
Binar memandang wajahnya didepan cermin. Kelopak matanya agak membesar. Membuatnya agak sulit untuk membuka mata secara sempurna. Seperti ada yang mengganjal. Itu karna ia beberapa kali menangis tadi malam.
Setelah merapikan pakaiannya, ia berjalan keluar kamar dan menuju ke meja makan.
Disana sudah ada Ayah dan Ibunya, dan juga putra kesayangannya yang sedang menyantap sarapannya.
“Pergi kerja, Nduk?” Tanya Rukayah.
“Iya, Buk.” Jawab Binar mantab.
Ia sudah berfikir sejak semalam. Dan ia memutuskan untuk memberanikan diri. Toh dia tidak merasa bersalah. Jadi tidak ada yang perlu ditakuti. Seperti ucapan Ubay semalam.
“Nanti juga kami mau ke rumah sakit. Tapi nunggu Pakde sama Budemu sampai.” sela Ustadz Syuhada.
“Ngapain, Yah?” Tanya Binar. Padahal ia sudah tau alasannya. Binar ingin memastikannya saja.
“Mau membicarakan tentang pernikahanmu dan Nak Nazril.”
Binar tersenyum samar. Dalam hati ia berdoa semoga semuanya berjalan lancar. Mungkin jalan keluar dari masalah ini adalah pernikahan.
Tapi lagi-lagi, Binar teringat dengan perkataan Nazril kemarin dirumah sakit.
“Bin. Kalau kamu udah lelah nunggu aku, aku gak apa-apa kok kalau kamu mau menyerah tentang rencana pernikahan kita.”
“Aku masih belum bisa membagi perhatianku Bin. Keadaan Ibukku semakin parah.”
“Aku gak tega sama kamu, Bin. Di satu sisi, aku pengen banget langsung ngelamar kamu saat ini juga. Tapi disisi lain, ada Ibuk yang harus aku perhatikan. Dan lagi, aku masih ragu, Bin.”
“Aku takut gak bisa menyayangi Chan sepenuhnya. Dan itu akan sangat menyakitkan buat Chan. Dan berdosa buat aku.”
Kalimat terakhir itu yang paling menusuk hati Binar. Ia menatap Chan pias. Anak itu bahkan tidak peduli dan terus saja menikmati sarapannya.
Ingin rasanya Binar memberitahukan kepada Nazril yang sebenarnya. Siapa ayah Chan, dan sebagainya. Tapi hal itu akan berdampak buruk bagi Chan kalau sampai cerita itu sampai ketelinganya
Hal itulah yag membuat Binar dan keluarganya tidak tega dan memilih menutup rapat tentang Chan.
Lagipula, Chan sudah mengisi seluruh hati dan cinta milik Binar. Dia sangat menyayangi putranya itu.
Masa lalu yang buruk, tidak pantas diungkit kembali, bukan?
“Yaudah, nanti tefon Binar aja ya, Buk.” Pesan Binar.
Rukayahpun mengangguk sambil menyelesaikan sarapannya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, hati Binar terus diliputi oleh keraguan. Hampir saja ia memutar arah dan berbalik pulang. Tapi niatnya kembali kuat saat mengingat ucapan Ubay semalam.
Perlahan dia membelokkan sepeda motornya menuju ke tempat parkir rumah sait MMC.
Dan seperti biasanya, Wahyu selalu menyambutnya dengan tersenyum ramah.
__ADS_1
“Pagi, Mbak Binar.” Sapa pria paruh baya itu.
“Pagi juga, Pak. Kelihatan sumringah nih Pak..” Balas Binar kembali.
“Hehehe.. Biasa Mbak. Kan hari ini gajian.” Seloroh Wahyu menampakkan deretan gigi-giginya.
Entah kenapa, suasana atmosfer disekitar Binar sangat berbeda ia rasakan. Walaupun semua nampak normal seperti biasanya, tapi ada hal yang mengganjal di perasaannya.
Binar jadi lebih mudah curiga saat ada orang yang lewat dan sedang mengobrol, tapi sambil memperhatikannya. Ia langsung berfikir kalau mereka sedang membicarakannya.
“Saya permisi masuk dulu ya, Pak.” Pamit Binar yang langsung melangkahkan kakinya dengan berlari kecil masuk kedalam UGD. Tanpa menunggu jawaban dari Wahyu.
Ia sempat berhenti sejenak dan memandang sekelilingnya. Memang ada beberapa rekannya yang sedang berbisik-bisik sambil melirik kearahnya.
Binar segera masuk kedalam ruang istirahat untuk menaruh tasnya di dalam loker. sebelum keluar dari ruangan itu, ia mengambil nafas dalam kemudian meghembuskannya perlahan.
Berusaha menenangkan batinnya yang risih dengan tatapan orang-orang kepadanya. tapi ia mencoba untuk tidak peduli.
*****
Suasana ruang konferensi di hotel GM nampak sudah dipenuhi oleh awak media yang sedang memburu kabar tentang Pamungkas dan Reanty.
Seorang manajer hotel sibuk membantu mengarahkan tempat duduk untuk mereka.
Didalam mobilnya, Reanty sedang mempersiapkan diri dibantu oleh Lutfi. Biarpun tengah diterpa skandal, tapi ia harus tetap tampil maksimal. Keanggunannya benar-benar sulit ditandingi.
“Mas Pam udah dateng belum, Fi?” Tanyanya kepada Lutfi.
“Yaudah, yuk.”
Reanty merapikan rambut hitamnya yang digerai sebelum ia turun dari mobil.
Saat Reanty sampai didepan pintu ruangan konferensi, Pamungkas muncul dari arah samping kanannya.
Melihat kedatangan pria itu, senyumnya otomatis muncul begitu saja.
Dan seperti basa, Pamungkas sedang berusaha bersikap ramah padanya. Pria itu membalas senyuman Reanty walau terlihat sangat canggung.
Keduanya masuk kedalam ruangan secara bersamaan.
Dan sorot lampu kamera langsung menghujani keduanya.
Pamungkas dan Reanty duduk diatas podium. Dan konferensi pers itu dimulai.
Pamungkas dan Reanty langsung masuk ke intinya tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
“Saya harapkan pengertiannya ya temen-temen media. Perceraian kami itu murni karna ketidak cocokan diantara kami. Dan sama sekali gak ada hubungannya sama pihak ketiga, pelakor, atau apapun itu.” Pamungkas yang memulai penjelasan terlebih dahulu.
“Jadi mohon untuk tidak memberitakan pihak yang memang gak ada hubungannya sama kasus ini.” Imbuh Pamungkas.
__ADS_1
Reanty hanya menundukkan kepalanya saja. Entah apa yang sedang dia fikrikan.
Tapi kemudian ia mengangkat kepalanya saat Pamungkas menyenggol lengannya.
“Mbak Reanty, apa itu benar?” Tanya salah satu wartawan.
“Oh? Eh, , iya. Bener. Perceraian kami itu sama sekali gak ada hubungannya sama pihak ketiga. Gak ada wanita lain, atau pria lain disini. Untuk alasan sebenernya, maaf ya temen-temen, kami gak bisa kasih tau karna itu ranah pribadi kami.” Jelas Reanty dengan kening yang berkerut.
Seolah ia terpaksa mengatakan itu.
“Jadi mohon temen-temen jangan berspekulasi yang bukan-bukan lagi, ya. Ini semua gak ada hubungannya sama cewek itu.”
“Tapi kan Mas Pam nganterin cewek itu pulang malem-malem.” Tanya wartawan lain.
Reanty menoleh kepada Pamungkas.
Pamungaks tahu, kalau dia sampai membuka mulut, maka pertanyaan mereka tidak akan selesai sampai disini. Jadi dia menganggguk kearah Fauzan bermaksud memberi kode kepada sekretarisnya itu.
Fauzan segera mengambil alih keadaan. Ia memberitahu kepada para awak media kalau Pamungkas tidak punya banyak waktu. Dan memaksa untuk mengakhiri wawancara itu sampai disini.
Pamungkas dan Reanty berjalan keluar dari ruangan dengan pengawalan dari pihak keamanan hotel. Karna awak media masih berusaha untuk mengorek informasi dari mereka.
Keduanya baru bernafas lega saat berhasil keluar dari ruangan itu.
“Makasih, ya.”
Sebuah ucapan yang entah kenapa terdengar menyaktkan bagi Reanty
“Sama-sama, Mas. Udah seharusnya kita lurusin ini. Apa itu berati kita gak akan jumpa lagi?”
“Kita masih bisa makan malam sesekali.” Jawab Pamungkas dengan tatapan hangat yang sudah lama tidak dilhat oleh Reanty. “Kabari aku kalau kamu butuh temen cerita. Aku masih bisa dengerin curhatanmu.”
“Hemph...” Reanty tersenyum pahit. Ia mengangguk pelan sambil mengulurkan tangannya.
Dan Pamungkas menyambutnya. Ia menggenggam erat tangan mantan istrinya itu. Seolah menandakan kalau kisah mereka benar-benar sudah berakhir.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak... kalau berkenan vote nya juga boleh...
__ADS_1
terimakasih...