Pindah

Pindah
42


__ADS_3

Binar dan Sonya sudah menyelesaikan makanan mereka. Dan kini saatnya untuk mereka pulang ke kos.


Binar terkejut saat ia melewati sebuah kursi dengan seorang pria yang sedang duduk disana. Pandangannya bertemu dengan pria yang sudah memberikan sandal padanya. Pria itu tersenyum kepada Binar. Sementara ia hanya mengalihkan pandangannya karna merasa malu. Tidak menyangka akan bertemu dengan pria itu disini.


“Ayo, Bin.” Ajak Sonya yang berdiri di sampingnya.


“Bentar, Nyak.” Binar mendekati pria yang baru dilewatinya itu. “Makasih ya Mas. Udah mau minjemin sandalnya. Nanti kau balikin kalau kita dikasih kesempatan ketemu lagi.” Ujarnya kepada Pamungkas yang Masih duduk di tempatnya semula.


“Gak usah difikirn. Dipakai aja.” Jawab Pamungkas.


Ubay yang memperhatikan mereka hanya ternganga saja melihat wajah bening milik Binar.


“Belum pernah lihat, kuliah disini?” Tanya Ubay langsung.


“Iya, Mas.”


“Jurusan apa?”


“Keperawatan.”


“Semester?”


“Dua.”


“Ooohhh...” Ubay mengangguk-anggukan kepalanya.


“Kami permisi dulu, Mas. Sekali lagi terimakasih.” Ucap Binar mengangguk kepada Pamungkas.


Kemudian Binar dan sonya meninggalkan cafe itu.


Pertemuan itu adalah awal dari pertemuan-pertemuan mereka selanjutnya. Binar menjadi dekat dengan Ubay dan Pamungkas.


Pamungkas sangat mengagumi sosok Binar. Yang tidak hanya cantik didalam balutan hijab, namun ia juga sosok gadis yang baik dan cerdas.


Diam-diam Pamungkas menaruh hati kepada Binar. Sejak pertemuan pertamanya, wajah bulat, yang bersinar di dalam balutan hijab merah maroon, telah menyihirnya. Wajah itu terus menerus muncul didalam fikirannya.


Tidak berbeda dengan Pamungkas. Binar juga menaruh sedikit perasaannya kepada Pamungkas. Tapi ia berusaha menyembunyikan perasaannya itu. Karna ia seorang muslimah yang harus menjaga harga diri dan martabatnya. Jadi dia hanya diam saja.


Tapi keduanya sama-sama mengerti dengan perasaan mereka Masing-Masing.


Bahkan Pamungkas sudah punya niatan untuk meminang Binar pada waktu yang tepat. Saat gadis itu sudah lulus nanti. Yang jelas, ia harus segera menyelesaikan Pendidikan Profesinya. Sebuah rencana besar untuk Masa depannya.


Tapi rencana itu harus hancur saat tanpa sengaja ia terlibat dengan mantan istrinya. Yang membuatnya harus merelakan Binar untuk menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


Betapa hancurnya Binar waktu itu saat ia mendengar kabar pernikahan Pamungkas. Ada kekecewaan yang besar didalam hatinya. Ia berfikir, ia telah salah sangka mengenai perasaan Pamungkas padanya. Jadi dia berusaha untuk ikhlas karna memang mungkin pria itu bukanlah jodoh yang telah dipersiapkan oleh Allah untuknya.


Sampai pada pertemuan mereka seteah beberapa tahun kemudian di rumah sakit MMC, yang berujung pada hancurnya masa depan pekerjaan Binar karna pria itu.


Pria itu telah menyakitinya untuk kedua kalinya.


Dan kali ini, takdir kembali mempertemukan mereka dengan keadaan yang jauh lebih rumit dari sebelumnya.


*****


Pamungkas berusaha memejamkan matanya. Memanggil rasa kantuknya untuk membawanya ke alam mimpi. Setidaknya disana ia bisa bermain sesuka hati tanpa memikirkan permasalahan hidupnya yang rumit.


Tapi, lagi-lagi wajah sedih Binar mengusir rasa kantuk yang sudah hampir datang.


Jauh, jauh, jauuuhh di lubuk hatinya, ia masih menyimpan perasaannya kepada Binar dengan sangat rapi. Ia Masih bisa merasakan getaran itu dengan nyata.


Pamungkas bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan mendekati nakas, kemudian membuka lacinya.


Ia mengambil sebuah buku dari dalamnya. Kemudian membuka halaman perhalaman.


Tapi ia berhenti disalah satu lembar yang berisi sketsa sebuah wajah wanita yang sedang mengenakan hijab berwarna merah maroon. Dengan senyum yang mengembang di bibir ranumnya.


Sudah belasan tahun ia menyimpan sketsa itu dengan sangat rapi. Wajah yang selalu membuatnya merasa teduh.


Pamungkas segera menutup buku itu dan memasukkannya kembali kedalam laci.


“Belum, Ma.” Jawabnya.


Haya membuka pintu perlahan, kemudian Masuk dan menghampiri putranya. Ia duduk di tepian ranjang di samping Pamungkas.


“Mama mau tanya. Apa Binar sudah bersuami?”


Pertanyaan tiba-tiba itu membuat Pamungkas terperanjat. “Belum, Ma.”


“Pam, kali ini Mama gak akan ikut campur lagi soal hidup yang ingin kamu jalani. Tapi kalau Mama boleh memberikan saran...” Ucap Haya hati-hati.


“Saran apa, Ma?”


“Mungkin ini bisa jadi jalan tengah dari permasalahan ini. Kalau memang gadis itu belum bersuami, apa gak lebih baik kamu membuatnya jadi istrimu saja? Jadi kamu bisa mendapatkan anakmu kembali, sekaligus menikah dan punya istri lagi.”


“Ma.... Apa Mama lupa apa yang udah keluarga kita lakuin sama dia? Gak pantas rasanya kalau Mama membahas itu. Rasa bersalahku aja belum hilang sepenuhnya, Ma. Lagian, Binar gak akan mau setuju dengan ide Mama.”


“Kamu kayaknya kenal banget sama dia?” Selidik Haya. Ia yakin, rasa bersalah atas kejadian terakhir itu bukan sepenuhnya menjadi alasan putranya merasa gusar seperti ini.

__ADS_1


“Iya, aku udah kenal lama sama Binar. Sejak dia Masih kuliah dulu.”


Haya bisa membaca guratan kenangan indah dari wajah putranya. Perasaannya tidak akan salah.


“Itu bagus dong, kalau kamu udah kenal dia lama. Kamu bisa dapetin dia sebagai istri.”


“Justru itu, Ma. Aku udah gak punya rasa percaya diri lagi. Aku udah berakali-kali nyakitin dia. Aku udah gak pantas lagi ngarepin dia.” Jelas Pamungkas tanpa sadar.


“Udah gak pantas, lagi?” Haya semakin menyudutkan putranya. Ia memancing agar putranya itu menceritakkannya kepadanya. Kisah apa yang ada diantara mereka di masa lalu.


Pamungkas merasa terpojok. Ia sangat tidak ingin menceritakan kepada ibunya kalau dulu ia sempat punya perasaan kepada Binar. Bahkan sekarangpun Masih ada.


Ia menatap Haya dengan putus asa. Menghela nafas dalam kemudian membuangnya dengan kasar.


Sedangkan Haya sedang antusias menunggu cerita dari kisah Masa lalu putranya itu.


“Dulu aku suka sama Binar.”


Jawaban itu membuat Haya tersenyum sangat lebar. Kini semuanya menjadi jelas baginya. Alasan kenapa putranya begitu gusar karna masalah ini.


Padahal kalau yang menemukan anak itu adalah orang selain Binar dan keluarganya, itu akan menjadi hal yang mudah saja untuk mereka. Karna ia tau kalau putranya bukan tipe orang yang akan memikirkan perasaan orang lain kalau itu tidak berhubungan dengannya. Dugaan Haya ternyata benar. Ada sesuatu antara putranya dan gadis itu.


“Kalau sekarang?” Sebuah pertanyaan pancingan dari Haya.


Untung saja Pamungkas tak termakan dengan pertanyaan umpan itu. Padahal mulutnya sudah terbuka dan hendak menjawab.


“Ma........ Kita tunggu hasil tes keluar. Kita tunggu kejelasannya gimana. Setelah itu baru kita cari jalan keluar.” Ujarnya.


Haya hanya terkekeh saja sambil bangkit kemudian keluar meninggalkan kamar Pamungkas.


Pamungkas kembali berbaring. Ia berusaha meredakan wajahnya yang terasa panas. Mengingat Binar, membuat dadanya kembali berdesir.


Tapi, harga diri karna ia tidak punya lagi keberanian dan kepantasan, membuatnya ingin menimbun kembali nama Binar dihatinya.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2