
Hari ini, Pamungkas berencana mengajak Chan dan Binar berbelanja kebutuhan untuk kamar baru Chan. Anak itu nampak antusias setelah dijanjikan akan dibelikan mainan baru.
Pamungkas sengaja menyetel lagu anak-anak di dalam mobilnya. Dan dengan riangnya Chan ikut bernyanyi. Jadilah Pamungkas juga ikut bernyanyi bersama putranya itu.
Kedekatan anak dan ayah itu membuat Binar merasa senang juga. Padahal kemarin Chan minta agar tidak lama-lama berada d irumah Pamungkas. Tapi hari ini sepertinya anak itu sudah lupa dengan permintaannya sendiri.
“Ehm, Chan. Gimana kalau Chan pindah sekolah aja. Biar Mama sama Papa gak jauh nganterinnya.” Ujar Pamungkas.
“Gak mau. Nanti susah dapet temen lagi.” Tolak Chan.
“Memangnya mau pindah kemana, Mas?” Tanya Binar.
“Ya kalau Chan mau, kita pindahkan dia ke sekolah internasional SJ.”
Binar mengernyit sebentar. Kalau tidak salah, sekolah itu adalah sekolah swasta dimana muridnya adalah anak pejabat dan orang-orang kaya. Dan juga, biayanya tentu saja tidak murah. Dan kualitasnya juga tidak main-main.
“Mau, Chan?” Tanya Binar kepada Chan.
Tapi anak itu menggeleng dengan mantab. “Chan gak mau ninggalin temen-temen Chan.”
“Ya udah, gak apa-apa. Mungkin nanti aja kalau udah SMP.”
Pamungkas mengemudikan mobilnya memasuki area pusat perbelanjaan khusus untuk barang-barang keperluan rumah. Setelah memarkirkan mobilnya di tempat parkir, ia keluar dari mobil dengan menggendong Chan. Dengan setia Binar mengikuti mereka di belakang.
Beberapa jam mereka habiskan untuk memilih apa saja yang perlu mereka beli. Banyak sekali. Dari tempat tidur, lemari pakaian, meja belajar, rak buku, dan barang-barang lain yang sekiranya dibutuhkan oleh Chan.
Pamungkas sangat antusias, ia bahkan tidak peduli berapa uang yang harus ia keluarkan untuk itu.
Terkadang Binar sampai harus memperingatkan suaminya itu untuk membeli barang-barang yang memang sangat dibutuhkan. Sehingga barang-barnag itu tidak mubazir.
“Mas, apa yang kita pakai itu kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Beli barang yang kiranya butuh aja. Biar gak mubazir. "Binar memperingatkan.
Walaupun dengan bibir yang setengah manyun, Pamungkas tetap menuruti permintaan istrinya.
Hari hampir petang saat mereka menuju perjalanan pulang. Chan bahkan sudah tertidur didalam mobil. Anak itu tidak terbangun walaupun mereka sudah sampai dirumah.
Dengan hati-hati Binar membaringkan Chan di tempat tidur. Karna kamar baru Chan sedang dibereskan, maka Binar menidurkan Chan di kamarnya.
Sementara Pamungkas membantu mengarahkan para kurir yang sedang membawa barang-barang itu masuk kedalam kamar Chan.
__ADS_1
Setelah selesai sholat isya, Pamungkas dan Binar kembali melanjutkan pekerjaan mereka di kamar Chan. Bahkan sampai hampir tengah malam pekerjaan mereka baru selesai.
Binar merebahkan tubuhnya diatas ranjang baru milik putranya. Sedangkan Pamungkas sedang keluar entah kemana.
Ia memejamkan matanya untuk mengusir rasa lelah.
Perlahan, Binar bisa merasakan hembusan nafas hangat di sekitar wajahnya. Dan saat ia membuka matanya, wajah Pamungkas sudah terpampang sangat dekat dengan wajahnya. Membuat jantungnya hampir saja berhenti.
Walau terkejut, tapi Binar tidak bisa menggerakkan tubuhnya untuk bangun. Karna kini Pamungkas sudah berada diatas tubuhnya. Menatapnya dengan tatapan yang dalam sekali.
“Mas, mau ngapain?” Tanya Binar antara takut dan malu.
Pamungkas tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Netranya memancarkan aura nafsu yang seakan ingin menerkam Binar.
Perlahan tangan Pamungkas mulai membelai dahi dan pipi istrinya. Dan berakhir di hidung Binar. Seolah ia ingin meneliti dan menghafal setiap lekukan yang ada di wajah istrinya, tanpa melewatkan apapun
Binar sudah tidak berani berkutik. Tubuhnya sudah sepenuhnya membeku. Bahkan nafasnya saja sampai tercekat. Merinding tidak karuan.
“Mas, mau ngapain?” Binar mengulangi pertanyaannya dengan suara yang semakin bergetar.
“Bin?” Panggil Pamungkas. Suaranya lirih tapi terdengar berat.
“Ini malam jum’at lho...” Ujar Pamungkas dengan tersenyum penuh arti. Suaranya terdengar berat tapi juga menggetarkan.
“Terus?”
“Sunah Rasul, yuk.” Ajaknya kemudian. Ia kembali tersenyum.
Binar tidak bisa menyembunyikan perasaan malunya. Kini wajahnya sudah berubah merah dan terasa panas. Dadanya tiba-tiba berdetak sangat kencang.
Dengan diamnya Binar, Pamungkas mengerti kalau inilah kesempatannya. Dan dia tidak akan melewatkan kesempatan besar ini. Perlahan dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Mengecup kening Binar lama sekali. Membuat Binar memejamkan matanya saking nyamannya. Ada perasaan hangat yang terus mengalir ke relung-relung hati Binar.
Suara nafas keduanya memburu dan saling bersahutan. Dada mereka berdetak tak terkendali.
Binar antara takut dan malu. Tapi itu adalah salah satu kewajibannya sebagai seorang istri. Tidak ada hak untuk menolaknya. Dan dia juga tidak bisa terus menghindarinya.
Sedangkan Pamungkas berusaha untuk mengendalikan gejolak didadanya. Ia berusaha mengendalikan diri agar tidak terburu-buru dan malah menakuti Binar nantinya.
Pria itu kini semakin mendekatkan bibirnya. Dan Binar semakin mengeratkan pejaman matanya. Perasaannya antara siap dan tidak siap. Grogi, gugup, takut, malu, bercampur menjadi satu.
__ADS_1
“Mama!!!!!!”
Pamungkas berusaha untuk tidak mempedulikan suara itu. Ia berniat untuk melanjutkan aksinya.
“Ma?!!!!” Panggilan ke dua yang membuat mood Pamungkas langsung menguap seketika.
Baru saja bibir mereka bersentuhan. Dan akhirnya gagal. Karna kini Binar berusaha untuk mengalihkan tubuhnya. Menatap suaminya dengan senyum yang tertahan.
Dengan bibir yang cemberut, Pamungkas menarik tubuhnya dan duduk di pinggiran ranjang. Ia menundukkan wajahnya dan mencengkeram erat spreinya. Mencoba melampiaskan rasa kesal karna tidak jadi menjalankan 'Sunnah Rasul'.
Binar hanya bisa mengu lum senyum saja melihat reaksi suaminya itu. Ia kembali merapikan hijabnya yang sempat berantakan. Kemudian ikut duduk disamping Pamungkas.
Ceklek!
Pintu kamar itupun terbuka, dan muncullah Chan dari baliknya. Anak itu mengusap-usap matanya dan kemudian berjalan menghampiri ibunya.
Pamungkas hanya melirik sebal kepada Chan yang kini sedang bergelayut di pangkuan ibunya. Membuat Binar semakin tidak bisa menahan tawanya.
“Chan, kenapa bangun?” Tanya Pamungkas dengan ekspresi wajah yang masih kesal dan memelas.
Tapi Chan hanya meliriknya saja tanpa menjawabnya. Anak itu malah kembali tertidur di pangkuan Binar.
“Sabar ya Mas...” Seloroh Binar sambil membaringkan Chan di tempat tidur dan menyelimutinya. Ia tidak bisa berhenti tersenyum. Sementara Pamungkas Masih merajuk.
Dengan lembut Binar meraih tangan suaminya kemudian menggenggamnya erat. “Mau dilanjut?” Ujarnya.
Mendapat pertanyaan itu wajah Pamungkas berubah menjadi sumringah lagi. Ia mengangguk dengan mantapnya. Kemudian menarik tangan istrinya untuk pergi ke kamar mereka.
Binar yang awalnya Masih merasa takut dan malu, perlahan bisa menerima sentuhan Pamungkas. Pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan hati-hati. Membawa Binar terbang ke angkasa. Perasaan nikmat yang perlahan datang menetap di hati begitu lama. Bahkan sampai saat fajar datang untuk menyapa penduduk bumi.
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung...