
Pamungkas benar-benar menepati janjinya dengan Reanty.
“Sialan kalian.” Gerutu Pamungkas.
“Lagian lo pergi ke club minumnya begituan.
“Halaaahh,, duda aja belagu lo, Pam. maunya, jadi cowok itu kayak Danu, noh. Setia sama istri satu dirumah.” Celoteh Reno.
“Iya, setia, setiap tikungan ada kan maksudnya?”
“Oi, Bay.” Sapa Danu dengan mengangkat tanganyya.
begitu.” Celetuk Danu.
“
“Jadikan ini pelajaran. Kedepannya fokus aja perbaiki diri. Supaya gak gagal lagi.” Imbuh Ubay.
Reno dan Danu kembali terbahak mendengar ucapan Ubay.
“Halah Bay, Bay. Jomblo aja pake nasehatin orang segala lo.” Ejek Reno.
Ubay tersenyum menanggapi ejekan teman-temannya.
Dua jam setelah kedatangan Ubay, perut Pamungkas sudah terasa panas. Karna kebanyakan minum. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang saja.
“Baru jam segini udah mau pulang Pam? Nanggung.” Ujar Danu.
Pamungkas melirik jam tangannya. Sudah setengah dua dini hari.
“Besok gue banyak kerjaan.” Pamungkas beralasan.
“Gue juga mau balik. Besok gue ada operasi pagi.” Jelas Ubay dengan mengikuti Pamungkas.
Ubay dan Pamungkas kemudian pergi meninggalkan Reno dan Danu yang masih ingin menikmati minuman mereka.
__ADS_1
“Mau diantar gak?” Tawar Ubay. “Kayaknya lo capek banget gitu.”
“Gak usah. Supir gue udah standby.”
“Yaelah. Kenapa gak ngomong dari tadi.” Dengus Ubay.
“Ya elo gak nanyak.”
“Yaudah, buruan balik sana. Gak usah difikirin yang udah lewat. Oke.” Pesan Ubay sebelum ia masuk kedalam mobilnya sendiri.
Pamungkas menjawabnya dengan posisi hormat bendera.
Tidak lama kemudian mobil Pamungkas mendekat. Dan ia segera masuk kedalamnya. Menyandarkan kepalanya yang mulai terasa berat. Melirik keluar jendela, kejalanan yang masih saja ramai walau hari sudah larut begini.
*****
Pamungkas memicingkan matanya karna cahaya sinar matahari menembus jendela dan tepat mengenai wajahnya.
Rasanya masih enggan untuk terbangun. Kelopak matanya masih terasa berat.
“Astaga!” Pekiknya. Ia memundurkan tubuhnya sampai kesandaran sofa sangking terkejutnya. “Sejak kapan Mama ada disitu?”
Haya, ibu Pamungkas sedang duduk santai sambil menyeruput teh tepat disofa disamping Pamungkas.
“Ya sejak tadi.” Jawab Haya santai.
“Kapan Mama datang?”
“Tadi pagi-pagi sekali.”
“Papa?”
“Dikamar mandi.”
“Kenapa mendadak kesini?”
__ADS_1
“Karna siapa, coba?” Haya mulai menatap putranya dengan serius. “Bisa-bisanya kamu mengambil keputusan itu tanpa memberitahu kami.”
“Kalau aku kasih tau Mama sama Papa, memangnya bakalan setuju?”
“Ya memang gak setuju. Kalau udah begini gimana caranya anak kamu bisa ketemu, Pam”
“Ma, Rea bener-bener gak ingat. Mau dipaksa kayak gimanapun dia gak bakal bisa kasih tau aku. Karna dia memang gak ingat sama sekali.”
Haya hanya menghela nafas saja mendengar penjelasan dari putranya.
“Udahlah, Ma. Udah teranjur. Udah ketok palu. Kita cari jalan lain buat nemuin anak itu.” Timpal Hendrana Gumelar, ayah Pamungkas.
“Ya tapi kan kesempatannya semakin kecil, Pa.” Protes Haya. Ia masih tidak terima dengan perceraian putranya.
“Kalau Allah berkehendak, semua bisa saja terjadi, Ma. Aku akan terus beerusaha semaksimal mungkin buat nemuin anakku.” Pamungkas berusaha meyakinkan ibu dan ayahnya.
Perlahan Haya menitikkan airmata. Ia tidak menyangka kalau kehidupan pernikahan putranya akan berakhir dengan perceraian.
Ia merasa tidak terima karna gagal mengarahkan anaknya. Disisi lain, ia merasa bersalah dan kasihan kepada Reanty. Pasti berat bagi Reanty untuk memutuskan berpisah dengan putranya.
*
*
*
*
*
Bersambung...
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak...
terimakasih...
__ADS_1