Pindah

Pindah
57


__ADS_3

Pamungkas menghentikan langkahnya didepan Binar. Kemudian ia menundukkan kepalanya dengan posisi miring tepat di depan wajah Binar, sampai Binar terkejut karna aksinya.


Dengan tanpa merasa bersalah, dia terkekeh kecil. Sementara wajah Binar semakin merona.


Pamungkas menatap Binar penuh arti. Dengan perlahan dia meletakkan tangannya ke puncak kepala Binar, kemudian mengusapnya lembut.


“Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih.”


Seirama dengan lantunan doa yang keluar dari bibir Pamungkas, Binar memejamkan matanya. Rasanya syahdu sekali. Kesejukannya meresap sampai kedalam sanubarinya. Membuat hatinya berdesir.


Apalagi saat Pamungkas mendaratkan kecupan lembutnya di ubun-ubun Binar, ia merasa seperti sedang melayang menembus nirwana. Menambah desiran di hatinya. Perasaan nikmat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Lama keduanya saling tatap. Tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Binar jadi salah tingkah saja. Bola matanya mulai tidak fokus.


“Kenapa ngelihatin aku begitu, Mas?” Tanya Binar yang masih berusaha mengendalikan perasaan gugupnya.


“Masih gak percaya aja. Gak nyangka kalau kamu bakalan nerima lamaranku.”


“Nanti kapan-kapan aku kasih tau alasannya.”


Pamungkas mengangguk. Perlahan rasa canggung diantara mereka mulai terkikis. Ia mengulurkan tangan kepada Binar dan mengajak istrinya itu untuk keluar dari kamar.


“Keluar, yuk.”


Binar menyambut tangan Pamungkas sambil mengangguk.


Pamungkas menggenggam tangan Binar dengan mesra dan mengajaknya menemui keluarganya di ruang tamu.


Haya menyambut Binar dengan langsung memeluknya. Wanita paruh baya itu nampak terharu sampai meneteskan air matanya.


“mwakasih banyak ya, Bin. Makasih banyak.” Ujar Haya sambil memegangi kedua pipi Binar. “Sekarang aku adalah Mamamu. Jadi jangan segan ya..”


“Iya,, Ma.” Jawab Binar.


“Udah siang, sebaiknya kita makan siang dulu.” Ujar Rukayah. Dan usulnya itu segera disetujui oleh suaminya.


Pak Rt dan Pak Rw masih ada disana. Sedang berbincang bersama dengan Ustadz Syuhada, Hendrana, dan Pamungkas. Sementara Binar membantu Rukayah untuk menyiapkan makan siang untuk mereka.


Walaupun masih agak canggung, Binar berusaha untuk melayani Pamungkas dengan baik. Ia mengambilkan piring dan nasi untuk suaminya itu. Tentu saja membuat Pamungkas jadi kesengsem dan senyum-senyum sendiri.


Setelah mereka semua menyelesaikan makan siang, Pak Rw dan Pak Rt Pamit untuk pulang. Tinggallah Ustadz Syuhada dan istrinya beserta kedua besan mereka. Mereka banyak mengobrol tentang Pamungkas dan Binar.

__ADS_1


Sementara Pamungkas mengantarkan Binar untuk menjemput Chan dari sekolah menggunakan sepeda motor Binar.


Rasanya lucu sekali. Karna Pamungkas terlihat tidak biasa mengemudikan sepeda motor. Jalannya sangat lambat. Membuat Binar tidak sabar.


“Mas, sebenernya bisa bawa motor gak?” Tanya Binar. Dia benar-benar tidak sabar dengan cara Pamungkas mengemudikannya. Pun takut jika suaminya itu menabrak sesuatu. Membuat jantungnya was-was saja.


“Udah, diem aja. Nanti juga biasa. Kan emang aku udah lama banget gak pernah bawa motor. Jadi wajar dong kalau jadi kaku.”


“Ya tapi kan aku jadi takut, Mas. Takut nabrak orang. Sini, biar aku aja yang bawa.” Tawar Binar.


“Ya gak bisa gitu dong. Mau ditaruh dimana mukaku? Masak diboncengin cewek.” Tolak Pamungkas.


“Lah? Emang ada peraturannya kalau cowok gak boleh diboncengin cewek?”


“Ya ada, dong. Peraturan gak terlihat. Ini menyangkut harga diri, sayang.”


Sayang??


“Makanya kamu pegangannya yang kenceng, biar gak ketinggalan.” Sepertinya Pamungkas sedang melancarkan sebuah serangan secara perlahan.


Binar termakan omongan Pamungkas. Ia mencengkeram erat kemeja Pamungkas di pinggang dengan kedua tangannya. Sungguh dia tidak ingin terjatuh sekarang.


Tapi apa yang dilakukan Pamungkas selanjutnya berhasil membuat jantung Binar hampir copot. Pria itu meraih tangan kiri Binar dan melingkarkannya di perutnya. Kemudian terus menggenggamnya dengan erat.


“Tuh, kan. Aku jadi lancar bawa motornya kalau dipeluk gini.”


Binar sedang berusaha menenangkan jantungnya. Sementara Pamungkas sedang tersenyum lebar dibalik helmnya.


“Udah dong, Mas. Malu ih.” Ujar Binar dengan wajah yang sudah semerah buah tomat masak. Ia berusaha untuk menarik tangan kirinya yang di genggam Pamungkas, tapi ternyata pria itu tidak menginginkannya.


“Malu kenapa? Udah halal ini. Lihat itu, yang masih bocil aja boncengan udah peluk-pelukkan gitu, mereka aja gak malu.” Seloroh Pamungkas kepada sepasang muda mudi yang berboncengan tak jauh didepan mereka.


“Justru itu, Mas. Mereka kan gak tau kalau kita udah halal. Kita jadi contoh buat mereka. Karna kita-kita yang udah halal ini, mereka jadi ngikut-ngikut deh.”


Pamungkas memilih mengalah adu arguen antara dirinya dan Binar. Memang kalau difikir-fikir benar juga sih. Jadilah perlahan dia melepaskan genggaman tangannya dan kembali meletakkan tangannya di kemudi. Walaupun dengan sedikit kecewa.


Binar hanya tersenyum saja. Ia tahu kalu suaminya itu sedang ‘ngambek’.


“Abis ini kemana? Aku lupa jalannya.” Ujar Pamungkas. Tiba-tiba ia merasa bingung kemana jalan yang harus ia lalui untuk sampai ke sekolah Chan.


“Lorong itu, kekiri.” Beritahu Binar.

__ADS_1


“Kira-kira Chan seneng gak ya? Gimana caranya ngasih tau dia?”


“Nanti biar aku yang ngomong sama dia, Mas.”


“Kalau dia gak mau nerima aku, gimana? Pamungkas mengutarakan kekhawatirannya.


“Inshaa Allah, nanti pelan-pelan. Namanya juga anak kecil, Mas. Harus pelan-pelan ngomonginnya.”


Jujur, Pamungkas sedikit khawatir. Setelah insiden menginap itu, Chan seperti menjaga jarak dengannya. Dia bahkan sampai takut memberikan mainan-mainan yang sudah dibelinya tempo hari.


Akhirnya, mereka sampai juga di sekolah Chan. Disana sudah banyak para orang tua yang juga sedang menunggui anak-anak mereka.


Kedatangan Binar yang dibonceng oleh seorang pria, sontak menarik perhatian para ibu-ibu itu. Mereka menatap heran dan penuh tanya. Sementara Binar berusaha mengangguk ramah kepada ibu-ibu itu setelah ia turun dari motor.


“Siapa itu, Bin?” Tanya salah seorang ibu-ibu.


Awalnya Binar enggan sekali menjawabnya. Tapi dia tidak ingin menimbulkan fitnah. “Suamiku, Mbak.” Jawab Binar singkat.


Jawaban itu sontak membuat semua orang tenganga. Mereka bahkan tidak mendengar kabar kalau Binar sudah menikah.


Pamungkas yang sedang merasakan sebuah kebanggaan didalam dirinya karna sedang diperkenalkan oleh Binar, ikut turun dan menyapa ibu-ibu itu.


“Waaahh,, gak denger kabarnya, udah nikah aja kamu, Bin.”


“Alhamdulillah, Mbak. Memang cuma acara sederhana aja kok.”


“Syukur deh, Bin. Ikut seneng dengernya. Pinter kamu cari suami, mana ganteng lagi.” Seloroh yang lain.


Pamungkas semakin merasa bangga. Di puji tampan oleh ibu-ibu komplek membuatnya sangat senang. Ia tersenyum lagi kepada mereka. Tapi kemudian ia langsung mengubah ekspresinya saat tahu kalau Binar sedang meliriknya dengan tajam.


Untung saja pintu gerbang sekolah segera terbuka. Sehingga lirikan itu tidak berlanjut. Karna perhatian Binar teralihkan kepada sekumpulan anak-anak yang menyeruak keluar dari halaman sekolah dan mencari orang tua mereka masing-masing.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2