
Binar sedang asyik dengan ponselnya. Melihat beberapa postingan teman-temannya di beranda sosial media. Sesekali ia memberikan komentar, atau sekedar menekan tombol suka.
“Lho, kenapa San?” Sergah Rukayah.
“Kami buru-buru, Bulek. Kasihan Abi kalau
Nazril Ilham. Sosok pria yang dewasa dan baik. Ia bekerja sebagai Ustadz di pesantren milik keluarga Ikhsan.
Nazril. Sudah jelas-jelas kalau Nazril punya prasaan kepada Binar.
“Nunggu ibuku sembuh dulu, Gus. Aku masih ingin fokus menyembuhkan ibukku.” Jelas Nazril lagi.
Ikhsan hanya bisa menghela nafas saja mendengar penjelasan itu.
*****
Binar kembali masuk kedalam rumah mengikuti langkah ibunya.
Dalam hati kecilnya ia masih ingin Nazril berada lama dirumahnya.
Astaghfirullah Haladzim......
Lirihnya. Ia merasa malu sendiri dengan fikirannya.
“Apa perlu Ayah bilang sama Pakdemu?” Tiba-tiba Ustadz Syuhada berbicara.
“Bilang apa, Yah?” Tanya Binar tidak mengerti.
“Soal nak Nazril.”
Ucapan Ustadz Syuhada langsung mengalihkan perhatian Binar. Ia menatap ayahnya dengan tatapan bertanya.
Binar mengerti apa maksud dari pertanyaan ayahnya itu.
__ADS_1
“Ayah kan tau. Semua orang mungkin akan menerima Binar, tapi Binar punya Chan. Dan mas Nazril seperti kurang srek gitu yah sama Chan.”
“Hush. Gak boleh suudzon begitu.”
“Memang kelihatan dari sikapnya ya, Nduk. Ibuk juga merasa gitu.” Timpal Rukayah.
“Lagian ibunya mas Nazril kan masih sakit Yah. Jangan membebankan masalah pernikahan ini sama dia. Kasihan. Binar yakin, nanti Allah akan menunjukkan waktu yang tepat.
Ustadz Syuhada terdiam mendegar penjelasan dari Binar.
“Nduk, buruan bangunin Chan. Dia belum makan kan?” Perintah Rukayah. Ia mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Buk.”
Binar segera masuk kedalam kamarnya untuk membangunkan Chan.
Anak itu masih terlihat sedang menikmati mimpinya.
Perlahan Binar berjalan mendekati tempat tidur. Duduk disamping Chan dan memandangi wajah Chan dalam.
Ia mengelus kepala Chan pelan.
“Chan. Bangun, sayang. Makan siang dulu ya..” Irihnya untuk membangunkan Chan.
Chan hanya mengerakkan tubuhnya sedikit.
“Chan... Chan.” Kini Binar menggerak-gerakkan tubuh Chan perlahan.
Dan berhasil. Akhirnya Chan terbangun. Anak itu perlahan membuka matanya.
“Bangun dulu. Makan.” Binar mengulangi ucapannya.
Dengan malas Chan bangun dan terduduk. Matanya masih terasa sangat berat utnuk terbuka. Tapi anak itu berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya seluruhnya.
__ADS_1
Chan turun dari tempat tidur dengan sempoyongan. Membut Binar tertawa melihatnya.
Ia mengikuti Chan keluar dari kamar untuk menuju ke meja makan.
“Cuci muka dulu, dong.”
Dengan bahu yang turun Chan kembali turun dari kursinya dan berjalan menuju ke tempat bak pencucian piring. Ia membasuh mukanya disana. Setelah selesai ia kembali duduk di meja makan.
“Mau makan sama apa?” Tanya Binar.
“Telur.” Jawab Chan santai.
Binar hanya ternganga saja mendengar jawaban Chan. Di atas meja makan sudah terhidang sayur asam, tahu goreng, sambal ikan mujair, dan rendang ikan tongkol. Tapi Chan malah meminta telur sebagai lauknya.
“Sama ikan, ya.” Tawar Binar. Karna dia terlalu malas untuk menggorengkan telur untuk Chan. “Ini mama sama Uty udah masak ikan ini lho. Enak. Ikan mujahir yang gak disambal, mau?”
Chan menggeleng. Dia tetap ingin telur goreng.
Binar menghela nafas. “Yaudah. Tunggu sebentar ya. Mama gorengkan telurnya dulu.”
“iya.” Chan mengangguk dengan senang.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like sama komentarnya ya kakak-kakak...
terimakasih...