
Pamungkas melajukan mobilnya menuju ke kantor utama. Ia sudah menebalkan telinganya kalau nanti ayahnya akan memarahinya.
“Papa harap, kamu bisa menyelesaikan ini tanpa menyakiti salah satu pihak manapun. Kasihan anak orang jadi tumbal perceraianmu.”
yang jelas, mereka bahkan sudah menyelidiki siapa Binar.
kenapa mereka bisa bawa-bawa Binar dalam masalah ini.”
“Oke. Gue tunggu kabar dari lo ya.”
Pamungkas segera masuk. Wajah seriusnya berhasil membuat Lutfi merinding.
“Mbak, aku keluar sebentar, ya.” Pamit Lutfi yang merasa kalau keberadaannya akan mengganggu obrolan Reanty dan Pamungkas.
Reanty yang sedang duduk di sofa ruang tamu pun hanya mengangguk saja mempersilahkan Lutfi untuk pergi.
Setelah kepergian Lutfi, Pamungkas berjalan menghampiri Reanty.
“Duduk, Mas.” Reanty mempersiahkan.
Pamungkas duduk di sofa tepat didepan Reanty.
“Kenapa bisa gini?” Tanya Pamungkas langsung.
“Aku buatain minum dulu, ya. Abis itu baru kita ngobrol.”
__ADS_1
Tanpa persetujuan dari Pamungkas, Reanty langsung bangun dan pergi ke dapur.
Sesaat kemudian ia telah kembali dari dapur dengan membawa nampan berisi segelas kopi untuk Pamungkas.
Ia meletakkan gelas itu di meja tepat didepan Pamungkas.
“Minum dulu, Mas.”
“Makasih...” Ucap Pamungkas. Tapi ia masih nampak enggan untuk menyeruput kopi itu.
Reanty kembali duduk ditempatnya semula. Ia memandang lurus kearah Pamungkas yang juga sedang melihatnya.
“Maafin aku, Mas. Aku gak tau kalau bakalan jadi ayak gini.” Reanty memulai percakapan mereka.
“Yang aku heran, kenapa mereka bisa bawa-bawa Binar dalam hal ini. Dan kamu pasti udah tau kan? Kenapa kamu gak ngasih tau aku lebih dulu.”
“Ya tapi kan kamu bisa kasih tau aku tadi pagi, Rea.” Pamungkas masih terus mengorek kebenaran. Karna ia merasa ada yang janggal disini.
“Aku kelupaan. Karna tadi pagi aku langsng syuting jad aku lupa buat ngasih tau ke kamu.” Reanty terus saja beralasan. Tapi sekarang dia tidak berani menatap kepada Pamungkas lagi.
Bukan, bukan karna Reanty lupa. Tapi ia lebih memilih egonya kali ini. Walaupun bukan dia yang menyebabkan rumor tentang Binar, tapi ia sengaja tidak memberitahu kepada Pamungkas sejak pagi. Seolah ia ingin kabar itu tersebar.
“Nanti kamu harus jelasin ke media ya , Rea. Jangan samapi gadis yang gak ada hubungannya sama kita itu jadi korban kebencian netizen.” Perintah Pamungkas.
Reanty terdiam. Ia menatap gelas kopi yag masih belum disentuh Pamungkas itu.
__ADS_1
Kemudian ia mengangguk perlahan. “Ya, mas. Aku juga tau.”
“Yaudah, kalau gitu aku Pamit dulu.”
Pamungkas langsung beranjak tanpa persetujuan dari Reanty. Ia bahkan tidak meminum kopi yang sudah dibuatkan oleh Reanty.
Entah kenapa Reanty kok jadi merasa kesal melihat sikap Pamungkas itu. Seolah Pamungkas benar-benar mempunyai hubungan dengan Binar atau semacamnya. Sehingga nampak seolah pria itu ingin melindungi gadis berama Binar itu.
Begitulah cara Reanty melihatnya. Ia jadi semakin kesal saja. Walau seharusnya ia tidak berhak merasa begitu. Karna ia sudah menjadi mantan istri dari Pamungkas. Tidak ada lagi haknya mencmpuri urusan pribadi Pamungkas.
Entah mau bertemu siapa, entah mengantarkan pulang gadis manapun, seharusnya ia tidak perlu merasa kesal kan? Karna Pamungkas sudah bukan haknya lagi.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...