Pindah

Pindah
50


__ADS_3

Kedatangan Chan dan Pamungkas disambut dengan suka cita oleh Hendrana dan Haya. Mereka senang sekali.


Mereka telah menyiapkan berbagai macam mainan yang kemungkinan akan sangat disukai oleh Chan. Semua mainan itu diletakan didalam sebuah kamar yang disediakan untuk Chan bermain. Hendrana dan Haya sangat antusias.


“Assalamu’alaikum...”


Mendengar suara Pamungkas, Hendrana dan Haya langsung menghambur kepada Chan. Anak itu bahkan tidak sempat lagi untuk menyalami kakek dan neneknya.


“Chan. Kakek sama Nenek udah nyiapin banyak sekali mainan buat Chan.” Ujar Haya.


Chan yang berada digendongan Hendrana nampak tidak peduli. Ia meremas mainannya karna merasa tidak nyaman berada disana.


Sedangkan Pamungkas mengikuti kedua orang tuanya masuk kedalam rumah dengan menenteng tas kecil milik Chan yang berisi pakaiannya.


“Chan udah makan belum?” Tanya Hendrana. Ia memangku Chan dan duduk di sofa.


Chan diam saja. Ia hanya terus menunduk. Sesekali ia melirik Pamungkas yang duduk didepannya.


Sikap Chan kali ini sangat berbeda dengan semalam. Kalau semalam ia nampak akrab dengan kakek dan neneknya, tapi sekarang dia merasa tidak nyaman.


Anak itu terus diam saja. Dan hanya mengangguk jika ditanya.


Tapi semua itu berubah saat Hendrana dan Haya mengajaknya masuk kedalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh berbagai mainan. Bahkan ada semacam rel kereta api mini yang terpasang di tengah kamar itu.


“Gimana? Suka gak?” Tanya Haya.


Perlahan Chan mengangguk.


Kemudian Hendrana menurunkan Chan dan anak itu segera berlari menghampiri mainan-mainan itu.


Satu yang menarik perhatiannya adalah replika sebuah pesawat dan helikopter yang lumayan besar. Ia bahkan belum pernah melihat mainan sebesar itu sebelumnya.


Kehadiran Chan mengubah suasana rumah menjadi lebih ceria. Hendrana, Haya, dan Pamungkas menemani Chan bermain sampai malam.


Dan tibalah saatnya bagi Chan untuk tidur karna sudah jam 9 malam.


“Udah malam, Chan. Ayo tidur dikamar Papa.” Ajak Pamungkas lagi.


Hendrana dan Haya nampak kecewa. Karna mereka merasa belum puas melihat Chan bermain. Tapi mereka juga tidak mungkin membiarkan Chan terus bermain.


Pamungkas menidurkan Chan dengan menepuk-nepuk pelan punggung anak itu. Tidak jarang Chan meminta Pamungkas untuk menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal sampai ia terlelap.


Tapi tiba-tiba Chan terbangun lagi dan meminta digaruk lagi. Begitu terus sampai Pamungkas merasa lelah, tapi juga senang.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Tapi nampaknya Chan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Sungguh menyiksa Pamungkas. Anak itu berkali-kali terbangun dan terus meminta Pamungkas untuk menggaruk punggungnya.


Sampai tiba-tiba Pamungkas bisa mendengar suara isak tangis. Tubuh Chan bergoyang seirama dengan isaknya. Anak itu sedang menangis.


“Chan? Kenapa nangis?” Tanya Pamungkas kebingungan.


“Mamaaaaaaaa.......”


Pamungkas semakin kebingungan. “Mau telfon Mama?”

__ADS_1


“Mau pulang..... Huaaaaa... Huaaaaa...” Chan menangis semakin keras. Ia bahkan bangun terduduk.


Waduh!


Pamungkas hanya bisa menggaruk alisnya yang tidak gatal. Bingung bagaimana caranya untuk menenangkan Chan.


“Papa telfonkan mama, ya?”


“Pulaaaangggg.....” Tangis Chan semakin keras saja.


“Mau Papa gendong? Apa mau main lagi di bawah? Kita main lagi, yuk.” Ajak Pamungkas dengan Bingung. Berharap kalau Chan mau menghentikan tangisannya.


“Chan mau pulang. Anterin Chan pulang kerumah Mama... Huaaaa,,, hiks..”


“Chan, ini udah tengah malem. Mana mungkin Papa nganterin kamu pulang.” Rayu Pamungkas.


“Pokoknya Chan mau pulang!!” Hardik Chan. Tempat itu terasa berbeda kalau tidak ada Mamanya. Membuatnya tidak betah.


“Chan, kenapa?” Haya datang tergopoh-gopoh masuk kedalam kamar Pamungkas. Ia langsung menghampiri Chan yang sedang menangis dan hendak memeluknya untuk menenangkannya. Tapi anak itu langsung menolak dan memundurkan tubuhnya.


“Gimana ini, Ma?” Tanya Pamungkas.


“Chan sayang. Kenapa nangis?”


“Mau pulaaaaannngggg..... Mamaaaaa...... Hiks.” Jawab Chan ditengah isak tangisnya.


“Iya, Nenek panggilkan Mama. Sekarang Chan tidur dulu, ya. Nanti kalau Mama udah datang, nenek bangunin Chan. Nanti kalau Mama tau Chan nangis, Mama bisa sedih lo...” Rayu Haya.


“Gak mau!! Pokoknya mau pulang!” Bentak Chan.


“Coba kamu telfon Binar.”


Sementara Haya terus berusaha untuk menenangkan Chan, Pamungkas keluar dari kamar untuk menelfon Binar. Sungguh tidak enak rasanya menelfon tengah malam begini. Tapi mau bagaimana lagi, Chan tidak mau berhenti menangis.


“Halo?” Sapa suara Binar yang terdengar serak.


“Halo, Bin. Ini aku. Sorry ganggu, telfon malam-malam.”


“Iya, Mas. Gak apa-apa. Ada apa?”


“Chan nangis. Minta pulang. Dia nyariin kamu.” Jelas Pamungkas.


“Ya ampun. Apa kubilang. Yaudah, mana anaknya?”


Pamungkas kembali masuk kedalam kamar kemudian memberikan ponselnya kepada Chan. “Mama..” Ujar Pamungkas.


Chan langsung meraih ponsel itu dan meletakkannya ditelinganya. “Mama! Chan mau pulang. Gak bisa tidur.” Adu Chan.


“Chan. Kan tadi udah janji sama Mama, sama Kakung sama Uty juga. Kalau gak boleh ngerepotin Papa. Kok sekarang nangis minta pulang?”


“Disini gak enak. Gak ada Mama.” Sanggah Chan.


“Yaudah, sekarang Chan tidur dulu, besok pagi suruh Papa antar pulang, ya? Kan kasihan kalau Papa ngantar pulang jam segini.”

__ADS_1


“Mau pulang sekarang. Mama jemput Chan, ya.” Chan sudah mulai tenang. Ia sedang merayu kepada Binar untuk menjemputnya pulang disisa isaknya.


“Katanya- Chan anak baik, anak pinter. Sebentar lagi pagi kok. Kalau udah pagi, Chan boleh minta Papa suruh antarkan Chan pulang. Sekarang tidur dulu.”


“Tapi gak bisa tidur.”


“Baca shalawat, nanti juga ngantuknya dateng.” Rayu Binar memberi pengertian. “Kalau Chan nagis terus, Mama jadi sedih, nih.”


Mendengar kalimat itu, Chan terdiam. Ia menundukkan wajahnya dan berfikir. Ia tidak suka melihat ibunya bersedih.


“Ya udah...” Akhirnya Chan mengalah.


“Anak pinter. Selamat tidur sayang Mama. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam.” Jawab Chan kemudian memberikan ponselnya kepada Pamungkas.


Pamungkas kira Binar sudah mematikan telfonnya, ternyata belum. Jadi ia kembali meletakkan ponsel ditelinganya.


“Ya, Bin?”


“Maaf udah ngerepotin Mas. Kasih aja dia air putih hangat. Nanti juga tidur lagi.”


“Oke, oke.”


“Yaudah, aku tutup dulu telfonnya. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alikum salam.”


Setelah menutup telfon, Pamungkas turun kedapur untuk mengambilkan segelas air putih hangat. Kemudian ia memberikannya kepada Chan.


Dan benar saja. Tidak berapa lama kemudian, Chan mulai kembali tertidur. Kali ini lebih pulas dari sebelumnya.


Pamungkas dan Haya kini bisa bernafas lega. Dengan hati-hati Haya turun dari tempat tidur.


“Mama seneng deh sama Binar.” Ujar Haya tiba-tiba dengan suara lirih.


“Kenapa tiba-tiba ngomong begitu sih, Ma?” Tanya Pamungkas heran. Tidak mengerti kenapa ibunya tiba-tiba berbicara seperti itu.


“Ya,, seneng aja. Jadi pengen punya menantu kayak Binar.” Sindir Haya.


Secara tidak langsung, Haya berharap kalau Binar bisa menjadi menantunya. Lagipula peluang untuk jadi menantu ya sudah pasti menjadi istri Pamungkas.


Pamungkas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat ibunya yang berjalan keluar dari kamarnya sambil terkekeh.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2