
Hampir jam 9 malam, Pamungkas mengantarkan Binar dan Chan pulang. Anak itu sudah terlelap dipangkuan Binar tidak lama sejak mobil Pamungkas mulai melaju.
Berkali-kali Pamungkas melirik penumpang yang duduk dibelakangnya itu lewat kaca dashboard. Semakin dirasakan, perasaan yang sudah ia kunci rapat di dalam hatinya kembali muncul dan membuat hatinya berdebar.
“Bin?”
“Hm?”
Binar menunggu kalimat Pamungkas selanjutnya, tapi pria itu tak kunjung melanjutkannya.
“Kenapa, Mas?”
“Bolehkah aku melamarmu?”
Sebuah kalimat pertanyaan yang sama sekali tidak terduga keluar dari mulut Pamungkas.
Binar yang terkejut bukan main hanya bisa ternganga saja. Berharap kalau ia sedang salah dengar.
“Apa maksudnya Mas Pam ngomong begitu?”
“Maaf. Karna aku fikir kalau kamu sedang tidak menunggu pria manapun, jadi aku berharap masih punya kesempatan buat memperbaiki hubungan kita.” Pamungkas berkata sambil berusaha untuk terus fokus ke jalan raya.
“Kalau kamu bilang begitu cuma karna takut hubunganmu dan Chan jadi jauh, kamu gak perlu khawatir, Mas. Karna sampai kapanpun, aku gak akan pernah melarang kamu buat ketemu sama Chan. Kita bisa bagi waktu untuk dia. Dan aku akan anggap kalau kamu gak pernah ngomong kayak gitu.” Ada nada ketegasan dari suara Binar.
Pamungkas memilih diam. Padahal bukan begitu maksudnya. Tapi tidak apa kalau ternyata Binar mengartikannya begitu. Mungkin dia terlalu terburu-buru mengatakannya sampai membuat gadis itu salah faham.
“Maaf ya, Bin. Aku udah ngomong ngelantur. Jangan jadi canggung, ya.” Pinta Pamungkas lagi.
Setelah mendengar ketegasan Binar, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan tentang perasaan itu lebih jauh lagi. Ia akan menunggu. Menunggu keyakinan atas hatinya sendiri. Sebelum ia siap untuk memperjuangkan Binar. Walaupun ia merasa hal itu tidaklah mudah.
Sesampainya dirumah, ternyata Ustadz Syuhada dan istrinya sedang menunggu kedatangan mereka.
“Assalamu’alaikum...” Sapa Binar.
“Wa’alaikum salam.” Jawab kedua orang tuanya. Rukayah segera menyambut mereka. “Sudah pulang, Nduk?”
“Iya, Buk.”
“Ayo, masuk dulu, Nak Pam.” Ajak Rukayah.
“Gak usah, Buk. Terimakasih. Tapi saya harus pulang. Soalnya udah malem juga. Besok saya kesini lagi buat jemput Chan. Dia bilang besok mau nginap dirumah Kakek sama Neneknya.” Jelas Pamungkas.
“Ooh, begitu. Yaudah. Hati-hati dijalan.”
__ADS_1
“Permisi pulang dulu, pak Ustadz, Ibuk. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alikum salam.”
Binar hanya mengantarkan kepergian Pamungkas dengan tatapannya saja. Ia masih merasa terganggu dengan ucapan Pamungkas tadi.
Setelah mobil Pamungkas menghilang dari pandangannya, ia masuk kedalam kamar untuk menidurkan chan. Setelah itu ia kembali keluar.
“Kenapa Nak Pam kok gak diajak masuk dulu, Buk?” Tanya Ustadz Syuhada kepada istrinya.
“Udah Ibuk suruh, tapinya gak mau. Harus cepet pulang katanya.”
“Gimana tadi, Nduk?” Tanya Ustadz Syuhada.
“Gak gimana-gimana, Yah. Biasa aja. Chan langsung akrab sama mereka. Binar aja sampai heran. Gak biasanya anak itu begitu.”
“Alhamdulillah kalau semuanya lancar. Kamu baik-baik aja kan, Nduk?”
“Insha Allah, Yah. Binar baik-baik aja.”
“Usahakan ikhlas ya, Nduk. Karna semua ini pasti memang sudah digariskan oleh Allah. Dia menunjukkan jalan agar chan bertemu dengan Ayah kandungnya.”
“Iya, Yah. Binar tau. Insha Allah Binar gak mempermasalahkan kalau Mas Pam mau ketemu sama Chan kapanpun dia mau. Yang terpenting, Chan masih tinggal sama Binar.”
“Tadi nak Ubay dateng, nyariin kamu sama Chan.” Ujar Rukayah tiba-tiba.
“Gak tau.”
“Terus ibuk bilang apa?” Selidik Binar
“Ya ibuk bilang kalau kamu pergi dengan Nak Pamungkas. Dia nampak sangat terkejut. Jadinya Ibuk gak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya.”
“Jadi Ibuk kasih tau ke mas Ubay tentang Chan dan mas Pam, Buk?”
“Ya mau bagaimana lagi. Ibuk gak mau dia salah faham sama kamu. Padahal kamu udah siap buat menerima dia.”
Binar jadi semakin merasa tidak enak hati. Entah kenapa kalau ia merasa akan ada masalah baru yang muncul diantara mereka.
Ia terdiam. Menata perasaan tidaklah semudah perkiraannya. Di benaknya terus muncul perihal ucapan Pamungkas tadi. Sedangkan ia harus menepati janjinya kepada kedua orang tuanya untuk memberinya waktu satu bulan sehingga dia bisa memantapkan hati untuk menerima Ubay.
Dan sekarang, Pamungkas kembali muncul di tengah-tengah kegundahan hatinya. Membuat posisi Binar semakin sulit.
“Kenapa, Nduk?” Tanya Ustadz Syuhada. Ia bisa membaca wajah putrinya yang sedang memikirkan banyak hal tersebut.
__ADS_1
“Gak apa-apa, Yah. Binar masuk dulu ya, Yah, Buk.” Pamit Binar kemudian masuk kedalam kamarnya.
Ia berjalan menghampiri tempat tidur dimana Chan sedang terlelap. Selimutnya sudah tersingkir dari tubuhnya. Jadi Binar membetulkan selimut putranya kemudian mengecup keningnya.
Lantas ia masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Kemudian melaksanakan sholat sunah 2 rakaat. Itu adalah satu-satunya cara agar fikirannya kembali tenang. Mengadu kepada Sang Maha Pencipta adalah cara terbaik untuk memecahkan masalah.
*****
Ubay menghempaskan tubuhnya di atas sofa ruang tamunya. Ia baru saja pulang dari klinik.
Fikirannya melayang saat tadi ia melewati rumah Binar. Ia bisa melihat Pamungkas dan Binar yang baru saja keluar dari mobil.
Rukayah sudah menjelaskan perihal Chan dan Pamungkas tadi saat ia kesana. Nyeri sekali hatinya mendapati kenyataan itu. Sama sekali tidak pernah terfikirkan olehnya kalau Chan adalah anak kandung Pamungkas. Ia merasa seolah Binar dan Pamungkas memang ditakdirkan untuk saling bertemu.
Jadi, apakah ia ditakdirkan untuk terus menerus mengalah perihal perasaannya?
Sebenarnya Ubay juga sudah merasa lelah dengan ketidak pastian yang diberikan Binar.
Tidak, ia tidak menyalahkan gadis itu. Sejak awal dia sudah memutuskan untuk menanggung semua konsekuensi atas perasaannya itu. Sejak awal pula ia sudah tau kalau Binar sama sekali tidak pernah terfikir untuk menerimanya. Mungkin sudah saatnya ia merelakan Binar dan kembali menata perasaannya dari awal lagi. Karna ia sudah merasa, lelah.
Langkah kaki Bik Las mengejutkan Ubay. Ia sontak menoleh karna terkejut. “Astaghfirullah hal adzim!” Pekiknya.
Bik Las yang sedang membawa gelas berisi kopi, ikut terkejut. “Ya ampun, Mas. Kenapa kaget? Saya jadi ikut kaget.” Protes wanita paruh baya itu sambil mengelus dadanya.
“Kok bibik masih disini?” Tanya Ubay. Karna biasanya pembantunya itu sudah pulang sejak jam 8 tadi.
Bik meletakkan minuman didepan Ubay. “Nungguin Yeva, Mas. Jam segini kok belum pulang. Bosan dirumah sendirian malam-malam. Diminum kopinya, Mas.”
Yeva adalah putri dari Bik Las yang masih kuliah. Dan saat ini sedang menempuh semester 3 di jurusan tekhnik sipil.
“Iya, makasih banyak, Bik.” Ubay meraih minuman yang masih mengepulkan asapnya itu.
Tidak lama kemudian, terdengar suara sepeda motor yang berhenti tepat di depan rumah Ubay. Bik Las sangat tahu kalau itu adalah Yeva. Ia langsung Pamit kepada Ubay untuk pulang kerumahnya.
Ubay kembali sendiri. Kondisi seperti itu sangat sesuai untuk membuat fikirannya kembali melalang buana. Mengasihani nasib percintaannya yang tidak pernah berjalan mulus.
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung...