Pindah

Pindah
35


__ADS_3

Pukul 15.23.


Binar baru saja selesai mengantarkan pelanggannya. Saat ponselnya berbunyi dan itu adalah telfon dari Yuli.


Ia segera mengangkatnya.


Di seberang, nafas Yuli terdengar ngos-ngosan. Nada bicaranya juga panik.


“Ada apa Yul?” Tanya Binar.


“Bin. Huhuhuhu... Bin. Gimana ini?”


“Kenapa?”


“Kami kecelakaan, Bin. Dan sekarang kami lagi di UGd. Chan luka.”


Kalimat itu memang belum jelas. Tapi hati Binar sudah seperti tertusuk mendengarnya.


“Ngomong yang jelas!” Bentak Binar tanpa sadar. “Enggak. Nanti aja ceritanya. Sekarang kalian dimana?” Dia berubah fikiran.


“Di MMC. UGD.” Jelas Yuli.


Binar segera memutus sambungan telfon itu. Kemudain ia memasukkan ponselnya kedalam saku dan kembali melanjukan motornya.


Hati dan fikiran Binar dipenuhi kekhawatiran. Ia membenci fikiran buruknya saat ini. Untung saja ia Masih bisa mengendalikan sepeda motornya dengan baik. Hingga akhirnya dia sampai juga di rumah sakit MMC.


Begitu selesai memarkirkan sepeda motornya, Binar segera berlari menuju ke UGD. Ia mengedarkan pandangannya dengan panik. Mencari sosok putranya.


“Bin!!” Panggil Yuli dari samping sebuah ranjang.


“Mama...” Chan yang langsung menangis saat tahu kedatangan Binar.


“Chan!” Pekik Binar sambil berlari mendekati Chan. “Udah, gak apa-apa. Mama disini. Jangan nangis lagi, ya.?” Binar meneliti setiap inci dari tubuh putranya itu.


Dan betapa sakit sekali hatinya saat melihat luka yang berdarah di lutut kiri Chan. Dan juga di bawah siku kirinya. Kulit Chan yang terkelupas membuat warna merah muda di sana. Pasti rasanya perih sekali. Seperih hati Binar saat melihatnya.


“Sakit. Huhuhuhuhu..” Tangis Chan semakin menjadi. Ia menepis tangan seorang perawat yang ingin membersihkan lukanya. Ia menolak diobati.


“Biar aku aja.” Pinta Binar kepada mantan rekannya itu.


Mantan rekan Binar itu memberikan perlengkapan steril luka kepada Binar. Setelah menerimanya, Binar berjongkok dihadapan Chan dan memegangi tangan putranya. Menatapnya dalam untuk meyakinkan.

__ADS_1


“Mama yang obatin ya?” Rayu Binar.


Awalnya Chan nampak ragu. Tapi lama kelamaan anak itu menganggukkan kepalanya.


Dengan sangat hati-hati Binar membersihkan luka di lutut dan siku Chan. Chan nampak sangat kesakitan. Sebenarnya hati Binar tidak tega melihat Chan yang terus meringis menahan sakit. Tapi mengobati luka Chan adalah prioritasnya sekarang. Jadi ia harus menahan rasa sedihnya saat ini.


“Udah selesai.” Ujar Binar kepada Chan saat ia selesai membalut luka Chan. “Udah gak sakit kan?”


Chan mengangguk. Ia memandangi hasil kerja ibunya di lututnya. Lukanya sudah tidak terlihat. Jadi ia sudah tidak merasakan takut lagi.


“Maaf, Bin.” Yuli yang mendapat tatapan penghakiman dari Binar langsung merasa bersalah.


Binar tau kalau Yuli juga pasti ketakutan setengah mati.


“Gimana ceritanya, sih?”


“Ada mobil yang nyerempet. Mana gak berhenti lagi.”


“Yaudah, yang penting kalian gak apa-apa.” Binar berusaha menyingkirkan perasaan khawatir yang sudah bersemayam dihatinya sejak tadi. Perlahan ia menghela nafas lega.


“Chan tunggu disini dulu ya. Mama mau cuci tangan dulu.” Pamitnya kepada Chan.


Anak itu hanya menjawabnya dengan mengangguk.


Air yang membasahi wajahnya menimbulkan kesegaran. Membuat fikirannya kembali merasa tenang. Ia menatap pantulan dirinya dicermin. Nampak berantakan.


Perlahan air mata Binar menetes. Entah kenapa. Padahal ia sudah merasa tenang. Tapi rasa terkejutnya akan bayangan Chan yang terluka, membuat hatinya sedih.


Binar kembali membasuh wajahnya. Mencoba menyamarkan airmata dipipinya. Kemudian ia mengenakan hijabnya kembali. Menghela nafas dalam sebelum keluar dari kamar mandi.


Binar terkejut sampai menghentikan langkahnya saat dia melihat sosok Pamungkas yang sedang berdiri didepan kamar mandi. Seperti sedang menunggunya.


“Hai, Bin.” Sapa Pamungkas lebih dulu. Ia bisa membaca suasana canggung diantara mereka. Tapi itu tidak menghentikan niat Pamungkas untuk meminta maaf kepada Binar.


“Mas Pam?” Binar yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya hanya bisa mengendalikan mimik wajahnya sebaik mungkin.


“Apa kabar?” Tanya Pamungkas. Masih di tempat yang sama tanpa bergeming.


“Alhamdulillah baik, Mas. Mas Pam apa kabar?”


Sangat canggung bagi Binar untuk menanyakan kabar Pamungkas. Tapi ia tetap harus berbasa basi dengan pertemuan mereka.

__ADS_1


“Alhamdulillah, baik juga. Siapa yang sakit?”


“Anakku Mas. Tadi jatuh dari motor.” Jelas Binar sekadarnya.


“Sekarang gimana keadaannya?” Pamungkas terus menambah daftar pertanyaannya. Ia ingin berada dihadapan Binar lebih lama lagi sebelum kata maaf itu terucap.


“Alhamdulillah lukanya gak parah.”


Untuk beberapa detik, mereka hanya terdiam. Saling menatap lantai yang ada dihadapannya Masing-Masing.


Kalimat maaf yang sudah dipersiapkan oleh Pamungkas tak kunjung meluncur dari mulutnya. Sementara Binar merasa segan. Masih ada sedikit rasa marah didalam hatinya. Biar bagaimanapun, Pamungkas yang turut andil atas kekacauan dalam hidupnya. Walaupun ia berusaha untuk mengikhlaskan kejadian itu.


“Kalau gitu aku permisi dulu, Mas. Anakku udah nunggu.” Ujar Binar yang ingin segera mengakhiri pertemuan itu. Ia lantas bergegas melangkahkan kakinya.


“Bin. Tunggu!” Pekik Pamungkas karna Binar sudah jauh beberapa langkah didepannya.


Binar menghentikan langkahnya. Kemudian menoleh dan berbalik. “Iya Mas, ada apa?”


Pamungkas mendekat kembali kepada Binar. Ia mengusap tengkuknya. Seolah ragu dengan apa yang ingin dia sampaikan.


“Mas?” Tanya Binar yang sedang menunggu jawaban. Ia menatap heran kepada Pamungkas karna tak kunjung bicara padahal sudah memanggilnya.


“Maafkan aku, Bin. Atas semua perbuatanku dulu. Mungkin ini udah entah keberapa kalinya aku minta maaf sama kamu. Tapi aku bakalan tetep minta maaf sampai hatiku merasa lega.”


“Dan udah entah keberapa kalinya aku bilang sama kamu, Mas. Aku juga salah. Karna aku Masih kurang menjaga sikapku sebagai seorang muslimah. Itu semua teguran buat aku, dan juga kamu. Aku udah ikhlaskan kejadian itu, Mas. Jadi aku harap, kamu juga bisa ikhlaskan kejadian itu. Kita sama-sama tau seberapa keras kamu coba untuk memperbaiki keadaan. Seberapa keras kamu menjelaskan situasi sebenarnya kepada orang-orang. Tapi tetap, kita tidak cukup kuat untuk mengendalikan persepsi setiap orang.”


Pamungkas terdiam. Ada rasa lega dihatinya karna ternyata Binar jauh lebih tegar daripada dirinya. Daripada rasa penyesalan dan rasa bersalahnya.


“Aku permisi dulu Mas.” Pamit Binar kembali. Kali ini dia benar-benar melangkah meninggalkan Pamungkas dengan sejuta perasaan bersalah yang Masih bercokol di hatinya.


Dan Binar, terus berjalan dengan menekan sisa-sisa perasaan marahnya. Berkali-kali ia beristighfar didalam hati. Benar kalau dia sudah melupakan kejadian itu. Dan sedang berusaha menata kehidupannya kembali. Menyusun rencana untuk ayah, ibu, dan anaknya.


Ia sempat lupa kalau ia sedang berada di rumah sakit MMC. Dimana kenangan atas kesenangan bekerja ada disana. Dan tidak menutup kemungkinannya dia akan bertemu dengan Pamungkas. Dan ia baru menyadarinya. Itu karna ia sangat panik saat mendapat telfon dari Yuli tadi.


*


*


*


*

__ADS_1


*


Bersambung...


__ADS_2