Pindah

Pindah
17


__ADS_3

mungkin.”


bisa jenguk sekarang.”


“Gak apa-apa, Mbak. Cuma berdua sama Binar Mbak?”


“Iya.



“Iya, udah. Kamu mau kemanaa?”


“Mau kebawah, Mas. Jam kerjaku udah mau masuk.”


Pamungkas memerhatikan Binar dan Nazril secara bergantian. Ia bisa melihat wajah Binar yang sedang tersipu.


“Mohon bantuannya ya Dok.” Ujar Nazril kepada Pamungkas.


“Berdo’a saja. Dan kami yang akan berusaha semaksimal mungkin.” Jawab Pamungkas penuh wibawa.


Bahkan Nazril bisa merasakannya.


“Yasudah, kalian lanjutkan saja mengobrolnya. Saya permisi dulu.”


Tidak menunggu jawaban dari Binar maupun Nazril. Pamungkas langsung ngeloyor pergi begitu saja.


Tapi Binar tidak peduli. Ia sedang senang saat ini. Berada didekat pria yang Insya Allah akan menjadi suaminya kelak. Itu harapannya.


“Masih ada waktu gak Bin?” Tanya Nazril.


“Kenapa, Mas?”


“Ngobrol sebentar yuk.”

__ADS_1


Binar mengangguk dan langsung duduk di kursi yang ada di dekatnya. Begtu jga dengan Nazril.


“Dokter Pam itu, temenmu ya Bin?”


“Bisa dibilang begitu. Kenapa Mas?”


“Gak. Kayaknya kalian deket gitu.”


“Dia itu memang begitu orangnya. Gak cuma sama aku aja deketnya. Sama oranag lain juga.” Entah kenapa Binar harus menjelaskan hal itu. Yang jelas dia seperti bisa membaca ketidak sukaan dari raut wajah Nazril. Dan dia tidak mau membuat pria itu salah paham terhadapnya.


“Oh,”


Nazril terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan kalimatnya.


“Bin. Kalau kamu udah lelah nunggu aku, aku gak apa-apa kok kalau kamu mau menyerah tentang rencana pernikahan kita.”


“Mas....” Ucapan Nazril sangat mengejutkan Binar.


“Aku tau, Mas. Dan aku akan tetap bersabar. Insha Allah akan ada waktu terbaik untuk kita yang sudah dalam rencana-nya.”


“Aku bener-bener gak apa-apa kalau kamu mau membuka hati untuk orang lain, Bin. Aku terus ngerasa bersalah sama kamu karna terus menunda waktu terbaik itu.”


Binar masih belum bisa membaca kenapa Nazril sangat bersikeras ingin ia mengiklaskaan rencana mreka.


“Mas kok ngomongnya begitu?”


Nazril kembali terdiam. Didalam hati, ia menahan sakit yang amat sangat. Sungguh dia telah membohongi dirinya sendiri dengan berkata bahwa ia akan ihlas membiarkan Binar membuka hati untuk pria lain.


“Aku gak tega sama kamu, Bin. Di satu sisi, aku pengen banget langsung ngelamar kamu saat ini juga. Tapi disisi lain, ada Ibuk yang harus aku perhatikan. Dan lagi, aku masih ragu, Bin.”


“Ragu kenapa, mas?”


Didalan fikirannya, Binar sempat menebak kalau keraguan itu berasal dari Chan.

__ADS_1


“Aku takut gak bisa menyayangi Chan sepenuhnya. Dan itu akan sangat menyakitkan buat Chan. Dan berdosa buat aku.”


Benar saja. Ternyata masalah Chan.


Binar bukan tidak tau hal itu. Ia bisa merasakannya. Dan kini, ia semakin terdiam setelah mendengarkannya langsung dari Nazril.


Ada yang terkoyak didalam hati gadis itu.


Ponsel Binar yang bergetar menyadarkannya dari rasa nyeri. Ia meraih ponsel itu dari dalam tasnya.


Pesan dari Yuli, yang memberitahunya bahwa ia harus segera ke UGD.


‘Dimana, Bin? Buruan. Ntar telat lho.’


Binar membaca pesan itu sambil menghela nafas perlahan.


“Kita bicara nanti lagi ya, Mas. Aku harus kerja sekarang.” Ujar Binar yang langsung berdiri dan langsung meninggalkan Nazril begitu saja. Berjalan dengan menundukkan wajahnya menjauh dari pria yang masih belum menerima putranya seutuhnya.


*


*


*


*


*


Bersambung...


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2