Pindah

Pindah
66


__ADS_3

Setelah tiga puluh menit yang panas, Binar masuk kedalam kamar mandi untuk merapikan pakaiannya kembali. Setelah keluar, ia mengeluarkan bekal dari bungkusnya kemudian mempersilahkan suaminya untuk makan.


“Pas banget aku belum makan. Bentar ya aku ke kamar mandi dulu.” Seloroh Pamungkas yang sedang mengancingkan kemejanya. Kemudiaan masuk kedalam kamar mandi.


Mereka berdua menyantap bekal itu bersama. Dengan diselingi beberapa godaan dari Pamungkas. Sampai membuat Binar tersipu malu. Bahkan sampai tersedak. Dan Pamungkas tertawa puas melihat wajah istrinya yang merona.


“Jadi malam ini Chan nginep dirumah Ayah?” Tanya Pamungkas.


Binar mengangguk. “Katanya udah kangen sama Kakungnya.”


“Aasiikkk,,, jadi malam ini gak perlu takut kedengeran sama Chan lagi, ya.” Godaan Pamungkas masih berlanjut.


“Apaan sih, Mas. Itu terus yang dibahas.” Dengus Binar.


“Hahahahahahaahhaaha.” Puas sekali Pamungkas tertawa.


“Abis ini aku mau ke kantin ya, Mas. Mau ketemu sama anak-anak.”


“Iya, sayang. Eh tapi mereka belum tau ya kalau kita udah nikah?”


“Iya. Makanya aku mau ngasih tau mereka. Mereka pasti kaget banget nanti. Yang tau cuma mas Ubay. Dikasih tau sama Ibuk.”


“Iya, udah lama juga aku gak ketemu sama tuh orang. Sibuk banget dia di klinik. Nanti kapan-kapan kita main kesana, ya.”


“Boleh...”


“Dari dulu aku penasarannn banget lo Bin.”


“Penasaran apa, Mas?”


“Kamu beneran gak tau kalau Ubay itu naksir berat sama kamu dari jaman kuliah dulu?”


“Ya tau lah, Mas. Mana mungkin aku gak tau. Kamu yang diem-diem naksir aku aja, aku tau kok.” Seloroh Binar.


“Aku juga tau kok kalau kamu tau. Dan aku juga tau kalau kamu balik naksir sama aku.” Pamungkas berkata sambil memainkan kedua alisnya.


Tidak bisa dibiarkan. Kalau permbicaraan ringan ini berlanjut, sudah bisa dipastikan kalau Binar yang akan kalah.


“Mas, aku kebawah dulu ya. Anak-anak udah nungguin.” Alasan Binar pada akhirnya. Ia langsung bangun dan keluar dari ruangan Pamungkas. Menyisakan Pamungkas yang hanya ternganga sambil menahan senyum.


Saat sudah berada diluar ruangan Pamungkas, Binar memegang kedua pipinya yang terasa panas. Tidak peduli dengan Fauzan yang mengangguk sopan dan menatapnya.


Tidak mau bertambah malu, Binar segera melarikan diri dari sana. Ia memilih berjalan menuruni tangga daripada naik lift yang pastinya akan bertemu banyak orang disana. Karna ia belum sepenuhnya bisa mengendalikan rona wajahnya.


Binar terus berjalan menyusuri koridor menuju kantin rumah sakit. Berusaha tidak mempedulikan tatapan tajam orang-orang yang mengenalnya.

__ADS_1


Saat sudah sampai di kantin, ia mengedarkan pandangannya untuk mencari teman-temannya. Dan ia sedikit tersenyum saat melihat mereka berkumpul mengitari meja yang ada di dekat jendela. Lantas Binarpun melangkahkan kakinya kesana.


“Bin!!” Teriak Via saat melihat kedatangan Binar.


Sementara Yuli dan Sonya ikut menoleh. Mereka semua nampak sumringah dengan kedatangan Binar.


Dengan senyum yang lebar, Binar segera mengambil tempat duduk di sebelah Via.


“Ya ampun! Kamu beneran kesini? Aku fikir kamu bercanda!” Pekik Sonya.


“Tumben banget kalian masuk samaan.” Ujar Binar kemudian.


“Sengaja, aku tukeran shif. Biar bisa masuk hari ini. Rencananya kami mau mampir ke rumahmu nanti.” Ujar Yuli kemudian.


“Tapinya kamu malah beneran muncul disini.” Sambung Via.


“Berarti kita sehati. Untung aja kalian gak kesana. Kalau kesana juga aku gak bakalan ada dirumah.”


“Kok gitu? Emangnya kamu dimana? Sibuk banget ya ngojek sampai gak punya waktu ketemu sama kita-kita?” Tanya Sonya lagi.


Binar hanya tersenyum saja penuh arti.


“Boleh gabung?” Suara Pamungkas yang telah berdiri di belakang Binar mengejutkan mereka semua.


“Dokter pam? Boleh, boleh, silahkan.” Ujar Via mempersilahkan Pamungkas untuk duduk.


Binar mengerutkan alisnya memberikan kode kepada Pamungkas lewat tatapan tajamnya lengkap dengan alis yang berkerut.


Tapi namanya Pamungkas. Ia hanya tersenyum saja mendapatkan tatapan itu. Yang lebih mengejutkanny adalah, ia malah bermain mata kepada Binar. Membuat semua teman-teman Binar ternganga.


“Apa ini? Atmosfer intim apa ini? Kok suasananya jadi uwu begini?” Seloroh Yuli menatap tajam kepada Binar.


Binar tidak bisa menjawabnya. Ia sedang mencari kata-kata yang pas untuk menjelaskan kepada teman-temannya tentang pernikahannya.


Tapi tiba-tiba tangan Pamungkas malah menggenggam tangan Binar dan mengangkatnya ke atas meja. Menunjukkan kepada semua orang kalau mereka sudah sah secara agama dan hukum.


“Binar!!!!!!!” Pekik Yuli, Via, dan Sonya bersamaan. Sampai membuat semua orang yang ada dikantin menatap penasaran kepada mereka.


“Kalian nikah?” Tanya Sonya tidak percaya.


“Cepet jelasin.” Ujar Via dengan mengacungkan sendok kepada Binar. Seolah mengancamnya.


“Hehehe,, maaf. Gak ngasih tau kalian dulu.”


“Astaga. Gila kamu ya Bin! Bisa-bisanya gak ngasih tau kita?!” Dengus Yuli.

__ADS_1


“Kalian sih, terlau sibuk. Kalau diajak ngumpul gak pernah ada waktu yang pas. Padahal kan aku rencana mau ngasih tau kalian.” Binar membela diri.


“Itu bukan alasan Bin! Kita itu temen kamu, lho! Tega banget gak ngasih tau.” Ujar Via.


“Bisa-bisanya kalian marahin istriku di depan suaminya?” Ujar Pamungkas dengan polosnya. Ia mengusap-usap punggung tangan istrinya dengan lembut. “Yang sabar ya, sayang.” Imbuhnya lagi sambil membenahi hijab Binar walaupun hijab itu baik-baik saja.


Kalimat dan aksi itu berhasil membungkam teman-teman Binar. Mereka semakin ternganga dengan sikap Pamungkas yang seperti remaja yang sedang dimabuk cinta. Terang-terangan menunjukkan kemesraan dihadapan mereka.


“Nyak, penerbangan ke Mars jam berapa? Pesenin aku tiket.” Seloroh Yuli dengan tidak memalingkan tatapannya dari Binar dan Pamungkas.


“Aku juga pesenin tiketnya.” Timpal Via juga.


“Bentar lagi aku pesenin. Kita berangkat bareng-bareng.” Jawab Sonya dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka semua menatap Binar dan Pamungkas bergantian.


“Kalian mau kabur? Kenapa? Gak tahan lihat ke uwuan ini?” Seloroh Pamungkas lagi.


“Pasangan ini bener-bener ya. Sama sekali gak merasa bersalah.” Dengus Via.


“Jadi biar kalian gak ngambek lagi sama istriku. Nanti aku kasih vocher belanja di mall GM. Gimana?”


“Itu sogokan bukan, Dok?” Tanya Sonya dengan polosnya.


“Bukan dong, tapi hadiah dari kami. Sebagai permintaan maaf karna kami gak ngasih tau kalian kalau kami udah nikah.” Ujar Pamungkas. Kali ini ia terdengar tulus.


“Memangnya kapan kalian nikahnya?” Tanya Yuli.


“Udah lebih dari sebulan sih.” Jawab Binar santai.


“Ha??!!!!!!!!”


Dan mereka kembali ternganga tidak percaya. Ternyata Binar dan Pamungkas sudah menikah selama itu. Mereka fikir baru beberapa hari yang lalu.


Melihat reaksi teman-teman Binar, Pamungkas sontak bersikap seolah ingin melindungi istrinya. Ia memasang badan di hadapan istrinya.


“Udahlah! Kita berangkat ke Mars sekarang aja!” Sonya mendengus kesal sambil berdiri dengan di ikuti oleh Via dan Yuli.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2