Pindah

Pindah
73


__ADS_3

Ubay berjalan mengendap-endap saat memasuki ruangan


Pamungkas. Pria itu sedang serius menatap berkas-berkas di tangannya.


“Nyesel gue ngerelain Binar ke lo. Bini lagi sakit malah di


tinggal kerja.” Seloroh Ubay tiba-tiba.


Pamungkas yang sedang serius langsung menatap kepada Ubay.


Ia terkejut karna tidak tau kapan sahabatnya itu masuk.


“Kapan lo masuk?”


“Makanya jangan serius amat.” Jawab Ubay yang mengambil


duduk di sofa.


“Ya abisnya banyak kerjaan, gimana dong. Ini juga tanggung


jawab.” Bela Pamungkas. “Nah lo ngapain ke sini?”


“Reanty dateng. Gue rada gimana gitu lihat mantan sama istri


lo. Deg-deg serrr cui.”


“Gak usah takut. Hubungan mereka gak se mengerikan yang lo


kira.”


Ubay mengangguk angguk saja. Padahal ia nampak tidak yakin.


“Binar sakit apa? Mukanya tirus gitu?” Selidik Ubay.


Ia memang sengaja menemui Pamungkas untuk bertanya perihal


Binar. Karna kalau dia bertanya kepada Binar, Binar tidak akan menjawabnya.


Pamungkas menghela nafas mendengar pertanyaan Ubay. Ia


meletakkan berkas dari tangannya ke atas meja. Kemudian berjalan ke sofa dan


duduk di depan Ubay.


“Kanker ovarium 3c.”


Penjelasan singkat dari Pamungkas itu membuat Ubay terkejut


bukan main. Ia ternganga saking terkejutnya.


“Seriusan lo Pam?” Ubay hampir tidak mempercayainya.


Pamungkas mengangguk.


“Ya Allah. Ada-ada aja lah cobaan Binar.”


“Dia gak suka lihat kita sedih. Jadi jangan tunjukin


kesedihan lo didepan dia. Pura-pura aja gak tau kalau dia gak


nyinggung-nyinggung sendiri.”


Ubay hanya menatap trenyuh kepada Pamungkas. Ucapan


Pamungkas sangat berbeda dengan ekspresi wajahnya yang nampak sangat sedih.


“Gue harus gimana, Bay? Gue Bingung. Jujur gue sedih dan


takut kehilangan dia. Gue gak sanggup lihat dia menderita kayak gini. Walaupun


dia  berusaha kuat di depan gue. Tapi gue


yakin kalau dia pasti ngerasa hancur banget.”


“Itulah Binar. Dia memang begitu. Dia gak suka membagi


kesedihannya sama orang lain. Tapi gue mohon sama lo, tolong jangan pernah


tinggalin dia. Temenin dia berjuang buat sembuh. Gue yakin ada jalannya.”


“Ya gak mungkin lah gue ninggalin istri gue. Gila apa.”


“Udah kasih tau Ayah sama Ibuk?”


Pamungkas mengangguk. “Tadi udah gue kasih tau. Nanti mereka


kesini. Binar sekarang dimana?”


“Masih ngobrol sama Yeva, sama Reanty juga. Ya udah kalo lo

__ADS_1


sibuk. Gue balik dulu ke kamar.” Pamit Ubay kemudian. Ia sangat memahami


pekerjaan Pamungkas yang menumpuk.


“Tunggu! Gue ikut.”


“Lah, katanya banyak kerjaan.”


“Pusing gue. Gak fokus.”


Akhirnya mereka berdua pergi ke bangkas VIP bersama.


Sesampainya di kamar Ubay, disana hanya ada Yeva saja yang


sedang senang mendapatkan hadiah dari Reanty. Tidak nampak Binar maupun Reanty.


“Binar mana?” Tanya Pamungkas kepada Yeva.


“Tadi keluar. Katanya mau ngobrol sama teh Reanty.” Jelas


Yeva.


“Kemana?”


“Gak tau, Mas.”


“Coba lo lihat di kamarnya. Barang kali mereka ada disana.”


Usul Ubay.


Pamungkas langsung keluar dari ruangan itu dan menuju ke


kamar istrinya.


Dari jendela kaca kecil yang ada di pintu, Pamungkas bisa


mengintip kalau memang istrinya ada didalam bersama dengan Reanty.


Baru saja ia setengah masuk, sebuah suara tamparan keras


mengejutkannya.


Plakkk!!!!!


“Ya Allah! Bin!” Pekik Pamungkas yang langsung berlari


menghampiri istrinya. Ia merengkuh tubuh istrinya yang sedang di kuasai emosi


“Kamu ngapain? Istighfar.” Tanyanya kemudian. Ia menatap


heran kepada Binar.


Sedangkan dihadapannya, Reanty nampak sangat syok saat


mendapat sebuah tamparan di pipinya. Padahal ia tadi yang ingin menampar Binar.


Tapi malah ia duluan yang kena tampar. Ia memegangi pipinya sambil menatap


melotot kepada Binar.


“Kalian ini ngapain, sih?!”


“Dia yang mulai, Mas. Aku udah berusaha buat nahan emosiku,


tapi dia terus mancing-mancing. Ngatain yang enggak-enggak. Sakit hatiku. Dia mau


ngerebut Chan dari aku.”


“Emang dari awal Chan itu anak aku! Aku yang ngelahirin


dia!” Teriak Reanty penuh emosi.


“Rea?!” Pamungkas yang tidak menyangka kalau Reanty bisa


berteriak seperti itu kepada istrinya, ikut terpancing juga. Ia menatap marah kepada


mantan istrinya itu.


“Tolong serahin Chan sama aku, Mas. Aku mohon. Kalian bisa


punya anak lagi berapapun kalian mau.”


Ucapan Reanty itu sungguh sangat menyakiti perasaan Binar.


Ia meronta ingin melepaskan diri dari cengkeraman suaminya dan hampir


melayangkan sebuah tamparan lagi kepada Reanty. Untung saja Pamungkas sigap


menahannya.

__ADS_1


Bukan apa, perasaan Binar saat ini sedang tidak stabil karna


masalah dengan penyakitnya. Ditambah Reanty terus mengungkit dan menyuruhnya untuk


memiliki anak dengan Pamungkas. Sementara kemungkinan untuk dia kehilangan


rahimnya sangatlah tinggi.


“Kamu  bisa diem gak Rea?!”


Bentak Pamungkas sambil terus menahan tubuh Binar yang sudah diluar kendali.


“Aku butuh Chan, Mas. Aku mohon.” Pinta Reanty lagi. Ia


terus memelas meminta agar Binar dan Pamungkas mau menyerahkan Chan kepadanya.


“Kamu mau pergi sekarang, atau aku panggil security buat


nyeret kamu keluar?” Tegas Pamungkas.


“Enggak! Aku gak akan keluar sebelum kalian nyerahin Chan ke


aku.” Reanty tetap bersikukuh.


“Kamu bisa ngajuin hak mu ke pengadilan kalau kamu mau. Tapi


kamu pasti udah tau kalau kamu gak akan pernah menang melawanku. Kalau kamu


masih tetep mau memperpanjang masalah ini, silahkan. Aku bisa kasih kamu bonus


kehancuran karir yang sangat kamu banggakan itu.” Nada Pamungkas penuh dengan


penekanan. Ia sengaja melakukan itu untuk mengancam Reanty agar menyudahi


aksinya.


Pamungkas tidak bisa melihat istri yang sangat di cintainya


itu disakiti oleh Reanty. Apalagi keadaan Binar saat ini sedang sakit dan butuh


dukungan. Bukan malah menambah beban fikiran.


“Pergi gak!!!” Teriak Pamungkas lagi. Membuat nyali Reanty


menciut. Sakit hatinya melihat Pamungkas mati-matian membela Binar. Sedangkan


dia dulu tidak pernah diperlakukan seperti itu.


“Kamu teriak sama aku, Mas? Sekarang kamu udah bisa teriak


sama aku?” Reanty yang masih heran karna sikap Pamungkas berubah kasar padanya.


Ia semakin membenci Binar untuk alasan tertentu.


“Kamu cepat pergi sekarang! Rea!!” Pamungkas mengulangi


kalimatnya untuk mengusir Reanty. Ia sudah kepalang marah. Ia bahkan


menunjukkannya dengan tegas lewat matanya.


Keberanian Reanty muncul saat ia mengetahui kalau Pamungkas


telah menikahi Binar. Jadi egonya mulai tumbuh tak terkendali. Ia jadi tidak


menyukai Binar. Jadi ia berniat untuk merebut Chan dari wanita itu. Lagipula


Binar sudah punya Pamungkas. Jadi setidaknya ia harus memiliki Chan di sisinya.


Ia juga butuh kekuatan.


Reanty tak punya pilihan lain. Jujur ia sangat takut jika


harus kehilangan karirnya sebagai seorang aktris. Dan dia sangat tahu kalau


Pamungkas mampu melakukannya jika pria itu mau.


Dengan perasaan marah Reanty terpaksa keluar dan


meninggalkan ruangan itu. Membawa semua rasa kesalnya bersamanya.






*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2