
Taksi yang membawa Pamungkas dan Binar sudah sampai di komplek perumahan mewah. Kini taksi itu telah berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi dan bercat dominan warna putih.
“Kita udah sampe. Ayok.” Ujar Pamungkas.
Binar mengikuti langkah suaminya masuk area rumah itu dengan masih menggendong Chan yang sedang tertidur. Sementara Pamungkas mendorong koper dan menenteng tas milik mereka.
Binar agak tertegun juga melihat betapa mewahnya penampakan rumah itu. Dari luar saja sudah nampak mewah, apalagi di dalam.
Seorang wanita paruh baya dan pria yang lebih muda dari Pamungkas datang tergopoh-gopoh menyambut mereka.
“Sudah pulang, Den?” Tanya wanita itu.
“Apa kabar Mbok?” Tanya Pamungkas.
“Alhamdulillah kabar baik, Aden.” Mbok Sami menjawab sambil melihat kepada Binar yang sedang menggendong anak kecil. “Aden sih kenapa lama sekali baru pulang?”
“Biasa lah, Mbok. Lagi sibuk berpetualang.” Seloroh Pamungkas lagi sambil tertawa. “ Apa kabar, Ron?” Kini pertanyaannya beralih kepada pria muda yang sedang berdiri disamping Mbok Sami.
“Baik, Pak. Selamat datang kembali.” Jawab Roni.
“Oh, iya, kenalin, Mbok, Roni, ini istri dan anakku.”
Mbok Sami dan Roni hanya saling pandang saja mendengar perkenalan itu. Mereka seperti tidak mempercayai ucapan Pamungkas.
“Waaaahhh,, si Aden mah, lama gak pulang, pulang-pulang udah bawa istri sama anak aja.” Seloroh Mbok Sami.
“dia ini Mbok Sami, yang ngerawat rumah ini. Dan ini Roni, supir pribadiku.” Pamungkas memperkenalkan mereka kepada Binar.
“Saya Binar, Mbok. Dan ini Chan.” Jelas Binar memperkenalkan diri.
“Bapak kok gak bilang aja kalau mau pulang? Kan saya bisa jemput bapak.” Ujar Roni menimpali. Ia meminta koper dan tas yang dibawa Pamungkas untuk ia bawa.
“Gak apa-apa, yang penting kan sekarang aku udah dirumah.”
Pamungkas meminta Chan dari Binar. Kemudian mereka berjalan masuk kedalam rumah berlantai dua itu.
“Koper sama tasnya tolong di taruh di kamar atas aja ya, Ron.” Perintah Pamungkas.
“Iya, Pak.”
__ADS_1
“Kita tidurin Chan dulu di kamar, ya.” Ajak Pamungkas kepada Binar.
Binar hanya mengikuti setiap langkah suaminya itu dari belakang. Masuk kedalam sebuah kamar yang ada di lantai dua rumah itu.
Pamungkas membaringkan Chan di ranjangnya. Kemudian menyelimuti anak itu. Sementara Roni langsung keluar setelah meletakkan koper dan tas di sana.
“Selamat datang di rumah kita, sayang.” Ujar Pamungkas menatap penuh arti kepada Binar yang sedang berdiri di samping ranjang. Ia menebarkan senyum manisnya dengan kedua lesung pipi yang semakin dalam.
Mendapat panggilan sayang, hati Binar kembali berdesir. Ia jadi tersipu malu.
Tidak bisa membiarkan suaminya terus menggodanya, Binar memilih untuk mengatur pakaiannya kedalam lemari. Perasaannya risih karna tatapan Pamungkas tidak mau beralih darinya.
“Nanti aja sih diberesinnya. Sini dulu.” Panggil Pamungkas lagi. Ia menepuk kasur kosong di sebelahnya.
“Beresin ini dulu, Mas.” Elak Binar.
Dan Binar tidak menepati ucapannya. Setelah selesai membereskan barang-barangnya, ia melirik ke arah Pamungkas yang ternyata sudah ikut terlelap di samping Chan. Ini adalah kesempatannya untuk melarikan diri.
Jadi dia berjalan keluar kamar dengan perlahan. Kemudian turun dan menghampiri Mbok Sami yang sedang sibuk didapur menyiapkan makan malam.
“Masak apa, Mbok?” Tanya Binar yang hampir mengejutkan wanita itu.
“Gak apa-apa, Mbok. Biar saya bantu. Gak biasa tidur jam segini. Lagian sebentar lagi udah maghrib.” Binar berjalan menghampiri meja makan dan membantu Mbok Sami memetiki daun singkong dari batangnya.
“Oalah, Non. Biar Mbok aja yang ngerjain. Mendingan Non Binar keiling-keliling dulu.” Saran Mbok Sami.
“Besok aja, Mbok. Masih banyak waktu kalau cuma mau keliling-keliling. Ini mau dimasak apa, Mbok?”
“Daun ubi tumbuk. Kemarin Mbok di bawakan oleh-oleh teri medan sama keponakan.” Jelas Mbok Sami.
“Wah, enak kayaknya Mbok. Seger.”
Mbok Sami tertawa girang mendapati sikap Binar yang ramah padanya. “Mbok seneng deh, non Binar ramah walau baru ketemu. Beda sama non Reanty. Kalau dirumah diem bae. Jarang ngomong kalau gak ada yang penting. Mbok sampe gak enak sendiri kadang-kadang.”
Binar diam saja. Dia tidak tau mesti menanggapi seperti apa.
Mbok Sami menyadari kesalahannya. Dia telah menceritakan hal yang tidak seharusnya. “Waduh, maaf Non. Mbok sampe keceplosan. Malah nyeritain mantannya Den Pam. Maaf ya, Non.” Mbok Sami merasa tidak enak sendiri.
“Gak apa-apa kok Mbok. Biasa aja. Berarti Mbok udah lama ya kerja disini?”
__ADS_1
“Kurang lebih udah sekitar 7 tahunan lah Non.”
“Ooo.. Udah lama juga ya Mbok.”
“Iya, lumayan. Den Pam itu orangnya baik banget. Gak pernah neko-neko. Apalagi sampai menyinggung perasaan Mbok, makanya Mbok betah disini. Dimasakin apa aja selalu dimakan. Ramah. Pokoknya baik lah.”
Binar terkekeh mendengar betapa semangatnya Mbok Sami menceritakan kebaikan majikannya itu.
“Seumur-umur kerja disini, Mbok baru sekali lihat Den Pam marah sampe matanya sembab.” Lanjut Mbok Sami.
“Kapan, Mbok?” Binar jadi ingin tau.
“Kalau gak salah, sekitar dua tahunan yang lalu. Mbok gak inget tepatnya. Pokonya pas lagi rame-ramenya berita perceraiannya waktu itu. Waktu itu, temennya dateng terus mereka berantem disini. Sampe Den Pam di tonjok di mukanya sama temennya itu. Nah disitu Den Pam emosi banget, dia masuk kedalam kamarnya dan teriak-teriak. Mbok sampe takut waktu itu. Pas besoknya, Mbok mau bersihin kamarnya, banyak pot bunga yang udah pecah di kamar mandi. Mbok sampek kasihan. Ngeri juga. ”
Mendengar penjelasan dari Mbok Sami, membuat Binar menghentikan aktifitasnya sejenak. Dia baru tahu kalau Pamungkas juga sangat terpukul dengan kejadian itu. Tapi yang tidak dia tahu adalah, kalau semua itu karna dirinya.
“Mbok, ini diapain lagi?” Tanya Binar kemudian untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin terus membahas masa lalu yang menyakitkan untuk mereka itu.
“Udah, biarin aja, Non. Biar Mbok lagi aja yang ngerjain. Tinggal di tumbuk bentar kok.”
Binar mengangguk meng iyakan. “Yaudah Mbok. Kalau gitu aku mau keatas dulu,mau bangunin mereka.” Pamit Binar kemudian. Ia bejalan meninggalkan Mbok Sami yang masih berkutat dengan sayur mayurnya di meja makan.
Perlahan Binar membuka pintu kamar yang memang tidak tertutup sempurna itu. Mengintip sebentar kalau-kalau penghuni kamar itu sudah bangun. Tapi ternyata belum. Mereka bahkan tidak merasa terganggu dengan kehadirannya.
Binar duduk di tepian ranjang. Memandangi dua pria yang tidur dengan posisi yang sama dengan bibir yang setengah terbuka.
Pemandangan itu berhasil memantik sebuah senyuman di bibir Binar. Kalau diperhatikan dengan seksama, Chan memang mirip sekali dengan Pamungkas. Mulai dari hidung, mata, dahi yang agak lebar, bahkan posisi tidurnyapun sama. Benar-benar anak dan ayah.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1