Pindah

Pindah
51


__ADS_3

Pagi ini, Chan sama sekali tidak bersemangat untuk memakan sarapannya. Ia hanya memutar-mutar sendok diatas piring. Wajahnya menunduk dan terlihat sayu.


“Chan, ayo dimakan sarapannya. Abis ini, diantar Papa pulang.” Ujar Haya sambil mengelus kepala cucunya itu.


Baru setelah mendengar janji itu, ia mengangkat wajahnya dan menatap Pamungkas meminta kepastian. Dan seutas senyumpun timbul saat ia melihat Pamungkas menganggukkan kepalanya.


“Mama sama Papa ikut nganter Chan ya, Pam.” Pinta Haya lagi.


“Iya, Ma.”


“Kenapa, Ma? Mau sekalian ngelamar calon mantu apa gimana?” Seloroh Hendrana.


“Uhuk! Uhuk!” Seketika Pamungkas tersedak makanannya. Untung tidak berhamburan keluar dari mulutnya. Ia menatap ibu dan ayahnya dengan alis yang berkerut.


“ya habisnya, semalaman yang dibahas Binar melulu.” Bela Hendrana setelah mendapatkan tatapan melotot dari istrinya.


Sementara Haya salah tingkah saat Pamungkas menatapnya. “Yaaa,,, namanya juga kepengen, Pa.”


Pamungkas dibuat tak bisa berkata-kata lagi.


Hiks,, hiks,,


Perlahan terdengar isak tangis Chan yang sedang menundukkan kepalanya. Badannya bergoyang-goyang karna terisak.


Semua orang yang ada di meja makan langsung menoleh kepada Chan. Terkejut dan bertanya-tanya kenapa Chan menangis tiba-tiba.


“Chan, kenapa?” Tanya Pamungkas yang duduk disamping Chan. Ia menatap putranya itu heran.


“Ma,, ma,, hiks.”


Semakin lama, tangis Chan semakin keras. Membuat Pamungkas kebingungan. Ia meraih tubuh Chan kemudian memangkunya. Memeluk anak itu dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.


“Iya, makan dulu, ya. Kalau udah selesai makan, Papa antar Chan pulang ketempat Mama.” Rayu Pamungkas.


Tapi kali ini rayuannya tidak berhasil. Chan sudah tidak percaya dengan rayuan itu. Semalam juga Pamungkas mengatakan itu. Tapi kenyataannya mamanya tidak datang.


Pamungkas dan kedua orangtuanya tidak jadi menyelesaikan sarapan mereka. Mereka langsung bersiap-siap untuk pergi mengantarkan Chan karna anak itu tidak mau berhenti menangis.


Bahkan disepanjang perjalanan, air mata Chan terus saja mengalir. Walaupun dia tidak bersuara.


Binar sedang bersiap di atas sepeda motornya untuk pergi bekerja saat ia mendengar suara mobil yang berhenti didepan rumahnya.


Chan langsung turun begitu saja. Dia bahkan hampir terjatuh karna berlari menghampiri ibunya.


“Mama!!!” Pekiknya dan langsung memeluk Binar.

__ADS_1


“Chan, kenapa nangis?” Tanya Binar Bingung.


Ia melihat Pamungkas dan kedua orang tuanya turun dari mobil dan menghampiri mereka.


“Assalamu’alaikum, Bin.” Sapa Pamungkas.


“Wa’alaikum salam.” Jawab Binar yang kemudian berdiri untuk menyambut tamunya.


“Mari, silahkan masuk dulu, Om, Tante.” Imbuhnya mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumah.


Diruang tamu, Ustadz Syuhada sedang menikmati secangkir teh beserta pisang goreng. Ia segera berdiri saat melihat ada tamu yang datang. Begitu pula dengan Rukayah yang segera muncul dari dapur.


“Silahkan duduk, Mas, Om, Tante.” Binar mempersilahkan.


Binar menurunkan Chan dari gendongannya. Anak itu langsung menghambur kepangkuan kakeknya.


“Apa kabarnya Pak Ustadz?” Sapa Pamungkas.


“Alhamdulillah. Kabar baik. Ini....” Tanya Ustadz Syuhada meihat kepada orang tua Pamungkas.


“Kami orang tua Pamungkas, Ustadz. Saya Hendrana, dan ini istri saya, Haya.” Ujar Hendrana sambil menyalami Ustadz Syuhada.


“Ooo. Iya, iya. Saya ayahnya Binar. Dan itu istri saya.” Ujar Ustadz Syuhada memperkenalkan istrinya.


Rukayah segera menyalami Haya dan menagkupkan tangan untuk Hendrana dan Pamungkas.


“Silahkan diminum, Tante, Om, Mas Pam.” Ujar Binar. Kemudian ia mengambil tempat duduk disebelah ibunya.”


“Terimakasih, Binar.” Ujar Haya.


“Chan pasti merepotkan disana.” Ujar Ustadz Syuhada.


“Gak merepotkan, Ustadz. Tapinya dia terus nangis minta pulang.” Jawab Hendrana.


Chan yang sadar kalau dirinya sedang menjadi bahan pembicaraan, menenggelamkan wajahnya di dada kakeknya.


“Chan kok begitu? kan udah janji kemaren?” Tanya Rukayah.


“Gak apa-apa, Buk. Kami maklum kok. Lagi pula kan ini pertama kalinya Chan sama kami. Jadi wajar kalau dia masih belum nyaman.” Sela Haya.


“Saya jadi gak enak sama Bu Haya.” Ujar Rukayah.


“Nanti juga lama-lama dia akan terbiasa. Oh iya. Ini ada sedikit oleh-oleh.” Haya menyerahkan dua buah keranjang berisi buah kepada Rukayah.


“Ya ampun, kok malah jadi ngerepotin gini.” Kata Rukayah tak enak hati.

__ADS_1


“Gak apa-apa, Buk. Ini semua belum bisa dibandingkan dengan rasa terima kasih kami karna Ibuk dan Pak Ustadz sudah mau merawat dan membesarkan cucu kami.” Timpal Hendrana.


“Semua sudah takdir Allah. Sudah digariskan. Kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya dan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan-Nya. Begitu juga dengan Chan. Allah yang memberikan jalan agar Chan bertemu dengan kami.” Jawab Ustadz Syuhada.


“Kami sekeluarga sangat berterima kasih, Pak Ustadz. Tidak tau harus membalasnya bagaimana.”


“Tidak perlu membalasnya, Pak Hendrana. Keikhlasan kami, biar Allah saja yang membalasnya.”


“Tapi, kami belum pernah bertemu dengan ibu kandungnya Chan.” Timpal Rukayah.


“Insha allah nanti kalau ada waktu, aku ajak dia kemari, Pak Ustadz.” Jawab Pamungkas.


Entah kenapa, mendengar itu, hati Binar sakit sekali. Ia seolah tidak rela jika ada ibu lain untuk Chan. Sakitnya bukan apa, mengingat perbuatan wanita itu yang tega membuang bayinya sendiri. Sementara diluar sana, banyak pasangan yang sedang menantikan buah hati mereka dan tidak kunjung diberi walaupun sudah berusaha keras untuk mendapatkannya.


“Nak Binar, maaf kalau om baru bisa bilang ini sekarang. Dengan tulus, Om mohon maaf atas apa yang sudah terjadi dua tahun yang lalu. Kamu terpaksa kehilangan pekerjaan karna ketidak mampuan Om. Karna Om kurang bijaksana.” Ujar Hendrana dengan sangat hati-hati. Ia memang sudah merencanakan hal itu. Ingin meminta maaf kepada Binar dan keluarganya.


“Yang udah lalu, gak usah diungkit lagi, Om. Kami sekeluarga udah ikhlas. Musibah itu adalah teguran, jadi pelajaran buat saya pribadi untuk terus memperbaiki diri.” Jawab Binar bersungguh-sungguh.


“terimakasih, Binar. Kamu memang wanita yang bijaksana. Berutung pria yang akan jadi suamimu nanti.” Ujar Haya. Entah kenapa tatapan matanya seolah sedang berharap sesuatu.


“Terimakasih, tante. Tapi saya masih banyak sekali kekurangan. Saya belum sebijaksana itu.” Ujar Binar merendah. Karna dia memang merasa seperti itu. Mendapatkan pujian seperti itu membuatnya merasa kecil.


Lama mereka mengobrol ringan perihal tumbuh kembang Chan. Dari dia kecil, sampai sekarang. Sesekali Haya dan Hendrana dibuat tertawa saat mendengar tingkah lucu cucu mereka. Pembahasan itu bahkan sampai di pertanyaan seputar Binar.


Sedangkan Pamungkas, ia hanya sibuk menatapi lantai di bawah meja. Seolah sedang memikirkan sesuatu yang sangat penting.


“Pak Ustadz, Ibuk, Binar. Kalau boleh, saya ingin mengatakan sesuatu.” Ujar Pamungkas dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


Hendrana dan Haya juga menatap putranya itu dengan ekspresi bertanya-tanya. Penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Pamungkas.


“Kalau diperkenankan, saya ingin melamar Binar untuk menjadi istri saya.”


*


*


*


*


*


Bersambung...


kakak2 yang baeq hatinya,,, maaf hari ini cuma bisa up 1 bab dulu. lagi sibuk rewangan soalnya.. musim huian musim pesta...

__ADS_1


semoga kalian sabar menantinya... 😁😁


boleh dong like sama komentarnya.... 🤗🤗


__ADS_2