Pindah

Pindah
58


__ADS_3

Saat pintu gerbang terbuka, Chan segera mengedarkan pandangannya untuk mencari ibunya. Dan dia langsung sumringah saat melihat Binar berdiri bersama dengan para orang tua lainnya. Ia segera berlari menuju kearah Binar.


“Mama!!” Pekik Chan. Ia menyalami Binar dan mencium punggung tangannya.


Pamungkas yang melihat Chan mendekati Binar, berjalan mendekat kearah mereka.


“Hai, Chan!” Sapanya sambil mengangkat tangan kanannya.


“kok Papa ada disini?” Tanya Chan kemudian. Menatap tidak suka kepada Pamungkas.


“Chan, gak boleh gitu dong. Ayo salim sama Papa.” Perintah Binar.


Dengan malas anak itu menuruti permintaan ibunya. Ia tetap menyalami Pamungkas walaupun dengan wajah yang setengah cemberut.


Gemas sekali rasanya sampai membuat Pamungkas mengacak-acak rambut Chan. Membuat anak itu kembali mendengus sambil menjauhkan kepalanya dari tangan Pamungkas.


Chan tidak bertanya lebih jauh. Ia hanya menurut saja saat Pamungkas memboncengnya di depan.


Sesampainya dirumah, Chan nampak heran dengan banyaknya orang di ruang tamu. Dengan sopan ia menyalami semua orang yang ada disana. Kemudian masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju.


Binar dan Pamungkas ikut duduk di ruang tamu bersama dengan orang tua mereka.


“Pam, Papa sama Mama pulang duluan, ya. Nanti langsung bawa istrimu ke rumahmu.” Pesan Hendrana.


“Iya, Pa. Hati-hati dijalan.”


Pamungkas, Binar dan kedua orang tuanya mengantarkan orang tua Pamungkas sampai di halaman rumah. Setelah melihat mereka pergi, semua orang kembali masuk kedalam rumah.


Sementara Binar dibantu oleh ibunya membereskan pakaiannya dan juga pakaian milik Chan. Pamungkas akan langsung memboyong mereka kerumahnya hari ini juga.


Binar bisa merasakan kalau ibunya sedang menahan kesedihan. Karna dia juga merasakan hal yang sama.


“Kita mau kemana, Ma?” Tanya Chan. Dia heran kenapa ibunya mengemas barang-barangnya.


“Chan, sini.” Panggil Binar. Anak itu langsung mendekat dan duduk di pangkuan Binar.


“Kita mau pergi?” Tanya Chan lagi.


“Chan, mulai sekarang, kita akan tinggal di rumah Papa.” Jelas Binar dengan hati-hati.


“Kenapa?”


“Karna Papa bisa sedih kalau tinggal sendirian.”


Chan masih belum mengerti, kenapa mereka harus tinggal disana. “Aku gak mau ikut.” Ujar Chan tiba-tiba. Membuat Binar dan Rukayah terkejut.


“Lho? Kenapa?” Tanya Rukayah.


“Disana gak nyaman. Nanti Mama bohong lagi terus ninggalin Chan sendirian disana. Disana Chan gak punya temen.”

__ADS_1


Binar tersenyum sambil mengusap puncak kepala Chan lembut.


“Kali ini Mama gak akan ninggalin Chan. Ini buktinya Mama juga bawa barang-barang Mama. Mama ikut tinggal disana bareng sama Chan.” Jelas Binar.


“Berapa lama kita disana Ma?” Tanya Chan setelah agak lama berfikir.


“Eeeehhmmm,,, yang jelas lamaaaaaaaaaa..”


“Gak mau. Semalam aja. Nanti aku kangen sama Kakung, sama Uty.”


Binar mengalah, ia mengangguk demi menyetujui permintaan Chan. Sekarang ini, membuat Chan merasa nyaman dengan kehadiran Pamungkas lebih utama baginya.


Setelah mendapat persetujuan dari ibunya, Chan berlari keluar untuk menemui kakeknya yang sedang mengobrol bersama dengan Pamungkas.


“Nduk, boleh Ibuk tanya?” Ujar Rukayah dengan masih melipat pakaian milik Chan dan memasukkannya kedalam koper.


“Apa, Buk?”


“Alasan kamu menerima nak Pamungkas.”


“Allah sudah menetapkan hati Binar untuk menerimanya, Buk. Karna Binar fikir, sekarang bukan lagi waktu untuk menunda-nunda pernikahan. Lagian ini akan baik untuk Chan juga. Binar gak mau membebani Ibuk sama Ayah lagi. Kalau mengingat masalah yang dulu, kita semua tau itu bukan sepenuhnya salah mas Pam. Jadi Binar berusaha buat menerima takdir yang udah digariskan untuk Binar.”


Rukayah terdiam sesaat. Berusaha menerima penjelasan putrinya. “Semoga dia bisa menjadi imam yang baik untuk kalian.” Ujarnya kemudian.


Setelah selesai membereskan barang-barangnya, Binar keuar dari kamar dengan mendorong sebuah koper berukuran sedang, sementara Rukayah menjinjing sebuah tas.


“Taksinya udah dateng, Mas?” Tanya Binar.


“Udah, lagi nunggu didepan.” Jawab Pamungkas.


Ustadz Syuhada mengantarkan anak dan cucunya sampai di depan rumah. Sementara Pamungkas di bantu oleh sopir taksi sedang memasukkan barang-barang mereka. Setelah selesai, Pamungkas kembali menghampiri mereka.


“Yah, Binar berangkat sekarang, ya.” Pamit Binar dengan menahan buliran airmata di sudut netranya. Ia mencium punggung tangan ayahnya.


“Baik-baik disana. Turuti apa kata suamimu.” Pesan Ustadz Syuhada.


“Iya, Yah.”


“Nitip Binar sama Chan ya, Nak Pam.” Ujar Rukayah.


“Iya, Buk. Saya akan menjaga mereka dengan baik.”


“Ibuk sama Ayah gak usah sedih, nanti kami bakalan sering mampir kesini kok.” Pesan Binar lagi.


Chan juga ikut menyalami nenek dan kakeknya sebelum masuk kedalam taksi. Rukayah tidak bisa menahan untuk tidak menciumi pipi anak itu. “Chan jangan nakal.”


“Iya, Uty. Besok juga Chan udah pulang kok.” Ujarnya. Menimbulkan seutas senyuman dibibir Rukayah dan suaminya.


Entah kenapa, walaupun rumah Pamungkas masih berada di kota yang sama, agak berat juga hati Binar meninggalkan orang tuanya. Tapi ia berusaha untuk terlihat tegar walaupun dadanya terasa sesak.

__ADS_1


Binar membuang pandangannya keluar jendela. Berusaha mengalihkan perasaan sedihnya karna harus meninggalkan kedua orang tuanya. Sementara Chan sudah terlelap dipangkuannya.


Pamungkas yang memperhatikan itu, hendak memegang tangan istrinya itu untuk menenangkannya. Tapi Binar malah terkejut dan langsung menarik tangannya.


“Kenapa?” Tanya Pamungkas bingung karna ekspresi wajah Binar yang nampak sangat terkejut.


“Oh, eh, enggak, Mas. Kaget aja. Maaf, belum terbiasa soalnya.” Binar menjelaskan.


Pamungkas terkekeh kecil melihatnya. Tapi ia terus melanjutkan untuk menggenggam tangan istrinya itu. Nampak sekali kalau Binar masih merasa canggung dan kaku mendapatkan perlakuan seperti itu.


“Sini aku gantiin.” Ujar Pamungkas meminta Chan dari pangkuan Binar.


“Gak apa-apa, Mas. Gak capek kok.”


“Kalau capek bilang, ya.” Pesan Pamungkas.


Binar mengangguk meng iyakan.


Genggaman tangan Pamungkas mengalirkan kehangatan ke dalam sanubari Binar. Perlahan mengusir perasaan canggung yang bersemayam disana. Rasanya sedikit aneh, tapi juga nyaman. Lama-lama ia jadi suka dan terbiasa.


“Kenapa kok senyum-senyum begitu, Mas?”


Pamungkas langsung menoleh. Ternyata tingkahnya itu sedang diperhatikan oleh Binar.


“Ya karna aku seneng banget sekarang ini. Cariin anak, rupanya dapet bonus istri. Hehehehe” seloroh Pamungkas.


“Ooh, jadi aku cuma bonus, nih?”


“Iya, bonus terindah yang Allah kasih sama aku. Istri sholehah, cantik pula.”


“Cara Allah mempertemukan kita itu sebenernya rumit banget ya. Tapinya kita gak sadar-sadar juga. Berarti sejak awal jodohku itu memang kamu, Mas.”


“Gak sia-sia aku simpen baik-baik nama kamu di hatiku, Bin. Keyakinanku sejak awal gak pernah salah. Kalau kamu itu bakalan jadi istriku. Kalau aja aku sama Reanty,,,,”


“Udah, gak perlu bahas masa lalu, Mas. Setiap orang punya kisah kelamnya sendiri. Dan setiap orang berhak untuk menjadi lebih baik. Kalau udah tau salah, ya jangan sampe diulangi lagi. Itu aja sih.”


“Uuuuhhh,, baiknya istriku...” Kali ini Pamungkas mengelus pipi Binar yang jadi merona.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2