
“Lho? Mas Ubay mana Buk?” Tanya Binar saat dia baru saja keluar dari kamar untuk menidurkan Chan.
“Udah pulang. Baru aja. Katanya masih ada urusan di klinik.” Jawab Rukayah.
“Chan udah tidur?” Tanya Ustadz Syuhada.
“Udah, Yah. Baru aja. Hampir nangis. Karna setiap gerak, perih katanya.”
“Nanti malam baru terasa itu pegel linunya.” Imbuh Rukayah. “Nduk, sini, duduk. Ibuk mau ngomong sesuatu sama kamu.” Pinta Rukayah kemudian.
Binar mengikuti permintaan ibunya. Ia duduk disofa di depan kedua orang tuanya. “Ada apa, Buk?”
“Ibuk lupa kasih tau kamu. Kemarin, Bu Rw datang nemuin ibuk di warung. Dia mau memperkenalkan kamu sama sepupunya yang tinggal di magelang. Duda, anak 3. Yang besar sudah kelas dua SMA. Dan yang terakhir kelas 6 atau berapa gitu, ibuk lupa. Pengusaha garment. Kalau kamu bersedia, Bu Rw mau minta foto kamu sama Chan buat dikasih sama orang itu. Barangkali hatimu terketuk kali ini, Nduk.”
Ucapan Rukayah menyiratkan betapa besar harapannya agar putrinya mau menikah.
Binar terdiam. Berusaha mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh ibunya. Duda, anak tiga. Itu berarti dia harus menjadi ibu dari empat orang anak sekaligus. Entah kenapa hatinya merasa berat.
Astaghfirullah hal adzim... Lirih Binar.
“Gimana, Nduk?”
“Buk......” Binar tidak melanjutkan kalimatnya. Ia tidak tau harus menjawab apa. Ia hanya menatap pias kepada mereka. Ia sadar betapa besar harapan kedua orang tuanya kepadanya.
“Bin. Jangan siksa dirimu seperti ini. Apa kamu gak ingin menyempurnakan separuh imanmu? Apa kamu gak ingin bersandar dengan imammu? Ayah gak apa-apa. Jangan terlalu memikirkannya. Inshaa Allah, ayah akan berusaha untuk cepat sembuh dengan Izin-Nya.”
“Gak selamanya kami ada disampingmu, Nduk. Di sisa umur kami, hanya satu keinginan Ayah dan Ibukmu ini. Yaitu bisa melihatmu menikah dengan orang yang tepat, yang bisa menjadi imam untukmu, dan menjadi Ayah untuk Chan. Yang mampu menggantikan kami membimbing kalian menuju jannah-Nya."
Air mata Rukayah sudah berlinang. Walaupun ia berusaha menahannya, tapi ia tetap tak mampu mengendalikan kesedihannya.
Binar ikut menangis. Ia juga meneteskan air matanya dengan wajah yang menunduk. Lama ia dalam posisi seperti itu. Sambil terisak, dalam hati kecilnya ia sedang memutuskan sesuatu.
“Buk, sampaikan perminta maafan Binar kepada Bu Rw. Binar gak bisa menerima orang itu.”
Ustadz Syuhada memejamkan matanya. Ia sudah menduganya sejak awal. Begitu juga dengan Rukayah. Ia nampak sangat kecewa dengan sifat keras kepala putrinya itu.
“Tapi, beri Binar waktu satu bulan. Binar ingin memantapkan hati Binar untuk menerima perasaan Mas Ubay.”
Ustadz Syuhada dan istrinya yang semula menunduk karna kecewa, kini menatap putri mereka dengan wajah sumringah.
__ADS_1
“Beneran, Nduk?” Rukayah bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau ia sedang tidak salah dengar.
“Inshaa Allah, Buk.”
“Alhamdulillah... Apapun keputusanmu nanti, Ayah tetap mendukungmu, Nak. Selama itu masih berada di jalan yang diridhoi oleh Allah. Semoga Allah menetapkan hatimu, Nak.” Ustadz Syuhada juga berkaca-kaca. Tapi tidak sampai menangis.
“Amin, Yah. Semoga, ini adalah pilihan terbaik untuk Binar di waktu yang tepat.”
“Nak Ubay pasti seneng banget itu.” Seloroh Rukayah yang jadi tidak sabar untuk segera mendapatkan Ubay sebagai menantunya.
Perasaan kedua orangtua Binar sudah setengah lega. Setidaknya, kini mereka sudah mendapat lampu kuning dari putri mereka itu.
Adzan maghrib berkumandang. Mengakhiri perbincangan keluarga Binar tentang pernikahannya. Ia segera mengambil wudhu dan pergi ke masjid bersama dengan Rukayah. Sedangkan Ustadz Syuhada memilih untuk sholat di rumah karna ia belum sanggup jika harus sholat di masjid.
*****
“Beneran Pam?” Haya nampak antusias saat mendengarkan cerita dari putranya itu.
“Alhamdulillah...” Sebut Hendrana.
“Semoga ini menjadi titik terang ya Ma, Pa.” Ujar Pamungkas. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa di ruang tamu rumah kedua orang tuanya. Mencoba untuk menenangkan perasaan gembiranya karna ia akan segera bertemu dengan buah hatinya. Dengan darah dagingnya.
“Jangan sekarang, Ma. Malam ini, aku mau memastikan dulu. Setelah semuanya jelas, nanti baru Mama sama Papa ikut.” Jawab Pamungkas.
“Baiklah. Ide bagus.” Jawab Hendrana.
“Jadi mau pergi jam berapa? Ini udah mau maghrib.” Tanya Haya.
“Habis sholat maghrib aku akan langsung pergi, Ma.”
“Yasudah, hati-hati dijalan. Mama sama Papa hanya bisa mendo’akan semoga kali ini bukan harapan palsu seperti yang sudah-sudah.”
“Iya, Ma.”
Seperti yang dijanjikan oleh Pamungkas. Setelah selesai sholat maghrib berjamaah dirumah kedua orang tuanya, Pamungkas langsung berangkat menuju ke alamat yang sudah diberikan oleh Reanty tadi siang.
Tangannya gemetar saat mengemudikan mobilnya. Ia terus memperhatikan gps yang terpasang dimobilnya, yang memandunya untuk menuju ke alamat itu.
Hatinya terus berdegup kencang. Dengan sejuta harapan bahagia yang sedang menantinya.
__ADS_1
Ia sibuk memikirkan kalimat apa yang akan pertama kali ia ucapkan dihadapan anaknya nanti? Atau apa yang akan dia sampaikan yang tidak menyinggung keluarga yang sudah merawat anaknya?
Pamungkas sangat antusias. Waktu yang hampir satu jam menjadi tidak terasa baginya.
Mobil sudah memasuki jalanan bervaving di area perumahan. Ia terus memperhatikan layar gps yang menyuruhnya berhenti didepan sebuah lapangan tenis yang ada di tengah komplek perumahan.
“Anda telah sampai di tempat tujuan.” Terdengar suara dari layar gps.
Pamungkas menepikan mobilnya, kemudian turun dan memperhatikan sekitarnya. Nampak sepi. Ia memperhatikan satu persatu rumah disekitarnya. Ia kemudian menghampiri seorang pria muda yang sedang serius bermain ponsel di depan rumahnya.
“Maaf, Mas. Mau tanya.”
Pemuda itu langsung mengalihkan pandangannya kepada Pamungkas. “Iya?”
“Kalau alamat ini yang mana ya, Mas?” Tanya Pamungkas dengan menunjukkan kertas berisi alamat kepada pemuda itu.
Pemuda itu nampak serius memperhatikan alamat yang disodorkan Pamungkas kepadanya. “Oh, kalau ini di gang sebelah, Mas. Mas masuk aja lewat situ, terus nanti ada masjid, Mas tanya aja lagi sama orang disekitar situ, saya juga gak faham kalau gak ada namanya.” Jelas pemuda itu sambil menunjukkan arah kepada Pamungkas.
“Oh, gitu ya, Mas. Makasih banyak ya, Mas.” Ujar Pamungkas sambil mengangguk sopan. Kemudian pergi kembali ke mobilnya.
Pemuda tadi hanya ikut mengangguk kepada Pamungkas sebelum melanjutkan permainan di ponselnya.
Pamungkas mengarahkan mobilnya kearah yang disebutkan oleh pemuda tadi. Saat ia menghentikan mobilnya didepan sebuah masjid, adzan isya’ pun berkumandang. Jadi Pamungkas memutuskan untuk sholat terlebih dahulu sebelum melanjutkan pencariannya.
Ia segera berjalan kearah tempat wudhu untuk pria. Kesegaran langsung menyusupi setiap pori-pori wajahnya saat air menyentuh permukaan wajahnya.
Setelah itu, ia langsung masuk kedalam masjid, melaksanakan sholat sunnah dua rakaat, kemudia duduk untuk menunggu sholat isya berjamaah.
*
*
*
*
*
Bersambung...
__ADS_1