
Malam itu juga, Ubay mengucapkan ijab kabul dengan Ustadz Syuhada
yang menjadi wali hakim dari Yeva. Sedangkan Hendrana dan Dokter Kuncoro yang
menjadi saksinya. Semuanya larut dalam suasana haru dan bahagia.
Menikah di rumah sakit, bukanlah impian gadis seperti Yeva. Sebelumnya
ia sudah punya rencana sendiri tentang bagaimana dia akan menikah. Tapi semua
rencananya itu kini sudah menguap seiring dengan kesedihannya.
Yeva terus meneteskan air matanya. Bahkan saat Binar
memeluknya dengan penuh kehangatan. Gadis itu sedang membayangkan jika ibunya
ada disana menyaksikan pria yang kini punya hak atas seluruh dirinya.
“Selamat ya, Va. Kamu juga tau kan kalau Mas Ubay itu orang
baik? Aku yakin dia bakalan buat kamu bahagia.” Lirih Binar kepada Yeva.
Gadis itu mengangguk dan mengangkat kepalanya untuk menatap Binar.
Ia menyeka air matanya kemudian mengangguk dengan memaksakan sebuah senyuman
untuk timbul di kedua sudut bibirnya.
Raut wajah kebahagiaan juga nampak dari Pamungkas. Pria itu
senang bisa menyaksikan sahabatnya itu pada akhirnya mengucapkan ijab kabul
untuk menghalalkan seorang gadis. Berkali-kali ia menepuk pundak Ubay dengan
bangga.
“Perlu gue beliin obat kuat gak? Soalnya kan lo udah kayak
om-om.” Bisik Pamungkas kepada ubay.
“Lo fikir gue selemah itu apa? Walupun di luar gue udah
kepala tiga, tapi di dalam masih kepala dua. Gue masih kuat Pam.”
Dan pada akhirnya kedua pria itu cekikikan sendiri. Memantik
semua orang untuk melihat kearah mereka.
Ubay menyenggol lengan Pamungkas dengan kuat untuk menghentikannya
tertawa. Sedangkan Binar memandangi suaminya dengan alis yang berkerut.
Dua pria yang sudah menginjak umur pertengahan tiga puluhan
itu ternyata masih menyimpan sisi kekanak-kanakkan.
Saat hampir tengah malam, mereka semua pamit untuk pulang.
Meninggalkan Ubay dengan Yeva yang baru saja sah menjadi suami istri.
“Titip chan dulu ya, Buk. Maaf udah ngerepotin Ibuk.” Ujar Pamungkas
kepada Rukayah.
“Iya, gak-apa-apa. Kalian fokus aja sama pengobatan Binar
ya, Chan biar Ibuk sama Ayah yang urus. Kalian gak usah khawatir.”
Sebenarnya Haya dan Hendrana juga sudah menawari Chan untuk
tinggal bersama mereka sementara waktu. Tapi anak itu tidak mau dan memilih
untuk ikut Kakung dan Utynya.
Chan ingin tinggal di rumah sakit bersama dengan ibunya,
tapi tidak ada yang menyetujui keinginannya itu lantaran dia harus sekolah.
Jadilah ia ngambek dan memilih untuk tidur saja. Dia bahkan melewatkan momen pernikahan
ubay.
“Ibuk gak usah
__ADS_1
sering-sering kesini, jauh, kasihan kalau harus bolak-balik kesini. Aku udah
ada yang jagain.” Ujar Binar sambil melirik kepada Pamungkas.
“Iya, Buk. Aku yang bakalan jagain Binar. Ibuk sama Ayah gak
usah khawatir.” Timpal Pamungkas.
“Ya udah, Ayah sama Ibuk Pamit dulu ya.” Pamit Ustadz Syuhada
Binar dan Pamungkas hanya bisa mnegantarkan Rukayah dan
suaminya sampai di depan kamarnya saja. Sementara Hendrana dan Haya sudah
pulang lebih dulu.
Pamungkas mengajak istrinya untuk masuk kedalam. Ia membantu
Binar untuk berbaring di ranjangnya. Tapi bukannya pergi, Pamungkas justru ikut
berbaring dan memeluk istrinya itu dari belakang. Sangat erat. Ia
menenggelamkan wajahnya di punggung istrinya.
“Kenapa, Mas?” Tanya Binar.
“Capek banget hari ini.”
“Ya udah, istirahat aja.”
Pamungkas semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di
perut istrinya. Ia menghela anfas dalam-dalam.
“Kamu gak usah khawatir ya sayang. Aku akan lakukan apapun
buat kesembuhanmu. Aku akan tetap ada disampingmu, ngasih kamu kekuatan.” Lirih
Pamungkas.
Diam-diam air mata Binar sudah meleleh.
“Iya, Mas. Aku tau itu. Makasih banyak ya udah mau nemenin aku
“Kamu harus kuat dong. Porsi cobaan setiap orang beda-beda.
Tapi aku yakin kamu bakalan kuat ngadepinnya. Semangat sembuh ya sayang.”
“Makasih, Mas.”
“Kita operasi ya, Bin.” Pamungkas masih mencoba untuk
membujuk Binar.
Binar hanya diam saja tidak menjawab.
“Aku beneran gak apa-apa kalaupun gak bisa punya anak sama
kamu. Kita udah punya Chan, dan itu udah lebih dari cukup.”
Ucapan Pamungkas membuatnya teringat dengan Reanty. “Tapi kan
Chan mau di ambil sama Mbak Reanty, Mas.”
“Gak. Hal itu gak akan pernah terjadi. Chan hanya akan jadi
anak kamu, anak kita. Gak akan ada orang lain yang boleh ngambil Chan dari
kamu. Termasuk Reanty. Jadi kamu gak usah khawatir ya?”
Binar mengeratkan genggaman tangannya di tangan suaminya.
Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Memikirkan cobaan-cobaan yang tiada henti
menghampirinya.
“Kapan operasiku di jadwalkan, Mas?” Tanya Binar pada
akhirnya.
Pamungkas melepaskan wajahnya dari punggung istrinya. Ia
menaikkan kepalanya untuk bisa menatap Binar. “Jadi kamu mau?” Tanya Pamungkas.
__ADS_1
“Iya, Mas. Kalau itu adalah jalan ikhtiarku buat sembuh, aku
gak apa-apa. Aku ikhlas.”
“Alhamdulillah. Besok kita kasih tau Dokter Sita, ya. Biar
operasimu cepet di jadwalkan.”
Binar mengangguk. Sementara Pamungkas mendaratkan kecupannya
di kepala istrinya lama sekali.
“Binar Sabitah, aku sayang banget sama kamu.” Lirih
Pamungkas lagi.
Malam itu, Pamungkas terlelap dengan terus memeluk istrinya.
Ia nampak sangat lelah dengan banyaknya aktifitas hari ini.
Ia bahkan tidak tau jika Binar terus merintih tanpa suara menahan sakit. Pandangannya bahkan
sampai berkunang-kunang. Tapi ia merasa tidak tega jika harus membangunkan
suaminya. Padahal ia tadi sempat tertidur sebentar.
Perlahan Binar melepaskan pelukan Pamungkas dengan sangat
hati-hati. Ia berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Dengan kondisi perut
yang sakit luar biasa.
Dengan perjuangan akhirnya Binar sampai di dalam kamar
mandi, ia segera mengambil air wudhu kemudian kembali berjalan menuju ke sofa.
Ia duduk di sofa kemudian meraih mukena yang tersampir di
sandaran sofa itu. Mengenakannya kemudian segera melaksanakan sholat tahajjud.
Binar menumpahkan segala kesedihannya kepada Penciptanya. Ia
memohon agar dia selalau diberikan kekuatan. Ia mengadu, bahwa sebenarnya ia
masih tidak rela jika ia harus kehilangan rahimnya. Ia meminta petunjuk untuk
diberikan jalan lain tanpa harus kehilangan hal berharga itu.
Tersedu dalam diam, air mata Binar deras mengalir membasahi
mukenah yang ia pakai. Seberapapun ia berusaha untuk kuat, tapi ternyata hal
itu sangatlah sulit untuk dilakukan. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di
wajahnya. Berusaha meredam suara isak tangisnya yang semakin menjadi.
Perlahan, Binar seperti bisa merasakan sebuah pelukan hangat
yang perlahan mendekap tubuhnya dari samping. Ia membuka telapak tangannya dan mendapati
Pamungkas yang sedang menatapnya pias. Ada airmata yang mengalir dari kedua
netra pria itu.
Di sisa sepertiga malam itu, kedua pasangan itu larut dalam kesedihan
yang dalam. Mereka ingin menghabiskan seluruh kesedihan yang ada. Hingga hanya
tinggal harapan baik saja yang tersisa. Permohonan demi permohonan terus mereka
panjatkan didalam hati kecil mereka masing-masing. Berharap jika Allah masih
bersedia mengijabah semua harapan keduanya.
*
__ADS_1
Bersambung...