Pindah

Pindah
25


__ADS_3

Binar berhasil melewati shifnya dengan tenang.


Hal itu tidak lepas karna bantuan teman-teman yang selalu menghiburnya. Meyakinkannya bahwa tidak perlu mempedulikan semua tatapan orang-orang itu.


Via memenuhi janjinya untuk mentraktir bakso untuk Binar dan yang lainnya.


Mereka berempat berjalan kearah luar rumah sakit dan berhenti disebuah gerobak kaki lima yang berjualan di samping rumah sakit.


“Wwiiihhh...” Yuli yang maniak bakso sudah tidak sabar lagi.


Memang tempatnya sederhana, tapi rasa baksonya sudah tidak diragukan lagi. Mereka sudah sering makan disana.


Mang bakso sedang meracik pesanan mereka, saat tiba-tiba ponsel Binar berbunyi.


Telfon dari Ubay.


“Iya, Mas?” Sapa Binar saat dia sudah mengangkat ponselnya.


“Dimana, Bin?” Tanya Ubay dari seberang.


“Lagi di depan, Mas, makan bakso sama anak-anak.”


“Bisa kesini, gak?”


“Kemana?”


“Keruangannya Pam.”


Binar terdiam sebentar.


“Ngapain?”


“Udah, pokoknya buruan kesini, ya cepetan.”


Tut,, tut,, tut,,


Ubay segera menutup sambungan telfon begitu saja. Membuat Binar sedikit merenguti ponselnya sendiri.


“Siapa?” Tanay Sonya.


“Ehmm,, pergi bentar ya. Disuruh keruangannya Dokter Pam.” Pamit Binar sambil menyambar tasnya dari bangku papaan di sampingnya.


“Ngapain?” Tanya via.


“Butuh ditemenin gak?” Yuli ikut bertanya.


Binar hanya mengangkat kedua bahunya saja. Kemudian iapun berbalik dan meninggalkan teman-temannya.


Binar berjalan menuju lift yang akan membawanya keruangan Pamungkas.


Saat lift terbuka, sudah ada beberapa pegawai ruah sakit didalamnya. Binar berusaha menenangkan diri dan mengangguk ramah kepada mereka.


Rasanya sangat canggung. Kalau bisa memilih, akan lebih baik dia naik tangga saja. Tiba-tiba dia menyesal karna sudah naik lift bersama dengan mereka.


Saat litf terbuka di lantai 4, Binar segera keluar dengan diiringi oleh tatapan penasaran dari orang-orang itu. Membuatnya mempercepat langkahnya dan berbelok di ujung oridor.


Ia berdiri lama didepan pintu ruangan Pamungkas. Memandangi daun pintu itu dengan keraguan.


Tok,, tok,, tok,,


“Masuk.” Perintah suara orang yang ada didalam.


“Oh, Bin. Udah dateng? Sini duduk.” Ubay mempersilahkan dengan ramah.

__ADS_1


Binarpun segera duduk di sofa kosong di dekat Ubay. Sedangkan Pamungkas duduk dihadapan mereka.


“Kenapa manggil saya, Dok?” Tanya Binar dengan intonasi yang sangat sopan.


“Kamu baik-baik aja?” Sebuah pertanyaan pembuka dari Pamungkas. Membuat dahi Binar berkerut.


“Iya.” Jawab Binar singkat.


Ubay bisa merasakan suasana disana sangat canggung.


“Maaf ya, Bin. Kamu jadi kebawa-bawa masalahku. Tapi udah diselesain kok Bin. Tadi kami udah wawancara sama media dan jelasin semuanya ke mereka. Aku juga udah minta sama mereka buat gak ungkit-ungkit nama kamu lagi.”


“Terimakasih, Pak. Saya harap masalah ini segera selesai. Kalau udah gak ada yang mau dibicarakan lagi, saya permisi dulu.”


Binar benar-benar tidak nyaman berada diruangan itu. Ia ingin segera keluar dari sana secepat mungkin.


Kening Pamungkas berkerut. Ia tidak menyangka kalau Binar akan bersikap sedingin itu padanya.


“Tunggu, Bin. Masih ada yang mau aku omongin.” Pamungkas mencegah Binar untuk pergi. “Bay, gue minta tolong dong, gue mau bicara berdua sama Binar.”


Dan kini, gantian kening Ubay yang berkerut.


Tapi akhirnya Ubay pun keluar dari ruangan itu setelah melihat tatapan memohon dari netra Pamungkas. Walau dengan berat hati tentu saja.


Kini tinggal Pamungkas yang sedang menatap Binar yang duduk dihadapannya. Wanita itu tidak berani mengangkat kepalanya. Ia merasa was-was, apa kiranya yang ingin dibicarakan oleh Pamungkas. Nampaknya sangat penting.


“Kamu gak mau maafin aku, Bin?”


Binar mengangkat kepalanya, tapi masih tidak mau menatap Pamungkas.


“Gak ada yang perlu dimafkan, Dok. Saya juga salah disini. Saya masih kurang menjaga sikap saya. Ini teguran buat saya karna kurang menjaga diri. ”


Sakit hati Pamungkas melihat sikap Binar padanya. Terasa dingin dan menusuk relung hatinya. Tatapannya kian pias.


Binar hanya diam saja. Ia tidak memungkiri hal itu. Jauh dilubuk hatinya, ia memang menyalahkan Pamungkas.


“Maafin aku, Bin.”


“Maaf, Dok. Saya gak punya banyak waktu. Saya masih ada janji dan harus segera pergi.”


Pamungkas hanya bisa membiarkan Binar melangkah keluar dari ruangannya. Walau sebenarnya ia masih ingin berbicara dengan gadis itu lebih lama lagi.


“Udah?” Tanya Ubay saat Binar baru keluar dari ruangan Pamungkas.


Binar hanya menjawabnya dengan mengangguk. Kemudian melanjutkan langkahnya.


Ubay segera mensejajarkan dirinya dengan Binar.


“Ngomongin apa sih?” Selidik Ubay. Dalam hati ia mengkhawatirkan tentang hal yang dibicarakan Pamungkas dengan Binar.


“Idih, kepo.”


“Elahhh... Pelit amat.” Protes Ubay.


“Mas tanya langsung aja sama sahabat Mas itu.”


Ubay hanya bisa mencibir karna usahanya untuk mengorek informasi gagal.


Binar tidak menggubris omelan Ubay. Karna ponselnya kembali berdering.


“Assala’mu’alaikum, Buk.” Jawab Binar. Itu adalah telfon dari ibunya.


“Bin, kami gak jadi ke rumah sakit. Tadi Nazril nelfon katanya dia sama ibunya udah di pondoknya Kiai Mukhsin. Ini Ibuk sama Ayah, sama Pakde juga Budemu, sama Ikhsan, mau langsung ke pondok aja.”

__ADS_1


“Iya, Buk.”


Binar tidak tau kalau Diyah sudah diperbolehkan pulang. Karna memang hari ini dia tidak ada menjenguknya.


Dalam hati Binar terus berdoa, semoga semuanya berjalan lancar. Tapi semuanya ia kembalkan lagi kepada Sang Maha Pemberi Jodoh.


“Bin? Kok malah ngelamun gitu?”


Sengolan Ubay di lengannya menyadarkan Binar.


“Mas mau ikutan makan bakso, gak? Via yang traktir.”


“Wokee,,, siap aku mah.” Ubay nampak senang mendapat tawaran itu.


Keduanyapun berjalan menuju keluar rumah sakit untuk bergabung dengan teman-teman Binar.


Sesampainya di tempat, teryata Via, Sonya, dan Yuli sudah menyelesaikan makanan mereka. Binar hanya nyengir saja kemudian duduk ditempat duduknya semula.


“Hai.” Sapa Ubay.


“Mas Ubay ngapaian ikut kesini?” Protes Via dengan wajah pura-pura tidak suka dengan kedatangana Ubay.


“Ya mau minta traktiran kamu dong. Masak mereka aja yang ditraktir. Aku juga mau.” Jawab Ubay cuek. Ia kemudian memesan satu porsi bakso kepada penjual.


Via mencibir mendengar pemaksaan itu.


Binar tidak menggubris. Ia hanya fokus menikmati bakso bagiannya yang sudah dingin.


Fikiran Binar sedang melalang buana ke sebuah pondok pesantren milik Kiai Mukhsin. Ia membayangkan satu-persatu orang-orang yang ada disana.


Mereka sedang membicarakan tentang dirinya. Tentang pernikahannya dengan Nazril. Pa semuanya akan berjalan lancar? Ada sedikit ketidak tenangan dihatinya. Entah karna apa.


Perasaan itu juga memicu kenangan masa lalunya saat sekelebat bayangan Pamungkas tiba-tiba lewat disana.


Ahh,,, fikirannya sudah mengakar kemana-mana.


Astaghfirullah hal adzim.


Binar beristigfar untuk menenangkan hatinya.


Dan ternyata tingkah diamnya itu sedang diperhatikan oleh Yuli.


“Kamu kenapa, Bin?” Tanya Yuli.


Binar terkejut dan langsung menatap Yuli. “Ha? Gak apa-apa kok.”


Binar masih belum ingin untuk memberitahu teman-temannya. Karna disana juga sedang ada Ubay. Ia tidak enak jika harus menceritakan perihal ia dan Nazril. Demi menjaga perasaan Ubay.


*


*


*


*


*


Bersambung...


jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...


terimakasih...

__ADS_1


__ADS_2