Pindah

Pindah
76


__ADS_3

Malam itu juga, Ubay mengucapkan ijab kabul dengan Ustadz Syuhada


yang menjadi wali hakim dari Yeva. Sedangkan Hendrana dan Dokter Kuncoro yang


menjadi saksinya. Semuanya larut dalam suasana haru dan bahagia.


Menikah di rumah sakit, bukanlah impian gadis seperti Yeva. Sebelumnya


ia sudah punya rencana sendiri tentang bagaimana dia akan menikah. Tapi semua


rencananya itu kini sudah menguap seiring dengan kesedihannya.


Yeva terus meneteskan air matanya. Bahkan saat Binar


memeluknya dengan penuh kehangatan. Gadis itu sedang membayangkan jika ibunya


ada disana menyaksikan pria yang kini punya hak atas seluruh dirinya.


“Selamat ya, Va. Kamu juga tau kan kalau Mas Ubay itu orang


baik? Aku yakin dia bakalan buat kamu bahagia.” Lirih Binar kepada Yeva.


Gadis itu mengangguk dan mengangkat kepalanya untuk menatap Binar.


Ia menyeka air matanya kemudian mengangguk dengan memaksakan sebuah senyuman


untuk timbul di kedua sudut bibirnya.


Raut wajah kebahagiaan juga nampak dari Pamungkas. Pria itu


senang bisa menyaksikan sahabatnya itu pada akhirnya mengucapkan ijab kabul


untuk menghalalkan seorang gadis. Berkali-kali ia menepuk pundak Ubay dengan


bangga.


“Perlu gue beliin obat kuat gak? Soalnya kan lo udah kayak


om-om.” Bisik Pamungkas kepada ubay.


“Lo fikir gue selemah itu apa? Walupun di luar gue udah


kepala tiga, tapi di dalam masih kepala dua. Gue masih kuat Pam.”


Dan pada akhirnya kedua pria itu cekikikan sendiri. Memantik


semua orang untuk melihat kearah mereka.


Ubay menyenggol lengan Pamungkas dengan kuat untuk menghentikannya


tertawa. Sedangkan Binar memandangi suaminya dengan alis yang berkerut.


Dua pria yang sudah menginjak umur pertengahan tiga puluhan


itu ternyata masih menyimpan sisi kekanak-kanakkan.


Saat hampir tengah malam, mereka semua pamit untuk pulang.


Meninggalkan Ubay dengan Yeva yang baru saja sah menjadi suami istri.


“Titip chan dulu ya, Buk. Maaf udah ngerepotin Ibuk.” Ujar Pamungkas


kepada Rukayah.


“Iya, gak-apa-apa. Kalian fokus aja sama pengobatan Binar


ya, Chan biar Ibuk sama Ayah yang urus. Kalian gak usah khawatir.”


Sebenarnya Haya dan Hendrana juga sudah menawari Chan untuk


tinggal bersama mereka sementara waktu. Tapi anak itu tidak mau dan memilih


untuk ikut Kakung dan Utynya.


Chan ingin tinggal di rumah sakit bersama dengan ibunya,


tapi tidak ada yang menyetujui keinginannya itu lantaran dia harus sekolah.


Jadilah ia ngambek dan memilih untuk tidur saja. Dia bahkan melewatkan momen pernikahan


ubay.


“Ibuk  gak usah

__ADS_1


sering-sering kesini, jauh, kasihan kalau harus bolak-balik kesini. Aku udah


ada yang jagain.” Ujar Binar sambil melirik kepada Pamungkas.


“Iya, Buk. Aku yang bakalan jagain Binar. Ibuk sama Ayah gak


usah khawatir.” Timpal Pamungkas.


“Ya udah, Ayah sama Ibuk Pamit dulu ya.” Pamit Ustadz Syuhada


Binar dan Pamungkas hanya bisa mnegantarkan Rukayah dan


suaminya sampai di depan kamarnya saja. Sementara Hendrana dan Haya sudah


pulang lebih dulu.


Pamungkas mengajak istrinya untuk masuk kedalam. Ia membantu


Binar untuk berbaring di ranjangnya. Tapi bukannya pergi, Pamungkas justru ikut


berbaring dan memeluk istrinya itu dari belakang. Sangat erat. Ia


menenggelamkan wajahnya di punggung istrinya.


“Kenapa, Mas?” Tanya Binar.


“Capek banget hari ini.”


“Ya udah, istirahat aja.”


Pamungkas semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di


perut istrinya. Ia menghela anfas dalam-dalam.


“Kamu gak usah khawatir ya sayang. Aku akan lakukan apapun


buat kesembuhanmu. Aku akan tetap ada disampingmu, ngasih kamu kekuatan.” Lirih


Pamungkas.


Diam-diam air mata Binar sudah meleleh.


“Iya, Mas. Aku tau itu. Makasih banyak ya udah mau nemenin aku


“Kamu harus kuat dong. Porsi cobaan setiap orang beda-beda.


Tapi aku yakin kamu bakalan kuat ngadepinnya. Semangat sembuh ya sayang.”


“Makasih, Mas.”


“Kita operasi ya, Bin.” Pamungkas masih mencoba untuk


membujuk Binar.


Binar hanya diam saja tidak menjawab.


“Aku beneran gak apa-apa kalaupun gak bisa punya anak sama


kamu. Kita udah punya Chan, dan itu udah lebih dari cukup.”


Ucapan Pamungkas membuatnya teringat dengan Reanty. “Tapi kan


Chan mau di ambil sama Mbak Reanty, Mas.”


“Gak. Hal itu gak akan pernah terjadi. Chan hanya akan jadi


anak kamu, anak kita. Gak akan ada orang lain yang boleh ngambil Chan dari


kamu. Termasuk Reanty. Jadi kamu gak usah khawatir ya?”


Binar mengeratkan genggaman tangannya di tangan suaminya.


Air matanya tidak mau berhenti mengalir. Memikirkan cobaan-cobaan yang tiada henti


menghampirinya.


“Kapan operasiku di jadwalkan, Mas?” Tanya Binar pada


akhirnya.


Pamungkas melepaskan wajahnya dari punggung istrinya. Ia


menaikkan kepalanya untuk bisa menatap Binar. “Jadi kamu mau?” Tanya Pamungkas.

__ADS_1


“Iya, Mas. Kalau itu adalah jalan ikhtiarku buat sembuh, aku


gak apa-apa. Aku ikhlas.”


“Alhamdulillah. Besok kita kasih tau Dokter Sita, ya. Biar


operasimu cepet di jadwalkan.”


Binar mengangguk. Sementara Pamungkas mendaratkan kecupannya


di kepala istrinya lama sekali.


“Binar Sabitah, aku sayang banget sama kamu.” Lirih


Pamungkas lagi.


Malam itu, Pamungkas terlelap dengan terus memeluk istrinya.


Ia nampak sangat lelah dengan banyaknya aktifitas hari ini.


Ia bahkan tidak tau jika  Binar terus merintih tanpa suara menahan sakit. Pandangannya bahkan


sampai berkunang-kunang. Tapi ia merasa tidak tega jika harus membangunkan


suaminya. Padahal ia tadi sempat tertidur sebentar.


Perlahan Binar melepaskan pelukan Pamungkas dengan sangat


hati-hati. Ia berjalan tertatih menuju ke kamar mandi. Dengan kondisi perut


yang sakit luar biasa.


Dengan perjuangan akhirnya Binar sampai di dalam kamar


mandi, ia segera mengambil air wudhu kemudian kembali berjalan menuju ke sofa.


Ia duduk di sofa kemudian meraih mukena yang tersampir di


sandaran sofa itu. Mengenakannya kemudian segera melaksanakan sholat tahajjud.


Binar menumpahkan segala kesedihannya kepada Penciptanya. Ia


memohon agar dia selalau diberikan kekuatan. Ia mengadu, bahwa sebenarnya ia


masih tidak rela jika ia harus kehilangan rahimnya. Ia meminta petunjuk untuk


diberikan jalan lain tanpa harus kehilangan hal berharga itu.


Tersedu dalam diam, air mata Binar deras mengalir membasahi


mukenah yang ia pakai. Seberapapun ia berusaha untuk kuat, tapi ternyata hal


itu sangatlah sulit untuk dilakukan. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di


wajahnya. Berusaha meredam suara isak tangisnya yang semakin menjadi.


Perlahan, Binar seperti bisa merasakan sebuah pelukan hangat


yang perlahan mendekap tubuhnya dari samping. Ia membuka telapak tangannya dan mendapati


Pamungkas yang sedang menatapnya pias. Ada airmata yang mengalir dari kedua


netra pria itu.


Di sisa sepertiga malam itu, kedua pasangan itu larut dalam kesedihan


yang dalam. Mereka ingin menghabiskan seluruh kesedihan yang ada. Hingga hanya


tinggal harapan baik saja yang tersisa. Permohonan demi permohonan terus mereka


panjatkan didalam hati kecil mereka masing-masing. Berharap jika Allah masih


bersedia mengijabah semua harapan keduanya.






*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2