Pindah

Pindah
77


__ADS_3

Chan sedang bermain dengan ponselnya dikamar dengan


menggunakan headphone. Seragam sekolah SMA masih melekat di tubuhnya. Ia bahkan


tidak mendengarkan saat Roni mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Sebenarnya bukan


tidak dengar, tapi ia memilih untuk tidak mau menggubrisnya.


“Aden!!” Panggil Roni lagi.


Setelah sekian kali panggilan, dengan menghela nafas kesal Chan


bangun dari ranjangnya dan pergi untuk membuka pintu.


“Ada apa sih, Oom?” Tanya Chan dengan nada kesal.


“Bapak udah nunggu di bawah.” Roni memberitahu.


Chan melirik jam tangannya. Kemudian kembali masuk kedalam


kamarnya untuk mengganti baju. Tidak berapa lama ia keluar dan langsung turun


ke bawah.


Ia mendapati Pamungkas yang sedang berkacak pinggang tepat


di ujung tangga dengan alis yang berkerut.


“Lama bener? Kasihan Mama udah lama nunggu.” Ujar Pamungkas.


Namun Chan nampak tidak begitu peduli. Ia terus melewati Pamungkas


begitu saja.


Di ruang tamu, Hendrana dan Haya ternyata juga sedang


menunggunya. Kakak dan Neneknya itu langsung berdiri bergitu melhitan Chan melewati


mereka.


Haya menghela nafas dalam melihat sikap cucunya itu yang


terasa sangat dingin.


Selama perjalanan, Chan duduk di kursi depan dengan terus


bermain dengan ponselnya. Jari jemarinya lincah memainkan game online yang ada


di ponselnya. Sedangkan Kakek dan Neneknya ada di mobil lain.


“Chan mau beli sesuatu gak buat Kakung sama Uty?” Tanya Pamungkas.


“Terserah.” Jawab Chan lirih. Jelas sekali kalau ia sedang


malas menanggapi Pamungkas.


“Kamu ini. Gak bisa apa sopan dikit kalau orang tua ngomong?”


Dengus Pamungkas. Lama-lama ia kesal juga dengan kelakuan putranya itu. “Papa aduin


sama Mama baru tau rasa kamu.” Ancam Pamungkas.


“Percuma. Mama juga gak akan peduli.”


Pamungkas kembali menghela nafas dalam. Berusaha menguatkan


hati dengan sikap yang selalu ditunjukkan Chan kepadanya.


Roni hanya berani sesekali melihat Chan yang duduk di


sampingnya. Ia merasa trenyuh dengan sikap adennya itu. Padahal dulu Chan anak


yang periang dan sopan kepada orang lain. Tapi semua itu seolah menghilang di


telan waktu.


Pamungkas menyuruh Roni untuk menghentikan mobil di salah


satu toko penjual bunga langganan mereka. Ia turun dari mobil kemudian masuk


kedalam toko itu,


“Selamat datang, Pak. Mari,, mau cari apa?” Sapa seorang gadis


muda yang langsung menyambut Pamungkas.

__ADS_1


Pria itu hanya mngerutkan keningnya. Gadis yang melayaninya


itu sepertinya karyawan baru, sehingga dia tidak mengenali Pamungkas. Kalau


karyawan yang biasa melayaninya sudah pasti akan tau karna hampir setiap bulan Pamungkas


mampir di toko itu untuk sekedar membelikan bungan untuk Binar.


“Kasih aku bunga terbaik.” Ujar Pamungkas.


“Maaf kalau boleh tau bunganya buat siapa, Pak?"


“Buat istriku, sama kedua mertuaku.”


Gadis itu segera menyiapkan bucket bunga yang sesuai dengan


permintaan Pamungkas.


“Gimana sama yang ini, Pak?” Tanya gadis itu sambil menunjuk


buket bunga tulip berwarna merah. “Kata orang bunga ini artinya cinta yang


abadi dan sempurna. Cocok sekali kalau mau di kasih ke istri bapak.”


Pamungkas memandangi bunga itu. Memang nampak sangat indah.


Ia kemudain mengangguk setuju dengan pilihan gadis itu.


“Ya udah, kasih itu satu. Terus bunga mawarnya dua buket ya.”


“Iya, Pak. Tolong tunggu sebentar.”


Selesai membayar bunga yang dia beli, Pamungkas kembali


masuk kedalam mobil. Dan Roni segera melajukan mobilnya.


Setengah jam kemudian, mobil yang membawa mereka sudah


sampai di tempat tujuan. Roni segera memarkirkan mobil ditempat parkir yang


tersedia. Sejajar dengan mobil yang membawa Hendrana dan Haya yang sudah sampai


di sana terlebih dahulu.


“Chan, udahan dong main hapenya. Udah sampek lo. Gak sopan


santun.” Tegur Pamungkas.


Baru setelah mendapatkan teguran itu, Chan memasukkan


ponselnya ke dalam saku.


Mereka semua berjalan beriringan menuju ke tempat Binar dan


kedua orang tuanya berada. Menyusuri setiap jalan kecil yang ada didepan mereka


dengan hati-hati.


“Assalamu’alaikum, Bin. Aku udah datang. Udah lama ya


nunggunya?” Sapa Pamungkas.


“Assalamu’alaikum, Ma.” Chan ikut menyapa ibunya.


Pamungkas meletakkan buket bunga yang ia bawa tepat di depan


nisan Binar. Ia mengelus nisan itu seolah ingin mencurahkan kerinduannya kepada


istrinya.


Chan juga ikut berjongkok didepan Pamungkas. Ia memandangi


nama Binar yang terukir indah di batu nisan itu. Ada kerinduan yang teramat


sangat yang sedang di rasakan remaja itu.


Pamungkas sekuat tenaga menahan airmatanya yang sudah


berdesakan ingin keluar. Ia meminta dua buket bunga yang sedang dipegang oleh Roni


dan memberikannya kepada Chan.


“Nah, kasihkan sama Kakung sama Uty.”


Perlahan Chan bangkit kemudian berjalan ke makan Kakung dan Utynya

__ADS_1


yang berada di kanan dan kiri makam Binar.


Setelahnya mereka semua kompak membacakan surat yaasin untuk


almarhumah Binar dan kedua orang tuanya.


Tumpah sudah air mata Pamungkas. Ia tak bisa menahannya


lagi. Setiap bulan ia mengunjungi nakam istrinya, dan dia selalu menangis saat


membacakan doa untuk Binar.


Sedangkan Chan, berusaha mengalihkan rasa sedih dan rindunya


dengan mencabuti beberapa rumput yang tumbuh di atas pusara ibunya. Walaupun


dengan dada yang bergemuruh dan ingin meraung saja rasanya.


Bahkan Haya dan Hendrana pun tak bisa menahan air mata


mereka. Saat mengingat semua perjuangan menantu mereka itu.


Hampir satu jam mereka habiskan berada di pemakaman. Sampai Pamungkas


beranjak dan semua mengikutinya. Terkecuali Chan.


“Ayo, Chan. Kita pulang.” Ajak Pamungkas.


Anak itu masih ingin berada disana lebih lama. Ia tidak


peduli jika Pamungkas meninggalkannya sendirian disana. Ia belum selesai


mencurahkan kerinduannya kepada Binar.


“Chan?” Panggil Pamungkas lagi.


“Biarin aja dulu. Kita duluan aja. Tunggu di mobil.” Ujar Haya


mencoba memahami kerinduan yang sedang dirasakan oleh cucunya.


Pamungkas menghela nafas pias. Tapi ia tetap menuruti kata


ibunya. Mereka semua berjalan meninggalkan Chan yang masih setia duduk bersila


di atas tanah di samping makam ibunya.


Chan terus memandangi ukiran nama Binar. Perlahan ia


mengusap nisan itu. Dan airmatanya pun langsung menetes tak terkendali. Ia


menundukkan wajahnya dalam.


“Ma,,, aku kangen sama Mama. Kangennnn banget. Semoga Mama


baik-baik aja disana, ya? Aku pengen ketemu sama Mama. Aku kangen, Ma...” Airmata


Chan semakin deras mengalir. Ia menenggelamkan wajahnya di pusara Binar.


Menumpahkan semua kerinduannya disana. Berharap kepada Allah semoga semua doa


yang selalu dia panjatkan akan sampai kepada ibunya.


“Maafin aku, ma. Maafin aku yang gak bisa lindungin Mama


sampai akhir. Maafin aku yang terlalu bodoh sampai telat tau kalau Mama lagi


sakit, tapi akunya malah nakal. Tapi sekarang Mama udah seneng kan disana?


Dijagain sama Kakung sama Uty juga. Pasti udah gak sakit lagi. Aku juga kangen


banget sama Kakung sama Uty. Nitip Mama ya, kung. Uty juga.” Lirih Chan sambil


mengangkat wajahnya.


Ia menyeka airmatanya kemudian bangkit dan berjalan


meninggalkan pusara mereka.





__ADS_1


*


TAMAT


__ADS_2