Pindah

Pindah
29


__ADS_3

Awan yang tergantung dilangit malam ibu kota, perlahan menutupi cahaya bulan yang hampir sempurna. Tidak menunggu waktu lama, awan gelap itu membawa hawa dingin pertanda akan turunnya hujan.


Ubay sedang menyesap kopiya di balkon kamarnya. Memandangi awan gelap itu dengan hati yang terasa gelap pula.


Ia berusaha menetralisir rasa nyeri didadanya. sekaligus rasa lelah karna baru saja pulang mengantarkan Binar dan chan.


Hari yang melelahkan baginya.


Bukan hanya tubuhnya, hatinya juga sudah lelah.


Selama hampir sepuluh tahun ia menyimpan perasaannya untuk Binar. Dan sudah berkali-kali ia menunjukkan maupun mengungkapkan. Tapi itu semua tidak berhasil juga meluluhkan hati Binar untuk melihatnya.


Perut Ubay terasa lapar, tadi dia tidak banyak makan. Ia bangkit kemudian berjalan turun ke dapur, membuka kulkas dan memandangi wadah-wadah berisi makanan yang sengaja ditinggalkan oleh pengurus rumahnya.


Ia mengambil salah satu wadah itu kemudian memasukkannya kedalam microwave.


Aroma bumbu rendang langsung menyeruak saat proses pemanasan terjadi. Membuat perutnya semakin lapar saja.


Sambil menunggu, ia mengambil piring dan nasi dari rice cooker. Kemudian meletakkannya diatas meja makan.


Ia duduk sebentar sebelum timer microwve memberitahunya kalau rendang yang nikmat itu sudah siap disantap.


Ia menikmati makanan itu dalam diam, dan kesendirian. Seperti biasanya.


Sambil makan, ia memainkan ponselnya untuk mengusir rasa sepi. Ia membaca kembali komentar-komentar miring tentang Binar yang membuatnya semakin marah saja.


Otaknya berputar mencari solusi dari masalah ini.


Tapi yang ia temukan hanya jalan buntu.


Ubay memutuskan untuk menghubungi Pamungkas saja dan mencari solusi bersama.


“Dimana lo?” Tanya Ubay.


“Di rumah, kenapa?” Jawab Pamungkas dari seberang telfon.


“Keadaan makin buruk aja. Banyak yang berkomentar miring tentang Binar.”


“Biarin aja lah, Bay. Nanti juga tenggelam kabar itu. Masih awal-awal memang begitu” jawaban Pamungkas terkesan enteng dan menganggap masalah ini biasa saja.


“Enteng banget lo ngomong. Bagi lo mungkin ini biasa aja. Tapi gak bagi Binar dan keluarganya. Lo mikir dong gimana perasaan dia!” Emosi Ubay terpancing.


“Yaudah, nanti gue yang urus. Gak usah panik gitu. Udah. Gue banyak kerjaan ini” Pamungkas menutup sambungan telfon begitu saja. Membuat Ubay geram setengah mati.


Ubay jadi tidak berselera untuk melanjutkan makannannya kembali. Ia meninggalkan piringnya begitu saja kemudian berjalan kembali ke kamarnya.


*****

__ADS_1


“Telfon dari siapa, Mas?”


“Temen.” Pamungkas menjawabnya dengan acuh.


“Oh, diminum dulu kopinya.” Reanty meletakkan cangkir berisi minuman kopi ke meja dihadapan Pamungkas.


Pamungkas sedang berada diapartemen Reanty. Dia baru saja sampa saat Ubay menelfonnya tadi.


“Kenapa kamu begitu?” Pamungkas menatap Reanty dengan pandangannya yang tajam.


“Apanya yang begitu?” Reanty berpura-pura tidak tau maksud kedatangan Pamungkas. Padahal dia juga sedang mengikuti perkembangan beritanya.


“Apa kamu sengaja biar orang pada salah faham?”


“Apa sih, Mas?”


“Gak usah pura-pura gak tau. Kamu sengaja kan menggiring opin publik jadi begini?”


Reanty terdiam. Ia tidak sanggup menatap mata Pamungkas.


“Ya gak lah, mas. Mana mungkin aku begitu. Publik aja yang berlebihan menanggapinya.”


“Rea, aku tau kamu orang yang baik. Dan aku harap kamu akan terus jadi orang baik. Jangan korbankan orang lain yag gak ada hubungannya sama masalah kita. Kasihan.” Pamungkas berusaha memberi pengertian kepada mantan istrinya itu.


“Aku gak ada, Mas. Terserah kamu mau percaya apa enggak.” Karna memang ia merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan oleh Pamungkas. Berakting seolah ia terpaksa melakukan wawancara kemarin. Sama sekali tidak begitu.


Sekilas, ia memikirkan Ubay yang terdengar marah padanya.


“Enteng banget lo ngomong. Bagi lo mungkin ini biasa aja. Tapi gak bagi Binar dan keluarganya. Lo mikir dong gimana perasaan dia!”


Bukan Pamungkas tidak menyadari hal itu. Ia sangat faham bagaimana keadaan Binar dan keluarganya. Karna dia juga mengkhawatirkannya.


Ituah juga alasan kenapa ia duduk berhadapan dengan Reanty saat ini.


“Malam itu, untuk yang pertama kalinya setelah waktu yang sangat lama, aku lihat Mas lagi ketawa seneng banget. Wajah mas juga kelihatan bahagia. Mas ketawa lepas didepan gadis itu, kayak gak ada beban gitu, lepas. Entah kenapa kok aku ngerasa sakit ngelihatnya.”


Pamungkas masih menunggu kelanjutan cerita itu.


“Waktu itu, aku masih ragu mau bercerai sama kamu, Mas. Itulah alasannya kenapa aku datang kerumah sakit. Tapi setelah melihat kamu ketawa begitu, keputusanku semakin bulat. Ekspresimu waktu itu buat hatiku bertambah kuat. Aneh kan?” Reanty mengangkat wajahnya. Kini ia memberanikan diri menatap mata Pamungkas secara langsung.


“Aku baru sadar, ternyata selama kita menikah, aku bahkan gak pernah buat kamu sebahagia itu. Aku belum pernah lihat kamu ketawa lepas sampai begitu.”


“Jadi sebenernya apa yang mau kamu omongin?” Pamungkas tidak tahan mendegar kalimat kenangan itu.


“Aku akan berusaha buat meluruskan masalah ini. Tapi aku gak jamin bisa berhasil apa enggak. Soalnya aku gak bisa ngontrol prasangka semua orang.”


“Aku pegang janjimu.”

__ADS_1


Pamungkas langsung berdiri begitu saja dan langsung keluar dari apartemen Reanty setelah berkata seperti itu.


Lagi-lagi, ia bahkan tidak menyentuh cangkir kopi yang sudah dibuatkan untuknya.


Pamungkas masuk kedalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan keras. Ia duduk di balik kemudi sambil mencengkeram kemudinya. Kemudian ia memukul-mukul kemudi itu. Melampiaskan semua kekesalannya.


Kemarahannya pada dirinya sendiri. Entah kenapa dia measa marah sekali saat ini.


Ia teringat ucapan Reanty, yang mengatakan bahwa dirinya terlihat sangat bahagia saat berbicara dengan Binar.


Benarkah?


Dia baru merasakannya sekarang.


Andai saja, dia tidak menghamili Reanty karna kesalahan satu malam itu, mungkin ia dan Binar sudah menjadi sebuah keluarga sekarang.


Karna dulu, dia sudah meyakini kalau Binar yang akan menjadi pendamping hidupnya.


Dulu, ia dan Binar punya perasaan yang sama. Setidaknya begitulah yang ia yakini. Mereka memang tidak pernah terikat didalam sebuah hubungan. Cukup mengetahui perasaan satu sama lain saja. Karna Binar seorang wanita yang sangat menjaga harga diri dan perilakunya. Apalagi kalau itu menyangkut dengan laki-laki.


Kesalahan terbesar yang ia buat karna alkohol, membuatnya terikat pernikahan dengan Reanty. Dan terpaksa harus menekan dan mengunci perasaannya untuk Binar. Ia bahkan menghilang begitu saja dari hadapan wanita itu.


Dan sejak saat itu, ia tidak pernah lagi menyentuh minuman beralkohol walau sedikitpun.


Saat bertemu kembali dengan Binar setelah waktu yang cukup lama, sebenarnya ia sangat terkejut. Tapi ia memilih untuk menyelamatkan harga dirinya dan bersikap ramah kepada Binar. Padahal ada rasa yang tidak nyaman dihatinya. Sangat tidak nyaman.


Sejak saat itu, keputusannya untuk menceraikan Reanty semakin kokoh. Hatinya terus mencari alasan demi bisa berpisah dengan wanita itu. Karna Binar.


Jadi, apakah dia memanfaatkan Binar demi menyelamatkan hidupnya?


Itulah yang membuat Pamungkas marah pada dirinya sendiri.


*


*


*


*


*


Bersambung...


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2