihat. Udah lama, Buk?” Tanya Rukayah balik.
“Udah ada setengah jam-an lah.”
“Mau beli apa? Biar tak ambilkan.”
__ADS_1
“Udah, udah selesai dbungkusin sama Siti. Cuman tinggal nunggu Mbak aja.”
“Nunggu saya?” Rukayah mengalihkan langkahnya untuk duduk disamping Bu Rw.
“Gini lho Mbak. Gimana kabarnya Binar sekarang? Msih ngojek?” Bu Rw berusaha bertanya sehalus mungkin. Ia tidak ingin lawan bicaranya menangkapnya dengan salah.
“Ya masih lah Buk. Kenapa memangnya?” Rukayah tau kalau Bu Rw ingin menyampaikan sesuatu menyangkut Binar kepadanya.
“Ada sepupu jauh saya dari Magelang, yang lagi cari jodoh. Sudah duda. Anaknya tiga. Yang pertama cewek, kelas dua SMA. Terus yang kedua cowok, kelas dua SMP. Dan yang ketiga cowok, klas 6 SD. Udah satu tahun ditinggal meninggal istrinya. Barang kali aja jodoh dengan Binar, saya ingin memperkenalkan mereka.” Ujar Bu Rw dengan sangat hati-hati.
“Gak tau ya, Buk. Nanti saya kasih tau sama anaknya. Jadi sudah duda ya?”
“Iya, sudah duda. Gak apa-apa kan Mbak? Kan Binar juga janda. Semoga cocok. Orangnya ganteng dan gagah. Kalau masalah ibadah, Insha Allah orangnya rajin beribadah, Mbak. Masalah ekonomi, gak perlu diragukan lagi. Dia punya beberapa pabrik garment di Magelang sama Semarang. Orang berkecukupan lah.”
“Iya, Buk Rw. Nanti saya tanyakan dulu sama Binarnya. Nanti saya hubungi Bu Rw lagi kalau udah ada keputusan dari Binar. Makasih banyak ya Buk. Sudah repot mencarikan jodoh untuk anak saya. Karna saya juga Bingung, Binar kayak gak kepengen nikah, gitu. Padahal saya itu kepengen banget lihat dia punya keluarga.”
“Yaudah, gitu aja ya Mbak. Saya pulang dulu. Suami saya belum makan soalnya. Nanti merepet pula kalau lama dateng sayurnya. Hehehehe..”
“Iya. Makasih banyak ya Buk.”
Rukayah mengantarkan Bu Rw sampai depan warung. Setelah Bu Rw tidak terlihat lagi, ia kembali kedalam warungnya.
“Ngobrol apa sih, Mbak? Serius amat.” Taya Siti ingin tau.
“Itu sepupunya Bu Rw yang duda, lagi cari istri. Dia tanya pendapat tentang Binar.”
“Jadi mak comblang, gitu ceritanya?”
“Kurang lebih.”
“Iya, lagian si Binar itu kenapa belum mau nikah juga sih, Mbak?”
“Gak tau. Kalau ditanya jawabnya cuman dia lagi fokus sama Chan. Gak mau mikirin hal lain.” Jawab Rukayah sambil mengiris-iris bayam yang ia bawa tadi.
“Ya tapi kan berumah tangga itu juga perlu. Buat masa depan Chan juga. Kasihan aku.”
Rukayah hanya tersenyum getir. “Minta doa terbaikmu aja buat Binar ya Ti.”
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...