
Binar dan Pamungkas terkekeh melihat reaksi teman-temannya. Mereka tidak sadar kalau mereka sedang diperhatikan oleh orang-orang yang ada didalam kantin itu.
“Mas, aku pulang duluan ya.” Pamit Binar.
“Lho? Gak nunggu pulang bareng?”
“Enggak lah. Aku capek banget. Entah kenapa kok rasanya lelah banget.”
“Ya udah. Tapi hati-hati di jalan ya. Pelan-pelan aja bawa motornya. Aku antar sampe ke depan.”
Pamungkas bangkit kemudian berjalan sejajar dengan Binar. Mereka keluar dari kantin bersama-sama.
Sesampainya di depan UGD, Binar berniat Pamit kepada teman-temannya. Baru saja ia hendak masuk ke sana, tapi tiga ambulance datang beriringan lewat persis disampingnya sampai menghentikan langkahnya. Ia hampir terjungkang karna terkejut. Untung saja Pamungkas sigap menangkap tubuh istrinya.
“Kamu gak apa-apa?”
“Gak apa-apa, Mas.”
“Hati-hati dong, untung aja gak jatuh.”
Binar hanya nyengir saja. Pandangan matanya teralihkan oleh tiga pasien yang baru saja dibawa turun dari ambulance.
Kenangan Binar langsung teringat masa-masa dulu. Dimana saat ada pasien datang seperti itu, maka ia akan langsung sigap menangani. Dalam hatinya ia masih merindukan saat-saat itu.
“Kok malah ngelamun? Gak jadi pulang? Bareng aja, ya?” Pamungkas masih menyelipkan rayuannya.
“Jadi dong, Mas.”
Binar berniat hendak melanjutkan langkah kakinya, saat tiba-tiba Via berlari dan langsung menghampirinya. Memegang lengannya untuk menghentikan Binar.
“Bin!” Ujar Via yang terengah-engah “Mas Ubay, Mas Ubay...” Via Masih terengah sambil menunjuk kedalam UGD. Antara capek dan panik.
“Mas Ubay kenapa?” Tanya Binar yang tidak jadi melanjutkan langkahnya.
“Mas Ubay kecelakaan, itu baru aja masuk.”
Binar ternganga. Begitu juga dengan Pamungkas. Mereka segera berlari masuk kedalam UGD.
Hati Binar dan Pamungkas terasa di iris melihat Ubay yang sedang merintih kesakitan. Ada darah di pelipis kanannya.
Sedangkan di ranjang disampingnya, seorang wanita muda nampak tidak sadarkan diri dengan bersimbah darah di bagian kaki dan wajahnya. Tulang kakinya hancur dan menyembul keluar. Dan seorang wanita paruh baya yang juga sedang tidak sadarkan diri sedang di tangani oleh dokter lain.
__ADS_1
Pamungkas menunggu Dokter selesai memberi tindakan. Sambil menunggu, dia mendekati seorang warga yang ikut mengantarkan pasien.
“Kenapa itu, Pak?” Tanya Pamungkas.
“Kecelakaan beruntun, Mas. Ada truk pasir yang remnya blong, langsung nabrak orang-orang sampe nyusruk ke warung. Banyak korbannya. Sebagian dibawa ke rumah sakit daerah. Sebagian dibawa kesini.” Jelas pria jakung itu.
Dokter yang menangani Ubay telah selesai. Luka Ubay tidak terlalu parah. Luka gores di pelipis, dan dislocation di bagian lehernya.
Ubay terus memejamkan matanya. Ia merasa sangat pusing.
“Mas Ubay?” Panggil Binar lirih.
Perlahan Ubay mencoba untuk membuka matanya. Samar ia bisa melihat Pamungkas dan Binar yang sedang berdiri disampingnya.
“Gak usah di paksa. Istirahat aja.” Ujar Pamungkas. Kemudian ia memerintahkan seorang perawat untuk memindahkan Ubay ke bangsal VIP.
“Tunggu, bentar.” Ujar Ubay dengan memaksa tubuhnya untuk bangun. “yeva sama Bik Las...” Lirihnya kemudian sambil menahan sakit.
Pamungkas menghela nafas dalam. Ia melirik ke arah ranjang Yeva yang sudah di bawa ke ruang operasi
“Yeva lagi di operasi. Dia bakal baik-baik aja.” Pamungkas mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Pamungkas dan Binar ikut mengantarkan Ubay ke ruang rawat VIP. Perasaan mereka masih kacau. Sedih sekali melihat Ubay yang seperti itu.
Pamungkas ragu untuk memberitahu bahwa nyawa Bik Las sudah tidak tertolong. Ia menatap Binar meminta petunjuk.
Binar tahu kalau Pamungkas tidak akan tega memberitahu Ubay. Binar sendiri baru tahu tadi saat Pamungkas membisikkan perihal Yeva dan ibunya. Binar juga mengenal mereka bedua, walaupun tidak terlalu akrab. Sebatas kenal saja.
“Mas, Bik Las udah gak ada.” Jelas Binar dengan sangat hati-hati.
Ubay yang sangat terkejut mendengar kabar itu tanpa sadar membaksa tubuhnya untuk bangun. Sampai ia berteriak karna merasakan sakit.
“Mas, jangan bangun dulu.” Ujar Binar. Sementara Pamungkas membantu Ubay untuk kembali berbaring.
Ubay memejamkan matanya dalam. Ia ingin menangis, tapi airmatanya tidak mau keluar. Hanya perasaan sedih dan kehilangan yang menumpuk di dadanya. Mendesak sebuah teriakan yang bahkan juga tak mampu ia lampiaskan.
“Sabar, Mas. Semoga almarhumah husnul khotimah. Biar kami yang membantu mengurus pemakamannya. Mas Ubay fokus aja biar cepet sembuh.” Hibur Binar. Saat ini hanya itu yang mampu dia lakukan. Dia sangat tahu sedekat apa Ubay dengan Bik Las. Ubay pasti merasa sangat terpukul dan kehilangan.
“Yeva...” Lirih Ubay. Nafasnya tersengal-sengal akibat rasa sedih yang begitu dalam.
“Dia masih di operasi. Kakinya lumayan parah. Semoga masih bisa diperbaiki.” Timpal Pamungkas. “Lo istirahat aja. Biar gue sama Binar yang urus sisanya.” Imbuhnya. Hatinya juga tidak tega saat melihat kaki Yeva yang nampaknya sudah tidak bisa di selamatkan karna sudah hancur.
__ADS_1
Jika harus di amputasi, kehidupan gadis yang periang itu akan jauh lebih sulit nantinya. Perasaannya akan lebih sakit daripada luka yang dia derita. Ditambah dengan kehilangan ibunya, satu-satunya keluarganya.
“Gue minta tolong sama kalian berdua. Kalau nanti Yeva udah selesai operasi, tolong bawa dia satu ruangan disini.” Pinta Ubay.
Pamungkas mengangguk menyetujui. “Iya, lo tenang aja. Sekarang istirahat aja.”
Ubay berusaha untuk terpejam. Karna kepalanya terasa sangat pusing.
“Mas, aku keluar sebentar, ya?” Pinta Binar kepada suaminya dengan setengah berbisik. Pamungkas hanya mengangguk saja. Kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
Binar berjalan kembali ke UGD untuk mengurus jenazah bik Las. Dia menelfon kedua orang tuanya untuk meminta tolong. Rukayah yang memang mengenal baik almarhumah terdengar sangat terkejut.
Setelah selesai mengurusi pemulangan jenazah Bik Las, dengan dibantu oleh Yuli, Binar pergi untuk menunggui Yeva yang sedang dioperasi. Operasinya memakan waktu yang cukup lama.
Sedangkan Yuli ikut mengantarkan jenazah Bik Las pulang. Kebetulan mereka tinggal di komplek perumahan yang sama.
Sudah lebih dari dua jam Binar menunggui di depan ruang operasi. Dan ia segera berdiri dan menghampiri Dokter Kuncoro saat Dokter paruh baya itu keluar dari ruangan itu.
“Gimana, Dok?” Tanya Binar langsung.
“Lho, Bin?” Dokter Kuncoro malah terkejut dengan kehadiran Binar. “Kedua kakinya terpaksa di amputasi, udah hancur dan gak bisa lagi di sambung. Tulang pipinya juga hancur, tapi syukurnya masih bisa diperbaiki.”
Jantung Binar serasa sedang dipacu. Sudah terbayang bagaimana nasib gadis itu kedepannya.
“Ubay gimana?”
“Dokter Ubay udah dipindahkan ke bangsal VIP, Dok. Lagi istirahat.”
“Ya udah, nanti aku mampir kesana.”
“Oh iya, Dok. Minta tolong nanti pasien itu tolong di pindahkan satu kamar sama Dokter Ubay ya, Dok. Dokter Ubay yang minta. Biar sekalian juga ngerawatnya.”
Dokter Kuncoro mengangguk. “Oke.” Kemudian ia kembali masuk kedalam ruang operasi.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...