
Chan sedang ditemani oleh Yuli berdiri di dekat kandang jerapah. Keduanya tengah sibuk berfoto.
Sedangkan Binar duduk di bangku bersama dengan Ubay.
“Capek, Mas?” Tanya Binar.
“Panas.” Jawab Ubay. Ia mengipasi wajahnya dengan telapak tangannya.
“Iya. Hari ini panas banget ya.” Binar menyodorkan botol air mineral kepada Ubay.
“Eehmm, Bin. Kalau aku bicara tentang cowok yang Ibunya masuk rumah sakit itu, kamu marah gak?” Ubay memberanikan diri bertanya. Sebuah rasa penasaran yang sudah lama dipendam oleh Ubay.
“Tanya apa Mas? Kamu naksir sama dia?” Goda Binar.
“Heeehhhh.. Sembarangan.”
Binar tertawa.
“Aku dengar kalian punya hubungan spesial.”
“Hubungan spesial gimana?” Binar masih belum mengerti dengan pertayaan Ubay.
“Apa dia calon suamimu?” Akhirnya pertanyaan inti dari rasa penasaran Ubay selama aini keluar juga.
Binar terdiam. Ia menundukkan kepalanya dalam. Rasanya sakit saat ia hendak melupakan tentang Nazril, tapi ada orang yang terus mengungkitnya.
“Aku lancang ya, Bin?” Ubay jadi merasa bersalaha karna menanyakan pertanyaan yang sepertinya sangat sensitif bagi Binar.
“Gak kok Mas. Bukan. Kenapa Mas Ubay penasaran?”
“Beneran bukan? Syukur deh.. "
Binar kembali terdiam. Ia menghela nafas dalam.
“Dulu sih. Tapi sekarang udah enggak.”
Ubay tekejut mendengar pengakuan Binar.
“Maksudmu?”
“Seharusnya kemarin jadi hari yang paling bahagia buat aku, Mas. Pertemuan keluarga antara kelaurgaku dan keluarganya. Dia udah lama berniat mau mengkhitbahku. Dan aku seneng dong. Tapi keputusan itu tiba-tiba berubah karna ibunya merasa terganggu dengan skandalku dan Mas Pam.”
Ubay terdiam. Ia serius mendengarkan penuturan Binar. “Jadi gara-gara skandal itu.....”
“Tapi yaudahlah, gak apa-apa. Berarti bukan jodoh.”
Ubay kembali terdiam cukup lama. Ia menghela nafas berkali-kali. Seolah sedang memersiapkan sebuah kalimat.
“Bin, kamu tau kan gimana perasaanku sama kamu selama ini? Satu hal yang harus kamu tau lagi, kalau aku siap jadi papa sambung untuk Chan.”
Ubay mengungkapkan kalimat itu dengan seluruh keberaniannya.
Binar tidak terkejut. Dia bukan wanita bodoh yang tidak tau kesiapan Ubay.
“Mas, aku gak akan minta maaf sama kamu karna aku masih belum bisa nerima perasaan kamu. Aku juga makasih karna kamu udah bersedia jadi papa sambung buat Chan. Aku gak punya alasan untuk semua itu. Aku mengharagi perasaan kamu mas. Tapi kalau untuk menikah, masih banyak hal yang harus aku pertimbangkan.”
__ADS_1
“Hal apalagi sih Bin? Aku jauh lebih mampu buat kamu bahagia. Gak ada orang lain yang bisa ngertiin kamu sebaik aku. Dan aku pasti bakalan bisa buat kalian bahagia. Kalau kamu bilang ‘iya’, nanti aku bisa langsung lamar kamu.”
“Mas, aku baru aja kecewa kemarin. Mana mungkin kamu langsung ngelamar aku? Gimana dengan perasanku? Apa itu gak penting buat kamu? Apa gak masalah kalau aku gak bisa punya perasaan yang sama ke kamu? Aku gak mau berdosa seumur hidup karna gak bisa memncintai suamiku sendiri.”
Kini Ubay mengalah. Dia tediam setelah mendengar penjelasan dari Binar.
Memang, seberapapun usahanya untuk memikat hati Binar, toh selama ini tidak ada yang berhasil. Dia tetap tidak bisa mengubah perasaan Binar untuk menyukainya.
Apa dia harus bersabar lagi?
“Okelah, Bin. Aku gak mau ngerusak hubungan baik kita karna hal ini. Tolong jangan benci aku, ya. Hehe..”
Ubay tertawa untuk menyembunyikan perasaan pedih di hatinya.
Ada rasa tidak tega di hati Binar. Karna ia terus menghindar dan menolak perasaan Ubay padanya. Ia jadi tidak enak hati.
Tapi, ia juga tidak bisa memaksakan perasaanya. Apalagi rasa kecewa karna keputusan pria yang ia harapkan untuk menjadi suaminya, yang memilih untuk membatalkan rencana itu.
Ada luka dihati Binar.
Binar terkejut saat tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah nomor yang tidak ia kenal muncul di layar ponselnya.
“Halo?” Jawab Binar.
“Halo, Mbak Binar ya?” Suara seorang wanita dari seberang.
“Iya, maaf, ini siapa?”
“Ehm, iya Mbak. Saya dari Berita Gosip, berniat mau mewawancarai Mbak Binar, apa Mbak Binar ada waktu sebentar?”
“Ehm, tentang apa ya Mbak?” Binar mencoba untuk mencari tau.
“Soal skandal Mbak sama Mas Pamungkas.”
“Saya gak ada hubungannya Mbak. Kan udah dijelaskan sama yang bersangkutan.”
“Tapi menurut kabar yang beredar, bantahan itu cuma rekayasa Mbak. Soalnya Mbak Reanty kayak rada-rada tertekan gimana gitu. Kayak dipaksa buat ngomo...”
“Ehm, maaf ya Mbak. Itu sama sekali gak ada hubungannya sama saya. Jadi tolong jangan hubungi saya lagi.”
Binar langsung menutup sambungan telefon dengan marah. Ia fikir masalah dengan Pamungkas sudah selesai. Tapi kenapa masih ada wartawan yang menghubunginya?
“Kenapa Bin?” Tanya Ubay.
“Wartawan, Mas.”
“Kenapa wartawan hubungin kamu?”
“Dia bilang kalau konferensi persnya rekayasa. Karan Reanty nampak tertekan. Mungkin dipaksa, gitu katanya.”
“Hah? Ada-ada aja deh.”
Ubay mengeluarkan ponselnya dan mencari berita terbaru tentang kasus perceraian Pamungkas dan Reanty.
Betapa terkejutnya Ubay saat membaca komentar para netizen yang semakin menjadi menyalahkan Binar. Dan dengan suka hati mereka menyebutkan Binar adalah seorang pelakor, yang telah merusak rumah tangga Pamungkas dan Reanty.
__ADS_1
Ubay tidak berani memberitahu Binar tentang apa yang ia temukan di internet. Ia merasa kasihan dengan Binar.
“Kok masalah gak kelar-kelar gini ya Mas. Udah dikasih klarifikasi, masih juga muncul masalah lain.”
“Nanti aku coba ngomong lagi sama Pam. Kenapa jadi gini sih?” Ubay geram sendiri
“Padahal aku kira udah gak ada masalah.”
“Biarin aja lah Bin mereka mau ngomong apa. Nanti lama-lama juga reda. Yang penting kamu gak merasa.”
Binar mengangguk menyetujui perkataan Ubay.
“Chan! Udah yuk. Kita makan dulu!” Panggil Binar.
Chan berlari mendekati ibunya. “Mama udah lapar?” Tanyanya polos.
“Laper banget. Chan masih mau keliling? Emangnya belum capek?”
“Kalau Mama udah capek, Chan pun capek. Kita udahan aja.” Jawaban polos Chan berhasil merekahkan senyuman Binar.
Menghapus rasa kesal karna berita buruk tentangnya yang tak kunjung mereda.
“Yaudah, kita mampir mall aja ya. Kita makan disana.” Usul Yuli.
Semua menyetujui usulan itu. Lagipula Chan masih bisa bermain di wahana khusus anak yang ada di mall.
“Sekalian cuci mata ya, Bin” seloroh Yuli kembali.
“Kalau mau cuci mata itu di kamar mandi, bukannya di mall.” Bantah Ubay.
“Mas Ubay gak tau ya? Di mall kan juga ada kamar mandinya.” Balas Yuli.
“Yaudah deh, nanti aku beliin pemutih, biar kinclong tu bola mata kamu.”
Chan tidak peduli dengan perdebatan itu. Ia meminta gendong kepada ibunya karna kakinya yang terasa lelah.
“Gendong Oom Bay, mau?” Tawar Ubay.
“Gak mau. Mau gendong Mama aja.” Jawab Chan dengan ketus.
Jadilah mereka bersepakat untuk menghabiskan sisa hari itu dengan pergi ke pusat perbelanjaan.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...