Pindah

Pindah
18


__ADS_3

‘ Reanty sampai sejauh itu. Sampai menghubungkannya dengan Binar.



“Binar!” Pekik Pamungkas dan Ubay secara bersamaan.


Kemudian mereka bergegas untuk mencari Binar di UGD.


*****


“Yul, aku mau keatas dulu ya. Ibukku ada diatas lagi jenguk ibunya mas Nazril.” Pamit Binar kepada Yuli.


“Gak makan dulu?” Tanya Yuli sambil membereskan berkas-berkas dari meja operator.


“Nanti aja. Aku mau makan siang sama Ibuk.”


“Yaudah. Buruan, gih.”


Setelah mendapat persetujuan Yuli, Binar melenggangkan kakinya menuju ke lantai tiga.


Sesampainya dilantai tiga, Binar segera masuk kedalam ruang 311 tempat diyah dirawat.


Ia tersenyum mendapati Diyah dan ibunya masih asyik bercerita dengan tema yang sama.


“Assalamu’alaikum, Buk.”


“Wa’alaikum salam. Udah datang Bin?” Jawab Rukayah.


“Iya, Buk. Jam istirahat. Gantian sama temen.” Jawab Binar


Binar langsung mengedarkan pandangannya mencari sosok Nazril. Tapi pria itu tdak ada disana.


Saat pintu kamar mandi terbuka, muncullah Nazril dari sana. Ternyata pria itu sedang berada didalam kamar mandi.


“Baru datang, Bin?” Sapa Nazril.


“Iya, Mas.” Jawab Binar. Ia masih teringat dengan perkataan Nazril tadi pagi.

__ADS_1


“Ibuk butuh apa? Biar Binar carikan.” Tawar Binar kepada Diyah.


“Gak usah Bin. Ibuk gak selera makan apa-apa.” Jawab diyah.


“Iya. Itu Ibuk kupaskan apel aja gak dimakan.” Rukayah menimpali.


“Mulutnya rasanya pahit.” Timpal diyah.


“Ibuk mau makan siang? Ayo Binar temenin ke kantin.”


“Gak lah, Bin. Ibuk belum laper. Nanti aja.”


Binar mengangguk. mengerti, kemudian berdiri didekat jendela. Memperhatikan dua sahabat itu yang masih meneruskan cerita mereka.


Ia mendengar ponselny berbunyi. Dan segera ia ambil dari dalam saku bajunya.


“Apa Yul?” Tanya Binar.


“Bin, kamu dimana?” Suara Yuli terdegar sangat panik.


Saat sekilas Binar melihat kearah tv.


Kenapa ada fotonya bersama Pamungkas disana?


Seketika ia hilang fokus kepada suara Yuli. Dan kini perhatiannya tertuju ke layar tv yang terpasang di ruangan itu.


Binar sangat terkejut. Sampai lengan yang sedang memegang ponsel ikut lunglai. Untung ponselnya tidak terlepas dari genggamannya.


Seketika otaknya berhenti bekerja. Ia berusaha keras memahami apa yang sedang terjadi.


“Hana oya, Nak? (apa itu nak?)” Tanya Rukayah yang kini juga sedang memperhatikan tv dengan ekspresi terkejut. Lebih tepatnya, kecewa.


Binar tidak menjawab. Baginya, waktu sedang berhenti saat ini.


“Bin?” Panggil Nazril dengan ekspresi yang sama dengan Rukayah.


“Nduk!” Pekik Rukayah. “Berita hana oya? (itu tu berita apa?)”

__ADS_1


Perlahan Binar memalingkan wajahnya kepada ibunya.


Tatapan mata Binar nampak kosong, dan Bingung. Ia sendiri tidak mengerti kenapa bisa ada fotonya di tv. Bersama dengan Pamungkas?


Diyah hanya mengernyitkan keningnya dengan terus fokus kearah tv. Mereka semua fokus melihat berita itu.


Bahkan Binar baru tahu kalau Pamungkas sudah bercerai dari istrinya. Tapi kenapa harus ada fotonya disana? Binar tidak mengerti.


“Bin, jelaskan. Itu apa maksudnya?” Rukayah mulai kehilangan kesabaran karna Binar tak kunjung menjawabnya.


“Binar juga gak ngerti Buk. Ada apa ini?” Binar menatap pias kepada ibunya.


“lha terus itu apa? Kok ada fotomu bareng pak dokter yang tadi? Bin?!”


Rukayah, Diyah, Nazril. Dan bahkan pasien dan keluarga pasien yang ada diruangan itu sedang menunggu penjelasannya. Tapi apa yang harus dijelaskan? Dia benar-benar tidak mengerti kenapa namanya terseret dalam kisah perceraian antara Pamungkas dan mantan istrinya.


Mereka menyebutnya sebagai orang ketiga diantara Pamungkas dan mantan istrinya.


Benar-benar tidak mask akal.


Binar semakin terpojok.


*


*


*


*


*


Bersambung...


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2