Pindah

Pindah
41


__ADS_3

Episode ini adalah flashback kisah antara Binar dan Pamungkas saat pertama kali mereka bertemu. Dimana takdir pertama kali mengikat perasaan keduanya.


*****


“Nyak!!! Buruan!!! Telat nih.” Pekik Binar tepat didepan pintu kamar kos Sonya.


“Iya! Bentar!”


Tidak lama kemudian Sonya keluar dari dalam kamarnya. Menenteng beberapa buku di tangannya dengan sebuah tas yang tersampir dipundaknya.


Setelah itu, keduanya langsung berlari kecil keluar dari lingkungan kos. Mereka mempercepat jalan menuju ke gedung fakultas keperawatan di sebuah Universitas di kota Jakarta, yang terletak tak jauh dari kos mereka.


“Makanya, kalau habis sholat subuh itu, jangan tidur lagi.” Protes Binar.


“Ya ampun, Bin. Mataku diserang Jin. Kalau abis sholat subuh, bawaannya ngantuk luar biasa.” Sonya beralasan.


“Salahin aja jin terus. Itu karna kebiasaan. Makanya jin makin suka bersemayam di kelopak mata kamu. Seoroh Binar sambil cekikikan.”


“Sialan, kamu.”


Obrolan mereka berakhir saat mereka masuk kedalam ruang kelas.


Hari ini, jadwal kelas Binar full sampai sore. Untung saja ia sedang puasa sunnah, jadi tidak perlu mengkhawatirkan tentang makan siang.


Berbeda halnya dengan Sonya. Gadis jangkung itu terus mengeluh kelaparan. Tapi saat Binar menyuruhnya untuk makan di kantin, ia tidak mau dengan alasan ‘setia kawan’. Ia akan menunggu Binar buka puasa dan makan bersama. Jadilah Sonya hanya mengganjal perutnya dengan sebungkus roti saja.


“Nanggung, Nyak. Mending puasa sekalian. Ngapain kamu ikut kelaperan segala?”


“Ogah aku makan sendirian di kantin. Lagian setengah jam lagi udah waktunya kamu buka puasa.”


Binar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saja melihat keanehan temannya itu.


“Eh, Bin. Kata temenku, ada cafe baru buka di deket asrama kedokteran. Enak dan murah. Kita coba kesana yuk.”


“Akurat gak infonya?” Selidik Binar.


“Akurat dong. Tempatnya juga instragamable banget. Aku penah dikasih tau fotonya.”


“Modusmu, Nyak. Cuman mau selfi kan?”


“Hehehehe. Udah, ayuk. Nanti keburu telat.”


“Oke, kita sholat dulu setelah aku batalin puasaku. Abis itu kita kesana."


“Oke. Sip” jawab Sonya dengan senang hati.

__ADS_1


Adzan maghrib telah berkumandang. Binar segera membatalkan puasanya dengan sebotol air mineral yang diberi oleh Sonya. Setelah itu, mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah di masjid yang berada tak jauh dari cafe tujuan mereka.


“Bin. Aku ke kamar mandi dulu ya. Perutku sakit banget nih.” Pinta Sonya dengan wajah tertekuk menahan sakit. Ia segera melepas mukenah dan meletakkannya ketempat penyimpanan yang ada di dalam masjid, kemudian segera berlari keluar.


Binar hanya menatapnya saja tanpa menghentikan bacaan dzikirnya. Setelah selesai, Binar juga segera melipat mukenahnya dan mengembalikannya ketempat semula.


Para jamaah wanita sudah lebih dulu pergi. Hanya tinggal Binar saja yang terakhir keluar dari masjid itu. Sekalian ia masih menunggu Sonya kembali dari kamar mandi.


Tapi lumayan lama Sonya belum juga kembali. Akhirnya Binar memutuskan untuk membawakan tas dan buku Sonya lalu menunggu di luar masjid saja.


Binar kebingungan berdiri di tangga batas suci. Ia sedang mencari sebelah sepatunya yang telah raib entah kemana. Ia sudah berjalan kesana kemari, tapi tidak menemukan sepatunya.


Dari arah pintu keluar jamaah pria, seorang pria tengah berjalan melewati Binar. Sekilas ia melirik wanita yang mengenakan hijab berwarna merah maroon dengan wajah yang bulat dan putih bersih, telihat sedang kebingungan. Hatinyapun tergerak untuk bertanya.


“Kenapa.?” Tanya pria itu.


Binar yang terkejut langsung melihat ke arah suara. “Ehm, ini Mas. Sepatu saya hilang sebelah.” Jawab Binar malu. “Udah dicariin tapi gak ketemu juga.”


Pria itu mengangguk sebentar. Kemudian melihat ke bungkusan plastik yang sedang ia bawa.


“Pakai aja ini dulu.” Ujar pria berlesung pipi tersebut sambil menyerahkan sandal yang sedang ia kenakan kepada Binar.


“Gak usah, Mas. Itu kan dipake sama Masnya. Nanti Masnya pakai apa?” Tolak Binar merasa tidak enak hati.


“Aku bawa sepatu lain disini.” Ujar pria itu sambil menunjukkan kantung plastik yang ia bawa. “Gak apa-apa. Pakai aja.” Pria itu lantas melepaskan sandalnya dan memberikannya kepada Binar.


“Silahkan di pakai.”


“Makasih banyak ya, Mas.” Ujar Binar menanggukkan kepalanya.


Pria itu hanya tersenyum saja, menampakkan lesung pipinya sambil berjalan meninggalkan Binar.


“Kenapa, Bin?” Tanya Sonya yang ternyata sudah kelaur dari kamar mandi.


“Sepatuku hilang sebelah.” Adu Binar.


“Hah? Kok bisa?”


“Mungkin ada yang lebih membutuhkan.” Jawab Binar.


“Butuh kok sebelah? Udah dicariin?”


“Udah. Tapi gak ketemu.”


“Terus, itu sandal siapa?”

__ADS_1


“Ada mas-mas yang kasihan lihat aku, terus dia kasih sandalnya. Katanya dia bawa sepatu cadangan.”


Binar mengambil sebelas sepatunya kemudian memperhatikannya sesaat sebelum membuangnya ke tempat sampah.


Sebenarnya itu adalah salah satu sepatu kesukaannya. Sepatu yang terbuat dari bahan elastis itu sangat nyaman di kaki Binar. Makanya ia suka dengan sepatu itu. Tapi sepatu itu sudah tidak ada jodohnya lagi, walaupun masih bagus, Binar terpaksa membuangnya.


“Yaudah, yuk.” Ajak Sonya kemudian. Ia meminta tas dan bukunya dari Binar.


*****


“Kok nyeker Pam? Sendal lo kemana?” Tanya Ubay heran kepada Pamungkas yang baru saja masuk kedalam cafe dengan bertelanjang kaki. Pria itu nampak tidak peduli walaupun beberapa pelanggan cafe melihatnya dengan tatapan aneh.


“Gue sedekahin sama orang yang lebih membutuhkan.” Jawab Pamungkas dengan santai.


“Halaah, gue kira kenapa. Lo kelamaan berdo’a, jadinya gue tinggalin. Lo do’a apaan sih? Minta jodoh? Lama bener.” Seloroh Ubay terkekeh.


“Ya kalau udah dikasih sekarang sih, gasssss....” Jawab Pamungkas.


“Gaya lo...” Ejek Ubay. “Kaki lo gak geli, Pam?”


“Enggak. Biasa aja.”


“Lagian, udah tau cuma bawa sendal satu, pake acara dikasihin ke orang pula.”


“Gak usah banyak bacot. Udah dipesenin belum?”


“Beres.” Jawab Ubay dengan membuat tanda dengan jempol tangannya.


Pamungkas menatap kaki polosnya di bawah meja. Ingatannya kembali terbayang dengan wajah putih bulat yang kontras dengan hijab berwarna merah maroon di masjid tadi.


Wajah yang nampak kebingungan itu menarik perhatiannya. Sampai-sampai ia rela satu-satunya sandal yang ia kenakan ia berikan kepada gadis itu. Untuk sesaat, wajah itu menggetarkan hatinya.


Ia memalingkan muka saat ia mendengar ada dua orang gadis yang sedang bercerita dengan penuh semangat lewat dibelakangnya. Ia tanda dengan hijab yang dikenakan oleh salah satu diantara gadis itu. Kemudian ia meneliti kedaerah kakinya. Dan benar saja, gadis itu sedang mengenakan sandal pemberiannya tadi. Tidak menyangka kalau gadis itu juga akan datang ke cafe ini.


Dua kali pertemuan yang tidak di sengaja dalam waktu berdekatan.


Ada seutas senyum yang mengembang di sudut bibir Pamungkas. Memandang Binar dari kejauhan.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2