Pindah

Pindah
70


__ADS_3

Adzan subuh sudah berkumandang. Binar hanya menggeliat saja. Setelah bangun tidur, entah kenapa dia masih merasa lelah. Padahal tidurnya sangat nyenyak semalam.


“Sayang, bangun, sholat subuh dulu...” Ujar Pamungkas berbisik tepat di telinga Binar.


Hembusan nafas Pamungkas membuat tubuh Binar merinding. “Mas kok udah bangun?”


“Gak bisa tidur.”


“Gara-gara semalam gak jadi ya?” Tanya Binar.


“Enggak kok. Aku gak mikirin itu. Entah kenapa, gak bisa nyenyak tidurku. Banyak kerjaan juga yang belum selesai. Apalagi hari ini ada jadwal operasi yang lumayan rumit.”


“Kenapa panik gitu? Biasanya juga santai.”


“Hehehe,, ya udah, cepetan mandi, aku tunggu.”


Binar memaksa tubuh lemahnya untuk bangun dan berjalan ke kamar mandi. Setelah selesai, mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah di mushola kecil yang ada di dalam rumah. Bersama dengan Mbok Sami dan juga Roni.


“Non Binar kok mukanya pucet gitu? Mana kelihatan kurusan juga.” Ujar Mbok Sami setelah selesai sholat. Ia sedang melipat mukenahnya.


“Kelihatan banget ya, Mbok?”


“Iya, pipinya sampai tirus begitu.”


“Lagi gak selera makan, Mbok. Capek juga bolak balik rumah sakit. ”


“Barangkali Non Binar lagi hamil.”


“Amin, mudah-mudahan, Mbok.” Binar tidak bisa menutupi rasa bahagianya. Membayangkan jika dirinya benar-benar hamil.


Selesai sarapan, Binar berangkat ke rumah sakit bersama dengan Pamungkas.


Sepanjang perjalanan, Pamungkas terus saja menggengam erat tangan Binar. Pria itu seperti sedang mengkhawatirkan sesuatu, tapi enggan untuk memberitahu istrinya.


Bahkan setelah sampai di MMC pun, Pamungkas tidak mau melepaskan genggaman tangannya. Dia benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang terkejut melihat kemesraan mereka.


Binar hanya bisa berusaha untuk tetap terlihat biasa saja. Walaupun didalam hati ia merasa aneh dan malu. Pun takut.


“aku udah buat janji sama Dokter Sita semalam. Kita langsung ke ruangannya ya.” Ujar Pamungkas.


“Lho? Mas mau nemenin aku?” Memangnya gak kerja?”

__ADS_1


“Nanti aja. Aku nemenin kamu dulu.” Jawab Pamungkas. Binar mengangguk saja.


Sesampainya di ruangan Dokter Sita, Binar dan Pamungkas diperlakukan dengan sangat ramah. Kini semua orang sudah tau siapa Binar. Jadi dia mendapatkan prioritas disana.


Pamungkas menunggui Binar yang sedang diperiksa oleh Dokter Sita dengan perasaan cemas. Semalam, dia sudah menceritakan gejala-gejala yang di alami Binar kepada Dokter Sita.


Pemeriksaan Binar berlangsung lama. Dokter bahkan mengambil sampel darahnya untuk di uji. Dan setelah selesai, Binar duduk di samping suaminya dengan senyuman yang terus mengembang di sudut bibirnya. Bersiap mendengarkan hasil pemeriksaan.


Dokter Sita menatap Pamungkas dalam. Ia menghela nafas sebelum memulai penjelasannya.


“gimana, Dokter?” Tanya Pamungkas kepada Dokter wanita paruh baya itu.


Dokter Sita tidak langsung menjawabnya. Ia hanya menghela nafas sekali lagi, kemudian mengangguk pelan kepada Pamungkas.


Pamungkas yang sangat mengerti apa maksud dari anggukan itu, memejamkan matanya dengan erat. Dia nampak sangat kecewa dengan apa yang telah ia duga sebelumnya.


“Udah separah apa?” Pamungkas lanjut bertanya.


Binar bingung setengah mati. Ia tidak mengerti kenapa reaksi Pamungkas begitu sedih tentang hasil pemeriksaan kehamilannya. Mungkinkah ada yang salah dengan kandungannya?


“Kenapa, Mas? Kok malah sedih?” Tanya Binar. Dia sudah merasa ada sesuatu yang salah dalam dirinya. Perlahan jantungnya mulai berdetak kencang. Membayangkan sesuatu yang buruk sedang terjadi didalam dirinya.


“Kanker ovarium stadium 3C.” Jelas Dokter Sita kemudian.


Dokter Sita mengangguk pelan. Wajahnya prihatin kepada Binar.


Sedangkan Pamungkas semakin mengeratkan genggaman tangannya. Ia ingin sebisa mungkin memberikan kekuatan kepada istrinya.


Pamungkas sudah menduganya. Bahkan sejak semalam saat istrinya kesakitan, entah kenapa fikirannya mengarah kesana. Bahwa Binar mungkin saja terkena kanker. Tapi ia tidak bisa menyimpulkan tanpa hasil pemeriksaan lengkap.


“Tapi bisa di sembuhin kan, Dok? Saya masih bisa hamil kan, Dokter?” Tanya Binar. Suaranya bergetar. Ia berusaha untuk menguatkan dirinya.


“Insha Allah, kita akan cari caranya. Semoga saja masih ada jalannya. Kasus terburuk, kamu mungkin harus merelakan rahimmu untuk diangkat.” Jawab Dokter Sita.


Ya, Binar tahu persis akan bahaya penyakit yang dia derita. Bahkan dia bisa saja meninggal sewaktu-waktu.


Runtuh sudah dunia bahagia milik Binar. Ternyata cobaan belum berhenti menghampirinya. Dan cobaan kali ini jauh lebih berat baginya.


Perlahan air mata Binar menetes. Memang dia tidak ingin menahannya sejak awal.


“Dokter Pam?”

__ADS_1


Pamungkas hanya bisa menatap istrinya pias. Dia sedang memutar otak untuk mencari jalan kesembuhan bagi istrinya.


“Lakukan apapun untuk kesembuhan istriku, Dokter. Jika memang kami harus merelakan rahimnya untuk di angkat, kami ikhlas. Yang penting istriku bisa sembuh.” Tegas Pamungkas. Dia tidak peduli kalau Binar terus mencengkeram lenganya untuk menghentikannya bicara.


“Mas.....” Lirih Binar.


Binar berusaha untuk menahan laju air matanya saat mereka keluar dari ruangan Dokter Sita. Ia tidak ingin menunjukkan kehancurannya didepan orang banyak.


Pamungkas memerintahkan Fauzan untuk mempersiapkan kamar VIP untuk Binar. Ia tidak ingin membuang-buang waktu walaupun hanya satu detik.


“Mas, apa aku harus dirawat sekarang?”


“Memakin cepat kamu menerima pengobatan, akan semakin baik. Kita gak bisa buang-buang waktu lagi, Bin.” Pamungkas terus melangkahkan kakinya menuju keruangan yang akan di tempati oleh Binar.


“Aku gak apa-apa kok, Mas. Buktinya aku masih bisa beraktifitas normal, kan?”


Pamungkas mendudukkan istrinya di ranjang. Kemudian menatap dalam ke netra Binar yang masih berkaca-kaca.


“Kamu tau kan, bahayanya penyakit ini? Gak usah sok kuat Bin. Jangan terlalu pasrah. Kita ikhtiar untuk kesembuhanmu.”


Binar kembali meneteskan air mata. Ia menatap marah kepada Pamungkas.


“Jangan bilang kalau aku sok kuat, Mas. Aku cuma berusaha untuk kuat. Sebenernya juga kau gak kuat, Mas. Rasanya pengen teriak, pengen lari, pengen ngelampiasin semuanya. Aku juga marah. aku takut. Tapi mau semarah apapun aku, semenyedihkan apapun, sesakit apapun aku, penyakit ini gak akan bisa langsung hilang gitu aja kan? Memangnya dengan aku bersikap lemah, penyakitku ini bisa langsung sembuh? Enggak kan, Mas? Aku cuma berusaha buat bersabar. Ini cobaan yang berat buat aku, Mas. Aku berusaha buat menguatkan diriku, kenapa kamu malah bilang kalau aku sok kuat? Aku gak selemah itu, Mas. Aku pengen sembuh, makanya kau berusaha untuk gak terlalu sedih mikirin penyakit ini. Aku gak sok kuat, aku cuma pengen kuat.”


Air mata Binar deras mengalir membasahi pipinya. Membuat Pamungkas merasa sangat bersalah. Dia tidak akan mencari pembenaran atas kata-katanya itu. Di hanya sedang panik dan khawatir. Karna fikiran buruk terus menghantuinya.


Pamungkas sedang berusaha untuk menampik perasaan takut akan kehilangan sang istri. Dia tidak akan sanggup. Bahkan terbayangpun, sudah membuatnya kehilangan arah.


Pamungkas merengkuh tubuh istrinya erat. “Maafin aku, Bin. Maafin aku. Seharusnya aku yang lebih kuat buat suport kamu. Tapi ternyata imanku lebih lemah. Aku takut ngelihat kamu kesakitan. Aku gak tega...”


“Insha Allah aku bakalan baik-baik aja, Mas.” Binar juga sedang menguatkan dirinya sendiri. Padahal ia ingin sekali menangis sejadi-jadinya untuk menumpahkan kesedihannya. Tapi dia yakin satu hal, jika Allah sedang mengujinya dengan jaminan syurga, Insha Allah.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2