Pindah

Pindah
34


__ADS_3

Sejak pagi, Reanty terus berjalan menyusuri ingatannya disebuah gang sempit di pemukiman padat penduduk.


Tempat itu sudah banyak berubah. Tapi ada beberapa hal yang masih diingatnya.


Ya, Reanty sedang mencari jejak dari kebodohannya dulu. Sejak dua tahun ini, ia berusaha keras untuk menemukan anaknya.


Samar ia mengingat beberapa tempat yang ia lewati.


Sedikit-demi sedikit, kepingan ingatannya mulai bersatu. Membentuk sebuah gambaran yang semakin lama, semakin jelas di benaknya.


Ia berdiri mematung menatap rumah sederhana dengan cat berwarna hijau didepannya. Kemudian beralih memandang sebuah pohon rambutan yang ada disamping rumah tersebut.


Tiba-tiba ia teringat dengan pohon itu. Disituah ia meninggalkan anaknya. Dibawah pohon rambutan itu.


Reanty menghela nafas. Ada kelegaan yang tergambar di wajah cantiknya. Kini ia sudah menemui titik terang. Ia sudah hampir dekat untuk menemukan anaknya.


“Cari sipa, Neng?” Tanya seorang pria paruh baya yang hanya mengenakan kaus singlet dan sarung.


Reanty langsung menoleh kepada pria pemilik rumah bercat hijau itu. Ia berjalan mendekat kearahnya.


“Ehm, maaf Pak. Saya mau tanya. Sektar 6 atau 7 tahun yang lalu, apa ada bayi yang ditemukan disini?”


Pria itu hanya mengernyitkan keningnya saja. Menatap curiga kepada Reanty yang tidak melepas kaca mata hitamnya. Ia memperhatikan Reanty dari ujung kepala hingga kaki.


Mendapat pandangan seperti itu, membuat Reanty merasa risih lalu memundurkan langkahnya.


“Dulu memang ada bayi ditemuin disitu.” Ujar pria itu sambil menunjuk kearah bawah pohon rambutan dengan dagunya.


Seperti mendapat angin segar. Reanty bereaksi dengan senyuman.


“Kalau boleh tau, dimana anak itu sekarang?” Reanty meanjutkan pertanyaannya dengan ahti-hati. Ia tidak ingin pria itu menaruh lebih banyak curiga kepadanya.


“Dulu begitu ditemuin, langsung dibawa ke puskesmas sama tenangga saya. Terus diurusin deh sama mereka. Tapi sekarang tetangga saya udah pindah. Ngomong-ngomong kenapa situ nyariin tuh bayi?”


Pria itu tetap tidak menghilangkan perasaan curiganya. Sedangkan Reanty kelabakan mencari jawabannya.


“Saya disuruh orang, Pak.” Jawaban yang sebenarnya tidak ingin diucapkan oleh Reanty.


“Oh, gitu.”


“Kalau boleh tau, tetangga bapak itu pindah kemana ya?”


“Sebenar ya saya tanyakan anak saya dulu.” Pria itu lantas masuk kedalam rumah. Tidak lama kemudian ia keluar dengan membawa secarik kertas ditangannya.


Reanty sumringah melihatnya. Dia lega luar biasa. Akhirnya dia bisa menebus kesalahannya pada Pamungkas.


“Ini alamat mereka sekarang. Coba aja dateng kesana. Semoga belum pindah.” Ujar pria itu.


“Makasih banyak ya, Pak. Makasih banyak.” Ujar Reanty mengutarakan rasa syukurnya kepada pria itu.


“Iya, sama-sama.”

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamit Reanty.


Ia langsung berlari menuju ke mobil yang ia parkir diujung gang. Setelah sampai ia segera masuk kedalam mobilnya.


Dengan tangan gemetar, Reanty memandangi secrik kertas yang berisikan sebuah alamat. Airmatanya menetes. Ada rasa bahagia dengan harapan yang begitu besar kepada alamat itu. Semoga pencariannya berakhir disini.


Rasa tidak sabar untuk menemui buah hatinya memenuhi rongga dadanya. Rasa bahagia yang di selingi dengan rasa penyesalan yang luar biasa.


Namun tiba-tiba raut wajah Reanty berubah muram. Rasa ingin menemui anak itu langsung terkalahkan oleh rasa penyesalannya.


Dan kini ia merasa bahwa ia tidak pantas untuk menemu anak itu.


Perlahan ia menghapus air matanya. Kemudian menghela nafas sebelum melajukan mobilnya.


Mobil Reanty berhenti di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit MMC.


Setelah turun, ia masuk kedalam cafe tersebut. Memesan secangkir capucinno kemudian duduk dan menelfon Pamungkas.


Lima menit kemudian, Pamungkas datang dengan tergesa-gesa. Pria itu mengedarkan pandangannya mencari Reanty.


Setelah menemukannya. Ia segera duduk tepat diseberang Reanty.


“Beneran? Kamu udah nemuin dia?” Pamungkas bertanya sambil terbelalak. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagaianya mendengar kabar itu.


Apalagi saat ia meliat Reanty menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


“Alhamdulillah...” Imbuhnya.


“Mas yang cek ke alamat itu, ya.” Pinta Reanty.


Pamungkas mengernyitan keningnya. Ia fikir Reanty sudah memastikan semuanya.


“Kamu belum kesana?” Tanya Pamungkas heran.


Reanty menggeleng. “Belum, Mas.”


“Kenapa?”


“Aku gak berani. Dan aku gak punya hak buat nemuin anak itu.” Jawab Reanty.


“Sampai kapan kamu mau jadi pengecut begitu? Kamu gak mau mmenebus kesalahanmu sama anak itu? Kamu mau melarikan diri lagi?”


Reanty terkejut mendengar penghakiman yang keluar dari mulut Pamungkas. Terasa sangat menusuk di hatinya.


“Kok kamu ngomong gitu sih Mas?”


“Ya terus kenapa?”


“Untuk menebus kesalahanku, aku mau nyerahin dia ke kamu Mas. Dari sini aku gak akan ikut campur lagi. Karna aku sama sekali gak pantas nemuin dia.”


Pamungkas faham maksud Reanty. Ia hanya bisa menghela nafas saja. Ia faham jika Reanty butuh waktu.

__ADS_1


“oke. Kalau itu mau kamu.” Pamungkas melipat kertas yang ia terima dari Reanty kemudian memasukkannya kedalam dompetnya. “Aku gak bisa lama disini. Sebentar lagi aku ada operasi.”


Reanty mengangguk saja.


“Yaudah. Aku balik dulu.” Ujar Pamungkas sambil bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


Tapi setelah beberapa langkah, ia berhenti dan berbalik.


“Rea. Makasih banyak ya. Kamu udah berusaha sangat keras.” Ujarnya kemudiaan sebelum melanjutkan langkahnya meninggalkan cafe itu.


Hati Pamungkas berbunga-bunga. Ia sangat bahagia. Karna semua sudah menemui titik terang. Yang harus ia lakukan hanya memastikan keberadaan anak itu di alamat yang diberikan oleh Reanty.


Dan semoga saja, pencariannya berakhir disini. Berkali-kali Pamungkas mengucap syukur. Sungguh ia sedang merasa sangat bahagia saat ini.


“Zan. Kosongkan jadwalku setelah selesai operasi.” Perintahnya kepada sekretarisnya melalui sambungan telfon.


“Baik, Pak.”


Sebenarnya ingin sekali ia langsung datang ke alamat itu sekarang juga. Tapi masih ada satu operasi lagi yang sudah dijadwalkan untuknya. Dan dia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


Sepertinya ia masih harus bersabar sedikit lagi.


Aarrrgggg...


Rasanya Pamungkas tidak bisa bersabar barang semenitpun lagi.


Setelah menutup telfon, Pamungkas melanjutkan langkahnya untuk masuk kedalam gedung rumah sakit. Pandangannya sekilas menangkap sosok wanita yang mengenakan jaket ojek online yang sedang berlari menuju ke arah UGD.


Pamungkas mengehntikan langkahnya dan memperhatikan dengan seksama.


Benar, itu adalah Binar. Yang ia lihat barusan adalah Binar.


Gadis itu sedang tergesa-gesa menuju ke UGD.


Ia bertanya-tanya, ada apa kiranya? Kenapa Binar bergegas ke UGD?


Secara otomatis langkahnya berbelok kearah UGD. Ia sangat ingin tau keadaan Binar sekarang. Banyak hal yang ingin dia tanyakan kepada gadis itu. Banyak hal yang ingin dia bicarakan kepada Binar.


Dia harus menebus semua kesalahan yang sudah dia perbuat untuk Binar. Karna kebodohannya yang tidak bisa melindunginya. Sampai gadis itu harus merelakan pekerjaan yang sangat disukainya.


*


*


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2